Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Menyenangkan hati


__ADS_3

Berada sendirian di Penthouse, Valerie kini merasa suntuk.


Berbagai pikiran kacau yang ada di benaknya, membuat Vale tidak bisa bersantai dengan nyaman di hari sabtu pagi saat itu.


Ketika Vale sedang di landa rasa jenuh dan bosan. Deringan masuk di ponselnya membuat ia memicingkan mata nya ke arah ponsel, yang ia geletakkan di atas nakas.


Vale kemudian mengambil ponselnya dan menerima panggilan telepon itu.


"Halo, Indiana." sapa Valerie ramah.


"Hai Vale, Pagi. Aku dan David berencana untuk pergi piknik di sebuah tempat. Kami hanya ingin ber-refreshing kecil-kecilan. Jika kamu mau ikut, aku dan David akan menjemput mu. Apa kau ada rencana lain pagi ini?" tanya Indiana dari sebrang telepon.


"Kebetulan sekali aku juga ingin rifresing. Aku sangat suntuk berada di Penthouse. Jemput aku Anna, aku akan bersiap dari sekarang." jawab Vale bersemangat.


"Oke Valerie, bersiap-siaplah, kami akan menjemputmu."


Vale kemudian tersenyum tipis setelah ia mendapatkan telepon dari teman baru nya Indiana, yang mengajaknya untuk piknik.


Kemudian Valerie mengirimkan pesan kepada Julian. Bagaimanapun, ia harus minta izin pada suami kontraknya itu jika ia ingin berpergian.


"Aku izin untuk pergi piknik bersama temanku, Indiana dan David. Jika kau datang ke Penthouse dan mendapati aku tidak ada, berarti aku belum pulang."


Pesan singkat itulah yang Vale kirim untuk Julian.


Valerie pun kemudian bersiap-siap untuk pergi.


Tak lama menunggu, David dan Indiana tiba di Penthouse dan menjemput Valerie.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Berada di sebuah taman yang luas di dekat danau. David dan Indiana yang saat itu memang berencana untuk piknik, membawa berbagai perlengkapan yang mereka perlukan.


Dari alat pemanggang, makanan, buah-buahan dan semua yang mereka ingin nikmati saat itu.


"Terima kasih sudah mengajakku untuk piknik. Aku belum pernah melakukan hal-hal semacam ini. Sepertinya ini akan sangat menyenangkan." ucap Vale yang kala itu ikut membantu David dan Indiana yang tengah bersiap.


"Wanita hamil cukup diam dan duduk. Tidak usah membantu Vale, biar aku dan Anna yang mempersiapkan semuanya." ujar David yang menyuruh Vale untuk duduk.


"Tau ngak, ini itu sebenarnya adalah ide," belum selesai Indiana berbicara, David langsung membungkam mulut sang adik dengan tangannya.


"Jangan banyak omong Anna, cepat bereskan yang itu." suruh David. Dan Indiana hanya terkikik saat sang kakak membekap nya tadi.


Setelah semua kini siap, David yang saat itu sudah menghamparkan sebuah tikar. Menyuruh Valerie untuk duduk di tikar itu.


Dan kemudian menaruh berbagai makanan dan minuman di atas tikar tersebut.



"Nikmatilah semua makanan dan minuman ini Vale. Jagan malu malu." ujar David sambil tersenyum manis pada Vale.


"Terimakasih David." ucap Vale yang saat itu benar-benar merasa sangat senang di ajak piknik.

__ADS_1


"Dulu waktu di Amerika, kami sekeluarga sering berpiknik seperti ini. Sekarang setelah berada di Indonesia, hal-hal semacam ini sudah lama tidak kita lakukan. Mungkin juga karena kami baru bermukim di sini." ujar David sambil mengoles kan sebuah selai ke roti tawar dan kemudian ia memakannya.


"Kau mau Vale?" tanya David, menawarkan roti tawar berselai blueberry pada Vale.


Dan seketika hal itu mengingatkan dirinya pada kegiatan sarapan pagi kala itu bersama Julian.


Julian selalu membuatkan roti bakar berselai blueberry untuknya.


"Terimakasih David, nanti aku buat sendiri." ucap Vale yang kemudian ia mengambil satu lembar roti tawar dan mengoleksi nya dengan selai blueberry.


"Pemandangan di sini tidak kalah dengan di Amerika. Apa kau pernah pergi ke Amerika Vale." tanya Indiana.


"Aku tidak pernah ke Amerika, dan tidak pernah pergi ke luar negeri."


"Amerika itu negara yang sangat luar biasa Vale." imbuh Indiana.


Kemudian, Valerie, David dan juga Indiana, menikmati acara piknik mereka kala itu sambil mengobrol ringan tentang berbagai macam hal.


Mereka saling bertukar pikiran tentang pendidikan. Kehidupan sosial mereka dan membicarakan hal hal ringan dan menarik lainnya.


Mereka bertiga terlihat sangat akrab. Mereka sangat santai dalam mengobrol dan sesekali mereka menikmati makanan yang mereka bawa.


"Aku sangat beruntung bertemu dengan kalian. Dan aku sangat berterima kasih pada kalian. Karena kalian mau menjadi temanku. Sebelum ini aku tidak pernah punya teman dekat." ucap Vale dengan senyum ramah.


"Aku membawakan ini untukmu ini Vale. Ini adalah buah-buahan, sangat baik untuk bayimu." ucap David yang kemudian memberikan satu box kotak yang berisikan buah buahan yang sudah di potong.


"Terima kasih David," ucap Vale yang kemudian meraih kotak box buah tersebut.


Dan di sisi lain, Indiana kembali terkikik sendiri. Ia sudah tau bahwa itu adalah modus yang dilakukan sang kakak.


David kemudian beralih ke untuk memanggang sosis.


