Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
New friend


__ADS_3

"Valerie!" panggil seseorang menyebutkan nama Valerie.


Valerie yang merasa dirinya di panggil pun kemudian menoleh ke arah sumber suara.


Seorang gadis muda nampak berhenti tepat di hadapannya, setelah ia tadi berlari untuk mendekati dirinya.


"Hem, Iya. Ada yang bisa ku bantu?" tanya Vale pada gadis muda asing itu.


"Kenalkan, aku Indiana. Indiana Abraham, adik dari David Abraham." tukas seseorang yang bernama Indiana tersebut.


"Indiana, iya aku ingat. David ada bilang dia punya adik yang baru saja pindah ke kampus ini. Hai, Indiana, nice to meet you." ucap Valerie ramah.


"Call me Anna," ujar Indiana sambil tersenyum manis.


"Oke Anna," jawab Vale, dengan ramah pula.


"Jadi, aku di sini adalah adik kelas mu. Karena umur mu mungkin di atas ku. Aku baru disini, dan aku juga belum punya teman. Jika kau bersedia, maukah kau menjadi teman ku?" tanya Anna, dengan memasang wajah memohon.


"Oke Anna, Why Not!" seru Vale.


"Yeahh!" teriak Anna, yang kemudian dengan spontan memeluk tubuh Valerie.


Mendapat tubrukan yang tiba-tiba dari Anna yang kala itu hendak memeluknya. Membuat Valerie sedikit memundurkan tubuhnya sambil memegangi perutnya.


Mencoba untuk melindungi janinnya.


"Hati hati Anna," ujar Valerie memperingatkan.


"Maaf, aku terlalu bahagia mendapatkan teman baru Valerie." ujar Anna meminta maaf.


"Kalau begitu aku boleh ya, minta nomor ponsel kak Valerie. Siapa tahu ada beberapa hal yang aku ingin tanyakan pada kakak. Karena jujur saja aku masih dalam tahap beradaptasi di lingkungan kampus ini."


"Kenapa tidak, catatlah nomor ponsel ku. Aku sebutkan nomornya ya." ujar Vale yang kemudian memberitaukan nomor ponsel nya pada Anna.


Anna pun kemudian mengeluarkan ponselnya dan mencatat nomor Valerie di ponselnya.


"Terimakasih kak Valerie, enjoy your day."


Setelah itu, Vale memasuki ruang kuliahnya. Dan ia pun kemudian sibukkan dengan tugas-tugas kuliah.


🍁🍁🍁🍁


Gedung perkantoran Sahara Corp.


"Dari tadi kamu melamun saja. Ada apa Jen? Apakah ada masalah?" tanya Andrea ketika mereka saat itu sedang berdiskusi masalah pekerjaan di ruang kerja Andrea.


"Tidak ada masalah Bu." jawab Jenna datar, sambil menunjukan senyum tipis.


"Bagaimana hubunganmu dengan Julian. Apakah kalian sudah membicarakan hubungan kalian ke tingkat yang lebih serius." tanya Andrea.

__ADS_1


"Hubungan kami baik-baik saja" jawab Jenna singkat. Padahal dalam hati, ada sesuatu yang ingin Jenna tanyakan pada Andrea.


Setelah menimbang-nimbang lagi. Akhirnya Jenna berniat berbagi cerita dengan Andrea.


Selain dia adalah bos nya, Andrea bagi Jenna juga sudah seperti kakaknya sendiri.


Bagaimanapun, bosnya itu sangat memahami karakter Julian lebih dari dia mengenalinya.


"Bu, bolehkah saya bercerita tentang hal pribadi lagi." ujar Jenna ragu ragu.


"Tentu saja Jen, jika aku bisa membantumu dan kau percaya pada ku, berceritalah." ujar Andrea yang orang nya memang humble.


"Ini tentang hubungan aku dengan Julian."


"Oke, apa yang ingin kau ceritakan padaku?"


"Sebenarnya, aku dan Julian sudah menikah. Tapi kami menikah secara siri."


"Apa! Kamu sudah menikah. Kapan?" tanya Andrea kaget.


"Kenapa menikah secara siri?" tanya Andrea.


"Itulah yang membuat aku sendiri masih sangat bingung. Kenapa dia menikahi ku secara siri."


"Tapi dia pasti memberikan alasan kan. Lalu apa alasannya?" tanya Andrea lagi.


Tentang pernikahan siri nya dan juga berbagai macam alasan yang Julian berikan kepada Jena yang akhirnya ia luluh dan menerima pernikahan siri yang Julian lakukan terhadap dirinya.


"Jadi seperti itu ceritanya." ujar Andrea, setelah ia mendengarkan dengan seksama cerita Jenna tentang Julian yang menikahi dirinya secara siri.


"Maaf jika aku sedikit menginterupsi keputusanmu. Tapi seharusnya, kau jangan mau untuk dinikahi secara siri oleh Julian. Tapi apapun itu, semua sudah terlambat. Kau sudah menikah dengannya. Dan sekarang, kau bisa mendesak Julian untuk segera melegalkan pernikahan kalian secara hukum. Bagaimana pun pernikahan siri itu meskipun sah secara agama tapi tidak kuat dengan dasar hukum nya Jen. Pikirkan jika nanti kamu punya anak. Kau pasti membutuhkan berbagai dokumen untuk mengurus keperluan identitasnya." jelas Andrea pada Jenna, memberikan saran.


