
Sepeninggal Jenna dari rumahnya. Vale yang juga telah merasa lega hatinya. Merasa yakin, jika Jenna tidak akan lagi curiga dengan dirinya. Vale kini bisa bernafas lega.
"Aku harap tidak ada lagi drama cemburu buta terhadap diri ku. Apakah aku punya tampang wajah sebagai wanita penggoda suami orang?" keluh Valerie pada dirinya sendiri.
"Entahlah, aku sudah bahagia dengan hidup ku yang sekarang. Meskipun tanpa seorang pria dalam hidup ku. Aku belum siap dengan pergulatan hati lagi. Aku masih belum puas menikmati kebersamaan ku dengan buah hati ku Elenor. Oh Elle, Mommy sudah rindu dengan mu." desis Valerie, berbicara sendiri saat ia sedang rebahan di sofa di ruang tamu.
Sambil memandangi langit langit atap ruang tamu. Vale nampak tersenyum tipis ketika ia mencoba menilai beberapa pria yang sedang ingin dekat dengannya.
David, dia pria lembut, bersahaja dan sabar. Aku tau dia menyukai ku. Tapi aku tidak merasakan sesuatu yang menggetarkan hati ku terhadapnya. Aku menyukainya, aku suka dengan sikapnya. Tapi aku tidak merasakan apapun pada pria yang sudah banyak melakukan kebaikan untuk ku itu.
Edward, pria yang terlihat arogan dan ceplas-ceplos. Mungkin dia jujur dengan perasaannya terhadap ku. Tapi sama dengan David. Aku juga sama sekali tidak merasa perasaan yang aneh jika aku bersamanya. Bahkan dia yang sudah terang terangan merayu ku saya aku tidak merasakan apapun.
Julian, entah kenapa aku dulu bisa jatuh cinta dengan mu. Aku juga tidak tau. Kau cinta pertama ku, kau orang pertama yang mencium ku, seseorang yang pertama kali membuat ku melayang saat pertama kali melakukan hubungan seksual setalah kita sama sama sah sebagai suami istri.
Walau cinta ku tak terbalas. Dan hanya menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan. Tapi dari cinta itu, ada hadiah yang tak ternilai harganya. Elenor ku, buah hati ku, cinta ku, hidup ku, kebahagiaan ku.
Aku merasa begitu bebas saat ini. Setelah bisa benar-benar move on dari pria yang sempat membuat ku gila karena cinta.
Kali ini aku percaya dengan yang namanya cinta tidak harus memiliki. Dan nyatanya, aku bahagia melihat seseorang yang pernah aku cintai hidup bahagia dengan wanita yang ia cintai.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jenna kembali ke apartemen ketika waktu sudah menjelang malam. Setelah bertemu dengan Valerie sore tadi. Kini hati dan pikirannya sudah merasa tenang.
Karena Louis sudah di jemput oleh Julian tadi pagi untuk kembali Mansion. Membuat Jenna saat ini berada sendirian di apartemen.
Saat itu Jenna merebahkan dirinya di rajang kamarnya. Ia sedang memikirkan untuk berbaikan dengan Julian. Setelah ia kini yakin, jika Julian sedang tidak bermain hati bersama Valerie.
Ketika ia sedang bersantai di tempat tidurnya. Suara bel pintu terdengar olehnya.
__ADS_1
Jenna kemudian bangkit dari tidurnya dan berjalan ke arah pintu ruang tamu di apartemen.
Begitu Jenna membukakan pintu. Julian langsung mengembangkan senyumnya yang menawannya ke arah Jenna. Sambil membawakan lagi sebuah buket bunga mawar putih untuk sang istri.
"Selamat malam Jen, aku mau menjemput mu. Kau harus kembali ke Mansion malam ini juga. Apa kau mau aku di usir oleh Mama ku. Mama mengomeli ku ketika aku hanya membawa Louis pulang tadi pagi. Aku tidak mungkin memberi tau Mama jika kau sedang marah dengan ku kan. Aku beralasan jika kau sedang menjaga toko kue Mama mu. Jadi, aku kemari untuk menjemput istri ku. Pulanglah ke Mansion sayang." rayu Julian.
"Masuklah." ucap Jenna, mempersilahkan Julian untuk masuk.
