
Valerie yang saat itu bangun kesiangan, harus berpasrah diri jika ia pasti akan terlambat untuk sampai di kantor.
Padahal pagi ini, dirinya akan menjadi pemimpin rapat penting di perusahaannya.
Akhirnya, Vale pun menjadi sangat tergesa-gesa saat akan berangkat ke kantor.
Sesuai ia mandi, ia langsung mengenakan pakaian kantornya dan hanya memoles wajah nya dengan mengunakan bedak dan lipstik saja.
Sudah tidak ada banyak waktu untuk mempercantik tampilan nya saat itu.
Dengan mengenakan pakaian kantor berupa kemeja putih dan di padu dengan blazer mana hitam serta rok span selutut, Vale yang saat itu masih bertelanjang kaki langsung berlari menuju pintu depan dan raih kunci mobilnya.
Saking terburuk-burunya, sampai-sampai Vale tidak peduli jika ia tidak mengenakan sepatunya.
Vale kemudian berjalan ke arah mobil dan ia langsung masuk ke kursi kemudi.
Ia menaruh sepatu dan juga tas kerjanya di kursi penumpang di sampingnya.
Setelah itu, Vale yang sedikit gugup langsung meng starter mobil nya. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi dan tergesa-gesa menuju ke kantor.
Ia tidak ingin mendapatkan surat peringatan karena terlambat masuk kerja. Di tambah pada hari itu ada meeting penting yang harus ia hadiri, jika telat, pasti dirinya akan terkena sangsi karena di anggap tidak profesional.
Ketika Valerie mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, di tambah lagi dengan kurangnya kepiawaian Vale dalam mengendalikan kendaraannya. Mobil yang di kendarai Vale secara tiba-tiba menyerempet sebuah pengendara mobil lainnya.
Hingga akhirnya, terjadi benturan sangat kuat antara mobil Vale dan juga mobil pengendara lainnya.
Benturan keras itu sampai sampai membuat mobil yang di kendarai Vale seketika langsung bergeser ke tepian jalan. Valerie pun seketika langsung shock.
Valerie kemudian keluar dari mobilnya dan dia mengecek kondisi mobil nya.
Dan lama kemudian, sang pemilik mobil yang di tabrak Vale juga keluar dari mobilnya.
"Kamu ini sebenarnya bisa nyetir apa nggak. Aku tidak mau tahu ya, kamu harus ganti rugi untuk semua kerusakan yang telah kamu lakukan ke mobil ku. Kamu yang sudah menyerempet mobil ku. Liat itu, bumper depan nya sampai lepas." ucap pria pemilik mobil tersebut.
"Maaf Pak, tadi saya tergesa-gesa dan tidak sengaja menyerempet mobil bapak." ujar Vale minta maaf.
"Kalau ngk bisa bawa mobil jangan pake mobil." ujar pria itu dengan nada suara kasar.
"Nanti saya akan menggantinya, saya akan bertanggung jawab untuk perbaikan mobil bapak." ucap Vale diplomatis. Vale tidak ingin ada ribut-ribut. Ia mengakui bahwa insiden itu adalah kesalahannya.
Ketika Vale sedang berdiskusi dengan pria pengendara mobil yang Vale tabrak. Tak sengaja, saat itu David yang mengendarai mobil nya, melihat Vale.
David pun langsung menepikan mobilnya dan kemudian langsung bergegas ke arah Vale yang saat itu masih berdialog dengan seorang pria.
"Vale ada apa?" tanya David yang saat itu baru saja tiba, terlihat khawatir.
"Insiden, aku menabrak mobil bapak ini dan aku akan ganti rugi." ucap Vale menjelaskan.
"Vale, pelipis mu berdarah." ujar David sambil memeriksa pelipis Vale yang nampak sedikit memar dan juga berdarah.
__ADS_1
"Oya." Vale yang tidak menyadari jika pelipisnya terluka.
"Tidak begitu sakit, nanti akan aku obati."
David kemudian mengecek mobil yang ditabrak oleh Valerie. Dan kerusakannya memang lumayan cukup parah. Bumper bagian depan mobil tersebut sampai terlepas.
"Saya tidak mau tau, pokoknya kamu harus bertanggung jawab." ujar pria itu lagi dengan nada menuntut.
"Kamu bisa diam tidak. Aku yang akan bertanggung jawab. Berapa biaya perbaikan mobil mu, aku akan bayar" ucap David pada pria itu.
"David, biar aku saja yang ganti rugi, ini kesalahan ku." ucap Vale yang tidak enak saat David lah yang justru akan membayar ganti ruginya.
"Kau tenang saja Vale, ini hal kecil." ucap David sambil tersenyum.
Edward yang juga pada saat itu melintas di lokasi kejadian insiden itu, kemudian langsung menepikan mobilnya. Begitu ia melihat Vale ada di antara dua pria yang tidak ia kenal.
Edward langsung bergegas keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah Vale.
"Vale! Ada apa?" seru Edward.
