Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Season 2 New life begins : Ancaman sebuah hubungan


__ADS_3

Setelah mendatangi beberapa hotel dan kebetulan pada saat itu semua kamar hotel telah penuh.


Akhirnya Julian mendapatkan satu hotel yang lain, yang masih menyisakan dua kamar tidur pada malam itu.


Julian kemudian mengambil dua kamar kosong tersebut. Satu untuk sang sopir dan satu lagi terpaksa Julian harus berbagi dengan Valerie.


"Kau yakin tidak akan macam macam dengan ku." selidik Vale pada Julian, saat mereka kini telah berada di depan kamar hotel.


"Memangnya aku akan apakan kamu Vale. Aku sudah menganggap mu adik kecil ku mulai sekarang." ucap Julian lembut seperti biasa.


"Apa, adik kecil." jawab Vale setengah tertawa.


"Lalu kamu mau aku anggap apa." Julian balik bertanya.


"Aku sudah senang jika kau anggap teman."


"Kita masuk dulu. Baju ku basah, aku perlu mandi." Keluh Julian, kemudian ia membuka pintu kamar hotelnya.


Saat itu, mereka tidak menginap di hotel mahal. Mereka hanya menginap di hotel biasa. Karena kendala cuaca yang buruk dan juga mobil dalam masalah. Akhirnya membuat mereka terpaksa untuk menginap pada malam itu.


Begitu masuk ke dalam kamar hotel. Julian langsung melepaskan satu persatu kucing baju nya. Dan ia meletakkan dengan asal kemeja nya yang basah akibat terkena air hujan di sisi tempat tidur.


Setelah itu, Julian langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah beberapa saat kemudian, Julian keluar dari kamar hotel dengan sudah memakai celana panjangnya kembali.


"Sebenarnya aku sangat tidak nyaman memakai kembali celana ku yang lembab ini." keluh Julian. Ia sebenarnya bisa saja keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk ke pinggang nya. Tapi Julian pikir, itu hal yang tidak kan baik.


"Kemeja ku juga basah, aku akan mengeringkan kemeja ini dulu. Setelah kemeja ini kering aku akan memakainya kembali. Jangan berpikir macam-macam pada ku. Karena aku tidak akan macam-macam juga denganmu." ucap Julian kepada Vale, saat Vale tengah memandanginya dengan tatapan penuh kecurigaan.


"Aku pegang kata-katamu." ucap Valerie, menatap wajah Julian dengan tatapan mata defensif. Kemudian ia bergantian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hujan yang turun begitu deras malam itu benar-benar memaksa Vale akhirnya harus bermalam di hotel.


Akibat guyuran air hujan tadi, meskipun ia saat itu ia memakai payung. Tetap saja membuat pakaian yang ia kenapa basah dan lembab terkena cipratan air hujan.


Setelah beberapa saat kemudian, Valerie keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian yang ia tadi pakai.


Hanya saja blazernya yang saat itu basah terpaksa ia tidak pakai.

__ADS_1


Vale kini hanya mengenakan baju atasannya yang tanpa lengan dan bawahan rok span selutut. Baju atasannya yang tanpa lengan itu memperlihatkan lengan mulus putih Vale.


Sambil membawa handuk, Vale mengusap-usap rambutnya yang sangat itu masih basah.


Julian yang saat itu tengah duduk di sebuah kursi di sudut kamar. Memandangi Vale dengan tatapan mata tak berkedip.


"Jangan memandangiku seperti itu Julian." protes Vale, merasa tak enak di perhatikan oleh Julian dengan tatapan mata tajam seperti itu.


"Aku hanya melihatmu saja, aku tidak berpikir macam-macam." ujarnya.


Kemudian Vale tidak menghiraukan lagi pandangan mata tajam Julian yang tengah memperhatikannya.


"Di kamar ini hanya ada kita. Memang aku harus melihat siapa lagi." ujar lagi Julian enteng.


Saat itu Julian bersandar pada kursi dengan kedua tangannya di lipat di dada.


"Andai saja tidak hujan. Mungkin saat ini kita sudah sampai di rumah." keluh Valerie, kemudian ia menyalakan hairdryer dan mengeringkan rambutnya yang basah.


