
Satu Minggu Kemudian
Hubungan antara Jenna dan Julian masih tegang. Ketegangan di antara mereka masih belum bisa mencair.
Jenna saat ini sudah bisa kembali bekerja. Setelah satu Minggu mengajukan cuti karena dia sendiri sedang tidak enak badan.
Demikian pun dengan Julian. Pria itu seperti biasa sibuk bekerja.
Mereka berdua sudah aktif dengan pekerjaan dan juga kesibukan mereka masing-masing.
Dan siang itu rencananya, Jenna mewakili perusahaan Sahara Corp harus menghadiri meeting penting bersama dengan beberapa karyawan Julian Corp di sebuah Hotel ternama.
Jenna menghadiri meeting penting pada siang hari itu dengan penuh rasa profesionalisme dalam bekerja.
Dengan di antara sopir perusahaan, Jenna dengan beberapa rekan kerjanya telah tiba di lokasi meeting kala itu.
Jenna sebagai wakil dari perusahaannya siang itu menjadi pemimpin rapat.
Sedangkan Julian terus saja memperhatikan Jenna. Tak bisa mengalihkan pandangannya terhadap wanita yang sedang marah denganya saat ini.
Julian memandangi Jenna dengan mata tak berkedip di tempat ia duduk.
Ada rasa rindu, bangga, serta makin cinta Julian dengan istri sirinya itu. Yang saat ini tengah berdiri memberikan pemaparan tentang meeting siang itu.
Sedangkan Jenna sendiri tidak sama sekali dan sengaja tidak memandang kearah Julian.
Jenna hanya melihat ke arah Julian sesekali sebagai bentuk profesionalisme dalam bekerja.
Dan bahkan, Julian sempat beberapa kali menginterupsi pendapat Jenna.
Namun Jenna kembali bisa mengendalikan dan menjelaskan pendapatnya dengan sangat lugas pada semua peserta meeting saat itu.
Di kursinya ia duduk, Julian kembali merasa takjub dengan kepiawaian Jenna dalam menguasai sebuah meeting.
__ADS_1
Dan dengan kecerdasannya Jenna memberikan pemaparan yang lugas dan juga terang. Yang membuat para peserta meeting saat itu ikut berdecak kagum pada Jenna yang begitu profesional dan pintar dalam memaparkan sesuatu.
Setelah meeting selesai. Julian kemudian menyuruh semua yang hadir dalam rapat kala itu untuk bersantai sambil makan siang.
Jenna yang sudah merasa sangat lapar. Langsung bergegas untuk mengambil semangkuk bakso yang juga telah di siapkan oleh pelayan restoran.
Jenna mengambil semangkuk bakso dan kemudian duduk di sebuah meja yang ada di sudut ruangan.
Ia ingin menikmati bakso yang sudah membuatnya berliur itu dengan tenang.
Ketika Jenna sedang asik menikmati kuah bakso yang begitu asik ia nikmati, satu gelas air putih tiba tiba mendarat di sisi mangkuknya.
"Jangan buru-buru makannya. Santai saja, masih banyak." suara bariton yang sudah Jenna kenali membuat Jenna kemudian menoleh ke arah Julian.
Julian dengan tatapan lembut, mengembangkan senyumnya pada Jenna.
"Jen, aku merindukan mu." ungkap Julian yang kemudian duduk di kursi yang lain di hadapan Jenna.
Jenna tidak menjawab perkataan Julian, ia tetap fokus menikmati baksonya.
"Setiap orang bisa berubah-ubah dalam menyikapi sebuah rasa. Tergantung bagaimana mereka memperlakukannya. Aku memang tidak suka pedas, tapi saat ini aku sedang suka pedas, aku tetap bisa menikmatinya." ujar Jenna yang akhirnya bersuara.
Tapi dari gaya bahasanya, sebenarnya Jenna sedang menyindir Julian.
Julian yang paham dengan arti sendiran itu pun tersenyum.
