
Saat itu Roseline yang hendak mengunjungi Julian dan mau memasuki kamar perawatan sang putera dan juga Vale, mengurungkan niatnya saat ia melihat Julian sedang bersama Vale di atas tempat tidur yang sama.
Tidak ingin menganggu mereka yang saat ini sedang berdiskusi, Roseline memilih untuk menunggu dulu di bangku yang ada koridor ruangan.
Ia ingin memberikan waktu pada Vale dan juga Julian bisa saling berbicara dengan hati dan pikiran yang tenang.
Beberapa menit kemudian, saat Roseline sedang fokus dengan ponselnya. Jenna tiba tiba sudah datang dan telah berdiri di hadapannya.
"Ma," sapa Jenna pada Roseline. Sontak saja hal itu membuat Roseline kaget.
"Jenna!" seru Roseline.
"Kau datang."
"Aku ingin menjenguk Julian Ma." Ujar Jenna yang datang dengan masih mengenakan pakaian kantornya dan membawakan Julian makanan.
"Hemm," Roseline nampak bigung harus mencari alasan apa agar Jenna tidak masuk dulu di kamar.
"Jen, temani Mama dulu ya ke kedai kopi di lantai bawah. Tadi Julian baru saja minum obat, sepertinya ia masih tertidur. Mama ingin membeli minuman, setelah itu kau baru menemui Julian." pinta Roseline, yang tidak ingin Jenna melihat Vale dan juga Julian yang saat ini sedang berada di satu tempat tidur yang sama.
Dan akhirnya, Jenna pun menurut.
🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah kurang lebih 45 menit berada di kedai kopi. Roseline dan juga Jenna kemudian kembali ke kamar rawat inap yang di tempati oleh Julian dan juga Vale.
Sebelumnya, Roseline sudah memberitahu Jenna jika Vale juga ada di ruangan itu.
Agar Jenna tidak kaget dan tidak salah paham. Jenna pun nampak santai menanggapi dan justru ia juga terlihat peduli dengan Vale. Dengan menanyakan bagaimana keadaannya.
Roseline dan juga Jenna kini sudah hampir sampai di kamar inap. Roseline sangat berharap, Vale sudah tidak lagi berada di tempat tidur Julian. Ia tidak ingin ada salah paham di antara mereka bertiga.
__ADS_1
Begitu pintu kamar di buka, Roseline nampak bisa nafas lega. Karena Vale sudah tidak lagi berada di tempat tidur Julian.
Melihat Jenna datang menjenguknya membuat hati Julian merasa senang.
"Jen," sapa Julian.
Jenna kemudian berjalan mendekat kearah Julian yang saat ini tengah berbaring di tempat tidur nya. Lalu Jenna memberikan pelukan hangat untuk suaminya itu.
"Hai, bagaimana keadaan mu." tanya Jenna dengan expresi wajah khawatir.
"Seperti yang kau lihat, aku baik baik saja. Luka ku tidak parah." jawab Julian.
"Syukurlah," jawab Jenna, kemudian Jenna mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan kamar. Ia ingin mencari sosok Valerie. Tapi Vale tidak ada di sana saat itu.
"Di mana Valerie?" tanya Jenna.
"Dia sedang ada di toilet." jawab Julian.
Sedangkan Vale yang saat itu berada di toilet. Samar-samar mendengar suara Jenna. Dan Vale menduga, kedatangan Jenna adalah untuk menjenguk Julian.
Awalnya, mereka saling canggung dan kikuk. Terakhir mereka saling bertemu adalah di saat Jenna mendatangi Penthouse Vale untuk mencari Julian.
"Hai Valerie, bagaimana keadaan mu. Aku ikuti prihatin dengan kejadian yang menimpamu." ucap Jenna memulai sapaan pada Vale.
"Terimakasih Jen. Syukurlah aku tidak apa apa." jawab Vale datar.
Melihat suasana agak sedikit canggung, Roseline kemudian menengahi.
