Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Kekhilafan Jenna dan Julian


__ADS_3

Ponsel Vale malam itu berdering. Ada pangilan video call dari Julian yang terlihat di layar ponsel milik Valerie.


Akan tetapi, sang pemilik ponsel rupanya sudah tidur lelap pada malam itu. Di tambah Vale sengaja meng silent kan nada dering ponselnya. Sehingga ia pun tak mendengar ada pangilan masuk.


Di dalam kamar hotelnya, Julian nampak sedang berdiri di balkon kamar hotel. Sambil meneguk wine yang ada di tangannya.


Julian sepertinya sedang dalam keadaan yang tidak baik. Suasana hatinya sedikit galau. Ada keresahan yang membuat Julian minum pada malam itu. Jika suasana hati Julian sedang tidak baik, pria itu punya kebiasaan untuk meneguk minuman beralkohol. Meski tidak sampai membuat dia mabok.


Meski minum wine, Julian bukan tipe pria pemabuk.


Ia akan minum beberapa gelas wine di saat sedang dalam suasana hati yang badmood.


Sejak dirinya di anggap tidak gentle oleh Jenna. Membuat Julian merasa terganggu dengan imej yang Jenna lontarkan.


Di tambah lagi belum ada kabar gembira dari Valerie yang sebenarnya ia sangat tunggu dan juga sangat ia harapkan.


Besok adalah hari kepulangan Julian kembali ke Jakarta setelah kurang lebih satu Minggu berada di Bali.


Urusan di Bali telah selesai dan ia akan kembali ke Jakarta dengan jadwal penerbangan siang.


Menjadi pria kaya raya, mapan dan banyak harta. Tidaklah cukup membuat hati seorang Julian Alexander bahagia.


Dalam ukuran umur yang makin bertambah saat ini benar-benar membuat Julian kawatir. Jika dia memang gagal dengan seorang wanita, dia sudah maklum.


Akan tetapi, setelah ia punya rencana untuk membeli sebuah rahim bayaran dan akhirnya ia memilih Valerie untuk bisa memberikan ia keturunan. Nyatanya hingga saat ini dia juga belum mendapatkan kabar gembira itu.


Padahal Julian sendiri sudah periksakan dirinya ke dokter.


Dan dokter menyatakan Julian sehat dan tidak ada masalah dengan kesuburannya. Apalagi Valerie, wanita muda itu sangat subur dan sangat berpotensi untuk cepat bisa hamil.


Demi bisa mendapatkan keturunan yang sah dan status yang jelas. Julian bahkan melalui proses itu dengan menikah secara sah juga. Karena ia tidak ingin anaknya lahir dari status hubungan kedua orang tuanya yang tidak sah. Semua itu sudah d pikiran masak masak oleh Julian. Yang akhirnya membuat ia menikah kontrak dengan Valerie.


"Vale, kau membuat aku rindu malam ini." desis Julian sesaat setelah ia meneguk habis minum wine nya.


"Dan kau membuat ku kesal Jenna." desis Julian lagi. Ia kemudian diam untuk beberapa saat. Melayangkan pandangan mata nya ke atas, ke arah cakrawala malam yang terlihat sunyi di atas sana.


"Malam yang kelabu, seperti diri ku." ujar Julian yang kemudian terkekeh sendiri.


"Aku tidak mabuk." ucap Julian pada dirinya sendiri.


Dan saat ini pikiran Julian justru sedang teringat dengan Valerie. Rekaman kegiatan seksual nya dengan Vale berputar putar di kelapanya. Keseksian Vale, lekukan tubuh Vale dan semua ******* wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu kini memenuhi otaknya.


Hingga membuat Julian bergejolak dan berhasrat.


Dan di sisi lain, penghina yang Jenna lontarkan padanya juga mengganggunya.

__ADS_1


Setelah diam membeku beberapa saat. Julian kemudian berjalan menuju pintu kamar hotel nya.


Dia keluar dari kamarnya dan kemudian menekan tombol bel di pintu kamar Jenna yang memang menginapnya di samping ia saat ini menginap di hotel itu.


Dari dalam kamarnya, Jenna yang saat itu belum tidur dan masih membereskan beberapa pekerjaan di laptopnya jadi terganggu oleh bel yang tiba tiba bunyi.


"Padahal aku tidak memesan apapun?" pikir Jenna.


Yang penasaran siapa yang ingin menemuinya malam malam seperti itu.


Sedikit ragu-ragu, Jenna yang saat itu memakai pakaian tidur dengan potongan terbuka di bagian lengan dan pundaknya, kemudian meraih blazer kerja untuk menutupi sebagian tubuhnya yang buka.


Berjalan santai menuju pintu, Jenna kemudian membukakan pintu kamarnya pelan. Setelah pintu kamar sudah ia buka, sosok pria tampan tinggi besar yang beberapa hari ini membuat diri berdebar berdiri di sana sambil menatap Jenna dengan tatapan tajam.


