Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Percakapan Valerie & Jenna


__ADS_3

"Jenna," pangil seseorang.


Jenna pun kemudian menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya.


Saat ia menoleh, Jenna sedikit tersentak kaget. Karena yang memanggilnya ternyata adalah Valerie.


"Valerie," sapa Jenna balik pada Vale.


Dan akhirnya, dua wanita yang sama sama tengah hamil benih dari lelaki yang sama itu kini saling berhadap-hadapan.


Saat itu mereka tengah sama sama sedang ingin membeli susu hamil.


Valerie sejenak memandang ke arah Jenna yang masih mengenakan pakaian kantornya.


Dalam hati, Vale mengakui, ada rasa takjub saat melihat Jenna yang orang nya memang terlihat ambisius dan profesional dalam karirnya.


Hal yang sama yang juga Valerie cita cita kan kelak. Menjadi wanita independen dan mandiri.


Sekolah, kuliah dan setelah itu bekerja.


Setelah mengamati Jenna untuk beberapa saat. Vale kemudian menurunkan pandangannya ke arah keranjang yang sedang di jinjing oleh Jenna.


Di sana, Vale melihat dua buah dus susu ibu hamil di beli oleh Jenna.


Dalam hati Valerie pun sudah bisa menebak apa artinya itu.


Menyadari Valerie sedang memperhatikan keranjangnya. Jenna pun kemudian menggeser posisi beberapa barang belanjaannya untuk menutupi dua dus susu hamil yang ia beli.


"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Jenna, memecah kebisuan di antara mereka.


"Aku sedang ingin membeli susu hamil. Dan beberapa camilan" ucap Vale menjawab dengan tenang. Sebenarnya vale ingin bertanya pada Jenna tentang kenapa ia membeli susu hamil.


Tapi Vale tidak ingin terlalu gegabah untuk menanyakan hal itu.

__ADS_1


Walau ia sebenarnya sangat yakin jika Jenna sedang beli susu hamil untuk dirinya.


Jenna kemudian menghela nafas panjang. Ia pikir, Valerie pasti sudah menebak dirinya hamil. Akan tetapi ia memilih untuk tidak menanggapi pikiran itu.


"Vale, setelah ini, aku ingin bicara dengan mu. Bisakah kita ngobrol sebentar?" tanya Jenna ragu ragu.


"Tentu saja," jawab Vale meng iya kan.


Setelah keduanya selesai membayar barang belanjaannya di kasir.


Jenna dan juga Valerie kemudian berjalan beriringan menuju sebuah mini cafe yang ada di sekitar area supermarket.


Beberapa saat kemudian, kini mereka telah saling duduk berhadapan di sebuah mini cafe.


Dua wanita yang mencintai pria yang sama. Kemudian, mereka memesan minuman untuk menemani mereka mengobrol.


Baik Valerie maupun Jenna sama-sama nampak terlihat tegang. Meskipun mereka berdua mencoba untuk berekspresi tenang.


Bagaimanapun, baik Jenna maupun Valerie, mereka berdua punya keterkaitan tentang berbagai masalah yang saat ini sedang mereka hadapi masing-masing.


Untuk beberapa saat, keduanya hanya terdiam. Sibuk dengan ponsel mereka masing-masing sambil menunggu pesanan minuman yang mereka pesan datang.


Setelah minum yang mereka pesan datang, barulah mereka saling berbasa-basi menanyakan sesuatu.


"Sudah berapa bulan usia kandungan mu?" tanya Jenna memulai perbincangan.


"Sudah masuk bulan ke-7, kurang lebih 2 bulan lagi aku sudah melahirkan." jawab Vale datar.


"Semoga persalinan mu nanti lancar." ujar Jenna mendoakan.


"Terimakasih." jawab Vale sambil mengulas senyum tipis.


"Apa hubungan mu dan Julian sudah membaik?" tanya Vale sengaja menanyakannya hal itu.

__ADS_1


"Entahlah, aku tidak berharap hubungan kami membaik. Aku menyuruh dia untuk menceraikan aku. Tapi dia tidak bersedia. Kesalahannya bagi ku sangat fatal. Karena mendapatkan diri ku dengan cara berbohong. Dia tidak bercerita tentang hubungan kalian dan sengaja merahasiakannya dari ku. Aku bersedia di nikahi siri oleh nya karena saat itu dia membuat alasan yang sangat meyakinkan. Dan aku lemah pada alasan yang ia buat. Ini bukan hanya sebuah status yang aku permasalahan Valerie. Tapi juga tentang harga diri." ujar Jenna tegas.


"Julian mencintai mu Jen." ungkap Vale pada Jenna.


"Persetan di cintai, tapi dia tidak bisa memperlakukan aku seperti orang yang di cintai. Jika dia mencintai ku, dia tidak akan membohongi ku. Dia tidak jujur, dia menutupi suatu hal yang besar. Menutupi pernikahan nya, dan bahkan juga menutupi dia sudah punya anak dari wanita lain yaitu dirimu. Itu kebohongan besar Valerie."


