
Malam itu, setelah Julian mengantarkan Valerie dan juga Elenor pulang. Ia langsung pulang dan kembali ke Mansion.
Julian tiba di Mansion sekitar pukul sebelas malam. Jenna yang saat itu menemani Louis di kamarnya, terbangun ketika mendengar suara mobil Julian tiba di garasi.
Perlahan, Jenna bangkit dari tempat tidur sang putera. Kemudian ia berpindah menuju kamar tidurnya.
"Hai sayang, belum tidur?" tanya Julian, yang baru saya masuk kamar dan mendapati Jenna masih duduk bersandar pada headbord tempat tidur memainkan ponselnya.
"Aku ketiduran di kamar Louis tadi. Belum lama aku pindah ke kamar. Apa jalanan macet? Jam segini kamu baru pulang." Jenna bertanya menyelidik.
"Iya jalanan macet. Aku mandi dulu, badan ku kotor." ucap Julian, kemudian ia langsung bergegas menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Julian keluar dari kamar mandi dengan sudah mengenakan celana panjang dan seperti biasa tidak mengenakan baju atasan.
Julian kemudian menyibakkan selimut dan menyerukan kakinya di balik selimut.
Sebelum ia merebahkan tubuhnya, Julian memberikan satu kecupan manis ke bibir Jenna.
"Tidurlah sayang, sudah malam." ucap Julian pada Jenna.
Setelah itu, Julian langsung merebahkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya. Saat itu Julian memang merasa sedikit lelah. Karena seharian telah menghabiskan waktu bersama Elenor di kebun binatang.
Jenna yang melihat sang suami kini telah memejamkan matanya, kemudian ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Julian.
Melihat dada sang suami yang begitu terexpose. Membuat Jenna tidak tahan untuk tidak berebahan di atas dada bidang Julian.
Julian yang menyadari Jenna kini tiduran di dadanya. Kemudian mendekapnya erat tubuh Jenna dewan satu tangannya yang lain. Untuk membuat Jenna semakin rekat dengan dirinya.
"Kau manja sekali Jen," desis Julian.
"I Miss you." ucap lirih Jenna pada Julian.
Julian kemudian bergeser, meletakkan kepala Jenna ke bantal yang tadi ia gunakan. Lalu Julian memandangi sejenak wajah Jenna dengan begitu intens. Jenna pun tersenyum manis membalas tatapan Julian yang memandangnya.
"Aku sudah ingin memberikan adik untuk Louis. Mari membuat nya." ucap Julian, mulai menggoda sang istri.
"Aku belum siap untuk hamil lagi Julian."
"Kenapa?"
"Aku belum siap saja." desis Jenna, kemudian ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Julian. Dengan satu jari jarinya yang lain bermain main di bibir sang suami.
"Kelahiran Louis yang prematur saat itu, sedikit membuat ku takut. Aku butuh persiapan dan rencana jika ingin hamil lagi."
"Tapi Louis sekarang tumbuh sehat dan normal. Bahkan Louis tinggi dan besar nya sama dengan kakaknya Elenor."
"Ya, aku tau. Tapi tetap saja, aku ada rasa trauma saat ia lahir. Kita bisa pergi ke dokter jika kita menginginkan keturunan lagi. Dengan melakukan program hamil." ujar Jenna memberi saran.
__ADS_1
"Oke, kalau begitu, kita akan konsultasi dengan dokter. Untuk program kehamilan mu berikutnya. Jika aku masih bisa memiliki kesempatan untuk memiliki eturunan lagi, aku ingin menambah satu atau dua lagi." ujar Julian sambil terkekeh. Kemudian mendekatkan wajahnya dan memberikan ciuman ke bibir Jenna.
"Ku pikir kau tadi lelah, kau terlihat letih. Tidur lah." ucap Jenna, setelah Julian memberikan jeda dirinya untuk bernafas.
"Aku tidak akan tidur sebelum bercinta dengan mu dulu. Kau udah menyulut gairah ku, kau harus tangung jawab." ujar Julian, yang sudah tak bisa di kendalikan dan sudah sangat ber naf su untuk bercinta dengan istrinya malam itu.
Jenna pun tak bisa menolak, ia memberikan pelayanan terbaik untuk bisa memuaskan hasrat pria yang sangat ia cintai.
🍁🍁🍁🍁🍁
Anabatic Technologies tower
Valerie saat itu sedang berada di ruangan Edward. Untuk memberikan laporan hasil meeting nya dengan manager perusahaan Julian Corp kemarin.
Edward yang saat itu duduk di samping Valerie sebenarnya tidak benar-benar memperhatikan semua penjelasan Vale.
Dirinya justru sibuk mencuri curi pandang untuk memperhatikan Valerie.
Yang sejak pertama mereka bertemu, Edward sudah menaruh perhatian khusus untuk wanita berkulit putih dan punya lekuk tubuh yang luar biasa tersebut.
Bagi Edward, ia pasti akan menyetujui semua hasil laporannya. Ia menaruh kepercayaan yang tinggi pada Vale. Jadi Edward pikir, hasil kinerja Vale pasti sesuai dengan harapannya.
