Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
First night Jenna & Julian


__ADS_3

Kegugupan kini melanda diri Jenna. Ketika Julian terus saja mendesak nya di sofa.


Bahkan, kini Julian telah merangkul pundak Jenna dengan rangkulan posesif.


"Sudah malam, sebaiknya kita tidur yuk." ajak Julian dengan nada suara menggoda.


"Apa kau tidak pulang?" tanya Jenna, menanyakan hal konyol itu pada Julian.


"Kenapa harus pulang. Kamu lupa kita sudah menikah. Kita sudah bisa tidur satu kamar sekarang Jen. Kamu seperti masih belum percaya jika aku sudah menikahi mu, kau harus belajar terbiasa. Kita sudah menikah, kita sudah sah menjadi pasangan suami istri. Dan aku bahkan sudah punya hak untuk menyentuh mu." ucap Julian, sambil meraih dagu Jenna untuk bersedia menatap mata elangnya.


"Kau cantik sekali Jen. Aku sangat bersyukur karena aku sudah bisa memilikimu. Kau milik mu sekarang. Dan aku milikmu."


Julian menatap Jenna dengan tatapan menusuk. Tatapan penuh harap, penuh hasrat dan penuh cinta.


Bahkan, Jenna tak berani dan begitu malu untuk terus membalas tatapan tajam yang julian layangkan padanya


"Sebelah mana kamar mu? Ayo kita ke kamar saja." ajak Julian.


Saat Julian sudah mengajak Jenna untuk pergi ke kamar. Rasanya Jenna sudah tidak bisa lagi untuk mengelak.


Jenna kemudian berdiri dari tempat duduknya. Dan di ikuti Julian yang juga ikut berdiri.


Sambil berjalan di belakang Jenna. Julian mengikuti langkah istri sirinya menuju kamar.


Sesampainya di dalam kamar dan pintu kini sudah tertutup. Jenna pun bingung harus melakukan apa.


"Maaf kamarku sempit. Tidak seluas dan semewah kamar mu di Mension mu."


"Kamar yang ada di rumah ku akan menjadi kamar kita. Mension ku nanti akan menjadi rumah mu. Kita akan tingal di sana." ucap Julian yang saat itu telah duduk di sisi ranjang tempat tidur Jenna.


Dan Jenna sendiri masih berdiri beberapa langkah dari Julian.


"Sini Jen, kenapa kamu malah berdiri saja." ujar Julian.


Kemudian dengan langkah perlahan Jenna berjalan ke arah Julian.


Saat Jenna sudah berada dalam jarak yang cukup dekat. Julian kemudian meraih tangan Jenna.


Dan dengan sekali hentakan, Jenna pun tertarik dan terduduk di pangkuan Julian.


Mata mereka kini saling beradu pandang. Saling memandang dengan begitu intens.


Jenna kemudian melingkarkan kedua tangannya ke leher Julian.

__ADS_1


Julian dengan senyum bahagia memandangi wajah Jenna yang baginya sangat cantik alami.


Sedangkan Jenna sendiri. Jauh dari lubuk hatinya yang terdalam. Juga merasakan rasa bahagia dan sangat senang bahwa pria gagah yang saat ini sedang memangkunya sudah berstatus sebagai suaminya. Meski ia dinikahi secara sirih.


Perlahan mereka berdua pun kini saling mendekatkan kepala. Memperpendek jarak bibir mereka yang hampir menempel.


Dengan detak jantung yang kian terpacu, dan hembusan nafas yang mulai tidak teratur. Jenna semakin di buat deg deg kan.


Bagaimana pun ini adalah pengalaman pertama nya.


Julian yang sudah tidak sabar menikmati bibir Jenna pun dengan sekali gerakan. Langsung menyantap bibir ranum Jenna dengan gemas.


Jenna terlalu protektif selama ini terhadap nya. Saat kini hubungannya sudah sah, Julian bisa bebas menjamah wanita yang ia cintai itu dengan bebas.


Sambil menangkup wajah Jenna, Julian terus menempelkan bibirnya ke bibir Jenna dan bercumbu dengan lembut saat itu.


Mereka saling berciuman dengan sangat mesra dengan posisi Jenna berada di pangkuan Julian.


Saat ciuman panas itu semakin memanas dan semakin menjalar ke tubuh keduanya.


Julian yang sudah tidak bisa menahan hasratnya kemudian menggulingkan tubuh Jenna dengan merubah posisi Jenna berada di bawahnya.


