
Setelah Julian membersihkan diri, ia kemudian keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya.
Sejenak ia menoleh ke arah ranjang. Di mana biasanya Jenna sudah tertidur lelap di sana. Atau, kadang istrinya itu masih sibuk dengan ritualnya jelang tidur.
Melihat sisi rajang itu kini kosong. Membuat hati Julian tergelitik dan kembali merasa bersalah. Karena dirinyalah yang membuat Jenna marah dengannya saat ini.
Setelah Julian mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Julian kemudian keluar dari kamarnya.
Ia berjalan menuju kamar tidur Louis, karena Ia yakin. Jenna saat ini pasti sedang berada di kamar putranya.
Julian yang saat itu sudah tiba di depan pintu kamar Louis. Dengan pelan Ia meraih handle pintu dan memutarnya secara perlahan. Julian melihat Jenna nampak sudah tertidur pulas di sisi sang putra yang juga telah tidur.
Dengan langkah pelan, Julian mendekati ranjang sang putera. Kaki mulus putih Jenna begitu terexpose saat itu. Jenna tertidur sambil memeluk Louis.
Melihat sang istri dan juga sang putera yang tengah tertidur lelap saling berpelukan membuat Julian merasa terharu.
Ia menyadari, dengan menyimpan video serta menyimpan foto Valerie di ponselnya saat itu. Ia telah membuat suatu kesalahan, menyakiti hati dan perasaan Jenna.
Untuk sesaat, Julian hanya terdiam sambil memperhatikan istri dan sang putera.
Kemudian, Julian membungkukkan tubuhnya dan memberikan kecupan dalam ke puncak kepala Jenna. Lalu, Julian bergantian memberikan kecupan pada kening sang putera, Louis.
Setelah itu, Julian meraih selimut tebal yang ada di ranjang putranya. Dan menarik selimut tersebut untuk bisa menyelimuti Jenna dan juga Louis.
"Good night my lovely." ucap lirih Julian ada Jenna dan Louis.
Setelah itu, Julian keluar dari kamarnya Louis dan menutup pintu dengan pelan.
Tidak ingin kembali ke kamarnya, Julian kini berjalan menuju kamar Elenor.
Begitu ia membuka pintu kamar sang puteri. Senyuman manis terukir di wajah tampan Julian.
Dengan langkah pelan, Julian mendekati Elenor yang juga telah tertidur pulas.
Elenor bagi Julian adalah anak yang special. Elenor merupakan anak pertama nya dari sekian tahun ia sangat ingin punya keturunan. Julian sangat menyanyi putrinya itu.
Julian yang kala itu tengah terduduk di sisi rajang Elenor. Kemudian ia mengulurkan tangannya dan membelai lembut rambut panjang Elle.
Rambut panjang yang sama warnanya dengan rambut Valerie.
__ADS_1
Senyum Julian makin merekah saat melihat Elle tidur dengan memeluk dua boneka barunya. Sebuah boneka binatang berbentuk kangguru dan pinguin.
Saat Julian mengamati wajah Elenor. Wajah itu selalu mengingatkan nya dengan wajah cantik Valerie.
Begitu wajah Vale kini telah memenuhi pikirannya. Seolah olah semua hal tentang Vale saat masih bersamanya kini sedang menari nari di kedua pelupuk mata Julian. Julian nampak mendesah frustasi.
Karena saat ini, hati Julian memang sedang dihantui dengan bayangan Vale. Yang menurutnya, semakin hari wanita yang pernah menjadi pemuas hasrat itu kini nampak semakin mempesona.
Sadar hal itu bukan hal yang baik untuk di fantasikan. Julian lalu berusaha untuk menepis semua fantasi itu. Ia tau hal itu adalah godaan baginya.
Ia tidak ingin perasaan itu malah tumbuh subur di hatinya. Julian mencoba untuk tetap berusaha tetap waras dan sadar. Jika dirinya kini sudah punya istri. Dan ia tidak akan menyakiti hati Jenna lebih dalam lagi.
Vale saat ini bagaikan godaan yang menggiurkan baginya.
Lalu, Julian mencoba mengalihkan pikirannya dengan membelai belai rambut panjang Elenor. Kemudian Julian melabuhkan kecupan sayang di puncak kepala Elenor.
"Daddy sangat menyayangi mu Elle." Ucap Julian lirih.
Kemudian ia merebahkan tubuhnya di sisi rajang Elle dan Julian sengaja ingin tidur bersama dengan sang putri malam itu.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi itu Jenna sengaja untuk bangun lebih awal.
Saat ia tiba di kamarnya, dan begitu dia melihat tempat tidurnya kosong. Jenna tidak mencari-cari di mana suaminya itu semalaman tidur. Jenna hanya menduga jika suaminya itu pasti tidur di kamar Elle.