"Aku dan Julian hanya menikah kontrak. Bahkan dua bulan lagi pernikahan kontrak kami akan berakhir. Harusnya kau tidak perlu mempermasalahkan hal itu." ujar Valerie.


"Kita beda pola pikir Valerie. Aku menjujung tinggi nilai nilai norma. Mama ku mengajarkan untuk menjadi orang yang penuh tanggung jawab, disiplin, tegas dan punya harga diri. Apalagi kita seorang wanita, yang ruang geraknya terbatas. Kehormatan adalah bagian yang sangat berharga untuk wanita. Dan bagi ku, kehormatan adalah bagian dari harga diri yang tak ternilai harganya, yang bisa kita bangga kan. Tapi Julian sudah mencuri itu dari diriku secara tidak langsung. Kehormatan yang selama ini aku kebanggaan. Kehormatan yang menjadi simbol berharganya diri kita. Aku memang menikah dengan Julian, tapi pernikahan itu banyak di warnai kebohongan. Dan sekarang, semua kebohongannya kini terbongkar. Aku yang sudah memberikan segalanya padanya. Yang membuat aku kecewa tidak hanya tentang status pernikahan kami yang tidak sah secara hukum. Tapi juga ada bayang bayang diri mu dan anak mu dalam hubungan ku dan Julian. Aku tidak menyalahkan mu, tapi aku menyalahkan Julian"


"Aku salut dengan mu tentang prinsip hidup. Jadi, kau pasti sudah menilai ku rendah karena telah menerima tawaran Julian dengan menyewakan rahim ku untuk untuk nya. Bahkan aku mempertaruhkan kehormatan dan harga diri ku. Suatu hal yang sangat berlawanan dengan mu." tanya Vale pada Jenna, membandingkan dirinya dan Jenna. Pertanyaan itu memang sengaja Vale layangkan.


"Aku tidak bermaksud menilai mu rendah Valerie. Semua orang punya persepsi terbaik versi diri mereka sendiri. Sedangkan aku berprinsip seperti apa yang ku katakan tadi. Soal kenapa kamu mau menerima tawaran Julian. Itu urusan mu, karena aku juga tidak tau motif apa yang membuat mu menerima tawaran itu. Tapi setidaknya kau di nikahi sah oleh nya. Jika aku melihat bagaimana perjanjian rahim bayaran dan pernikahan kontrak yang kalian jalani. Semua sudah jelas dan mengikat. Anak mu sudah jelas mendapatkan status hukumnya. Kita berdua memang tidak berzina dalam hal ini. Tapi untuk ku sendiri, di nikahi siri ini adalah satu hal yang membuat aku riskan. Aku tidak tenang Vale. Oleh karena itu aku terus mendesak Julian untuk segera melegalkan pernikahan kami. Tapi pada akhirnya dia tidak bisa mengabulkan itu dalam waktu dekat. Karena dia masih terikat pernikahan dengan mu."


"Seharusnya kau tidak perlu kawatir Jenna, toh pernikahan ku dengan Julian akan segera berakhir. Kau pasti akan di sahkan olehnya." jawab Vale.


"Tapi sekarang masalahnya tidak sesederhana itu. Aku sudah menilai lain tentang Julian. Banyak hal jika mau di bahas. Aku hanya bilang, aku kecewa dengannya. Aku memberikan kepercayaan ku padanya, mempertaruhkan prinsip ku, membohongi Mama ku demi sebuah obsesi menikah dengan ku. Padahal dia sudah punya pernikahan yang sah dengan mu, persetan dengan pernikahan kontrak. Kau tau itu artinya apa. Dia sudah mempermainkan diri kita berdua dengan segala perkataan manisnya dan dengan segala kemauannya. Dia tidak peduli dengan perasaan hati kita."


Mendengarkan semua perkataan Jenna membuat Valerie banyak berpikir. Dan dia pun sebenarnya sangat sependapat dengan semua yang telah Jenna utarakan.


"Semuanya sudah terjadi Jen, kita tidak bisa kembali ke masa itu. Yang ada hanyalah, kita harus menjalaninya."


"Oleh sebab itu aku sulit untuk menerima semua yang sudah Julian lakukan terhadap ku. Aku kecewa dengannya."


Sejenak mereka saling diam, menata hati dan mengoreksi semua yang sudah terjadi dengan berbagai keputusan yang pernah mereka buat sebelumnya.


Mungkin bagi Jenna, dia sangat menyesali mau di nikahi siri oleh Julian.


Dan bagi Valerie, mungkin juga ia telah menyesal telah menerima rahim bayaran itu.


Tapi baik Jenna maupun Valerie tidak bisa memutar waktu.


Mereka hanya bisa pasrah dan menghadapi segala sesuatunya dengan menata hati dan juga menyiapkan mental untuk menerima apapun yang akan terjadi kedepannya, menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2