
Jenna keluar dari kamar mandi dengan sudah mengenakan gaun malamnya, dengan rambut yang masih tergerai basah.
Julian yang saat itu masih duduk di sisi rajang kemudian memperhatikan Jenna yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Julian lalu berdiri dan berjalan ke arah sang istri.
Saat Julian kini telah berdiri tepat di hadapan Jenna. Ia kemudian meraih kedua lengan Jenna dengan kedua tangannya.
Julian merapatkan tubuhnya pada wanita yang juga sangat ia cintai itu.
Julian kemudian meraih dagu Jenna agar sang istri mau menatap wajahnya.
Jenna masih memasang wajah cemberut, saat Julian meraih dagunya untuk membuat ia mau menatapnya.
Tapi tetap saja, Jenna tidak mau menatap wajah Julian. Ia justru melegos kesamping.
Julian hanya bisa mendesah pasrah dengan sikap dingin sang istri.
"Sayang, aku minta maaf. Untuk semua perkataan dan juga untuk semua hal yang telah aku lakukan. Soal video dan foto itu dan semuanya. Jen, liat aku, please." ucap Julian sambil kini ia menangkup wajah Jenna dan memaksa Jenna untuk mau memandangnya.
"Jangan paksa aku." desis Jenna, dengan nada suara ketus, ketika kedua mata mereka saling bertemu.
"Kau adalah istri ku, aku mencintaimu, aku menyayangi mu. Aku mengakui aku salah. Aku minta maaf." ucap Julian pada Jenna. Suambil melepaskan kedua tangan Julian yang tadi menangkup wajahnya. Jenna kemudian beralih dari harapan Julian.
"Aku sepertifa orang bodoh saat mencintai mu. Dari dulu sampai sekarang aku tetap saja seperti orang bodoh." uangkap Jenna.
__ADS_1
"Kau tidak bodoh Jen. Kita memang saling mencintai. Aku mencintaimu."
"Stop Julian, kita saling mencintai, itu bulsit." ujar Jenna dengan berkata sedikit kasar pada Julian. Sebuah perkataan yang tak pernah ia ucapkan sebelumnya.
Julian yang baru kali itu mendengar Jenna berkata kasar kemudian mendekati kembali kearah Jenna.
"Jen, aku tau kau kecewa dan marah pada ku. Bukankah kau sudah bicara dengan Vale. Aku juga sudah katakan pada mu tentang perasaan ku terharap Valerie kan."
"Tapi kau belum jujur Julian. Aku tau kau tidak jujur. Aku lebih suka mendengar kejujuran yang menyakitkan dari pada di bohongi dengan kepura pura an."
"Aku berkata jujur Jen. Aku tidak pura pura mencintai mu. Sejauh ini aku sudah berjuang untuk bisa mendapatkan mu kan."
"Kau mencintai Valerie kan?" tuduh Jenna.
Julian kemudian terdiam. Dan memandang wajah Jenna dengan tatapan dalam.
"Aku sudah bilang, aku memang menyayangi Vale. Aku memang care dengan nya. Tapi itu hanya sebatas, rasa sayang dan peduli biasa. Aku tidak ada perasaan cinta di sana. Aku bersumpah Jen, aku mencintaimu, aku sayang dengan kamu." ucap Julian bersungguh-sungguh.
"Sayang, care, kamu pikir seorang istri bisa menerima perasan sayang dan care suami nya juga di berikan kepada pada wanita lain."
"Aku sudah menganggap Vale seperti adik ku sendiri, seperti saoudara ku sendiri." imbuh Julian.
"Itu hanya alibi diri mu untuk menutupi perasaan mu pada Vale yang sebenarnya." ucap Jenna mendebat.
"Kau tau Julian, entah kenapa saat aku melihat diri mu dan Vale secara bersamaan. Aku melihat chemistry yang kuat di antara kalian. Bahkan sampai sekarang ini setelah Vale kembali. Tatapan mu pada Vale masih penuh misteri. Dan jika di bilang aku cemburu, ya. Aku cemburu Julian, aku cemburu terhadap cinta mu yang terlihat istimewa pada Valerie. Dan bodohnya aku baru menyadarinya sekarang. Sedangkan aku, aku tidak merasa di berikan cinta yang istimewa itu dari mu." tuduh Jenna pada suaminya.
__ADS_1
"Jika kalian dulu saling mencintai. Kenapa kalian tidak memutuskan untuk bersama. Setelah kau menikahi ku secara siri dan saat itu aku tau kau sudah menikah dengan Vale. Kau menjelaskan padaku dan membuat aku percaya jika pernikahan kalian hanyalah pernikahan kontrak. Kalian sama sama tidak mengakui jika kalian saling mencintai. Bahkan Vale pun turut meyakinkan aku jika dia tidak mencintai mu. Aku kecewa jika pada akhirnya kalian masih sama sama punya sisa rasa cinta."
"Apa selama ini kau merasa aku tidak mencintai mu Jen." seru Julian dengan nada meninggi.
"Entahlah, aku tidak tau."
"Sebelum kau melihat video dan foto itu, hubungan kita baik baik saja. Kita hidup bahagia, tanpa ada masalah sedikit pun. Kita hidup tentram dan damai. Tapi kenapa sekarang kita jadi seperti ini.
"Jadi kau menyalahkan aku, untuk semua kejadian ini."
"Aku tidak menyalahkan mu. Kau hanya berlebihan dan overthinking Jen."
"Overthinking!" Jenna pun tawa getir saat julian justru menuduhnya terlebih dan overthinking."
"Cinta itu butuh kejujuran dan saling terbuka Julian. Seseorang bisa saja berbohong. Termasuk diri mu. Kau bilang tidak mencintai Vale dan sudah tidak ada perasaan apapun dengan Mommy nya Elenor. Tapi kau menyimpan Vidio dan juga fotonya. Bahkan di video mesum kalian, kau." Jenna tak kuasa untuk meneruskan kata-katanya.
Dan kini hanya air mata yang mengalir membanjir kedua pipinya Jenna. Merasakan betapa sakit hati dirinya pada Julian yang telah diam diam bohongi perasaanya.
"Aku dan Vale sudah selesai Jen. Hubungan kami saat ini hanya lah sebatas hubungan baik karena kami adalah orang tua Elenor. Buanglah rasa cemburu mu."
"Yang ku masalahkan sekarang ini bukan Valerie. Tapi kau, kau Julian. Dan sekarang aku sudah tidak percaya lagi dengan mu. Kau ingat kan, aku hanya memberikan kesempatan untuk mu sekali. Tapi justru kini, apa yang aku takutkan telah terjadi. Dan sekarang terserah kau Julian." ucap Jenna penuh dengan rasa kekecewaan.
Kemudian Jenna melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. Lalu ia membuka pintu kamar dan pergi meningalkan kamarnya.
Julian hanya bisa mendesah dengan nafas berat saat Jenna pergi meningalkan dirinya di saat mereka tengah berdebat.
__ADS_1
"Maaf kan aku Jen, jika akhirnya hal itu membuat mu terluka."