
Setelah mendengar semua penjelasan Julian, Vale tidak memprotesnya.
Bagi Vale, sudah cukup baginya tau saat ini tentang semuanya.
Perasaan mencintai yang hanya ia bisa nikmati sendiri. Dan rasa cemburu yang mungkin tak akan berarti apa apa untuk Julian.
Jadi percuma Valerie mendebat.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Keesokan harinya, Vale telah di perbolehkan untuk pulang oleh dokter dengan tetap harus bedrest di rumah.
Julian setia mendampingi Valerie ketika sang dokter memberikan Vale beberapa nasehat untuk menjaga kandungnya.
Vale tidak banyak bicara, hanya sesekali menganggukkan kepalanya menandakan bahwa ia sudah paham.
Setelah selesai dari ruang praktek dokter, Vale yang saat ini tengah berada di kursi roda tetap diam tak banyak bicara pada Julian yang tengah mendorongnya.
Di jemput sang sopir, pagi itu Vale kembali ke Penthouse.
Selama dalam perjalanan menuju penthouse, Valeri yang saat itu duduk tepat di pinggir pintu mobil terlihat termenung.
Ia melayangkan pandangannya ke luar mobil yang melaju dengan kecepatan sedang itu.
Pandangannya nampak kosong. Tapi dalam benaknya, ia mencoba untuk berfikir jernih dengan semua hal yang telah terjadi.
Dalam hati dan pikiran Vale yang saat ini sudah bisa berfikir dengan akal sehat. Tiba tiba ia merasa menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan saat itu.
Yang sengaja ingin mengugurkan kandungannya.
Kala itu ia benar-benar tidak bisa berfikir secara rasional. Dan lebih tertawa emosi karena merasa sangat cemburu dan sakit hati karena telah di bohongi.
Gara gara pemikiran konyolnya tersebut, dirinya hampir kehilangan nyawanya karena pendaratan.
__ADS_1
Untung janin yang berada di rahimnya sangat sehat dan kuat. Dan tidak terjadi apa-apa dengan janin tersebut.
Reflek, tangan Vale kini terangkat dan memegangi perutnya yang masih rata.
Saat ini usia kehamilan Valerie masuk Minggu ke sepuluh, atau kurang lebih usia kehamilan nya memasuki bulan ke dua.
"Maaf kan Mama sayang, Mama hampir membuat mu celaka. Mama janji tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi. Kau harus tetap sehat dan lahirlah di dunia dengan selamat. Mama akan mencoba untuk mencintai mu sekarang." ucap Vale dalam hati sambil memegangi perutnya dan bahkan mengelus elus permukaan perut nya dengan lembut.
Julian yang saat itu mempergoki Vale yang tengah mengelus perut nya tersenyum. Ia merasa saat ini Vale sudah bisa memahami kesalahannya.
Meskipun berada dalam satu mobil dan duduk di baris kursi belakang bersama- sama. Baik Julian dan Valerie sama sama diam dan tak banyak melakukan percakapan.
Tidak seperti biasanya jika mereka berada dalam satu mobil.
Suasana ceria selalu Vale hadirkan dengan segala tingkah laku dan celotehannya bercerita tentang banyak hal.
Setelah sampai di gedung Penthouse Julian langsung turun dari mobil dan dengan sigap menurunkan kursi roda untuk Vale.
"Aku bisa sendiri." ujar Vale yang saat itu hendak di gedong oleh Julian untuk berpindah ke kursi roda.
Setelah itu, Julian mendorongnya menuju unit Penthouse.
Sesampainya di Penthouse, Naina dan Aise menyambut kedatangan Vale dan juga Julian.
Karena waktu itu sudah waktunya untuk makan siang. Naina kemudian mempersilahkan kedua majikannya untuk makan siang.
"Kau harus makan banyak Vale. Sayur brokoli ini sangat segar sekali. Brokoli sangat baik untuk janin di dalam kandungan mu. Aku ambilkan ya." ucap Julian, menawarkan sayur brokoli yang nampak masih berwarna hijau segar ketika sudah di masak oleh Naina.
