
Dua tahun kemudian
Di sebuah ranjang hotel yang berukuran king size. Julian dan juga Jenna saling bertukar peluh serta keringat bersama malam itu.
Julian mencurahkan seluruh hasrat nya pada sang istri yang begitu ia cintai.
******* dan eragan Jenna begitu merdu di indra pendengaran Julian. Wanita yang telah memberikan ia seorang putra itu kini semakin terlihat seksi dan berisi di mata Julian. Yang membuat Julian semakin sayang pada Jenna.
Setelah punya dua anak, aktifitas seksual seperti saat ini tidak mudah mereka bisa lakukan setiap saat di rumah mereka. Karena, kadang ada dua bocah kecil yang mengganggu aktivitas intim mereka.
Jika tidak, mereka harus menunggu tengah malam jika ingin berhubungan badan dengan tenang.
Baik Elenor dan juga Louis sangat bergantung pada Julian dan juga Jenna ketika mereka akan tidur.
Biasanya kedua bocah kecil yang tidur dalam satu kamar dengan dua tempat tidur terpisah itu baru akan tertidur saat mereka sudah di bacakan cerita.
Kamar mereka berada bersebelahan dengan kamar Julian dan juga Jenna.
Dan malam itu, Julian sengaja mengajak Jenna untuk ke hotel. Hanya demi bisa bercinta dengan istri nya itu tanpa ada gangguan dari Elenor maupun Louis putera nya. Karena mereka sudah lam tidak melakukan aktivitas itu dengan romantis seperti saat ini.
Jenna kini sudah tidak bekerja lagi di perusahaan Sahara Corp.
Setelah menikah, Jenna di berikan kuasa oleh Julian untuk menjadi direksi di anak perusahaan Alexander Corp.
Sebenarnya Julian melarang Jenna untuk bekerja. Tapi Jenna masih berkeinginan untuk bekerja.
Bekerja bagi Jenna tidak hanya sekedar soal materi. Jenna adalah tipe wanita yang suka melakukan sesuatu pekerjaan.
Oleh sebab itu, Julian pun tidak mau pusing dan membebaskan Jenna untuk tetap menjadi wanita karir.
Setelah puas bercinta, Jenna tiduran di samping Julian dengan meletakkan kepalanya di dada telanjang suaminya itu.
"Jangan tidur, kita harus kembali ke Mansion." ucap Jenna pada Julian.
Yang melihat Julian kini nampak mulai memejamkan mata nya.
"Kau tau, tidur setelah bercinta itu nikmat." jawab Julian.
"Nanti Elenor dan Louis mencari kita." ujar Jenna khawatir.
"Mereka sudah ada yang menjaga sayang. Lepaskan kekawatiran mu, kita akan pulang nanti. Biarkan aku tidur dulu ya, aku mengantuk." ujar Julian yang kemudian sudah mendengkur dengan dengkuran halus.
Jenna yang tidak bisa tidur, akhirnya memilih untuk membersihkan diri di kamar mandi.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Munich Jerman
Berada di kamarnya, saat itu Vale tengah mengerjakan tugas-tugas kampus yang membuatnya sedikit harus belajar ekstra, demi bisa menuntaskan skripsi akhir semester yang ia jalani.
Selama berada di Jerman, Vale benar benar fokus untuk kuliah dan menyibukkan diri nya dengan bekerja paruh waktu.
Lalu bagaimana perasaan Vale pada Julian?
Perasaannya terhadap Julian masih belum sepenuhnya bisa Vale hapuskan.
Akan tetapi, perasan itu sudah tidak sebesar seperti dulu.
Kehadiran Elenor lah yang membuat perhatian Vale teralihkan dengan sosok pria bertubuh tinggi besar yang begitu membuatnya terpesona itu.
Kini perasaanya terhadap Julian sudah semakin berkurang.
Fokus value terhadap Julian kini sudah di gantikan oleh Elenor.
Ternyata rasa sayang dan cinta terhadap anak itu lebih besar rasanya dibandingkan dengan mencintai seseorang yang tidak bisa lagi di perjuangkan hatinya.
