
Dengan penuh perhatian, Julian memegang tangan Valerie ketika Vale menuruni anak tangga. Kehamilan Valerie memang sangat membuat Julian bahagia.
Julian sangat antusias dengan kehadiran calon anaknya. Oleh sebab itu, Julian terkesan sangat perhatian dan juga posesif pada Valerie.
Saat mereka kini sudah berada di meja makan. Dengan penuh perhatian, Julian melayani Valerie.
Dia menawari berbagai macam makanan yang sudah di siapkan oleh Naina di meja makan.
"Apa kau masih mengejar progam beasiswa mu?" tanya Julian, di sela sela mereka sedang menikmati makan malam.
"Ia, beberapa minggu lagi akan di umumkan siapa saja yang akan mendapatkan beasiswa itu." jawab Vale.
"Uang mu sudah banyak, saham mu di perusahaan ku juga terus berkembang. Kenapa kau sampai susah payah mendapatkan beasiswa itu? Kenapa tak menggunakan uang mu untuk mendaftar di universitas yang kau sukai. Semudah itu Vale, kau kan juga cerdas pasti akan sangat gampang kau bisa masuk di universitas ternama Dunia jika kau mau."
"Tapi aku ingin mendapatkan beasiswa itu dengan usaha ku sendiri. Setelah punya segalanya pun aku merasakan hal yang sama dan biasa saja. Banyak uang tidak menjamin seseorang merasakan kepuasan dan kebahagiaan. Aku justru teringat bagaimana aku menjalani kehidupan sehari-hari ku sebelum bertemu dengan mu. Hidup ku memang keras, uang di dompet ku hanya cukup untuk menghidupi ku hari itu juga. Dan gaji hasil bekerja hanya pas pasan untuk membayar uang kost dan biaya kuliah. Tapi dulu aku merasakan kebebasan. Dan berjuang membuat ku semangat." ujar Vale, menatap Julian dengan tatapan dingin.
"Apa artinya sekarang kau menyesal?"
"Kata menyesal mungkin tidak akan pantas untuk aku ucapkan. Karena anak yang sedang berkembang di rahim ku kini makin tumbuh. Jika aku menyesal, kesan nya aku tidak menyukai kehadirannya. Aku hanya mencoba untuk menerima semua yang sudah terjadi. Menjalani segalanya nya, berikut dengan segala konsekuensi yang aku harus tanggung. Aku sudah memutuskan melakukan pernikahan kontrak dan menerima rahim bayaran yang kita sama sama setujui. Walau mungkin aku kini menyesal, tapi aku tidak menyesali kehadiran janin ini." ujar Vale yang kemudian memegang perutnya.
"Aku selalu bilang, jangan merasa dirimu buruk Valerie. Kita menikah dengan cara sah. Anak ini hadir karena di inginkan. Bukannya tidak di inginkan. Meskipun dengan berbalut bayaran. Dia tetaplah dia, kehadirannya spesial bagi ku dan juga bagi mu kan. Anak ini bagian dari dirimu dan diriku." ujar Julian, menjelaskan jika anak yang di kandung Vale adalah anak special.
Seusai makan malam, seperti yang Julian katakan tadi bahwa ia ingin tidur satu kamar dengan Valerie. Membuat Vale tidak bisa menolak apa yang Julian inginkan.
Akan tetapi, Valerie sangat menjaga jarak ketika mereka sudah sama-sama berada di tempat tidur. Valerie tidur dengan posisi miring di sisi tempat tidur.
Sedangkan Julian tidur di sisi tempat tidur yang lain. Tidak seperti dulu jika mereka tidur bersama, Vale akan selalu menempel Julian.
Julian sejenak menoleh ke arah Valerie yang tiduran miring membelakanginya.
Sebenarnya ia ingin sekali menyentuh perut Vale dan memberikan kasih sayang lewat sentuhan tangan kepada janinnya.
Julian sangat ingin berkomunikasi dengan bayinya. Tapi sepertinya, Valerie memberikan jarak untuk dia tidak berdekatan dengannya lagi.
Dan Julian memahami itu. Sejujurnya Julian memang merasakan perasaan yang selalu ingin melindungi dan memperhatikan Vale. Sebuah perasaan yang juga tidak bisa ia indahkan dari lubuk hatinya.
Perasaan aneh yang membuat dia juga merasa heran pada dirinya sendiri. Dia sangat mencintai Jenna akan tetapi juga ingin melindungi Vale.
Keesokan harinya, Seperti biasa Julian bangun awal. Dia kini tengah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. s
Sebelum ia pergi ke kantor, saat ia sedang bersarapan. Julian sengaja menyiapkan roti bakar kesukaan Valerie. Julian membuatkan roti bakar blueberry kesukaan Vale.
Lalu, Julian menyiapkan roti yang sudah ia buat ke atas sebuah nampan lengkap dengan segelas susu hamil.
__ADS_1
Kemudian ia membawanya ke atas, ke kamar dan melekatkan nya di atas nakas.
Sejenak, Julian memandangi Valerie yang masih terlelap tidur itu. Wajah wanita hamil itu terlihat semakin cantik dan berseri-seri.
Perutnya yang membuncit membuat Vale terlihat seksi.
Julian kemudian membungkukkan tubuhnya dan dengan pelan mencuri sebuah ciuman yang ia labuhkan ke kening Vale.
Tidak hanya itu, Julian juga menciumi perut buncit Valerie.
"Aku sayang kalian." desis Julian dalam hati.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sebagai seorang ibu, Reina tidak bisa menunggu lagi dan tidak bisa diam saja membiarkan masalah putrinya berlarut-larut tanpa jelasan.
Sedangkan perut Jenna makin lama akan semakin membesar.
