Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Season 2 New life begins : Dave Enderson


__ADS_3

Dave Enderson POV


Lima hari kemudian, di sebuah rumah sakit


Entah kapan wanita itu bisa sadar dari koma nya. Ini adalah hari ke lima dia di rawat di rumah sakit. Di sebuah ruangan khusus dan eklusif.


Aku tidak tau harus melakukan apa demi bisa menembus kesalahan ku yang telah menabrak nya.


Meski kecelakaan itu tidak sepenuh menjadi kesalahan ku. Tetap saja aku merasa harus bertanggung jawab penuh semua yang sudah terjadi.


Dan aku akan mengawal kesembuhannya sampai ia pulih.


Jika saja driver ojek yang membawanya tidak hilang kendali. Mungkin kecelakaan ini juga tidak akan terjadi.


Ku dekati wanita cantik yang saat ini tengah terbaring tak berdaya itu. Dengan bantuan beberapa selang yang menghiasi wajah serta infus yang terpasang di tangannya.


Wajahnya terlihat putih bersih, rambutnya yang panjang nampak luluh.


Ku pandangi wajahnya dengan begitu intens. Perlahan, ku raih telapak tangannya. Dan ku sentuh jari jari nya.


"Maaf kan aku Valerie. Aku sungguh tidak sengaja menabrak mu. Sadarlah, aku ingin mengucapkan permintaan maaf kepada mu. Jika saja ada cara yang lebih indah untuk bisa aku bertemu dengan mu. Tentu aku ingin bertemu dengan mu dengan cara yang tidak se ekstrem ini. Sekali lagi aku minta maaf. Cepatlah sadar. Putri mu juga sudah datang menjenguk mu. Bersama mantan suami mu. Aku tidak menyangka, wanita secantik dirimu ternyata sudah pernah menikah dan mempunyai anak. Cepat sadar Valerie."


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Dua hari setelahnya


Setelah mendapat telepon dari rumah sakit jika Valerie telah sadar dari koma nya. Aku langsung meninggalkan ruang kantor ku dan segera menuju rumah sakit tempat Valerie di rawat.


Sesampainya di rumah sakit. Dengan langkah gontai, ku jejak kan langkah kaki ku panjang panjang menuju kamar di mana Valerie di rawat.


Sesampainya di ruang perawatan. Aku melihat beberapa tim dokter khusus yang sengaja aku datang kan untuk menangani Valerie, tampak makasih sibuk mengecek keadaan Vale.


Dari tempat aku berdiri saat ini, aku bisa melihat. Vale memang sudah membuka matanya. Tapi pandangannya masih kosong.


Dia masih tampak lemas dan belum sepenuhnya kembali kesadarannya.


"Keadaannya cukup baik. Dia sudah melalui masa kritis. Sebentar lagi dia akan di pindahkan ke ruang perawatan." ucap salah seorang tim dokter yang selama ini menangani Valerie.

__ADS_1


"Bagus, aku ingin kesehatannya terus di pantau sampai dia pulih seperti sedia kala."


"Tapi lengan kanannya yang mengalami patah tulang. Perlu tindakan khusus. Jika kesehatannya sudah stabil. Kami akan melakukan operasi di bagian lengannya." imbuh sang dokter itu lagi.


"Lakukan apa saja yang bisa mengembalikan kesehatannya. Lakukan yang terbaik."


Valerie kini telah di pindahkan ke ruang pemulihan. Sebelumnya aku sudah memesan kamar inap khusus untuknya.


Setelah beberapa saat menunggu. Kini aku menghela nafas panjang dan memberanikan diri untuk menemuinya.


"Hai, Valerie." sapa ku padanya. Valerie yang ketika itu masih tampak lemas menengok ke arah ku dengan tatapan bigung.


"Tenang lah, kau akan di rawat dengan baik di sini."


"Kau siapa?" tanyakan dengan suara lemah.


"Aku minta maaf sebelumnya. Aku yang telah menabrak mu. Aku Dave," ucap ku padanya. Vale nampak masih linglung.


