Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Season 2 New life begins : Hati yang teluka


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Hubungan antara Jenna dan Julian bukannya semakin membaik tapi justru semakin dingin.


Jenna semakin jarang berkomunikasi dengan Julian. Hanya Julian saja lah yang setiap hari menanyakan kabar istri dan anaknya itu. Jenna juga belum kembali ke Mansion. Ia masih tinggal di di Apartemen.


Siang itu, Jenna sengaja datang ke kantor dan langsung menemui Julian di ruang kerjanya.


Julian cukup terkejut saat Jenna datang ke kantor nya pada siang itu.


"Jen," pangil Julian yang langsung menghampiri sang istri dan memeluk erat tubuh Jenna.


"Apa kau sibuk?" tanya Jenna dengan nada suara datar. Ketika Julian masih memeluknya.


"Tidak, aku tidak sibuk. Tadi aku baru saja ingin ke luar untuk makan siang. Bisa temani aku untuk makan siang?" ucap Julian pada sang istri, yang saat itu masih ia peluk.


"Baiklah." ucap Jenna mengiyakan.


Julian kemudian mengudarkan pelukannya dan bersiap untuk keluar dari ruang kerjanya.


Sambil memegang erat tangan Jenna di sepanjang koridor kantor. Julian mengajak Jenna untuk berjalan menuju mobilnya di parkiran.


Sesampainya di parkiran Julian kemudian membukakan pintu mobil untuk Jenna dan memasangkan sabuk pengaman untuk sang istri.


Setelah itu, Julian langsung bergegas naik ke kursi kemudi dan melajukan mobilnya menuju restoran yang ingin Julian tujuh saat itu.


Di sepanjang perjalanan menuju restoran Julian mengajak Jenna mengobrol. Jenna hanya menyahuti pertanyaan pertanyaan Julian saja.


Kedatangan Jenna ke kantor pada siang itu sebenarnya, Jenna ingin memberitahu Julian suatu hal yang penting. Tentang niatannya untuk pengundurkan diri dari kantor.


Tapi karena saat itu Julian mengajaknya untuk makan siang. Jenna pun mengurungkan niatnya untuk memberitahu Julian. Dan memilih untuk menemani dulu suaminya untuk makan siang.


Berselang beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di sebuah restoran favorit mereka. Biasanya di restoran itulah yang selalu mereka hampiri jika mereka ingin makan siang bersama.

__ADS_1


Sesampainya mereka di dalam restoran. Julian kemudian mengajak Jenna untuk mencari tempat duduk yang enak untuk menikmati makan siang mereka kala itu.


Jenna menyuruh Julian untuk mencari ruang makan yang sedikit privasi. Karena Jenna ingin membicarakan hal penting dengan suaminya itu.


Julian menuruti permintaan Jenna. Setelah itu mereka memesan makanan. Dan mereka pun menikmati makan siang itu seperti biasanya.


Seperti biasa, Julian memanjakan Jenna dengan pelayanan nya. Menawarkan makanan yang telah ia pesan untuk Jenna cicipi.


Hanya saja Jenna masih bersikap dingin terhadap Julian.


Setelah mereka selesai menikmati makan siang. Jenna kemudian bersiap untuk mengutarakan apa yang akan ia sampaikan pada Julian.


"Julian, aku ingin bicara serius denganmu." ucap Jenna lembut.


"Bicara apa, jangan membuatku tegang sayang. Beberapa hari ini sikap mu dingin dengan ku. Hubungan kita baik-baik saja kan?" ucap Julian, sambil menatap wajah Jenna dengan penuh rasa tanda tanya besar. Julian juga terlihat sedikit khawatir.


Julian merasa Jenna sudah bersikap dingin dengannya.


"Oke, aku kira kau mau bicara apa. Aku sama sekali tidak masalah jika kau ingin risen sayang. Jujur aku sangat senang jika kau tidak bekerja dan fokus untuk di rumah menjaga anak-anak. Bukankah sudah sejak awal kita menikah aku menyuruh mu untuk tidak usah bekerja. Aku senang mendengar kabar ini. Jadi, kapan kau akan pulang ke Mansion?" tanya Julian sambil menggenggam tangan Jenna yang saat itu ada di atas meja.


"Aku tidak tau kapan akan kembali ke Mansion. Mama belum kembali dari Jogja. Aku mengundurkan diri dari perusahaan mu, aku melepaskan semua jabatan ku."