"Hal itulah yang ingin aku tekankan pada Julian. Saya tidak nyaman dengan status perkawinan siri ini."


"Sudah berapa lama kalian menikah siri?" tanya Andrea.


"Kami sudah menikah kurang lebih hampir satu bulan. Bahkan saat kami berada di Athena, dia sudah memperkenalkan aku dengan mamanya"


"Mamanya juga sudah mendukung hubungan kami. Dan sebenarnya saya menangkap sesuatu yang aneh dari pernyataan Mama mertua saya. Karena beliau sendiri juga sepertinya masih bigung dengan keputusan Julian menikahi saya secara siri. Bahkan Mama sudah mengultimatum Julian untuk segera melegalkan pernikahan kami."


"Ya, aku sependapat. Coba kamu bicarakan lagi soal ini dengan Julian. Aku yakin Julian pasti akan bersikap bijak."


"Terimakasih Bu Andrea, sudah mau mendengar sedikit keresahan saya."


"Jangan sungkan dengan ku Jenna. Kau sudah aku anggap sebagai adik ku sendiri. Dan aku tidak akan membiarkan Julian berbuat macam-macam dengan mu."


🍁🍁🍁🍁🍁


Jam kuliah telah selesai. Valerie pun kemudian berkemas memasukkan beberapa buku yang tadi ia pelajari dan memasukkan ke dalam tas.

__ADS_1


Saat ia tengah sibuk berkemas, sebuah bunyi notip pesan masuk di ponselnya.


"Valerie, aku menunggu mu di depan kampus seperti biasa. Aku ingin mengajak mu makan siang." pesan masuk itu ternyata dari Julian.


"Di saat aku sedang berusaha untuk menjauh dari mu, kenapa kau malah semakin dekat dengan ku." keluh Vale pada suami kontaknya itu.


Vale tidak membalas pesan singkat Julian.


Valerie berjalan dengan santai menuju mobil mewah Julian yang sudah menunggunya di tempat biasa.


Julian yang sudah melihat Vale datang langsung keluar dari mobil dan kemudian membukakan pintu mobil untuk Valerie. Vale pun kemudian langsung masuk ke mobil.


Saat Vale sudah masuk, Julian kemudian langsung berjalan memutari mobil nya dan kembali ke kursi kemudi.


"Pakai sabuk pengaman mu Vale." perintah Julian, yang kemudian ia langsung bergerak ke arah Vale. Berniat untuk memakaikan sabuk pengaman untuk wanita manja nya itu.


Dan tanpa sengaja ketika Julian hendak memakaikan sabuk pengaman untuk Vale. Wajah keduanya kini saling berdekatan dengan jarak yang hanya tinggal beberapa inci saja.


Seketika perasaan hati Valerie pun kembali berdebar kencang. Ketika iris mata abu abu Julian menghujam kedua iris matanya yang saat itu menatapnya dengan lekat.


Wangi nafas pria yang saat ini menatapnya dengan intens itu mengingatkan dirinya di saat mereka terengah bersama saat bercinta.


Kegiatan yang sudah lama tidak lagi mereka lakukan lagi semenjak yang terakhir di kamar mandi.


Dan Julian sendiri juga sepertinya merasakan sesuatu yang tidak seperti biasanya pada Vale.


Perasaan berdebar itu juga kini di rasakan oleh Julian.


Valerie pun tidak bisa menyangkal, jika perasaan cintanya terhadap pria dewasa itu masih tumbuh di hatinya.


Ia masih berjuang untuk mematikan perasaannya pada Julian Alexander. Pria yang membuat ia jatuh cinta untuk pertama kalinya.


"Apa kau sekarang sudah beralih profesi menjadi sopir ketimbang menjadi CEO." ejek Vale pada Julian. Untuk mengakhiri ketegangan kala itu.


Julian seketika langsung terkekeh mendengar ejekan Vale. Ia selalu menyukai ejekan yang Vale kadang suka lontarkan terhadap nya.


Hal hal jenaka khas Vale yang bisa membuatnya tertawa.


"Kau selalu bisa membuat aku tertawa Vale." ujar Julian.


"Jangan erat erat mengikatkan sabuk pengaman nya. Anak mu nanti tergencet." tukas Vale mengingatkan.


"Oh, maaf." Julian kemudian melongarkan sabuk pengaman yang melintang di tubuh Valerie.


"Maaf ya sayang." ujar Julian sekali lagi sambil mengelus perut Vale yang mulai membuncit.


"Apa gunanya Jeff jika kau selalu menjemput ku."


"Aku ada meeting di wilayah ini tadi Vale, jadi sekalian saja aku mengajakmu makan siang. Ayo kita cari restoran yang enak. Aku ingin menemani Mommy nya calon anak ku makan siang." ujar Julian, dan hal itu justru membuat Vale makin pusing.

__ADS_1


__ADS_2