"Vale, Mama tadi membelikan mu jus. Kita ke ruang tamu ya." ajak Roseline pada Vale, yang sebenarnya juga ingin memberikan Jenna dan Julian privasi.
"Iya, Ma." jawab Vale.
__ADS_1
Roseline dan Vale kemudian berjalan ke arah ruang tamu yang ada di ruangan itu.
"Jen, kemarilah." pangil Julian. Jenna kemudian menoleh ke arah Julian.
"Kau bawa apa?" tanya Julian yang kala itu melihat Jenna membawa sesuatu.
"Aku membawakan mu makanan, aku membuatnya sendiri tadi di apartemen."
"Oya, pasti enak. Sudah lama aku tidak menikmati makan buatan mu. Aku lapar, suapin aku ya." ucap Julian, sengaja bersikap manja.
Jenna kemudian membuka penutup makanan yang ia bawa. Kemudian ia kini mulai menyuapi Julian.
"Aku hanya membawa satu untuk mu. Aku tidak tau jika Vale juga ada di ruangan ini." ucap Jenna yang saat itu menyuapi Julian makanan yang ia bawa.
"Tidak apa sayang. Kamu jangan curiga dulu ya. Mama yang sudah mengatur ini. Vale saat ini tengah hamil besar, bagaimanapun dia perlu di perhatikan, dia juga masih syok dengan kejadian itu."
"Tenang saja, aku mengerti." jawab Jenna sambil mencoba untuk tersenyum. Meskipun sebenarnya ia sebagai wanita normal, pasti ada tanda tanya besar. Akan tetapi, Jenna memilih untuk berfikir positif.
"Apa kabar dengan anak kita, mendekatlah, aku ingin menyapanya." ucap Julian.
"Dia baik, dia sangat pengertian dengan Mamanya." jawab Jenna.
"Maafkan aku Jen, belakangan ini aku akui. Aku sangat sibuk dengan pekerjaan dan berbagai urusan pribadi ku. Maafkan aku jika aku kurang memperhatikan mu. Tapi kau harus tau, aku sangat peduli dengan mu dan juga sangat antusias dengan kehadiran calon anak ku dari mu. Hanya saja, keadaan yang membuatku sedikit sulit untuk membagi waktu ku. Saat ini Vale tengah hamil besar. Mungkin dua mingguan lagi dia akan melahirkan. Jadi aku harap, kau memaklumi nya."
"Fokus dulu saja untuk Valerie. Aku bisa mengurus diriku sendiri dan jangan khawatir aku. Aku ingin urusan kalian bisa di selesaikan dengan baik." jawab Jenna berusaha untuk bersikap bijak.
"Tidak ada kata yang bisa aku ungkapkan untuk mengapresiasi sikap mu. Aku sudah melakukan banyak kesalahan dengan mu. Aku minta maaf. Setelah ini, kita akan memulai semuanya dengan hal yang baru. Aku mencintaimu Jen," ucap Julian, yang kini meraih tangan Jenna dan kemudian mengecupnya.
Jenna lalu mengarahkan pandangannya ke wajah Julian.
Wajah seorang pria yang sudah membuat nya merasakan berbagai macam rasa.
__ADS_1
"Mencintai dan jatuh cinta dengan mu, Julian Alexander. Seolah-olah membuat ku menjadi seorang yang bodoh. Tapi aku bisa apa. Tapi ingat Julian, dan kau harus ingat ini. Bahwa aku hanya memberikan mu satu kali kesempatan. Aku tidak ingin hal semacam ini terulang. Aku sudah menerima semuanya dengan lapang dada. Tapi jika suatu hari kau mengkhianati kepercayaan ku. Sorry, aku akan pergi untuk selamanya dari sisi mu." ucap Jenna tetap memberikan penegasan untuk dirinya yang saat ini sudah cukup bersabar dan berkorban perasaan.
"Aku akan ingat ucapan mu ini. Kembali lah ke Mansion, pulanglah." pinta julian pada Jenna.