"Aku akan mengurusnya."


"Bagaimana hasilnya meeting di puncak?"


"Semua berjalan lancar." jawab Julian enteng.


Julian kemudian berdiri dari kursinya. Kemudian ia berjalan ke arah Jenna. Julian lalu duduk tepat di sisi Jenna, yang saat itu di duduk di sebuah sofa pajang restoran.


Sambil melingkarkan tangannya ke pinggang sang istri. Julian menarik tubuh Jenna dengan posesif untuk lebih merekat padanya.

__ADS_1


Lalu, Julian meraih dagu Jenna untuk bisa membuat sang istri mau menatapnya. Sambil menghela nafas berat, Julian mencium pipi Jenna dan juga mencium bibir ranum Jenna dengan posesif beberapa saat. Jenna hanya diam, dan pasrah. Tapi Jenna tak membalas ciuman suaminya.


"Kenapa tak membalas ciumanku." ucap Julian. Jenna hanya diam seribu bahasa. Ada beribu-ribu kata amarah yang sebenarnya ingin jenna luapkan. Tapi entah kenapa Jenna hanya menahannya. Justru kini air matanya lah yang menetes membasahi pipinya.


"Sayang, aku rasa hubungan kita saat ini tidak bisa dikatakan baik. Ada apa Jen, katakan pada ku. Aku tidak suka dengan hubungan kita yang dingin ini. Aku ingin kita hangat seperti dulu. Ada apa, katakan padaku. Apa ada yang masih kurang jelas. Apa ini masih ada kaitannya dengan Vale?"


Saat Julian menyebutkan nama Valerie, Jenna lantas menelisikan pandangannya ke wajah Julian dengan tatapan mata tajam.


"Ada sesuatu yang kau sembunyikan dari ku Julian. Dan kau belum juga mau jujur soal itu." tegas Jenna.


"Soal apa sayang?"


"Hubungan mu dengan Valerie," ucap Jenna dengan nada suara tercekat.


Julian kemudian menghela nafas panjang. Ia memahami kegalauan sang istri. Sambil masih merangkul pinggang Jenna dan dengan memandang wajah Jenna dengan jarak yang dekat. Julian ingin meyakinkan sang istri jika antara dirinya dan juga Vale tidak ada lagi hubungan spesial.


"Jenna, antara aku dan Vale tidak ada hubungan apa apa. Hubungan ku dengannya memang baik. Tapi itu hanya sebatas hubungan baik karena dia rekan kerja kita dan juga karena Vale Mommynya Elenor."


"Lalu bagaimana dengan hati mu. Bukankah selama ini kau selalu menyanjung nya. Selalu berkata Vale dan Elenor seseorang yang spesial di hati mu. Lalu, apa arti Louis dan aku di hati mu? Aku bahkan tidak pernah merasakan kau mengspesial kan aku dan Louis."


"Jen, itu tidak benar." ucap Julian yang entah kenapa kata kata Jenna membuat hati nya teriris.


"Aku tau Julian, Vale dan Elenor sudah menjadi bagian dari hidup mu, aku tau itu. Tapi kau membuat hal itu justru tidak memprioritaskan aku dan Louis. Ini bukan hanya soal aku cemburu bagaimana kamu memperlakukan aku dan Louis dan membandingkan bagaimana kau memperlakukan Elle dan Vale. Ini soal ketegasan mu. Aku tau kau juga care pada ku dan Louis. Tapi aku tidak begitu melihat kau bisa menjaga hati dan perasaan ku. Ini hal yang tidak mudah untuk ku Julian. Menahan perasaan penuh kecurigaan yang mungkin aku bisa saja salah. Tapi kau sendiri juga tidak ada upaya untuk bersikap tegas." jelas Jenna dengan berderai air mata.


"Aku minta maaf jika hal itu membuat mu tidak nyaman. Tapi aku tidak pernah membedakan dan membandingkan mu dengan Valerie, Louis dan Elenor." ucap Julian sambil mengusap air mata jenna dengan kedua tangannya.


"Louis dan Elenor mereka sama sama aku sayangi Jen. Aku mencintai mereka, kau istri ku, Vale hanya masa lalu."


"Begitu kah, lalu kenapa kau menyimpan Vidio dan juga fotonya."


Dan pertanyaan jenna membuat Julian bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


__ADS_2