Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Kebahagiaan Julian


__ADS_3

Setelah mendengar seruan dari Jenna jika ia tengah mengandung, membuat Julian langsung bergeser dari tubuh Jenna.


"Sayang, maaf. Maafkan aku, aku tidak tau jika kamu hamil." ujar Julian yang kemudian membantu Jenna untuk kembali terduduk di rajang.


Jenna kemudian menghela nafas berat, usahanya untuk merahasiakan kehamilannya justru kini telah terbongkar.


Julian kemudian mengambilkan air putih untuk Jenna, agar ia bisa tenang.


Dengan penuh rasa sayang, Julian meminumkan air putih itu pada Jenna.


"Bagaimana, apa kau merasa lebih baik. Apa yang sakit?" tanya Julian merasa khawatir pada istri sirinya itu. Jenna tidak menjawab, ia sedang berusaha untuk mengatur nafasnya.


"Jen, maafkan aku. Aku tidak tau jika kau hamil. Sudah dari kapan kau hamil? Kenapa tidak memberi tau ku?" tanya Julian yang langsung penasaran kapan kehamilan Jenna di ketahui.


"Mungkin sudah 5 Minggu." jawab Jenna datar.


"Kenapa tidak memberi tau ku." tanya Julian lembut.


"Aku bermaksud untuk merahasiakannya."


"Kenapa? Aku berhak tau, aku ayah dari anak itu."


"Aku takut, anak ku nanti akan bernasib sama dengan anak Valerie. Yang akan kau ambil dan akan di pisahkan dari ibunya." ujar Jenna yang kini berbicara sambil menatap wajah Julian.


"Astaga Jen, kenapa kamu sampai berfikir seperti itu. Tentu saja aku tidak akan melakukan hal itu. Kita akan membesarkan anak itu sama sama. Kita akan selalu bersama. Terimakasih sudah mengandung anak ku Jen. Aku sangat senang dan bahagia mendengarnya." ujar Julian yang kini sudah memeluk Jenna kembali dengan pelukan sayang.


"Aku berjanji akan memperbaiki ini semua. Aku akan memperjuangkan diri mu dan anak ini." ucap Julian sambil meletakkan tangannya di perut Jenna yang masih rata.


"Akhirnya aku bisa punya anak dari seseorang yang sangat aku cintai. Aku semakin mencintai mu Jenna." ujar Julian lagi yang kemudian melabuhkan kecupan manis ke kening Jenna.


Sebelum kembali ke rumah, Julian kembali meyakinkan Jenna bahwa ia akan memperjuangkan hubungannya bersama Jenna. Ia berjanji untuk memperbaiki semua kekacauan yang saat ini terjadi.


Julian memberikan penjelasan kepada Jenna untuk tidak egois. Bagaimanapun anak yang ia kandung tetap membutuhkan Julian sebagai ayahnya. Julian kekeuh tetap ingin bersama sama dengan Jenna.


"Besok aku datang ke apartemen untuk memeriksakan kandungan mu ke dokter. Aku ingin melihat langsung diri mu di periksa. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengannya. Maaf kan untuk sikap ku yang tadi."

__ADS_1


Julian nampak menyesali sikapnya yang tadi ingin mengajak Jenna cinta dengan cara kasar.


🍁🍁🍁🍁🍁


Keesokan paginya Julian yang baru saja tiba di ruang makan langsung menyapa sang Mama yang sudah lebih dulu berada di di sana.


Wajah Julian nampak segar, ia terlihat berbeda, senyum penuh kebahagiaan terpancar dari wajahnya kala itu.


Melihat aura kebahagiaan terpancar dari wajah Julian membuat Roseline bertanya tanya.


"Hari ini kau tidak sangat berbeda, terlihat bahagia," sergah Roseline terhadap Julian.


Julian kemudian memberitahukan kepada sang Mama jika Jenna saat ini tengah mengandung.


Roseline yang sudah tau sebelumnya jika Jenna tengah mengandung berpura pura tidak tau dan ikut merasa antusias mendengar berita kehamilan Jenna.


"Oya Ma, bagaimana pertemuan mama dengan Valerie. Mama tidak mengatakan sesuatu yang menyingung perasaannya kan?" tanya Julian merasa khawatir jika Mama nya mengatakan sesuatu yang menyingung Valerie.


"Mama sudah mengobrol dengannya, dia sepertinya memang wanita yang baik." ujar Roseline.


"Dia memang wanita yang baik Ma. Jangan menilai buruk Vale hanya karena ia menerima tawaran ku. Mama sebentar lagi akan memiliki dua cucu sekaligus. Satu dari Valerie dan satu dari Jenna. Karena bayi yang di kandung Valerie adalah perempuan, aku berharap Jenna akan melahirkan bayi laki-laki. Aku akan menjadi ayah dari dua orang anak. Mama pasti senang kan, akhirnya aku bisa memiliki keturunan dan sekaligus aku akan mendapatkan dua anak." Julian nampak bersemangat ketika sudah membahas tentang anak.