"Terima kasih, aku bisa ambil sendiri." ucap Vale, menolak untuk di diladeni oleh Julian. Padahal sebelumnya Vale selalu bersikap manja jika Julian ada di dekatnya.
Akhirnya mereka berdua pun menikmati makan siang dengan suasana hening.
"Ingat kata dokter, kamu harus bedrest selama beberapa hari. Jangan naik turun tangga, jika kau menginginkan sesuatu panggil saja Aise atau Naina. Mereka berdua akan mengurusmu dengan baik." ujar Julian mengingatkan Vale.
__ADS_1
Tapi Vale hanya diam tak menjawab.
"Besok aku sudah harus kembali ke Athena. Urusan pekerjaanku di sana belum selesai." ujar Julian.
"Kau urus saja pekerjaanmu. Dan lebih baik kau juga tidak perlu datang ke sini lagi. Karena seperti yang dulu kau bilang, di saat aku sudah hamil. Kau tidak akan menyentuh ku lagi dan kau akan tingal di Mension mu kan. So, jadi kurasa sudah saatnya kau tidak perlu lagi datang ke mari. Kau urusan saja istri mu yang katanya kau sangat cinta itu." ujar Vale dengan menatap wajah Julian syarat dengan ajakan permusuhan.
Julian yang kala itu meladeni tatapan Vale justru tersenyum manis. Ia mencoba untuk tetap bersikap sabar menghadapi Valerie.
Karena menurut Julian, Vale memang harus di sayang dan di perhatikan. Agar emosional tetap terjaga.
"Vale, aku sudah mencintai janin yang ada di rahim mu itu semenjak kau di nyatakan positif. Aku akan tetap memperhatikan dia. Jika aku datang kesini, aku sudah melaksanakan tugas ku sebagai calon Daddy yang baik. Aku tidak akan abay." jawab Julian.
"Aku hanya bilang, kau tidak perlu lakukan itu." tegas Vale.
Julian tak menjawab, ia memilih untuk selalu mengalah dan sabar.
Setelah makan siang selesai. Valerie yang saat itu ingin naik kelantai dua ke kamarnya, mencoba untuk memanggil Naina untuk membantunya pergi ke kamar.
Namun, Julian tidak mengizinkan Naina membantu Vale.
Justru dengan spontan, Julian langsung menggendong Vale. Merengkuh tubuh Vale dengan kedua tangannya dan membawanya ke lantai atas menuju kamar.
Vale yang mengoceh tidak mau di gedongan pun tak di pedulikan oleh Julian.
"Aku hanya memastikan keselamatan mu dan janin ku Vale." ujar Julian kala itu saat ia membopong tubuh Valerie
Sesampainya di kamar, kemudian Julian meletakan Vale dengan pelan ke atas tempat tidur. Lalu menarik selimut untuk menutupi kaki Valerie.
"Jika ingin apa-apa dan kau menginginkan sesuatu kau bisa menelpon Aise atau Naina dengan telepon itu. Aku hanya ingin kau segera pulih." ucap Julian yang kini sudah kembali berdiri di sisi rajang setelah ia selesai menyelimuti Vale.
"Kalau begitu aku turun, untuk malam ini aku akan menginap di sini. Aku akan tidur di kamar tamu bawah, selamat malam Valerie." Vale tidak menjawab dan malah melegos kan wajahnya ke samping.
Kemudian Julian melangkahkan kakinya menuju pintu dan keluar kamar.
__ADS_1
"Sikap ku tidak akan sama seperti dulu terhadap mu Julian. Kau jangan merasa seenaknya saja memperlakukan aku seperti ini. Kau suruh aku berpasrah menerima nasib. Sedangkan kau sedang bersenang-senang di atas ketidak bahagian ku yang saat ini mengandung benih mu. Andai kau jujur pada ku tentang wanita itu dari awal. Aku tidak akan menjerumuskan diri ku masuk ke dalam cinta gila yang aku rasakan pada mu. Aku pasti akan melakukan sesuatu." desis Valerie.