
Mengendarai mobilnya dengan perasaan hati sedikit resah, Julian memikirkan apa yang sudah terjadi di antara dirinya dan juga Valerie.
Pernyataan ungkapan perasaan yang Valerie ucapkan terhadap dirinya, seakan membuat beban tersendiri bagi Julian.
Sebenarnya ia sudah berusaha untuk memperingatkan Valerie untuk tidak jatuh cinta terhadap dirinya.
Tapi ternyata kata-katanya tidak di dengar kan oleh Valerie.
Justru Vale malah terkesan nekat.
Setelah Valerie mengungkapkan isi hatinya. Julian justru kini merasa harus menanggung beban perasaannya terhadap Vale.
Dia tidak mungkin membuat hati Vale sedih. Karena wanita muda itu kini telah mengandung benihnya.
Beberapa saat kemudian, Julian kini telah sampai di apartemen Jenna.
Ketika pintu apartemennya diketuk, Jenna sudah tau siapa yang datang.
Dan ia sangat antusias untuk membukakan pintu. Jenna tau, yang datang pasti adalah suaminya.
Begitu pintunya terbuka, seorang pria gagah berdiri dengan senyum yang manis menyambut Jenna.
Pria itu langsung membuka kedua tangannya. Dan Jenna langsung menghambur ke dalam pelukan pria tersebut.
"Julian." sebut Jenna memangil nama sang suami. Lalu Jenna memeluk tubuh suaminya itu dengan erat.
"Merindukan istri ku." bisik Julian, dan untuk beberapa saat mereka saling mengeratkan pelukannya.
"Bagaimana, apakah kamu sudah berkemas-kemas?" tanya Julian pada Jenna. Karena malam itu juga Julian mengajak Jenna untuk tingal bersama dirinya di Mension.
"Aku belum berkemas, aku juga belum lama sampai apartemen. Jalanan sangat macet." keluh Jenna.
"Kau sudah memberitahu Mama mu kan, jika malam ini aku akan membawamu untuk tinggal bersama ku."
"Iya, aku sudah memberitahu Mama, sebentar lagi Mama akan pulang. Kalau begitu aku berkemas dulu ya." ujar Jenna.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggu Mama di sini. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama Mama."
"Kau sudah makan? Kalau belum, aku kan menyiapkan makan malam untukmu." tawar Jenna pada Julian.
"Aku sudah makan sayang,"
"Oke, kalau begitu aku berkemas." kemudian Jenna meninggalkan julian di ruang tamu.
"Tidak usah membawa banyak pakaian, aku akan membelikan pakaian yang baru baru untuk mu." teriak Julian dari ruang tamu kepada Jenna yang saat itu sudah berada di kamarnya.
"Oke my husband." jawab Jenna dengan mengembangkan senyum penuh kebahagiaan dari dalam kamar.
Setelah julian kini berada sendirian di ruang tamu. Julian merasakan, ada perasaan bersalah yang menggelayuti hati nya pada Jenna. Wanita itu sangat bersemangat untuk hidup dan tinggal bersamanya.
Bagaimana reaksi Jenna saat ia dia tau jika sebenarnya dirinya sudah menikah kontrak.
Dan juga sebaliknya, bagaimana jika Valerie tau dirinya telah menikah siri.
Padahal Valerie baru saja mengutarakan isi hatinya pada julian tentang perasaannya. Dan bahkan di kamar mandi mereka saat itu bercinta dengan sama sama saling menikmati.
"Julian." panggil Reina.
"Ma," sapa Julian, yang nampak kaget ketika tiba-tiba sang Mama mertua sudah berada di sampingnya.
"Sudah lama datang,"
"Belum lama Ma."
"Ayo duduk,"
Reina kemudian mempersilahkan Julian untuk duduk.
Julian dan Reina mengobrol ringan di ruang tamu.
Sambil menunggu Jenna yang saat ini sedang berkemas di kamarnya.
__ADS_1
"Mama sudah tahu kan jika malam ini saya akan membawa Jenna untuk tinggal bersama saya di Mension."
"Mama sudah tahu Julian, dan Mama juga sangat menghargai keinginanmu untuk membawa Jenna tinggal bersamamu. Dan hal itu kurasa memang wajar, dan memang sudah saat nya Jenna harus meninggalkan Mama nya untuk bisa berbakti kepada suaminya."
"Terimakasih untuk pengetiannya Ma. Saya akan memberikan kebebasan kepada Jenna untuk mengunjungi Mama kapan saja jika dia ingin berkunjung. Bahkan jika Jenna ingin menginap pun saya akan memberikan izin."
"Terima kasih atas perhatianmu Julian. Pesan Mama, bahagiakan Jenna. Mama titip Jenna kepada mu. Dan Mama sangat yakin, jika kau bisa membahagiakannya. Kalian menikah kan pada dasarnya memang saling mencintai. Bersabar lah menghadapi Jenna, anak itu sedikit keras kepala." ujar Reina yang kemudian di iringi kekehan kecil.
"Dan cepatlah berikan aku cucu." imbuh Reina.
"Iya Ma, saya dan Jenna juga sudah membicarakan soal ini. Kami juga berharap kami akan cepat di berikan turunan."
Beberapa saat kemudian, Jenna datang dengan sudah membawa satu koper pakaian.
Lalu, Jenna menyuruh Julian untuk menaruh koper itu ke mobil.
"Aku ingin bicara dulu berduaan dengan Mama. Kau bawa dulu saja barang-barang ku ke mobil sayang." pinta Jenna pada Julian.
Setelah Julian pergi meninggal ruangan itu, Jenna pun langsung bergerak menghampiri sang Mama dan langsung memeluknya erat.
"Maafkan Jenna ya Ma, jika selama ini Jenna banyak salah sama mama." ucap Jenna meminta maaf kepada Mamanya sambil terus memeluk sang Mama dengan erat.
"Jenna janji, Jenna akan serian sering menjenguk Mama. Dan ngk akan melupakan Mama."
"Iya Jen, Mama tahu, Mama tahu kamu sangat menyayangi Mama. Sekarang keadaan kamu sudah berubah. Kamu sekarang sudah menjadi istri seseorang, kamu harus ikut suamimu di saat suamimu mengajak kamu pergi untuk tinggal bersamanya. Mama tidak apa-apa, sudah menjadi tugas Mama untuk mendukungmu. Tinggallah bersama suamimu, berbahagialah bersamanya. Bukankah dia adalah orang yang kamu pilih. Mama selalu doakan yang terbaik untukmu Jen."
"Terimakasih Ma."
"Jangan menunda-nunda kehamilan ya, kalian berdua sudah cukup usia untuk bisa segera memiliki momongan. Lebih cepat lebih baik."
Dan akhirnya, malam itu, Jenna harus rela meninggalkan apartemen yang telah ia huni lama selama bertahun-tahun dengan sang Mama.
Meskipun ada rasa sedih harus berpisah dengan sang Mama. Jenna tak punya pilihan lain untuk menghindar. Karena sebuah tagung jawaban baru harus ia emban.
Tugas baru menjadi seorang istri yang memang harus berbakti kepada suaminya.
__ADS_1
Memberikan pelayanan lahir dan batin untuk sang suami Julian Alexander. Meskipun mereka menikah secara siri, dan belum di kukuhkan dengan legal secara hukum.