Ketakutan Jenna hingga saat ini tidak memberi tau Julian dirinya tengah hamil adalah karena jenna takut Julian akan menguasai anaknya.
Seperti yang saat ini Julian lakukan pada Valerie.
Saat Jenna sendiri tidak bisa mengambil langkah yang cepat untuk mengambil sikap. Maka Reina pun saat itu berpikir untuk mengambil sikap tegas.
Sebelumnya mereka memang sudah sempat beberapa kali berkomunikasi.
Tanpa menunggu persetujuan Julian ataupun Jenna. Reina akhirnya menceritakan semua yang terjadi terhadap sang besan, Rosaline.
Reina menceritakan tetang kondisi Jenna yang tengah mengandung anak Julian. Mendengar kabar bahwa Jenna telah mengandung anak Julian, Rosaline sangat gembira dan bahagia.
Akan tetapi rasa bahagia dan gembiranya Rosaline tidak begitu lama. Saat Reina kemudian juga menceritakan tentang Julian yang sudah punya istri sah meskipun mereka hanya menikah kontrak.
Dan Reina juga bercerita bahwa istri kontrak Julian juga tengah mengandung.
Mendengar itu Rosaline pun sangat kaget. Karena Julian sendiri tidak pernah menceritakan tentang pernikahannya dengan seorang wanita selain Jenna.
Banyak hal yang di bicarakan oleh dua wanita paruh baya itu melalui sambungan telepon.
Oleh sebab itu akhirnya, Rosaline yang kala itu kesehatannya sudah membaik. Memutuskan untuk bertandang ke Indonesia.
Bagaimanapun ia sepertinya harus ikut campur tangan untuk meluruskan persoalan yang di buat oleh sang putera.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, Rosaline datang ke Indonesia tanpa memberi tau Julian dan dia pun langsung menuju Mension.
Julian merasa kaget dengan kedatangan sang Mama yang tiba-tiba tanpa memberi tau dirinya sebelumnya.
Seusai makan malam, Rosalie mengajak Julian untuk pergi ke ruang kerja untuk membicarakan hal penting.
Julian tidak tau jika sang Mama sebenarnya akan mengklarifikasi sesuatu dengan nya.
Rosaline akhirnya bercerita tentang semua hal yang ia sudah ketahui dari Reina, mamanya Jenna.
"Mama sudah tau semuanya Julian. Mamanya Jenna sudah menelepon ku dan menceritakan tentang semua kelakuan mu." tutur Rosaline tenang, meski ia sebenarnya sedang menahan emosi
"Mama tidak pernah menyangka kau akan berbuat segila ini untuk mendapatkan keturunan. Ternyata kau diam diam telah menikah kontrak dengan seseorang yang bernama Valerie Florencia kan. Mama memang menyuruhmu untuk segera memiliki keturunan. Tapi tidak dengan cara melakukan pernikahan kontrak semacam itu Julian. Mama ingin kamu menikah yang sebenarnya dan punya pasangan agar dirimu ada yang memperhatikan. Mertua mu sangat marah dan kecewa sekali dengan mu. Terlebih menantu kesayangan Mama Jenna. Dia akhirnya meninggalkan diri mu kan, setelah semua kebohongan mu terbongkar."
"Julian berjanji akan memperbaiki ini semua Ma."
"Apa yang kau pikirkan sampai kau menikah kontrak. Mentang-mentang kamu punya segalanya, kau memiliki uang, sehingga kau bisa membeli apapun."
"Julian akan bertanggung jawab untuk semua yang telah Julian lakukan Ma."
"Bertanggung jawab bagaimana?"
"Aku dan dia hanya menikah kontrak. Beberapa bulan lagi setelah anak itu lahir, perjanjian pernikahan kontrak kami akan berakhir. Dan saat itu lah aku akan memperbaikinya hubungan ku dengan Jenna."
"Kau kira gampang memperbaiki hubungan mu dengan Jenna. Yang sebelumnya kau sudah dengan sengaja menyimpan kebohongan ini. Lalu bagaimana dengan wanita?"
"Dia tidak akan menuntut apa apa Ma. Aku melakukan perjanjian pernikahan dan membeli rahim nya dengan sudah melakukan negosiasi serta perjanjian yang sah di atas hitam dan putih."
"Tega sekali kau melecehkan wanita seperti itu Julian. Kau tau sendiri kan, Mama sangat anti dengan pelecehan seperti itu."
"Dia menyetujui melakukan pernikahan kontrak dan memberi kan anak itu untuk ku sesuai kesepakatan. Tidak ada pelecehan di sini Ma. Aku menikahi nya secara sah dan hukum."
"Dan oleh karena itu kan, kau menikahi Jenna secara siri. Kamu benar-benar pembohong Julian. Sekarang menantu kesayangan Mama sangat kecewa dan marah dengan mu. Dan di satu sisi lagi kau membuat wanita hamil dan kau hanya mau anak nya saja. Ya Tuhan, Julian, Mama tidak habis pikir kamu melakukan ini semua."
Rosaline nampak terbawa emosi.
"Aku ingin bertemu dengan wanita itu. Pertemukan Mama dengan istri kontrak mu. Mama ingin mengobrol dengannya."
"Jangan marah padanya ya Ma. Dia tidak salah apa apa. Dia wanita yang baik, bukan wanita yang mungkin seperti Mama duga saat ini. Dia seorang yatim-piatu, saat ini kandungannya sudah memasuki bulan ke 7. Aku harap, Mama tidak menekannya." ujar Julian yang sepertinya sangat kawatir jika sang Mama akan menganggap Vale seorang wanita nakal.
"Itu urusan Mama, jangan ajari Mama bagaimana Mama harus bersikap. Bawa Mama kepada dia besok."
Wah, vale siap siap ya ketemu mertua 😁
__ADS_1