Jenna kemudian segera berlalu ke kamar mandi dan melakukan ritual mandi pagi.
Sedangkan Julian yang saat itu baru saja masuk ke kamarnya. Mendengar suara air bergemericik dari dalam kamar mandi. Saat Julian hendak membuka pintu kamar mandi. Ternyata pintu kamar mandinya dikunci dari dalam oleh Jenna.
Akhirnya Julian harus menunggu Jenna untuk keluar dari kamar mandi.
Jenna keluar dari kamar dengan sudah berpakaian rapi. Biasanya, Jenna akan berganti baju di ruang ganti baju.
Tapi semenjak ia bersitegang dengan Julian. Jenna selalu membawa pakaian ganti nya ke kamar mandi.
Meskipun Julian dan Jenna berada di dalam satu ruangan kamar. Tapi mereka sama sama saling diam. Dan sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.
Sesaat setelah Jenna selesai mengeringkan rambutnya. Jenna mengatakan kepada Julian jika hari ini ia tidak akan pergi ke kantor.
__ADS_1
"Aku sedang ingin bersama anak anak. Jadi aku tidak akan ke kantor hari ini." ujar Jenna.
"Oke tidak masalah." jawab Julian, ketika ia saat itu sedang memakai dasi.
"Aku turun kebawah liat anak anak dulu." ucap Jenna yang saat ini hendak berlalu.
"Jen, bantu aku memakai dasi." pinta Julian yang sudah menahan langkah Jenna dengan memegangi pergelangan tangan jenna.
Dan mau tak mau, Jenna kembali ke harapan Julian dan kemudian ia merapikan dasi yang Julian hendak kenakan.
Ketika Jenna sedang merapikan dasi yang kenakan. Julian kemudian meraih pinggang Jenna dan merapatkan tubuh Jenna pada tubuh nya. Mengunci pergerakan Jenna dengan kedua tangannya yang melingkar di pinggang Jenna yang ramping.
"Jangan bercanda." ucap Jenna protes.
"Jangan terlalu lama marah dengan ku. Aku tidak suka kamu marah seperti ini sayang. Aku tidak tahan kau acuhkan."
"Aku harus kebawah memeriksa anak anak dulu." ucap Jenna yang sepertinya sudah sangat ingin meloloskan diri dari Julian.
Dan, tanpa aba aba dan dengan secepat kilat. Julian melabuhkan ciuman dalam dan posesif pada bibir Jenna.
Julian dengan sangat dalam menempelkan bibirnya ke bibir Jenna. Dan memaksa bibir Jenna untuk terbuka. Saat bibir Jenna terbuka dengan paksa, Julian kemudian lebih memperdalam ciumannya. Untuk beberapa detik, Julian menciumi bibir sang istri. Sedangkan Jenna sendiri hanya pasrah saat di cium bibirnya oleh Julian. Dan dia tak membalas ciuman tersebut.
"Aku mencintaimu Jen, kau wanita yang mengagumkan untuk ku. Aku minta maaf." ucap Julian, sesaat setelah ia selesai mencium bibir sang istri.
"Aku harus kebawah. Anak anak mungkin sudah menunggu untuk bersarapan." ucap Jenna, yang kemudian ia melepaskan tangan Julian yang sejak tadi berada di tengkuknya. Lalu ia lepaskan diri kekuasaan Julian terhadap dirinya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Begitu Jenna dan Julian telah tiba di meja makan untuk bersarapan. Elenor dan juga Louis sudah duduk dan telah bersarapan terlebih dahulu.
"Kenapa Papa dan Mama lama sekali. Aku sudah lapar Papa." komplain Louis pada Julian.
"Sorry handsome, sudah buat kamu menunggu. Hari ini Mama akan ada di rumah, jadi kalian bisa bersama Mama sepanjang hari." ucap Julian pada Louis.
"Horeeeee." teriak Louis senang. Ketika Mama nya hari ini tidak pergi bekerja.
"Apa Mama sakit?" tanya Elenor ada Jenna.
"Tidak Elle, Mama tidak sakit. Mama hanya ingin bersama kalian. Mama akan temani kalian berangkat ke sekolah dan akan menjemput kalian nanti. Hari ini kita akan melakukan banyak hal sesuai kalian sekolah." ujar Jenna, menampakkan wajah bersahajanya pada anak anak.
__ADS_1
Meski Jenna dan Julian bersitegang. Mereka tetap berusaha untuk tersenyum. Mereka tidak ingin anak-anak tau jika saat ini mereka sedang masalah.
Dan Jenna berusaha untuk terlihat biasa dan tetap bersikap baik pada Julian jika mereka sedang berada dihadapan anak-anak.