
"Aku ingin dia lahir di dunia dengan selamat. Aku ingin melihatnya Bik. Aku ingin melihat wajahnya, memeluknya. Meskipun nanti aku harus menyerahkan anak ini pada Julian." ucap Valerie yang kini sudah bertekad untuk kembali bersikap profesional mengandung benih Julian Alexander.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Apa Valerie sudah memakan sarapannya?" tanya Julian saat pria dewasa itu kini telah selesai berenang.
"Sudah Mr, Non Vale sedang makan sekarang."
"Bagus, pokoknya pastikan dia selalu makan dengan teratur ya Bik. Aku menitipkan Vale dan calon bayi ku pada kalian berdua." ujar Julian pada Aise.
"Kami pasti akan menjaga Non Valerie Tuan." jawab Aise patuh.
Setelah bicara pada Aise, Julian yang kala itu masih bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek selutut. Setelah itu menaiki anak tangga dan bergegas menuju kamar.
Ia ingin menengok Vale di kamarnya.
Saat Julian membuka pintu kamar, Valerie saat itu sedang meminum susunya.
Begitu mata Valerie menangkap sosok tubuh kekar dengan perut kotak kotak sixpack Julian, tak pelak membuat Valerie kaget dan sempat ia terkesima.
Bagaimana tidak, perasaan mencintai pada pria itu belum sepenuhnya bisa Vale hilangkan.
Meski begitu, Vale akan berusaha untuk membunuh perasaan dan rasa suka yang begitu meluap luap di hatinya ketika berada di dekat pria bertubuh tinggi besar itu.
Valerie ingin membunuh perasaan cintanya pada Julian Alexander.
"Pagi my kangguru." sapa Julian yang langsung tersenyum manis pada Vale.
__ADS_1
Kata kata my kangguru yang di ucapkan oleh Julian seketika langsung membuat Valerie bertraveling.
Bertraveling pada berbagai moment di saat-saat mereka sedang bercinta dengan posisi itu.
Vale langsung membuang muka. Jika tadi ia menatap Julian dengan tatapan tajam. Kini Vale mencoba untuk menghindari beradu pandang dengan Julian.
Dengan langkah mantap, Julian menghampiri Vale di tempat tidur.
Kemudian Julian ikut duduk di sisi Vale yang saat ini juga sedang duduk dengan menghadap pada nampan yang berisikan makanan di pangkuannya.
"Aku bantu kupas telor nya ya." ucap Julian yang kemudian meraih telor rebus yang ada di piring.
"Tidak usah, aku saja." jawab Vale yang kemudian juga mengerakan tangannya ingin meraih telor itu.
Sehingga secara bersamaan mereka menyentuh telor tersebut.
"Kenapa bersikap kaku pada ku Vale?" ucap Julian yang kemudian meraih telor itu dan mengupaskannya untuk Valerie.
"Aku bigung dengan mu, kau menyuruhku untuk tidak menyukai mu. Sekarang aku bersikap seperti ini kau bilang aku kaku. Sebaiknya kita selalu jaga jarak. Kau tau aku gampang tergoda dan begitu juga diri mu. Kau bilang tidak akan menyentuh ku lagi waktu itu tapi. Sudahlah, cinta yang tak sesuai dengan hati kita memang membingungkan. Mandilah dan segera keluar dari kamar ini, sebelum aku merayu mu dan pasti kau juga akan tergoda." sindir Valerie.
Julian justru terkekeh mendengar perkataan Vale.
"Entahlah Vale, aku sudah terbiasa dengan semua tingkah laku mu yang sembarangan itu."
"Jangan kau bilang dirimu kangen dengan ku yang dulu?" celetuk Valerie.
Julian kemudian menatap dengan intens wajah Vale.
__ADS_1
Wajah yang begitu cantik yang ketika ia mendesah selalu menyebutkan namanya, mengaungkan dirinya.
Tapi hal itu sudah tidak akan mungkin terjadi lagi.
Sial, apa apa ini, kenapa justru aku kini yang berfantasi intim dengan Valerie, Julian membatin.
Julian kemudian bergantian yang membuang muka.
"Aku akan kembali ke Athena sore nanti. Aku sudah titipkan diri mu pada Naina dan Aise. Untuk itu menurut lah dengan mereka. Aku juga sudah jadwalkan dokter spesialis kandungan untuk mengecek kondisi mu nanti."
"Terimakasih." jawab Vale singkat.
Setelah itu, Julian berlalu dari hadapan Valerie dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai dari kamar mandi, Julian keluar dengan sudah berpakaian rapi.
"Sepertinya aku harus pergi sekarang. Ada suatu hal yang harus aku kerjakan. Kalau begitu aku pergi dulu ya." ujar Julian.
Vale tak menjawab, ia hanya menatap Julian dengan tatapan kosong dan cuek.
Julian kemudian berjalan lagi mendekati Vale. Dan tiba-tiba Julian membungkuk kan badannya dan mengarahkan kepalanya ke arah perut Valerie.
"Daddy pergi dulu ya sayang. Baik baik di perut ibu mu." ucap Julian kemudian mencium perut Valerie yang masih terlihat rata itu.
Tindakan Julian membuat Vale tersentak. Mau menghindar pun percuma. Yang ada Vale hanya bisa pasrah.
"Aku hanya pamitan denganya." ujar Julian, setelah itu dia pergi dari kamar Valerie.
__ADS_1