
Malam itu Julian kembali ke Mansion dengan perasaan yang sedikit kacau.
Kepulangan Julian yang baru saja masuk rumah saat itu diketahui oleh sang mama.
Melihat raut wajah sang putra yang terlihat resah membuat Roseline kemudian menghampiri Julian.
"Ada apa? Kenapa raut muka mu seperti itu." tanya Roseline pada anak satu-satunya itu.
"Tidak ada apa-apa Ma, biasa masalah pekerjaan." jawab Julian berbohong.
"Aku istirahat dulu ya Ma, sudah malam. Kenapa Mama juga belum tidur?"
"Mama belum bisa tidur, Mama tadi baru saja dari tempat perapian."
"Kalau begitu Julian istirahat dulu ya Ma." ujar Julian sambil berjalan menuju anak tangga.
"Istirahatlah sayang." ujar Roseline.
Ketika Julian baru saja hendak menaiki anak tangga, tiba-tiba Roseline memanggil.
"Nak, sebenarnya ada sesuatu yang ingin Mama bicarakan denganmu."
"Tentang apa Ma?"
"Ini tentang Valerie dan juga bayinya."
Julian kemudian mengurungkan niatnya untuk langsung pergi ke kamar. Lalu kembali berjalan ke arah sang mama.
Kemudian, mereka pergi ke ruang tengah dan duduk di sofa yang ada di sana.
__ADS_1
"Mama mau bicara apa tentang Valerie dan juga bayi ku?" tanya Julian yang kini sudah menyebutkan bayi yang di kandung Valerie dengan bayi ku. Sebuah kata penegasan jika bayi yang di kandung Valerie adalah hanya miliknya.
"Mama hanya ingin menyampaikan apa yang ada di dalam pikiran Valerie. Bagaimanapun Valerie itu adalah ibu dari anak yang dia kandung. Valerie mengutarakan pada Mama, jika sebenarnya dia ingin mengasuh anaknya sendiri. Dia ingin membesarkan anak yang ia kandung sendiri. Dan dia juga ingin membatalkan perjanjian itu, dia berubah pikiran Julian."
Julian pun tertawa getir mendengar pernyataan yang mamanya sampaikan.
"Jadi Valerie sudah bilang seperti itu sama mama."
"Iya, dia mencurahkan segala apa yang ia pikirkan terhadap Mama. Karena memang Mama menyuruh dia untuk berterus terang tentang apa yang ia rasakan. Ingat Julian, dia tidak punya siapa-siapa. Vale itu sebatang kara."
"Lalu bagaimana pendapat mama? Bayi yang ada di kandungan Valerie itu cucu mama, anakku. Apa mama sekarang sudah beralih mendukunya. Dari pada ada di pihak ku."
"Mama tahu, tapi pikirkan juga dengan psikologis anak mu nanti. Mama tidak ingin kalian mengambil sebuah keputusan berdasarkan emosi dan keegoisan. Mama sudah mengakui bayi itu cucu mama. Bahkan sudah mengakui Valerie bagian dari menantu Mama. Bila semisalnya anak yang ada di kandungan Vale akan di asuh oleh Vale sendiri, toh kita masih bisa memberikan kewajiban kita untuk ikut membiayai hidup anak itu. Kamu akan tetap menjadi ayahnya, aku akan menjadi Omanya. Semua tidak ada yang berubah. Yang beda hanyalah, anak itu ada dalam asuhan Vale."
"Julian tidak akan merubah keputusan. Aku sudah jatuh cinta dengan bayi itu. Aku juga ingin membesarkannya. Julian menawarkan sebuah rahim bayaran kepada Valeri dengan imbalan dan dia bersedia. Ketika mendatangi surat perjanjian itu, dia sudah tau jika dia akan menyerahkan bayi itu setelah dia melahirkan. Maaf Ma, julian tetap akan mengambil hak asuh bayi ku."
"Julian sangat menginginkan bayi itu. Sudah lama aku menginginkan seorang bayi yang bisa aku gendong. Aku ingin di pangil Daddy. Anak dari Valerie itu spesial bagi Julian."