Julian semakin di buat menjadi-jadi merajahi tubuh bagian atas Jenna Shamanta. Yang saat ini sudah sah menjadi istri siri nya itu.


Leher jenjang putih Jenna tak luput dari amukan hasrat Julian yang sudah semakin membara.


Kemudian Julian menggulingkan lagi tubuh nya dengan membuat posisi Jenna kini berada di atas.


Ketika Julian hendak membuka kancing resleting baju Jenna. Jenna kemudian menghentikan aktivitas tangan nakal Julian.


"Kita tidak belum bisa melakukan sekarang Julian." ucap Jenna.


"Kenapa?"


"Aku sedang menstruasi."


"Tidak mungkin, jangan sekarang Jen. Kau hanya berkilah ya, karena kamu ingin menghindar." tuduh Julian.


"Aku tidak berkilah, aku benar-benar menstruasi saat ini. Menstruasi itu akan habis tiga hari ke depan, mungkin."


Setelah mendengar itu, Julian kemudian menggulingkan tubuhnya ke samping. Hingga saat ini dia dalam keadaan terlentang.


Sambil mengatur nafasnya, padahal saat itu hasrat sudah berada di puncak. Julian harus bisa menahannya.

__ADS_1


"Masih banyak waktu dan kesempatan, bersabarlah." ucap Jenna memenangkan.


Julian kemudian bangkit dari tempat tidur. Dan ia kemudian berlalu ke kamar mandi.


Dan mungkin saja, Julian meneruskan aktivitasnya di sana sendiri.


Sepeninggal Julian ke kamar mandi. Jenna pun buru-buru mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.


Jenna berganti baju tidur dengan potongan yang sedikit terbuka.


Setelah beberapa saat, Julian keluar dari kamar mandi dengan keadaan sudah bertelanjang dada dan hanya memakai boxer nya.


Mata Jenna terbelalak melihat perut kotak-kotak Julian.


Selama ini, dia belum pernah melihat Julian yang bertelanjang dada seperti itu.


Pahatan tubuh yang sempurna, postur tubuh yang tinggi, badan yang tegap, bagi Jenna pria yang saat ini berada di dalam kamar nya adalah pria sempurna.


Dan tak mengira bahwa ia kini sudah sah menjadi istri Julian.


Sambil melemparkan celana dan juga kemejanya ke kursi yang ada di ruangan itu. Julian kemudian menghampiri Jenna yang sudah terlebih dulu berada di atas tempat tidur.


Membuka selimutnya, kemudian Julian merebahkan tubuhnya di sana.


"Aku sangat kecewa sekali sayang tidak bisa mendapatkan kamu malam ini. Padahal ini kan malam pertama kita. Seharusnya kita tadi sudah bisa bersenang-senang."


"Maafkan aku sayang, aku minta maaf. Tapi bagaimana kita bisa menikmati itu, di saat aku sedang mengalami menstruasi."


"Iya aku paham. Seharusnya akulah yang harus minta maaf. Karena sudah tidak sabaran. Dan aku juga tidak akan memaksa mu, di saat kamu sedang menstruasi."


"Ya sudah sebaiknya kita tidur saja." Julian kemudian memejamkan matanya sambil bertumpu pada kedua tangannya yang ia gunakan sebagai bantal untuk kepalanya.


"Jen, jangan terlalu kaku dengan ku. Aku ini adalah suamimu sekarang. Sini tiduran berdekatan denganku." ucap Julian yang kemudian merentangkan satu tangannya.


Kemudian Jenna dengan sedikit malu-malu mendekatkan tubuhnya yang berbalut gaun malam seksi ke arah Julian.


"Tidurlah di dadaku. Aku ingin tidur sambil memelukmu. Meskipun aku belum berhasil mendapatkan itu. Setidaknya aku bisa tidur dengan memelukmu. Bermanja-manja lah dengan ku. Aku suka bila kau manja."


"Aku belum terbiasa Julian." jawab Jenna yang saat ini sudah tiduran sambil memeluk tubuh Julian.


Julian kemudian mencium puncak kepala Jenna.


"Ia nanti lama lama kau akan terbiasa. Tidurlah, selamat malam sayang." ucap Julian memberikan ucapan selamat malam untuk Jenna.

__ADS_1


"Selamat malam juga." jawab Jenna yang kemudian bergantian memberikan satu kecupan manis ke pipi Julian.


Malam itu, menjadi malam pertama bagi Julian dan juga Jenna sebagai pasangan suami-istri, meskipun mereka menikah secara siri.


__ADS_2