
"Aku tahu itu, tapi aku juga ayahnya. Dari awal aku yang menginginkan dia, jadi maaf Valerie. Aku tidak akan membatalkan perjanjian itu." ujar Julian penuh penegasan.
Mendengar itu, Vale langsung menarik kedua kakinya dari atas paha Julian.
"Keluar dari kamar ini." desis Vale sambil memalingkan wajahnya. Perkataan Julian membuat Vale tidak senang.
"Vale jangan terlalu banyak pikiran. Fokus saja untuk persalinan mu yang semakin dekat. Soal anak ini, semua akan tetap seperti perjanjian kita di awal. Seperti janji ku, aku tidak akan mematikan nama mu pada anak kita. Jenna yang akan menjadi ibu sambungnya. Maaf aku mengatakan ini, tapi memang itulah kenyataannya. Aku tidak mau menutupi kenyataan kedepannya. Aku yakin, Jenna bisa menerima bayi ini."
Mendengar pernyataan Julian yang kekeuh pada surat perjanjian yang telah di sepakati bersama dulu tidak mematahkan usaha Vale untuk bernegosiasi dan membujuk Julian.
Tapi saat mendengar jika anak nya akan di asuh Julian dan juga Jenna membuat Vale kembali terhantam rasa sedih dan tidak terima.
Dan saat itu juga Vale kehilangan respek pada Julian. Yang selama ini sebenarnya ia masih sangat menaruh hormat pada suami kontraknya itu.
"Keluar dari kamarku," desis Vale dengan nada suara kesal.
"Anak ini sudah menjadi milikku Vale. Kau sudah menyerahkan anak ini dengan sadar dan suka rela dalam sebuah perjanjian yang mengikat. Perjanjian itu di landasi hukum yang kuat. Kau tidak bisa membatalkan kan mengingkarinya begitu saja."
"Persetan dengan hukum itu, persetan dengan perjanjian. Aku ingin kita membicarakan ini dari hati ke hati Julian. Anggap saja anak ini adalah hadiah termewah yang sudah kau berikan untuk ku. Anak ini hadir dengan penuh cinta, dengan penuh gelora, hasrat dan keikhlasan. Dan aku menginginkan anak ini sekarang, persetan dengan semua janji ku dulu."
"Kau lupa satu hal Vale, aku yang paling menginginkan dia." tutur Julian.
__ADS_1
"Iya kau memang sangat menginginkan dia dulu. Dan aku tidak menyangka jika pada akhirnya aku juga menginginkan dia. Aku sudah tahu jika Jenna kini juga tengah mengandung. Kau sudah punya anak dari wanita yang kau cintai Julian. Kau punya anak dari wanita yang kau puja. Biarkan aku merawat anak ini, berikan dia pada ku, please." ujar Vale yang kini mulai memohon.
"Jangan bawa bawa Jenna dalam urusan kita. Kenapa kau sekarang menjadi berubah pikiran?" tanya Julian menyelidik.
"Karena aku merasa anak ini lebih berarti bagiku daripada uang yang sudah kau berikan padaku. Anak ini lebih bermakna dari pada imbalan yang sudah kau berikan." tutur Vale.
"Tanpa diriku, memangnya bayi itu akan ada di rahim mu. Jangan egois Valerie. Kau bisa memiliki anak yang lain dengan pria tak mungkin kau cintai."
"Aku tidak ingin membahas soal itu. Yang ku bahas adalah anak ini, putri ku dari hasil hubungan kita berdua."
"Aku tidak akan mengubah perjanjian yang sudah kita sepakati bersama. Aku buat perjanjian itu karena aku sudah bisa mengantisipasi hal-hal semacam ini bisa saja terjadi."
"Bagaimana kau akan menghidupi anak ini nantinya, jika kau kuliah saja belum lulus. Hidup masih ngekost dan kau belum punya pekerjaan."
"Aku pasti akan berjuang untuknya. Aku tidak akan membuat dia susah."
Kemudian Julian berdiri dan berjalan mondar mandir tidak tenang. Apa yang kini di utarakan oleh Vale membuatnya gusar.
"Maaf Vale, bukan aku ingin memang sendiri. Tapi aku akan tetap pada perjanjian kita. Setelah anak ini lahir, dia akan bersama ku. Aku yang akan merawat nya membesarkan nya. Suka atau tidak suka, kau harus terima."
Setelah bicara kepada Vale untuk tetap pada pendirian dan keputusannya. Julian kemudian keluar dari kamar.
__ADS_1
Menuruni anak tangga dengan langkah cepat. Julian langsung menuju tempat di mana dia menaruh wine nya.
Menuangkan wine kedalam gelas kosong dan kemudian ia meneguknya.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu untuk membawa anakku Valerie." ucap Julian dalam hati.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Valerie yang masih berada di kamar merasa sangat sedih setelah beradu debat dengan Julian.
Perdebatan yang ujungnya hanya membuat ia meneteskan air matanya.
Bayangan perpisahan dengan bayi yang masih ada di kandungannya membuat Vale makin sesak. Ia tidak menyangka jika perasaan sayang pada janinnya membuat dia berubah pikiran sedemikian drastis.
Tidak lagi memikirkan materi yang melimpah yang sudah bisa dia nikmati. Tidak lagi memikirkan soal hidup nyaman.
Yang ada di pikiran Vale hanyalah, ia ingin membesarkan anaknya sendiri. Merawatnya dan mendekapnya erat erat.
"Tidak, aku tidak akan memberikan bayi ku pada Julian. Bagaimanapun aku harus memilikinya, dia anak ku, putri ku. Aku akan merawatnya, aku akan membesarkannya sendiri. Entah bagaimanapun caranya aku akan melakukan apa saja. Persetan dengan semuanya, aku tidak peduli."
Vale mulai nekat!!!
__ADS_1