
Julian mulai terbangun dari tidurnya ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi.
Karena pada hari itu dia harus bersiap-siap untuk pergi ke Bali. Dalam rangka kunjungan kerja dan urusan bisnis yang lain.
Begitu dia turun dari tempat tidur, Julian langsung pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap.
Memakai setelan kemeja yang rapi lengkap dengan dasi yang sudah melilit di lehernya. Julian selalu terlihat sempurna dalam setiap penampilannya.
Bagi Julian, penampilan juga urusan yang penting yang harus ia tujukan. Agar kesan sebagai seorang CEO dan pembisnis hebat seperti dia bisa di segani.
Saat Julian sedang memakai jam tangan di pergelangan tangannya. Valerie yang tadinya masih tertidur pulas mengerjabkan matanya dan kemudian ia terduduk di ranjang.
"Sudah mau berangkat saja sepagi ini Mr." ujar Valerie yang bertanya pada Julian.
Valerie kala itu menutupi tubuh bagian dadanya dengan selimut. Karena semalam pun mereka masih sibuk melakukan ritual pembuatan anak yang memang sedang mereka kerjakan.
"Aku terbang jam 08.00 pagi dan aku harus bersiap sekarang." jawab Julian sambil masih bersiap siap.
"Kenapa kau tak ajak aku ke sana saja. Bukan kah kita juga bisa sekalian bersenang-senang. Apalagi kita belum honeymoon." ujar Vale.
__ADS_1
"Aku ke sana untuk urusan pekerjaan, Vale. Bukan untuk bersenang-senang. Tidak ada waktu untuk bulan madu, kita bukanlah pasangan suami-istri yang sesungguhnya, kau harus ingat itu." jawab Julian sedikit tegas.
"Ya ya, maafkan aku. Kita hanya suami istri palsu." balas Vale dengan nada suara agak ketus.
Julian yang kini sudah rapi, sedikit paham dengan suasana hati istri kontaknya itu.
Beberapa kali menjalin hubungan dengan seorang wanita. Sudah sangat hafal bagi Julian untuk mengenali berbagai sikap merajuk yang di perlihatkan kaum wanita.
Julian kemudian berjalan beberapa langkah mendekati Valerie yang masih berada di rajang.
Duduk di samping tempat tidur tepat di hadapan Vale, Julian kemudian kembali bicara dengan nada lembut.
"Ingat Vale, pernikahan kita hanyalah pernikahan kontrak. Jika aku boleh jujur, aku sebenarnya sangat sayang padamu. Aku menyayangimu, tapi perasaan sayangku terhadapmu adalah ungkapan sayang sebagai seseorang yang lebih tua terhadap diri mu yang masih muda. Kau adalah partner bisnisku, kau adalah calon ibu dari keturunanku. Dan oleh sebab itu, aku sangat menyayangimu. Jadi, jangan kau salah artikan rasa sayangku terhadapmu. Dan, jangan merasa kau tidak aku hargai. Jika kau pikir aku tidak menghargai mu, kau salah. Kau sangat berharga, terlebih untuk ku, kau luar biasa. Terimakasih sudah mau menjadi partner bisnis ku. Terimakasih juga atas keperawanan yang rela kau berikan untuk ku. Aku sangat terhormat, semua pelayanan mu dan semua aktivitas yang sudah kita lakukan bersama. Apa yang aku berikan untuk mu tidak akan bisa sebanding dengan apa yang akan kau berikan untuk ku, oke." ucap Julian menenangkan hati Vale.
"Lupakan perkataanku tadi tentang honeymoon. Ya sudah berangkatlah Mr hati-hati." ucap Vale kemudian.
"Aku berangkat ya. Jangan lupa untuk memberitahuku tentang apapun yang kamu inginkan, aku bertanggung jawab atas hidup mu saat ini Valerie."
Kemudian, Julian mengecup kening Vale sebelum ia benar-benar meninggalkan kamar.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
Sambil duduk santai di kursi penumpang di dalam pesawat yang akan membawanya ke Bali. Jenna masih saja terlihat sibuk mengecek beberapa pekerjaan yang ia kerjakan lewat laptopnya.
Saking fokus nya, Jenna sampai sampai tidak menyadari seseorang telah duduk di samping kursi penumpang di sebelahnya.
"Pantas saja Andrea sangat sayang dengan mu. Sudah berada di dalam pesawat saja kamu masih mengurus pekerjaan." ujar seseorang yang telah duduk santai di sebelah Jenna.
"Kau, kenapa duduk di sini!" ujar Jenna heran, karena Julian telah duduk santai di sana. Kemudian Julian memperlihatkan tiketnya kepada Jenna agar wanita itu tidak banyak bertanya lagi kepada dirinya.
"Sudah jangan banyak tanya lagi Jen, nikmati penerbangan mu. Sebentar lagi pesawat terbang nya akan take off. Jadi lebih baik simpan dulu laptop mu." ujar Julian.
Karena perkataan Julian ada benarnya, Jenna kemudian menutup laptopnya dan menaruh kembali laptop itu ke tas kerjanya.
"Sebaiknya laptop mu taruh di bagasi atas. Jika kau tak keberatan, sini aku bantu taruh tas mu." tawar Julian, dan karena Jenna duduk di pojok dan Julian duduk di samping, maka Jenna pun memberikan tas laptopnya pada Julian.
"Enjoy with your flight Jen." ujar Julian yang kemudian menyandarkan kepalanya pada kursi seperti sedang bersantai dan menikmati penerbangannya kala itu.
Jenna tak menjawab, ia hanya diam. Tapi dalam hati dia bergumam sendiri. Bagaimana dia bisa duduk satu baris dengan Julian.
__ADS_1
Tak mau begitu memikirkan itu, Jenna memilih untuk mendengarkan musik.
So, apa yang akan terjadi setelah ini ?????