Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Meluluhkan hati


__ADS_3

Julian saat ini benar-benar dihadapkan pada situasi yang sulit. Menghadapi dua wanita yang secara bersamaan menyalahkan dirinya.


Kini rasa bersalah itu menggelayuti hati Julian setelah Vale dengan penuh emosional mencurahkan isi hatinya.


Julian saat ini masih berada di lantai bawah, masih menikmati minuman wine nya.


Dia tidak menyangka, apa yang di rahasiakan yang menurut Julian terbaik, justru malah membuat hubungan nya dengan kedua wanita yang ia anggap penting itu berubah menjadi buruk.


Bahkan membawa kehancuran untuk hubungannya dengan Jenna.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Apa yang sudah kau katakan kepada Jenna. Kenapa kau tidak mengatakan padaku jika Jenna datang kemari."


"Kenapa kau tidak bilang kepada Jenna jika kita hanya menikah kontrak?"


"Jaga kata kata kata mu Valerie. Memangnya kau siapa. Kau hanya seorang rahim bayaran untuk ku, tidak lebih. Aku selalu ingatkan pada mu, jangan campuri urusan pribadi ku."


Kata-kata Julian yang menyesakkan itu masih terngiang-ngiang dipikiran Valerie.


Entah kenapa perkataanJulian yang seolah-olah menuduh nya itu membuat hati Vale perih dan sakit.


Bahkan hati nya terasa sangat sedih saat ini.


Vale terduduk di lantai kamar mandi sambil membiarkan air hangat mengucur dari shower mengguyuri dirinya.


Perasaannya saat ini teramat sangat sedih. Meskipun ia tadi sudah mengeluarkan sebagian emosinya pada Julian.


Tapi tetap saja, masih ada rasa sedih yang bermuara di hatinya saat ini.


Tidak adanya seseorang untuk menjadi tempat berbagi keluh kesah mungkin menjadi salah satu tekanan batin tersendiri untuk Valerie.


Julian yang saat itu menjadi tempat curhatnya Menjadi tempat berbaginya. Dan tak malu untuk berkeluh kesah dengan segala apa yang ia rasakan ketika hubungan mereka masih baik, menjadi sumber kebahagiaan tersendiri untuk Valerie.


Hari-harinya begitu indah. Dan ia bisa bermanja sesuka hatinya terhadap pria dewasa itu.


Bahkan dengan sangat tidak keberatan, Julian seolah juga suka memanjakan Valerie.

__ADS_1


Sikap Julian yang seperti itu lah yang membuat Vale makin mencintai nya. Meskipun Vale tau, Julian selalu mengingatkan, jangan jatuh cinta denganya.


Belum lagi berbagai kegiatan ke intiman yang mereka lakukan bersama. Semuanya meningalkan kesan tersendiri untuk Vale.


Dan menjadikan dirinya untuk sulit move on meskipun ia sangat berubah dan mencoba.


Tapi, setelah pengungkapan rasa cinta terhadap Julian dan dengan segala kerendahan hati Vale untuk jujur. Vale justru harus menelan kenyataan pahit saat Julian ternyata telah beristri lagi.


Sejak saat itulah sikap Vale berubah pada Julian. Dan membuat Valerie tidak bisa lagi untuk terbuka.


Justru ia ingin menutup diri terhadap pria yang masih sangat ia cintai itu.


Ketika itu Vale masih masih berada di bawah guyuran air shower di kamar mandi. Dan tiba tiba seseorang membuka pintu kamar mandi.


"Vale, apa yang kau lakukan." ucap Julian panic. Kemudian Julian langsung mematikan air showernya dan berjongkok di hadapan Valerie.


"Kamu sedang apa. Kenapa kau mengguyur tubuhmu dengan air shower seperti ini. Kasian bayi mu, nanti kau juga masuk angin. Cepat keluar dari kamar mandi, dan ganti baju mu." perintah Julian, dengan nada suara prihatin.


"Kau hanya peduli dengannya kan."ucap Vale, yang masih tidak bergeming dan tidak menatap wajah Julian.


"Valerie, aku minta maaf. Aku minta maaf untuk semua yang telah aku katakan tadi. Aku mengaku salah, aku sudah kasar denganmu. Aku sudah menuduh mu dan lain lain. Maafkan aku, aku tarik kembali kata-kataku yang tadi. Anggap aku tidak pernah mengucapkannya. Ayo, aku bantu bangun." ucap Julian kemudian ia mencoba untuk membantu Vale bangkit dari duduknya di lantai kamar mandi.