"Jenna pasti akan menurut dengan ku Ma. Aku sudah bicara banyak dengannya tadi malam. Aku tidak akan membiarkan Jenna sendirian melalui masa masa kehamilannya. Aku akan membawanya kembali ke Mension."


"Lalu bagaimana dengan Valerie, makin hari kandungannya makin besar. Dan bahkan ia sebenar lagi akan melahirkan. Berbuat adil lah untuk dua wanita ini Julian. Jaga perasaan Valerie dan juga Jenna. Jangan sampai gara gara ulah mu mereka menjadi tertekan. Mama sangat tidak ingin hal itu terjadi. Mama ini juga seorang wanita, Mama tau bagaimana perasaan seseorang yang sedang hamil itu bagaimana. Kau sudah melakukan banyak sekali masalah, jadi jangan tambah lagi masalah soal membuat dua wanita cantik dan baik itu merasa sakit hati dan tertekan. Jadi tolong, Mama harap kamu bisa jaga sikap di hadapan Vale ataupun di hadapan Jenna. Terlebih Valerie Julian, kasian wanita malang itu." ujar Roseline, berpesan pada anak nya agar bisa menjaga sikap.


"Iya Ma, Julian tau harus melakukan apa. Sebelum kekantor aku akan mampir ke Penthouse."


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Sebelum berangkat ke kantor, Julian pagi itu benar-benar menyempatkan dirinya untuk ke Penthouse menemui Valerie.


Julian merasa harus tetap memberikan perhatian kepada Valerie yang sebentar lagi akan menjalani persalinan.


Setelah sampai di Penthouse, Julian langsung mencari Valerie.

__ADS_1


Melihat Vale sedang bersarapan di meja makan sendirian membuat hati Julian merasa sedikit bersalah.


Kemudian Julian langsung bergegas mendekat ke arah Valerie dan ia duduk persis di sebelah kursi yang saat itu di duduki Vale.


"Pagi Valerie." sapa Julian dengan senyum manis menghiasi wajahnya.


"Pagi Julian." Sapa balik Vale, sambil mengulas senyum tipis.


"Bagaimana dengan pertemuan mu dengan mama kemarin. Apakah mama mengatakan sesuatu yang buruk tentang mu?"


"Mama mu baik, sangat baik."


"Syukurlah, aku sempat khawatir jika Mama akan bersikap buruk dengan mu. Mau aku buatkan roti bakar kesukaan mu?" tawar Julian.


"Tidak perlu, aku sudah kenyang." ujar Vale, yang kemudian ia berdiri dengan sedikit susah payah karena membawa perutnya yang sudah makin besar itu.


Memperhatikan langkah Vale yang seperti sudah mulai kesulitan itu lagi lagi membuat perasaan Julian merasa tidak tega.


Apalagi sebentar lagi, Vale akan melahirkan. Hal itu membuat Julian berfikir untuk harus bisa berada di sisi Vale.


Seperti janjinya pada waktu itu pada Vale jika ia akan memperhatikan bayi nya dan juga Vale selama hamil.


"Sini aku ambilkan vitaminnya." ucap Julian yang kemudian meraih sebuah botol kecil berisikan pil vitamin yang hendak Vale minum. Julian meraih botol kecil itu dan membukakan tutup nya.


"Terimakasih," ucap Vale yang kemudian ia mengambil satu butir pil dari dalam botol tersebut dan minuman nya. Dengan penuh perhatian, Julian kemudian mengambil gelas yang barusan Vale gunakan untuk minum.


"Sebaiknya kau berangkat saja ke kantor, aku tidak apa apa." ujar Vale yang menatap wajah Julian tanpa expresi.


"Vale, Maafkan aku jika selama ini aku kurang perhatian dengan mu. Aku setiap hari akan mampir kemari untuk menjenguk mu. Aku sayang dengan bayi ku, aku tidak ingin di anggap abay dengannya."


"Kau tenang saja, aku tidak pernah kan menuntut mu macam macam. Tidak usah merasa bersalah. Aku bisa atasi semua."


"Kalau begitu aku berangkat ke kantor dulu." ujar Julian yang kemudian membungkukkan badannya dan melabuhkan ciuman ke perut besar Vale.


"Daddy mencintai mu, sayang. Sebentar lagi kita akan bertemu." ucap Julian berkomunikasi dengan bayi nya di perut Vale. Lalu ia mengusap usap perut buncit Vale, dan kembali mencium nya. Entah kenapa Julian sangat sayang dengan bayi yang ada di kandungan Vale meski ia belum melihat bayi itu.

__ADS_1


Setelah itu, Julian pamitan untuk pergi ke kantor.



__ADS_2