Bagi Valerie, mencintai Julian sudah tidak ada gunanya. Karena bagaimanapun, ia sudah tidak akan mungkin bersatu dengan pria itu.
Ia juga tidak lagi berniat untuk memaksakan dirinya bersama dengan pria yang sudah membuatnya menjatuhkan harga diri sebagai wanita.
Dan saat ini, Vale belum mau membuka hatinya untuk seseorang yang lain. Vale memilih untuk fokus mengejar karirnya daripada mengurusi kehidupan pribadinya. Fokus dia saat ini ialah menyelesaikan kuliahnya dan mencari pekerjaan.
Valerie ikut berbahagia dan senang saat ia mendengar kabar bahwa Julian sudah menikahi Jenna dan mereka kini telah di karuniai seorang anak laki-laki.
Di saat Vale sedang sibuk mengerjakan tugas skripsi di kamarnya. Tiba-tiba ponselnya berdering, kemudian Vale langsung melihat layar ponselnya yang ia taruh di dekat laptop.
Begitu tahu yang menghubunginya adalah David. Vale langsung mengangkat panggilan telepon itu.
"Hai, David. Apa kabar?" tanya vale antusias, saat teman nya itu menghubunginya.
"Aku baik Vale, saat ini aku sedang berada di Berlin. Aku sedang mengunjungi grandma ku di sini. Jika kau ada waktu, mungkin kita bisa bertemu." ujar David lewat sambungan telepon.
"Sebenarnya aku sangat ingin bertemu denganmu David. Tapi dalam beberapa Minggu ini aku sedang banyak mengerjakan tugas kuliah. Aku sibuk mengerjakan skripsi. Jika tidak menyusahkan mu, datanglah ke Munich. Kita bisa bertemu mengobrol santai di kedai kopi." ucap Vale memberi saran.
"Oke, next week, aku akan ke Munich menemui mu. Sampai jumpa Vale."
"Sampai jumpa Minggu depan David."
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Satu Minggu Kemudian
Di sebuah kedai kopi yang berada tak jauh dari tempat kost Vale. Akhirnya menjadi tempat janjian antara David dan Vale, yang sudah dua tahun ini mereka tidak pernah bersua.
Sejauh ini, mereka masih berkomunikasi lewat chat pribadi untuk saling bertukar kabar.
Ketika Vale dan David kini sudah bisa bersua. Mereka pun saling memberikan pelukan hangat, serta peluk kangen yang cukup lama untuk melepaskan rasa rindu mereka.
"Senang bisa bertemu dan memeluk mu David." ujar Vale yang masih memeluk pinggang David kala itu.
"Aku juga Vale, aku senang bisa melihat mu. You looking good." ucap David saat memperhatikan wajah Vale yang nampak ceria.
"Aku senang berada di sini. Belajar dan bekerja."
"Aku yakin kau kan jadi orang sukses nanti."
"Ayo kita masuk dulu, kita ngobrol lebih banyak di dalam." ajak Vale pada David.
"Jangan khawatir aku akan mentraktir mu." ujar Vale.
"No, aku yang akan mentraktir mu." imbuh David.
"Rasanya tidak sopan sekali jika aku yang menyuruh mu datang ke mari, malah kau yang mentraktir ku." ptotes Vale.
Akhirnya, mereka pun masuk kedalam cafe tersebut dan memesan minuman panas serta kue sebagai pelengkap.
Sambil sesekali menikmati minuman panas serta mencicipi kue yang mereka pesan. David dan Vale saling mengobrol.
Vale menceritakan tentang kegiatan dan juga pengalamannya selama berada di Jerman.
David juga bercerita tentang dirinya nya yang kini sudah di percaya oleh papa nya untuk memimpin salah satunya anak perusahaan milik keluarga.
Dan kedatangan David ke Jerman saat ini sebenarnya tidak hanya untuk bertemu dengan grandma nya saja. Tapi juga untuk mengunjungi Vale.
David sudah lama menaruh perhatian pada Vale. Tapi ia masih segan untuk mengutarakan perasaannya. Bagaimana pun, David sangat menghargai prioritas Vale saat ini. Menjadi teman dekat Vale saja sudah membuat David senang.
David
__ADS_1