
Setelah seorang perawat telah keluar dari ruangan kamar Valerie. Julian dan Dave pun kemudian sama sama masuk kedalam kamar tempat Vale di rawat.
Valerie yang saat itu telah berganti baju dan juga terlihat lebih segar. Merasa aneh dengan kedatangan dua pria dewasa itu secara bersamaan.
Julian yang baru saja masuk langsung berjalan ke arah Vale. Sedangkan Dave kembali duduk di ruang tamu yang ada di sana.
"Bagaimana keadaan mu Valerie?" tanya Julian, yang saat ini sudah berdiri tepat di sisi tempat tidur Vale.
"Syukurlah, aku sudah lebih baik." jawab Valerie lembut, yang kini tengah duduk bersandar pada sebuah bantal itu.
"Bagus lah, aku membawakan titipan surat untuk mu. Elle menulisnya sendiri." ucap Julian, seraya mengambil selembar kertas dari balik jasnya. Kemudian ia memberikan surat itu pada Vale.
"Itu surat kangen dari Elenor untuk mu."
"Aku merindukannya." ujar Valerie, yang nampak sudah sangat kangen pada anak perempuannya itu.
"Bisakah kau bacakan pesan yang Elle tulis." ucap minta tolong pada Julian untuk di bacakan surat yang Elle tulis untuk dirinya.
"Tentu saja." Julian pun kemudian membuka lembaran kertas yang ia bawa. Lalu ia membacakan isi surat yang Elle tulis untuk Valerie.
"Untuk Mommy ku tersayang. Apa kabar hari ini Mommy. Elle harap Mommy segera pulih dan bisa kembali ke rumah secepatnya. Elle sudah sangat merindukan Mommy. Elle tidak tega ketika melihat Mommy terbaring sakit dengan mata yang tertutup dan banyak selang menghiasi tubuh Mommy. Elle tidak tega melihatnya Mommy seperti itu. Hal itu membuat hati Elenor sangat sedih. Elle menunggu Mommy untuk bisa segera pulang kembali ke rumah. Peluk dan cium dari Elenor. I love you forever Mommy."
"Anak kita luar biasa kan." puji Julian. Sesaat setelah ia selesai membacakan surat yang Elle tulis. Julian nampak sangat membanggakan putri nya.
Benih yang sengaja ia hadirkan itu kini telah tumbuh dan menjelma menjadi seorang anak yang sangat membanggakan. Dan begitu berarti keberadaannya bagi dirinya dan juga bagi Valerie.
"Elenor ku," ucap Vale sambil tersenyum. Ia merasa bangga dan juga terharu dengan pesan yang Elle tulis untuk dirinya.
Sampai sampai membuat Vale meneteskan air matanya.
Julian yang melihat tetesan air mata membasahi pipi mulus putih Vale. Dengan gerakan refleks, Julian
mengusap air mata Valerie dengan tangannya.
Dan apa yang di lakukan Julian pada Vale tidak luput dari perhatian Dave. Yang saat itu tengah duduk di ruang tamu yang ada di ruangan itu.
Dave yang saat itu berpura menyibukkan dirinya di hadapan laptop. Sebenarnya juga sedang memperhatikan sikap Julian yang terlihat manis pada Vale
__ADS_1
"Jika nanti dirimu sudah bisa di perbolehkan untuk pulang dari rumah sakit ini. Pulang lah ke Mansion. Di Mension banyak pelan. Kau tidak mungkin pulang ke rumah mu kan. Jika kau di Mension, setidaknya akan ada banyak orang yang akan membantu mengurusi mu. Aku khawatir jika kau langsung pulang ke rumah mu. Kau masih perlu bantuan dan butuh seseorang untuk merawat mu."
Mendengar hal itu, Dave kembali melirikkan pandangannya ke arah Julian. Yang saat ini sepertinya sedang membujuk Vale untuk mau tingal di Mansionnya untuk sementara.
"Tidak perlu Julian, terimakasih sebelumnya. Tapi aku tidak perlu pulang Mansion mu. Aku akan tetap pulang ke rumah ku sendiri. Mungkin aku akan menyewa seorang perawat untuk menemaniku dan membantu ku." Vale sepertinya menolak tawaran Julian.
"Memangnya kenapa? Aku sudah mendiskusikan ini sebelumnya dengan Jenna. Dia setuju, Jenna juga memikirkan mu. Dia peduli dengan mu. Dia pikir, siapa yang akan merawat mu jika kau sudah pulang dari rumah sakit. Melihat diri mu yang mengalami patah tulang. Kau pasti butuh pendamping. Bahkan Mama juga sudah menyarankan untuk membawa mu ke Mansion. Kau sudah menjadi bagian dari keluarga ku Vale." jelas Julian.
"Aku bisa membayar perawat untuk membantu ku sementara. Aku tidak ingin merepotkan kalian." ujar Valerie.
"Jika kau tidak mau ke Mansion. Maka tinggallah di Penthouse. Biarkan Aise dan Naina merawat mu. Naina dan Aise pasti akan dengan senang hati merawat mu. Aku paham jika kau tidak mau ke Mansion. Kau pasti merasa tidak enak hati kan pada Jenna?" ujar Julian, Vale tidak menjawab. Vale justru melirikkan pandangannya ke arah Dave. Yang saat itu terlihat sibuk di depan laptopnya.