"Iya, tapi anak dari Vale juga aku sangat ingin kan. Awalnya, aku membuat sebuah perjanjian yang menyatakan. Jika anak itu sudah lahir, Vale sudah tidak lagi berhak dengan anak itu. Tapi kini aku berbaik hati untuk membiarkan Vale bisa sesekali mengunjungi anak nya. Aku akan memperbolehkan Valerie untuk bertemu dengan anaknya."
Flashback on : bab 13 ( perjanjian yang mengikat)
Julian menyisipkan poin poin penting yang pernah ia sudah bahas dengan Valerie sebelumnya kedalam surat perjanjian.
"Vale, baca dulu semula poin poin baru di surat perjanjian ini sebelum kau tanda tangan." ujar Julian mengingatkan.
Valerie pun membaca beberapa poin tambahan yang ada di surat kuasa yang Julian buat. Dan mata Valerie nampak terfokus pada satu baris kalimat dalam poin tersebut.
*Setelah anak itu lahir dan setelah genap berusia 2 Minggu, pihak ke dua (Valerie) harus rela melepaskan dan meninggalkan bayi tersebut untuk di berikan hak asuh sepenuhnya pada pihak satu (Julian)*
__ADS_1
*Dan setelah nya, pihak dua (Valerie) sudah tidak ada hak lagi untuk mengklaim (bayi) dalam bentuk apapun untuk mengagalkan hak asuh oleh pihak satu (Julian)*
Poin itulah yang kini membuat Vale sedikit merinding saat membacanya.
Flashback off
"Tapi, bagaimana dengan psikologis anak mu nanti Julian."
"Julian akan menyewa jasa seorang psikolog khusus yang akan memberikan Julian pengertian tentang bagaimana mengasuh anak Julian nanti. Julian akan menjelaskan bagaimana memberi tahu putri kami tentang keberadaan ibunya, jika misal nanti dia bertanya. Putriku tidak akan kehilangan mommy nya. Dia akan mengenal Jenna sebagai mama sambung dan Valerie sebagai ibu kandungnya, meski mereka nanti tidak bersama."
"Itu mengerikan Julian. Kita bicarakan hal ini lagi bersama Valerie. Karena mama sudah berjanji kepada Vale untuk membicarakan ini denganmu dengan cara baik baik."
"Tidak perlu Ma, Julian sudah membicarakan hal ini pada Vale."
"Nak, jangan menekan Valerie. Saat ini dia sudah banyak tekanan. Dia menyesali perbuatannya. Tapi dia tidak menyesali kehadiran bayi kalian yang saat ini masih ada di kandungannya. Dia menyayangi bayinya. Dia jatuh hati pada bayinya. Sebagai seorang ibu, itu perasaan yang naluriah. Dan kau tau, Mama kagum dengannya. Jangan bebani pikirannya dengan hal hal berat. Menjelang persalinan, justru dia harusnya merasakan kebahagian, bukan malah sebaliknya. Kau harus menyiapkan mental yang kuat untuk Vale. Jika benar nanti dia akan berpisah dengan bayinya. Jadi tolong Julian, jangan menekannya."
Mendengar penuturan sang Mama membuat Julian kini tertunduk lesu.
🍁🍁🍁🍁🍁
Dan malam itu, Valerie yang berada di kamarnya. Menjadi tidak tenang semenjak ia mengetahui Julian akan tetap kekeuh pada pendiriannya. Tidak mau melepaskan anak yang ada di kandungannya.
Vale yang kini perutnya sudah semakin membulat besar nampak mondar-mandir di kamar.
Dia mencari sebuah ide bagaimana dia bisa keluar dari Penthouse.
Vale kini tengah berniat untuk pergi, melarikan diri demi bisa tetap bersama dengan anaknya. Ia berniat untuk membawa bayinya pergi sejauh mungkin.
Saat ini Vale sedang berfikir untuk mencari tujuan ke mana ia akan tuju selepas ia meninggalkan Penthouse.
__ADS_1
"Aku harus pergi dari sini, aku harus pergi dimana Julian tidak akan bisa menemukan aku dan putri ku. Tapi aku harus pergi ke mana. Tidak mungkin aku minta bantuan David dan Anna. Karena Julian pasti akan mencari dan bertanya pada mereka. Aku juga tidak ingin membuat mereka susah karena ku. Ya Tuhan tolong bantu aku."