Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Rasa memiliki


__ADS_3

Sesampainya di depan pintu apartemen, Jenna menekan bell pintu.


Dan tak lama, sang Mama pun membukakan pintu untuk Julian dan Jenna.


"Jen," sapa sang Mama. Reina nampak sedikit kaget begitu melihat wajah sang putri yang nampak sembab.


"Ma, maafkan Jenna." ucapkan Jenna yang kemudian langsung memeluk dengan erat sang Mama.


Dan di belakang Jenna, Julian nampak berdiri dengan expresi wajah datar.


"Aku ke kamar dulu ya Ma. Jenna akan jelaskan semuanya nanti sama Mama." ucap Jenna yang kemudian langsung berlalu dari hadapan sang Mama untuk pergi ke kamarnya.


Reina pun sangat bingung dengan kedatangan sang putri yang tiba-tiba dan seperti sedang ada masalah.


Pandangan Reina kemudian langsung kembali tertuju ke arah Julian, sang menantu.


"Julian, ada apa? Kenapa Jenna bersikap seperti itu?" tanya Reina.


Reina pun mempersilahkan Julian yang untuk masuk. Dan di ruang tamu, Julian kemudian menjelaskan masalah yang membuat Jenna ingin pulang ke apartemen.


Setelah mendengarkan penjelasan dari Julian, Reina nampak menghela napas panjang.


Ia tidak menyangka, bahwa pernikahan anak nya yang baru berlangsung beberapa bulan sudah di landa prahara yang sedemikian serius.


"Sebaiknya kau pulang dulu Julian. Mama akan membicarakan masalah ini dengan Jenna. Aku juga tidak bisa berpikir apa-apa saat ini. Sebaiknya kau pulang dulu dan biarkan Jenna di sini." ujar Reina, sang mertua pada Julian.


"Untuk sementara saya akan membiarkan Jenna untuk di sini Ma. Untuk dia bisa berpikir dengan tenang. Tapi hal ini bukan berarti aku mengembalikan Jenna sama Mama. Sama sekali tidak Ma, aku hanya ingin dia menenangkan pikirannya. Setelah pikirannya tenang, aku akan menjemputnya kembali." ujar Julian pada sang Mama mertuanya.


Setelah itu, Julian pun meninggalkan apartemen.


Sesampainya Julian di dalam mobil. Ia kemudian memeriksa ponselnya. Dan ternyata ada satu buah pesan yang Valerie kirim untuk nya. Julian kemudian membacanya.

__ADS_1


"Aku izin untuk pergi piknik bersama temanku, Indiana dan David. Jika kau datang ke Penthouse dan mendapati aku tidak ada, berarti aku belum pulang."


Setelah membaca pesan dari Valerie, Julian kemudian mengirimkan pesan balasan pada Vale.


"Share lokasi mu Vale, aku akan menjemputmu"


Balas julian pada Vale.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hari pun makin siang, dan matahari sudah mulai memancarkan sinar mentari nya yang terik.


David dan juga Indiana nampak merapikan beberapa barang-barang pikniknya dan memasukkan ke dalam keranjang.


"Sepertinya hari sudah mulai panas, sebaiknya kita kembali ke rumah. Jika kau mau, kau bisa mampir ke rumah kami Valerie. Rumah kami tidak jauh dari sini." tawar Indiana.


"Mungkin lain kali aku akan mampir ke rumah kalian. Julian baru saja membalas pesan ku. Dan di akan menjemput ku kemari."


"Dia sudah menuju ke sini sekarang. Entahlah, padahal aku tidak menyuruhnya untuk menjemput ku."


Tak lama kemudian, sebuah mobil Mercedes mewah berhenti tepat di sisi jalan.


Sesosok pria gagah, tinggi besar keluar dari dalam mobil.


Kemudian Julian berjalan menuju ke arah di mana Vale dan ke dua temannya saat itu juga sedang memandang ke arah nya.


"Sudah selesai pikniknya." sebuah suara bariton Julian langsung terdengar dan ia melayangkan pandangan ke arah David dengan pandangan tidak suka.


"Kami baru saja selesai berberes." jawab Vale.


"Hari sudah mulai panas. Kalau begitu ayo kita pulang." Seketika itu Julian langsung meraih jari jemari Valerie, menautkan jemarinya ke jemari Valerie dan mengajaknya untuk pergi.

__ADS_1


"Aku diajak mereka dengan sopan, aku harus meninggalkan mereka dengan sopan juga." ujar Vale, yang mencoba untuk menahan langkah Julian.


"Terima kasih sudah mengajakku piknik Indiana. Aku sangat senang sekali, lain kali jika kalian ingin piknik seperti ini, jangan lupa ajak aku lagi ya." ujar Vale.


"Dengan senang hati Vale, pasti kami akan mengajakmu." seru David. Lagi lagi Julian melayangkan pandangan mata tidak suka terhadap David.


Setelah itu Julian menarik tangan Vale yang ia sudah genggam untuk berjalan meninggalkan David dan Indiana.


Julian membukakan pintu mobil untuk Vale, dan juga memakaikan sabuk pengaman untuk wanita yang sedang mengandung benihnya itu.


"Kenapa kau bermuka masam seperti itu." tanya Vale pada Julian, saat pria tampan itu sedang memakai kan sabuk pengaman untuknya.


"Lain kali kau tidak boleh pergi lagi seperti ini tanpa izin ku." desis Julian pada Vale.


"Kenapa?" tanya Vale menyelidik.


"Kehamilan mu sudah makin besar Vale. Keselamatan mu dan bayi ini adalah tanggung jawab ku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kalian."


"Aku hanya piknik Julian." jelas Vale.


"Tapi aku tidak suka dengan mereka. Mereka pasti akan sering mengajak mu pergi pergi lagi." ujar Julian yang saat itu sudah selesai memakaikan sabuk pengaman untuk Vale. Kemudian Julian menutup pintu mobil dengan pelan.


Sebelum ia kembali ke mobil, Julian sekali lagi menatap ke arah David.


Dan kala itu David nampaknya sedang memperhatikan gerak-gerik Julian juga.


Sehingga kedua pria itu kini saling adu pandangan.


David memasang wajah tenang, sedangkan Julian menatap David dengan tatapan mengancam.


Setelah beberapa saat adu pandang. Julian kembali ke mobil nya dan melajukan mobil meningalkan lokasi piknik itu.

__ADS_1


Si Julian kenapa tu???😬


__ADS_2