Edward tidak hanya mengangumi kecantikan Valerie, tapi dia juga kagum dengan cara kerja wanita muda beranak satu itu yang begitu profesional.
Setelah selesai membahas tentang pekerjaan. Karena waktu itu juga telah menunjukkan masuk makan siang. Edward menahan Vale yang kala itu hendak pergi.
Awalnya Vale menolak. Tapi karena Edward memaksa, akhirnya Vale pun menerima makan siang yang Edward pesankan untuk nya.
"Anda begitu pemaksa." keluh Valerie sambil mendengus pasrah.
"Aku mentraktir mu makan siang Valerie. Harus nya kau berterimakasih pada ku." ujar Edward, yang saat itu mereka berpindah ke ruang tamu yang ada di ruangan itu untuk menikmati makan siang mereka.
"Jujur, saya tidak enak hati dengan karyawan yang lain. Saya tidak ingin ada kecemburuan di kantor ini terhadap saya." ungkap Vale, Edward hanya terkekeh mendengar penuturan Vale.
"Jangan terlalu percaya diri Vale." ujar Edward tersenyum senyum.
"Apakah anda punya kekasih? Jangan sampai kekasih anda tiba tiba datang dan mempergoki saya di sini, makan berdua dengan anda. Aku tidak mau ada aksi jambak menjambak di ruangan ini" Edward makin terkekeh geli mendengar penuturan Valerie.
"Aku orang yang bebas Valerie. Aku bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Aku tidak benar-benar berpacaran dengan seorang wanita. Tapi jujur, aku pernah berpacaran, tapi pada akhirnya kami putus. Tepatnya, aku memutuskan mereka."
"Kenapa anda memutuskan mereka?"
"Karena mereka materialis. Aku tidak suka wanita matrealistis. Aku bukannya pelit pada mereka, aku hanya ingin di cintai dengan tulus. Selama ini aku mencintai tapi mereka mencintai ku tidak tulus. Mereka lebih tertarik dengan apa yang aku punya. Makanya aku memutuskan mereka."
"Mereka, kurasa korban mu sudah banyak." sergah Vale. Edward kembali tersenyum.
"Kau menilai diri ku apa?" tanya Edward dengan pandangan serius pada Vale.
__ADS_1
"Ku pikir anda bukan seorang perjaka, walau kau belum menikah." ujar Vale berani.
"What?" ucap Edward kaget dengan sergahan Valerie.
"Kau sudah berani ya. Bagaimana kau bisa bilang aku tidak perjaka."
"Saya pernah melihat seorang wanita seksi keluar dari ruang ini. Yang jelas dia bukan karyawan di perusahaan ini. Mereka tipe tipe wanita bayaran dan semacamnya. Jadi kupikir, anda seorang Casanova."
"Kau sudah berani membahas tentang ku Vale. Lalu, bagaimana dengan dirimu. Kenapa kau bercerai."
"Itu bukan urusan anda." jawab Vale tegas.
"Yang jelas, saya pernah menikah. Dan anda bisa liat sendiri kan, status di kartu identitas ku apa. Hal yang dulu anda pernah bahas."
"Kenapa kau bercerai?" tanya lagi Edward.
"Saya tidak akan mengatakannya pada anda."
"Putrimu sangat cantik. Dia juga ber attitude luar biasa. Bahkan aku sangat kagum dengan Elenor. Tapi sepertinya dia pemalu, tidak seperti ibunya." sindir Edward.
"Putri ku istimewa, dia segalanya bagi ku."
"Aku jadi penasaran dengan mantan suami mu. Aku yakin, mantan suami bukan orang sembarangan."
"Bukankah saya sudah pernah bilang, jika ayah dari putri ku adalah seseorang yang sangat kaya raya."
"Itulah yang membuat ku penasaran. Kenapa kau bisa bercerai dengan suami mu yang kaya raya itu. Hanya pria bodoh yang mau menceraikan wanita cantik seperti mu. Bahkan sampai sekarang, hidup mu sederhana saja."
"Saya lebih menghargai kerja keras, tidak seperti dulu. Mantan suami ku yang kaya, saya tidak."
"Apa setelah bercerai dia tidak memberikan mu sebagian kecil hartanya?"
"Dia memberikan itu. Tapi saya menolaknya."
"Kenapa kau menolak?"
"Karena saya pikir, saya tidak berhak untuk menerima harta itu, setelah kami bercerai."
"Kalau begitu. Kau seperti wanita yang ku cari cari selama ini Vale."
Deg....
Valerie kemudian langsung menatap wajah Edward penuh tanda tanya.
"Menikah lah dengan ku Valerie, aku akan membahagiakan mu." ucap Edward, sambil menatap serius ke arah wajah vale.
"Jangan bercanda. Saya tidak menyukai Casanova." jawab Vale.
__ADS_1
"Terimakasih makan siangnya. Saya akan memakannya di ruangan saya. Permisi." ucap Vale, kemudian ia berdiri dan pergi meninggalkan ruangan Edward.