Julian pun masuk dan kemudian ia menutup pintu apartemen. Sedangkan Jenna berjalan ke kamarnya untuk mengambil ponsel miliknya.
Tapi saat Jenna hendak keluar dari kamarnya. Julian sudah menutup pintu kamar terlebih dahulu.
"Kita bicara di ruang tamu saja." ucap Jenna yang kini sudah nampak tegang. Karena Julian berjalan ke arahnya dengan tatapan mata penuh gairah yang tertahan.
"Kita hanya berdua saja di sini Jen. Aku ingin sebelum kita kembali ke Mansion. Masalah antara diri ku dan juga dirimu telah selesai. Aku tidak mau Mama sampai melihat gurat kesedihan terukir di wajah cantik mu ini." ucap Julian yang saat ini sudah berdiri tepat di hadapan Jenna. Meraih kedua tangan Jenna dan menggenggamnya erat erat.
"Aku sudah jujur tentang semuanya. Jika kau masih saja marah dengan ku. Aku tidak tau lagi harus berbuat apa dan bagaimana caranya untuk meyakinkan mu." Julian kemudian meraih dagu Jenna dan menatap wajah sang istri dalam dalam.
Jenna yang saat ini hati dan perasaan nya sudah mulai luluh. Akhirnya menganggukkan kepalanya. Menandakan bahwa ia kini telah memaafkan Julian.
Melihat anggukkan kepala sang istri membuat Julian tersenyum puas.
"Katakan sayang ku, jika kau telah memaafkan aku." ucap ulang Julian yang kini sudah mengecup kening, pipi dan juga leher jenjang Jenna dengan lembut.
Mendapat sentuhan bibir Julian yang telah menyapu kening, pipi dan leher semakin membuat hati Jenna bergejolak dengan gairah.
"Ya aku memaafkan mu Julian." ucap Jenna lirih.
"Kurang keras sayang, aku tidak dengar." ucap Julian meledek.
__ADS_1
"Aku memaafkannya mu Julian Alexander." ucap Jenna lebih keras.
Tanpa aba aba Julian kini sudah me lu mat bibir Jenna dengan penuh gairah. Yang sudah tertahan beberapa minggu terakhir ini.
Dan tanpa ragu, kini Jenna membahas ciuman panas yang Julian lancarkan terhadap dirinya.
Sambil mendorong tubuh Jenna ke tepi ranjang. Julian tidak melepaskan pungutan ciumannya.
Saat Jenna kini sudah terdorong dan terjatuh di tempat tidur. Julian kembali menguasai bibir sang istri.
"Kau sudah menyiksa ku dalam beberapa Minggu terakhir ini. Aku pun tidak mendapatkan pelayanan kebutuhan ku. Dan sekarang aku mau menagih nya." desis Julian berbicara dengan jarak wajah yang begitu dekat dengan wajah Jenna.
"Bukankah kau tadi bilang kita harus kembali ke Mansion." ucap Jenna mengingatkan. Julian kemudian tersenyum dan ia menaikkan kedua alisnya.
"Sepertinya aku berubah pikiran. Besok pagi saja kita kembali Mansion. Aku ingin menikmati kenikmatan bercinta dengan mu di sini." ucap Julian yang kembali menyerang sang istri dengan sentuhan tangannya yang sudah tidak bisa di kendalikan lagi.
Menyentuh apapun di tubuh Jenna dengan sentuhan lembut dan menghanyutkan.
Setelah cukup membuat Jenna terbakar api gairah. Dan membuat Jenna sudah menuntut lebih akan setiap perlakuan Julian terhadapnya. Julian kemudian melepaskan ikat pinggangnya dan menurunkan resleting celananya. Tanpa menunggu lagi, Julian memberikan apa yang Jenna ingin kan.
Jenna sendiri yang sudah lama tidak disentuh oleh Julian. Nampak menggelinjang penuh dengan rasa kenikmatan dari penyatuan yang di lakukan oleh suaminya.
Dan sepanjang malam pada malam itu. Baik Jenna maupun Julian bertukar peluh dan bersautan erangan di atas tempat tidur.
"Akan aku buat kau hamil Jen. Aku akan berusaha untuk memberikan adik untuk Elle dan juga Louis."
"Silahkan lakukan suamiku." jawab Jenna yang nampak sudah benar-benar luluh hatinya saat ini dan takluk kembali pada Julian.
__ADS_1