
Valerie POV
Aku sengaja bagun tidur pagi-pagi pada hari ini.
Hari ini adalah hari yang penting untuk ku. Hari yang penuh dengan harapan semoga aku bisa diterima bekerja di sebuah perusahaan besar yang sudah menjadi incaran ku saat aku kembali ke Indonesia.
Sebelum memutuskan untuk melamar pekerjaan di perusahaan tersebut. Aku sudah mencari informasi dan membaca berbagai profil perusahaan tersebut.
Aku sedang incar untuk mendapatkan posisi sebagai manager pemasaran di sana.
Semoga saja gelar yang aku dapat sebagai lulusan S2 mahasiswi Technical university of Munich dan pengalaman bekerja selama setahun di Jerman. Menjadi pertimbangan bagi mereka untuk bisa menerima ku untuk di pekerjaan di perusahaan itu.
Dan pagi ini, aku aku harus melakukan interview dengan sang pemilik perusahaan langsung.
Aku harus menyiapkan diriku untuk melakukan interview dengan baik.
Semalaman aku berdoa dan berharap agar aku bisa berkesempatan untuk bekerja di perusahaan penyediaan perangkat lunak terbesar di Indonesia tersebut.
Dan saat ini, mereka sedang membutuhkan seorang manajer pemasaran.
Aku tidak bisa membuang waktuku untuk tidak bekerja setelah aku kembali di Indonesia.
Aku harus bisa membeli sebuah apartemen yang meskipun itu kecil untuk Elenor. Agar ia tinggal dengan nyaman saat ia bersama ku.
Tidak mungkin aku membawa Elenor di saat aku masih belum bisa memberikan ia tempat tinggal yang layak. Dan tidak mungkin juga aku membawa putri ku untuk hidup di tempat kost seperti saat ini.
Sedangkan bersama Julian, Elenor hidup dalam serba ada dan bahkan hidup dalam kemewahan.
Oleh sebab itu, aku sedang berusaha untuk dapat membeli sebuah Apartemen. Meskipun kecil yang penting tempat tinggal itu nyaman untuk Elenor, walaupun tidak mewah.
Dengan menaiki sebuah taksi, aku saat ini sedang menuju lokasi perusahaan tersebut berada.
Kurang lebih 45 menit menyusuri jalan ibu kota Jakarta dan menembus kemacetan. Kini aku sudah tiba di gedung perkantoran perusahaan tersebut.
__ADS_1
Gedung perkantoran itu terletak di jantung pusat kota. Berdiri megah dengan gedung gedung perkantoran yang lain.
Dan saat ini, aku sudah berada di gedung perkantoran Anabatic technologies.
Sebuah perusahaan terkemuka di Indonesia yang bergerak di bidang teknologi yang menyediakan berbagai macam perangkat lunak untuk kebutuhan teknologi dan internet.
Saat ini mereka sedang membutuhkan tenaga manager. Dan aku melamar pekerjaan sebagai manager di perusahaan tersebut. Aku saat ini bersaing dengan beberapa kandidat lainnya.
Perusahaan tersebut baru saja mempunyai seorang presiden direktur baru.
Dari informasi yang aku dapatkan, Presidir yang menjabat saat ini baru saja di angkat. Dan mengantikan Presidir yang lama.
Sekarang aku sudah berdiri di sebuah pintu ruangan khusus sang Presidir. Dan aku menarik nafas dalam-dalam untuk menetralisir kegugupan ku.
Begitu pintu ruangan itu terbuka, aku pun kemudian langsung masuk ke ruangan yang punya desain dan juga luas berbeda tersebut. Aku harap, interview ku lancar hari ini dan sukses.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Author POV
"Valerie Florencia, lulusan S2 mahasiswi Technical university of Munich. Berusia 26 tahun, pernah bekerja di sebuah perusahaan teknologi di Jerman dan seorang janda." ujar seorang pria yang umurnya berkisar 30 an tahun itu dengan nada suara lantang. Ketika ia sedang menganalisa sebuah map tentang profile pribadi Valerie.
Pria itu masih terlihat sangat muda dan berwajah maskulin. Yang konon ia adalah Presidir baru di perusahaan tersebut, yang bernama Edward Mateo Enderson.
Valerie yang saat itu tengah di interview melongo seketika. Saat pria yang bernama Edward itu menyebutkan kata janda dengan lantang dan juga dengan penuh penekanan.
Apakah status Valerie yang memang telah menjadi janda itu penting untuk di bahas, pikir Vale dalam hati.
__ADS_1
Rasanya hal itu tidak penting untuk ikut di diskusikan dalam sebuah interview, pikir Valerie.
Valerie yang saat itu memicingkan matanya menatap sebuah papan nama yang ada di meja. Yang menyebutkan bahwa pria yang sedang menginterview dirinya itu adalah seorang Presidir, yang kemudian membuat Vale harus bisa bersikap profesional dan juga sopan. Dan Vale pun terlihat menghela nafas panjang dan berat.
Sepertinya ia harus banyak bersabar untuk menghadapi calon bos nya tersebut.
"Kamu masih terlihat sangat muda, umurmu juga baru 26 tahun. Tapi di kartu identitas mu kau sudah menjadi janda. Jadi, umur berapa kau menikah? Apakah kau juga punya anak?" tanya Edward yang kini menatap wajah Vale sambil menyenderkan punggungnya ke kursi kebesaran.
"Excuse me, aku rasa kita sedang melakukan interview pekerjaan. Bukan untuk membahas tentang status pribadi saya kan. Jadi saya rasa, hal pribadi saya itu di luar konteks dan di luar pembahasan tentang interview." ujar Vale pada pria tersebut.
"Kenapa sekarang jadi kamu yang mengaturku. Kamu ini sedang melamar pekerjaan di perusahaan milik ku. Dan saat kamu sedang melamar pekerjaan di perusahaan ini. Maka kamu harus menjawab dengan patuh dan jelas serta jujur tentang apa yang aku tanyakan kepadamu. Aku ini seorang presidir di perusahaan ini." tegas pria berwajah tampan dengan jambang halus yang tumbuh tipis di seputaran dagunya itu.
Valerie pun menghela nafas panjang, dan memilih untuk mengalah serta bersabar.
Tujuannya saat ini adalah untuk mendapatkan pekerjaan. Vale tidak ingin gagal untuk mendapatkan pekerjaan yang sudah ia dambakan.
Lalu, Valerie pun kini menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan oleh Edward dengan apa adanya setelah itu.
Dan Kenalin ni sang Presdir muda Edward Mateo Enderson yang orang nya arogan bgtttttttttt dan ngeselin.
__ADS_1