"Aku tidak bisa lama lama di sini Vale. Aku ada meeting penting setelah ini. Kabari aku jika kau sudah bisa pulang. Aku akan menjemput mu." ucap Julian lagi, yang kemudian membungkukkan badannya dan mencium puncak kepala Vale.
Sebenarnya, Vale ingin memprotes sikap julian yang masih saja lembut padanya. Tapi Vale urungkan. Karena ada Dave di dalam ruangan kamar itu. Yang membuat Vale malu jika harus berdebat dengan Julian.
Setelah berpamitan, Julian pun langsung bergegas meninggalkan ruangan kamar Vale.
Setelah Julian pergi, Dave langsung berdiri dan berjalan mendekati ranjang Vale.
"Sepertinya mantan suami mu masih perhatian denganmu." sergah Dave.
"Aku tidak tahu seberapa dekat dirimu dengan dirinya. Tapi ku perhatikan, kamu punya hubungan yang cukup dekat dengan mantan suami mu. Dan sepertinya kau juga dekat dengan keluarganya. Biasanya hubungan suami yang sudah bercerai dengan istrinya tidak akan sedekat itu. Tapi entahlah, aku melihat dia masih begitu sangat peduli denganmu." selidik Dave.
"Kami memang masih berhubungan baik. Bagaimanapun dia adalah ayah dari anak ku. Aku mengenal istri nya."
"Lalu bagaimana menurutmu tentang tawarannya. Apakah kau akan menerima tawarannya julian. Apa kau akan tingal di Mansion nya?"
"Tentu saja tidak. Aku tidak akan tinggal di Mansionnya. Lebih baik aku tingal di rumah ku sendiri. Aku akan menyewakan seorang perawatan untuk membantu ku." ucap Vale tegas.
"Melihat kondisi mu, memang tidak memungkinkan dirimu untuk bisa tinggal sendirian. Setelah kau diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit ini. Kau memang masih memerlukan seseorang yang bisa membantu mu. Jika kau mau, kau bisa juga tingal di rumah ku." tawar Dave.
"Terimakasih untuk tawaran mu. Aku tidak ingin merepotkan siapapun. Lagi pula, kita baru saja kenal."
"Aku hanya tinggal sendirian di rumah ku Vale. Aku single, duda lebih tepatnya. Jika kau izinkan aku untuk bisa mengenali mu lebih jauh lagi. Aku akan sangat senang sekali."
"Jujur aku sangat senang bertemu denganmu. Dan aku minta maaf sekali lagi karena telah menabrak mu."
__ADS_1
"Aku sudah memaafkan mu. Lagi pula, kecelakaan itu juga bukan seratus persen kesalahan mu. Jika saja driver itu tidak mengalami hilang keseimbangan. Inside itu kurasa tidak akan terjadi. Aku masih sangat bersyukur, karena aku masih hidup. Aku belum siap untuk meninggalkan putri ku. Aku juga belum siap untuk berpisah dengannya. Aku ingin menemaninya tumbuh dewasa. Menjadi teman curhat nya dan memberikan beberapa saran serta nasehat untuk nya. Di saat kelak ia sudah dewasa. Aku tidak ingin nasib Elenor seperti diri ku. Yang sejak kecil sudah hidup sendiri." ujar Vale, yang tiba-tiba saja ia merasa sedih.
"Aku tiada tau seperti apa kisah hidup mu Valerie. Tapi seperti nya hidup mu penuh dengan drama dan kisah. Kita memang baru saja saling mengenal. Kau mungkin masih asing dengan ku. Jika kau izinkan. Aku ingin menjadi teman mu. Menjadi teman baik mu mulai sekarang." seru Dave dengan bersungguh-sungguh. Dave kemudian mengulurkan tangannya ke arah Valerie.
Vale yang ketika itu masih belum bisa mengangkat tangannya, hanya tersenyum menanggapi uluran tangan Dave.
"Aku belum bisa menjabat tangan mu Dave." ujar Vale lembut.
Dan Dave pun terkekeh untuk hal lucu itu.
"Oh, aku lupa." ucap Dave. Kemudian Dave menyatukan telapak tangannya ke telapak tangan Vale.
"Deal ya, mulai sekarang kita akan berteman." ucap Dave, sambil menatap wajah Vale dengan pandangan tak biasa.
"iya." ucap Vale, menerima ajakan pertemanan yang Dave minta.
"Jadi, mulai sekarang jangan sungkan sungkan untuk minta bantuan dengan ku." ucap Dave sambil mengembangkan senyum manisnya.
Dan entah kenapa, senyuman Dave mampu menghidupkan desiran aneh pada tubuh Vale.
Hati nya merasakan sesuatu yang aneh. Jantung nya pun kini sudah berdetak lebih cepat. Rasa malu dan tidak percaya diri tiba-tiba melingkupi perasaan Vale terhadap pria berpostur tinggi dan berjambang tersebut.
Dan ketika mata mereka bertemu pandang. Membuat Vale merasa salah tingkah.
Tubuh gagah pria dewasa itu sudah membuat Vale sedikit mengaguminya.
Perasan perasan yang dulu pernah ia rasakan pada Julian. Kini ia rasakan pada Dave.
Tapi Vale tidak ingin terlalu gegabah untuk menangapi perasaannya terhadap pria yang belum lama ia kenal itu.
Mungkin saja itu hanya perasaan sepintas yang mungkin akan hilang.
__ADS_1