"Jangan di ulangi ya seperti ini." imbuh Julian.


"Sebaiknya kau shampoo rambut mu. Aku bantu ya." ujar Julian lembut.


Kemudian Julian menyalakan lagi air shower nya. Dan kemudian mengambil cairan shampo. Lalu dengan sangat telaten Julian men shampoi rambut panjang Valerie. Kemudian membilasnya lagi dengan Shower yang hangat.


"Aku akan keluar dari kamar mandi. Kau sabun dulu tubuh mu. Setelah itu keluar dari kamar mandi dan pakailah baju yang hangat. Aku tidak ingin kau melakukan hal seperti ini lagi Vale. Kasian bayi kita, rasakanlah, dia bergerak gerakan." ujar Julian yang kala itu sedang menyentuh perut bulat Vale dengan telapak tangannya.


"Keluar lah, dulu." ucap Vale menyuruh Julian pergi dari kamar mandi.


Setelah Julian berlalu, Vale kemudian melepaskannya bajunya yang sudah basah kuyup kemudian mandi.


Setelah beberapa saat, Vale keluar dari kamar mandi dengan sudah mengenakan bathrope.


"Kemarilah." Ucap Julian, yang kala itu sudah berdiri di sisi meja rias yang ada di kamar.

__ADS_1


Valerie pun menurut, kemudian ia duduk di depan meja rias.


Julian mengambil sebuah hairdryer, lalu mengunakan hairdryer itu untuk mengeringkan rambut panjang Valerie.


"Jangan lakukan hal seperti tadi ya. Itu tidak bagus untuk mu dan juga bayi kita."


"Kau hanya peduli dengan bayi mu kan." ucap Vale dengan suara lemah.


"Aku juga peduli dengan mu Vale."


"Kau hanya peduli dengan fisik ku, tapi tidak peduli dengan hatiku. Aku tidak memintamu untuk membalas rasa cintaku terhadapmu. Aku hanya memintamu untuk menjaga hatiku, perasaan ku.Tapi kau menyakitiku sejauh ini." ujar Vale berterus-terang pada Julian tentang perasaannya.


"Aku minta maaf Valerie." ucap Julian lagi, yang saat itu berganti menyisir rambut Vale dengan lembut.


"Aku tau, kau tidak akan pernah bisa mencintaiku. Dan aku berhenti untuk mengemis cinta itu darimu. Aku hanya ingin kau menjaga perasaanku saja. Hanya itu yang aku minta. Kau tau kan, aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Aku hanya bisa berpelukan dengan diriku sendiri."


"Jangan merasa sendirian Vale, aku adalah teman mu saat ini. Terlepas kita punya urusan, aku sudah menganggap mu sebagai teman, teman yang spesial."


Julian kemudian duduk berjongkok, sambil memegangi perut Vale. Saat itu, Vale masih duduk di kursi rias nya.


"Anak ini akan selalu membuat diri ku dan diri mu punya keterikatan. Meskipun kita tidak punya hubungan khusus. Anak ini adalah sebagian dirimu dan juga sebagai diriku." ucap Julian sambil mengelus elus perut Valerie.


Entah mungkin janin itu ada feeling atau memang mungkin merespon. Janin yang ada di dalam perut Vale terus bergerak gerak dan menendang.


"Dia bergerak." ujar Vale merasa takjub.


"Dia tau ada Daddy-nya dan Mommy nya yang sangat sayang dengan nya." ucap Julian.


Kemudian Vale dan Julian sama sama tersenyum. Seperti sedang merasakan momentum intim bertiga, dirinya, Julian dan bayinya.


Namun Aura bahagia itu tak berlangsung lama. Vale kemudian tersadar. Kebahagiaan yang ia rasakan saat ini hanyalah kebahagiaan yang semu.


Bayi yang ia kandung bukan lah milik nya lagi. Sejak ia masih berada di kandungan pun Vale sudah tidak ber hak. Karena ia sudah menandatangani kontrak perjanjian yang menyatakan bahwa bayi itu adalah milik Julian sejak ia lahir. Hal itu membuat hati Vale kembali sedih.


"Sebaiknya kau pulang. Seharusnya kau mengurus istri tercinta mu. Aku akan baik baik saja." tutur Vale.


"Baiklah, aku akan kembali ke Mension. Hubungi aku jika kau merasakan sesuatu. Maafkan aku sekali lagi." ucap Julian, yang kemudian setelah itu ia berjalan menuju pintu dan pergi.

__ADS_1


__ADS_2