"Tenang lah Vale, kau akan di tangani dengan baik di sini sampai kau pulih. Aku akan bertanggung jawab." imbuh ku. Dia tidak menjawab, ia kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Oke, tolong jaga dia dengan baik. Jangan tinggalkan dia walau sejenak." kata ku pada perawatan itu.


Entahlah, ada suatu perasaan yang membuat ku tertarik untuk melindungi wanita cantik yang kini masih terbaring lemah itu.


Suatu perasaan aneh seperti magnet yang membuat aku selalu memikirkannya beberapa hari ini. Bahkan aku hampir tidak bisa tidur lelap gara gara memikirkannya.


Padahal dia bukan siapa siapa ku. Dia hanya wanita asing yang kebetulan menjadi korban tabrak oleh ku.


Tapi wajah nya kini telah memenuhi pikiranku. Dan rasa takut jika terjadi sesuatu dengan dirinya hampir membuat ku paranoid.


Ketika aku baru saja keluar dari kamar inap Vale. Mantan suami Valerie datang. Sebelumnya aku telah berkenalan dengan pria itu, yang namanya Julian Alexander.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Julian.


"Syukurlah, dia sudah melalui masa kritisnya. Dia sudah siuman. Tapi kesadarannya belum benar-benar pulih. Perawat tadi menyuruh ku untuk keluar. Dia masih butuh banyak istirahat." kata ku menjelaskan tentang kondisi Valerie.


"Oke, besok aku akan datang kemari lagi untuk menemuinya. Sekarang biarkan dia beristirahat dulu. Oya, bolehkah kita bicara sebentar. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu." ucap Julian pada ku.

__ADS_1


"Baiklah, kita bicara di cofee shop di lantai bawah saja."


Kemudian aku mengajak Julian untuk pergi ke cofee shop. Aku penasaran, ada hal apa yang ingin Julian bicarakan dengan ku.


Setelah kami tiba di cofee shop. Aku memesan dua minuman untuk kami.


"Ada sesuatu yang ingin aku sampai kan pada mu. Ini tentang Valerie." ucap Julian sambil menatap ku.


"Oke, ada apa dengan Valerie."


"Aku akan mengambil alih seluruh biaya pengobatan mantan istri ku. Aku yang akan merawat nya. Jadi, kau tidak perlu repot-repot untuk mengurusi mantan istri ku."


Entah kenapa, mendengar Julian menyebutkan bahwa Vale adalah mantan istri nya membuat hati ku tergelitik. Ada rasa tidak suka yang kini aku rasakan pada sosok pria bernama Julian Alexander ini.


"Tidak bisa seperti itu Julian. Aku yang menabrak nya, aku lah yang harus bertanggung jawab. Ini bukan sekedar soal biaya pengobatannya. Tapi ini adalah sikap tanggung jawab ku pada dia yang aku tabrak." jelas ku pada Julian, mantan suami Valerie ini.


Mendengar kata mantan, aku jadi penasaran. Kenapa Julian menceraikan wanita secantik Valerie.


Belum apa apa kau sudah sangat penasaran dengan kehidupan Valerie.


"Jika ini soal kau merasa tidak enak hati dan merasa terbebani dengan tagung jawaban. Kau bisa sampaikan permintaan maaf mu pada Valerie. Tapi soal biaya pengobatannya dan setelah ia bisa keluar dari rumah sakit nanti. Biarkan aku yang mengutusnya. Aku adalah mantan suaminya. Dan aku yang paling tau apa yang terbaik untuk mantan istri ku." mendengar penuturan Julian yang terkesan posesif untuk merawat Valerie membuat aku curiga. Bukankah dia sendiri sudah punya istri sekarang. Bahkan istrinya kemarin juga terlihat sedih dengan kondisi Valerie.


Tapi sekarang dia berbicara seperti dia masih menjadi suaminya saja.


Entah kenapa aku semakin tidak suka dengan sikap Julian ini.


Dari hasil pembicaraan kami, aku yang sejak awal sudah berkomitmen untuk bertanggung jawab penuh atas apa yang aku lakukan. Tidak memberikan izin pada Julian untuk mengambil alih pengurusan pengobatan Valerie. Aku tetap kekeuh ingin bertanggung jawab penuh.


Di komen ya gaes Abang Dave nya





__ADS_1


__ADS_2