"Aku tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Inilah adalah pertama kalinya untukku. Tidak ada yang mengajakku untuk piknik." ucap Vale yang tiba-tiba saat itu mengikuti David yang tengah memanggang sosis.


"Saat aku masih berjuang sendiri dulu, tidak ada waktu untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti ini. Waktu ku habis ku gunakan untuk bekerja mencari uang." ungkap Vale.


"Bukankah kau orang kaya Vale?"


Vale kemudian tersenyum kecut, pasti saat ini orang melihat hidupnya enak.


Padahal sebelum ini, ia hanyalah seorang gadis muda yang hanya bermodalkan semangat dan energi nya untuk berusaha hidup mandiri dan layak.


"Aku bukankah orang kaya seperti yang kau duga David. Apa yang kau lihat dariku saat ini tidaklah seperti yang kau kira."


"Kau hidup mewah Valerie. Kau tingal di Penthouse yang mewah, bahkan termewah di kota ini. Mobil mu, semua nya sudah menandakan jika kau memang orang kaya." ujar David menerka.


"Kemewahan itu aku dapatkan dari Julian Alexander, David. Dia yang kaya, aku tidak. Aku hanyalah gadis bartender, yang bekerja di sebuah clup dulu. Aku bukan siapa-siapa."


"Kau bahagia hidup bersama suami mu? Maaf jika pertanyaan ku terlalu pribadi, tidak usah di jawab."


"Aku dan Julian hanya menikah kontrak. Aku tidak menikah karena saling mencintai. Dan bayi yang aku kandung ini adalah alasannya."

__ADS_1


"Maksudmu?" tanya David bigung.


"Aku melakukan transaksi rahim bayaran dengan Julian. Anak yang aku kandung ini adalah anak pesanannya. Dan Pernikahan ku juga hanya sebuah pernikahan kontrak. Yang pada saat bayi ini nanti lahir. Anak ini akan menjadi anak Julian. Dan aku sudah tidak berhak untuk anak ini lagi." ujar Vale, sambil mengelus perutnya yang membesar.


"Maksudnya, kau menjual rahim mu?" tanya David lagi.


"Iya, aku menjual rahim ku demi mendapatkan kekayaan yang saat ini aku nikmati." ucap Vale jujur.


Untuk sesaat David nampak melongo mendengar perkataan Valerie. Ia hampir tak percaya dengan apa yang Valerie ungkapkan.


"Ini serius Valerie?"


"Kamu kira aku bohong." ujar Vale terkekeh kecil.


"Aku adalah orang jahat kan, Aku adalah orang yang kejam. Yang rela menjual rahim demi sebuah hidup nyaman. Aku mengakui itu terhadap mu David. Jadi jangan kira aku orang baik." ucap Vale yang entah kenapa tiba-tiba air matanya sudah mengalir deras membanjir kedua pipinya.


Dan David pun merasa bigung saat itu harus berbuat apa.


"Ada apa." tanya Indiana yang baru saja bergabung dan kaget saat melihat Vale menangis. Dengan sigap, Indiana langsung memeluk Vale.


"Kau pasti punya alasan melakukan itu semuanya Vale. Dan saat ini aku rasa kau sudah berubah pikiran. Kenapa kau tidak pergi saja meningalkan Julian."


"Anak ini sudah ada perjanjiannya David. Hak asuh anak ini sudah jatuh di tangan Julian. Aku sudah tidak ber hak untuk mengambil alih hak asuh anak ini. Selama Julian juga tidak berubah pikiran."


"Meskipun aku punya segalanya sekarang, tapi aku tetap merasa tidak bahagia. Justru aku ingin kembali seperti dulu. Hidup di kostan, tidur di kamar yang sempit, ruangan yang pengap. Bagun pagi, kuliah dan setelah itu bekerja. Lalu pulang lagi, rutinitas sehari-hari yang menyenangkan, meskipun banyak perjuangan. Tapi kini, semua perjuangan itu sudah tidak perlu lagi aku lakukan. Aku sudah hidup enak dan nyaman. Tapi lagi lagi kehadiran bayi ini sekarang merubah persepsi ku tentang hidup bahagia dengan banyak uang." ungkap Vale mencurahkan isi hatinya.


"Meskipun aku telah memiliki segalanya, kehampaan kini justru sering aku rasakan."


"Apa kau mencintai suami kontrak mu?" tanya David tegas.


"Iya, aku mencintainya." jawab Vale jujur.


"Lalu kenapa kau tidak menjalani kehidupan pernikahan mu yang sesungguhnya dengan Julian, jika kau mencintainya?"


"Masalahnya dia tidak mencintaiku. Dan justru dia mencintai orang lain." jawab Vale jujur.


Untuk sesaat mereka bertiga saling diam.


"Kenapa kau sejujur ini kepada kami Vale, padahal ini kan sebuah aib."


"Tidak ada gunanya aku menutup aib ku sendiri, yang kalian sudah tau kurang lebih nya hidup ku seperti apa. Aku hanya tidak ingin kalian memandang ku sebagai orang yang baik. Karena aku tidak sebaik yang kalian pikirkan."


"Setelah anak ini lahir, aku akan memberikannya kepada Julian. Aku ingin melanjutkan kuliah. Dan ingin mengatur hidupku dengan lebih baik lagi."


"Semoga kau berhasil mendapatkan beasiswa mu Vale." ucap Anna memberikan semangat.


"Iya, aku sangat berharap itu, setidaknya aku punya kebanggaan yang bisa aku banggakan untuk diriku sendiri. Dan untuk anak ku, jika nanti ia masih mau mengenali ibunya."


hai hai aku ada cerita baru ni, jangan lupa mampir ya 🥰♥️🙏


__ADS_1




__ADS_2