Kedua mata Vale pun membulat ketika menyadari sang bos sedang mempergoki dirinya, yang saat ini dengan dalam masalah.
"Jam segini kamu masih berada di sini. Kamu tidak tahu bahwa hari ini kamu ada penting di perusahaan." ujar Edward dengan nada garang. Bukannya alih-alih menanyakan apa yang terjadi.
"Saya tahu Pak, ini juga sudah hampir mendekati kantor. Tadi saya mengalami insiden, saya menyerempet mobil bapak ini. Dan mobil nya mengalami kerusakan. Jadi saya urus sebentar soal ini." jelas Vale.
"Tetap saja Valerie, kamu sudah menyalahi aturan perusahaan. Seharusnya jam segini kamu sudah berada di kantor dan menyiapkan bahan-bahan meeting."
"Aku tidak mau tahu, sekarang juga kamu harus bergegas ke kantor." ujar Edward kekeuh.
"Iya Pak, tapi."
"Soal ganti rugi, biarkan aku yang mengaturnya. Kamu bisa pergi naik taksi atau aku yang akan mengantarkan mu ke kantor." sela David.
Edward yang kala itu menolehkan pandangannya ke arah David kemudian ia menyempitkan matanya.
"Aku tidak mau merepotkan mu David." ucap Vale.
"Buang waktu saja." desis Edward.
Kemudian Edward meraih sesuatu dari dalam jas nya, kemudian ia menuliskan sesuatu kedalam sebuah cek. Edward lalu berjalan ke arah pria yang mobilnya tadi di tabrak oleh Valerie.
"Sudahlah, biar aku yang urus urusan mu!" seru Edward pada Vale.
"Berapa total kerusakannya? Bilang saja, aku yang bertanggung jawab." ujar Edward pada pria tersebut.
Edward pun kemudian berdiskusi dengan pria itu. Setelah semua urusan selesai, pria yang mobilnya di tabrak oleh Vale pun kemudian pergi.
"Dia siapa Vale?" tanya David setengah berbisik.
__ADS_1
"Dia bos ku." jawab Vale lirik.
"Valerie, kau ikut aku. Kita berangkat bersama-sama dengan mobilku. Urusan mobilmu akan diurus oleh orang perusahaan, dan langsung akan membawa mobil mu ke bengkel. Mobil itu juga rusak." tukas Edward dengan nada tegas.
"Iya Pak."
"Aku tunggu di mobil." ujar Edward lagi, yang kemudian ia melegos pergi menuju mobilnya.
"Kalau begitu aku pergi dulu David. Terimakasih sudah membantu ku tadi."
"Sama sama Vale, hati hati."
"Aku akan menelpon mu nanti." sahut Vale.
Vale kemudian berjalan ke arah mobil nya dan kemudian meraih tas kerjanya. Setelah itu Vale berjalan ke arah mobil mewah milik Edward untuk menumpang.
"Duduk di bangku depan Valerie! Kamu pikir aku sopir mu." ujar Edward, ketika Vale saat itu hendak duduk di bangku mobil bagian belakang.
Vale pun kemudian tidak banyak bicara langsung bergegas berbalik ke bangku depan.
Valerie yang saat itu mengenakan rok span selutut, begitu ia duduk di kursi penumpang bagian depan, langsung terexpose dengan mulus dan putih nya kaki jenjang Vale.
Edward yang kala itu sedang berada di kursi kemudinya, dan yang pada saat itu ia mengenakan kaca mata hitam, melirik ke arah kaki mulus Valerie. Dan hal itu sudah membuat Edward bergejolak.
"Pakai sabung pengamanan mu, kamu ingin ya, aku di datangi polisi gara-gara tertangkap kamera lalu lintas kamu tidak mengenakan sabuk pengaman. Jangan menyusahkan aku, kamu sudah membuat ku susah tadi." ucap Edward lagi dengan nada kesal.
"Kamu pagi-pagi sudah membuatku susah saja." imbuh Edward lagi.
Sebenarnya Vale ingin menyauti perkataan pedas Edward, tapi Vale mengurungkannya. Bagaimanapun, bos itu sudah membantu nya.
Ketika sabuk pengamen itu telah di kenakan oleh Valerie. Tanpa Valerie sadari, sabuk pengaman yang melintang di tubuhnya saat itu menekan bagian dada Vale. Sehingga dua gundukan buah dada Vale seperti terbelah.
Dan itu pun tak luput dari perhatian Edward kala itu.
Dua gundukan itu begitu menonjol dan sangat terexpose jelas serta begitu menantang.
Sebagai laki-laki normal, hal itu sudah menjadi pemandangan yang eksotis untuk Edward.
Bahkan ia pun harus menelan saliva nya dengan susah payah.
Setelah puas menikmati pemandangan yang lumayan membuat jiwa kelakian nya naik. Edward kemudian mengemudikan mobilnya menuju kantor. Dengan debaran jantung yang sudah tak karuan.
Edward
Valerie
__ADS_1
David