"Tapi aku tidak bisa menikmati hari hari ku tanpa kamu Jen. Aku sudah terbiasa dengan mu saat kita sudah menikah. Pulanglah, maafkan kesalahan ku."
"Tidak sesederhana itu aku bisa memaafkan mu, Setelah kau membohongi dan mengelabui ku Tuan Julian Alexander. Kau bisa menikahi ku dengan cara licik dan kotor. Aku rela kau nikahi siri karena aku percaya dengan mu saat itu. Tapi ternyata ke putusan ku justru menjadi pengalaman keputusan terburuk yang pernah aku ambil. Yang pada akhirnya membuat ku menyesal. Kau sudah mengambil banyak hal dari ku, dan kau justru dengan santai nya datang minta maaf dengan entengnya. Maaf, aku tidak sebaik yang kau kira. Dan aku tidak bisa menerima ini. Kau sudah beristri, dan kau juga sudah jadi Daddy. Cobalah bertanggung jawab dengan baik pada mereka. Lupakan pernikahan kontrak mu dan jalanin saja hidup mu dengan Valerie dan juga anak kalian. Biar aku yang mundur." ujar Jenna yang kemudian berlalu dari hadapan Julian.
🍁🍁🍁🍁🍁
Berada di kamarnya, saat itu Jenna masih sibuk mengecek beberapa berkas pekerjaan yang ada di laptopnya.
__ADS_1
Ketika Jenna sedang mengecek pekerjaan. Sekilas pandang mata Jenna memperhatikan kalender yang berada dekat dengan laptop.
Entah kenapa, dia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya.
Seharusnya periode menstruasinya sudah ia lalui beberapa minggu lalu. Tetapi seingat Jenna, dia belum melalui lagi masa menstruasi seperti biasa.
Jenna kemudian mengambil kalender itu dan mencoba mengingat-ingat kapan terakhir dia menstruasi.
Dan seingat Jenna, terakhir dia menstruasi adalah satu bulan setengah yang lalu.
Lalu dalam hati, Jenna mencoba menghitung sudah berapa hari dia telah menstruasi.
Setelah Jenna menghitung dengan seksama, ternyata ia sudah 3 minggu telah menstruasi.
Dia tidak terpikirkan dalam 3 minggu itu dia belum menstruasi. Karena Jenna kala itu juga memang sedang sakit dan sedang banyak pikiran.
Kemudian pikiran Jenna, berasumsi dan memprediksi sesuatu.
"Apa aku jangan jangan?" Jenna berguman sendiri.
Setelah berfikir mencoba untuk menerka nerka. Jenna kemudian memakai jaketnya dan berniat untuk membeli sesuatu di apotik.
Setelah ia beberapa saat kemudian, Jenna kembali ke kamarnya dengan sudah membawa barang yang ia cari.
Dengan tidak sabar, ia kemudian mengunakan alat itu di kamar mandi.
Dengan perasaan hati yang sudah berdebar debar. Jenna mencelupkan alat tes kehamilan tersebut ke dalam sebuah wadah yang sudah Jenna siapkan terlebih dahulu tadi air kencinnya.
Karena itu adalah kali pertamanya buat Jenna. Mengetes kehamilan membuat hati Jenna penasaran. Karena ia sangat berharap hasil nya tidak positif.
Bukan karena dia tidak mau. Tapi hubungannya dengan Julian saat ini memang sedang bermasalah. Jadi Jenna pikir, akan lebih baik jika dirinya tidak hamil duluan. Agar tidak menambah masalahnya dengan Julian menjadi lebih rumit.
Akan tetapi, keinginan dan harapan Jenna tidak sejalan dengan kemauannya. Setelah ia kini melihat sendiri hasil tes yang ia lakukan.
__ADS_1
Dua garis merah terang terpampang di alat tes pack itu.
"Ya Tuhan, aku ternyata hamil."