"Elenor memiliki rambut yang indah seperti rambut mu."


"Tentu saja, dia anak ku."


"Anak itu cerdas." puji Julian pada putrinya.


Setelah Vale selesai mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Vale kemudian meraih blazernya. Dan ia menggunakan hair dryer itu untuk mengeringkan blazernya yang tadi basah.


Setelah dirasa blazer nya sudah sedikit kering. Vale kemudian menaruh blazernya di atas nakas yang terdapat di sisi tempat tidur.


"Sini, berikan aku kemeja mu. Aku akan keringkan kemeja mu yang basah itu." ucap Vale pada Julian.


Julian kemudian berdiri dari duduknya dan meraih kemejanya yang basah tadi, lalu memberikan nya pada Vale.


Valerie kemudian menggunakan suhu udara panas hair dryer itu untuk mengeringkan kemeja Julian.


Sedangkan Julian kembali duduk di kursinya. Di sudut ruangan kamar hotel.


"Kau tarik saja selimut yang ada di tempat tidur itu. Dan gunakan itu untuk alas supaya kau bisa tidur di bawah, jika kau tak keberatan."


"Tidak perlu, tidak apa apa aku tidur sambil duduk." jawab Julian.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Vale telah berhasil mengeringkan kemeja Julian. Kemudian Vale berjalan mendekati Julian dan memberikan kemeja itu pada mantan suami kontraknya.


"Pakailah kembali kemeja mu. Kemeja mu sudah cukup kering. Aku tidak ingin melihat mu bertelanjang dada seperti itu." protes Vale sambil berlalu.


Julian kemudian tertawa, sambil mengenakan kembali kemejanya.


"Memangnya kenapa, jika kamu melihat aku bertelanjang dada. Bukankah dulu kau sangat suka jika ku bertelanjang dada. Kau bisa melihat perutku yang seperti roti sobek ini." kelakar Julian.


"Tidak lucu Mr Julian Alexander. Kau selalu mengaitkan saat ini dengan masa lalu."


"Masa lalu itu terkadang banyak kenangan yang tidak bisa dilupakan Vale."


"Terserah kau Mr, aku sudah sangat lelah sekarang. Sudah jam 01.00 malam, aku mau tidur." ucap Valerie, kemudian dia berjalan ke arah tempat tidur. Menyibakkan selimut dan kemudian ia menyerukan kedua kakinya di bawah selimut yang tebal itu.


"Selamat malam Vale." ucap Julian.


"Malam," jawab Valerie singkat.


🍁🍁🍁🍁🍁


Malam itu, Jenna berkomunikasi dengan sopir pribadi Julian. Karena Jenna juga sudah mengenal dengan baik sopir pribadi suaminya itu. Saat Jenna bertanya pada sang sopir tentang Julian. Sang sopir pun memberi tau apa adanya tentang Julian pada jenna.


Sang sopir juga memberikan informasi pada Jenna bahwa saat ini mereka tengah menginap di hotel.


Saat Jenna bertanya apakah Julian dan Vale menginap di satu kamar yang sama. Sang sopir pun bilang jika Julian memang menginap di satu kamar hotel yang sama dengan Valerie.


Dan hal itu sudah cukup membuat Jenna kembali berfikir negatif tentang Julian dan juga Vale.


Setelah mengetahui semua kabar dari sang sopir tentang Julian. Jenna kemudian menutup teleponnya dengan sudah di kuasai oleh berbagai prasangka.


Dan Jenna pun lantas mengaitkan hal itu dengan mimpi nya pada malam itu.


"Aku akan menikahi mu lagi Vale. Kita akan bersama sama."


"Bagaimana dengan Jenna?"


"Dia sudah tidak percaya lagi pada ku. Dan dia selalu curiga pada ku. Aku akan menceraikan nya, aku akan menceraikannya, aku akan menceraikannya."


Dan kini, kata kata Julian dalam mimpi itu yang akan menceraikan dirinya. Mencari momok yang menakutkan bagi Jenna.

__ADS_1


__ADS_2