"Malam Jen," sapa Julian dengan nada suara khasnya yang merdu.


"Malam Pak Julian, ada apa?" tanya Jenna nampak begitu bigung dengan kedatangan pria itu.


"Ada urusan penting soal pekerjaan!" ujar Julian yang nampak menelisik Jenna dari atas sampai bawah.


Jenna yang nampak siri di pandangi oleh Julian seperti itu kemudian refleks mengerat balutan blazer nya.


"Ini sudah malam Pak, apa tidak bisa besok saja." jawab Jenna.


Dengan memepetkan tubuh Jenna di balik pintu kamar hotel, Jenna kini sudah dalam penguasaan Julian. Sesaat Julian mendekatkan wajahnya ke wajah Jenna.


Dengan sorot matanya yang tajam, Julian menatap bola mata Jenna dengan tatapan menusuk.


"Jen, aku menyukai mu." ungkap Julian dengan nada suara lembut dan tegas.


Jenna yang sudah terengah-engah napasnya karena sudah takut, kaget dengan uangkapan perasaan hati Julian.


"Menikahlah denganku Jen, aku berjanji akan membuat mu bahagia. Kita menikah dan mari kita berkomitmen. Membangun rumah tangga dengan bahagia." desis Julian.


"Kau mabuk Julian,"


"Tidak, aku tidak mabuk Jenna. Aku sudah jatuh cinta dengan mu. Aku ingin menjadikan mu istri ku." ujar Julian lagi antara sadar dan tidak sadar.


"Jangan seperti ini Julian, kau membuat aku takut." Jenna berkilah, yang kemudian ia ingin beralih dari kungkungan Julian. Akan tetapi, Julian menahan tubuh Jenna di sana.


"Aku tau kau juga menyukai Jen. Jangan terlalu jual mahal." ucap Julian, yang kini sudah membelai wajah Jenna dengan satu tangannya yang lain.


Jenna yang di perlukan seperti itu oleh Julian jadi semakin takut.


"Julian kau mabuk, kau bau alkohol." protes Jenna sambil mendorong tubuh Julian. Akan tetapi tubuh pria itu tak bergeser sedikit pun.

__ADS_1


"Aku tidak mabuk, aku masih sadar." jawab Julian lagi.


"Menikahlah denganku Jen, aku berjanji akan bertanggung jawab untuk hidup mu." ucap Julian yang kini wajahnya semakin dekat dengan wajah Jenna, dan cup.


Sebuah ciuman panas dan penuh gairah Julian langsung salurkan pada bibir Jenna tanpa aba aba. Julian menikmati bibir Jenna dengan ciuman yang sangat rakus.


Jenna sendiri tak bisa mengelak. Tanggupan kedua tangan Julian yang menahan wajahnya membuat Jenna tak berkutik.


Di serang tiba-tiba oleh Julian dengan ciuman yang panas seperti itu membuat Jenna langsung bereaksi.


Apakah Jenna membalas ciuman itu?


Jenna yang juga sudah ada rasa dengan Julian akhirnya terbawa suasana. Dia membalas ciuman Julian.


Dan akhirnya, jadikan dua orang dewasa itu saling berbalas ciuman panas.


Julian kemudian menarik tubuh Jenna dari pintu. Dan menaikan tubuh Jenna untuk naik ke pinggangnya.


Sambil terus masih berciuman, Jenna yang saat ini sudah melingkarkan tangannya ke leher Julian dan melilitkan kedua kakinya ke pinggang Julian ikut larut dalam kenikmatan ciuman panas kala itu.


Tidak melepaskan ciumannya, Julian kini berjalan sambil menggendong tubuh Jenna menuju ke arah ranjang.


Di ranjang Julian memangku Jenna dan kembali melancarkan ciumannya dengan tangan yang juga tidak bisa diam.


Julian menarik blazer yang Jenna kenakan, dan membuangnya ke segala arah.


Begitu ia mendapatkan pemandangan indah di hadapannya. Karena Jenna mengenakan pakaian gaun malam yang seksi. Semakin membuat Julian berhasrat.


Kini Julian, membaringkan tubuh Jenna di atas ranjang. Dan ia langsung mengungkung tubuh Jenna di sana.


Untuk sesaat mereka kembali berciuman dengan penuh gelora. Tidak hanya berciuman Julian juga menyusuri leher jenjang wanita lajang itu.


Sama sama saling menyukai membuat mereka makin gila sekarang.


Ketika Julian sudah menuntut lebih dan ingin di puaskan dengan cara penyatuan. Julian bangkit dari tubuh Jenna dan berniat untuk melepaskan celananya.


Jenna yang saat itu paham dengan apa yang akan Julian lakukan. Kesadaran Jenna kini kembali.


Ia bangkit dari rebahan dan langsung menahan gerakan tangan Julian yang hendak melepaskan ikat pinggangnya.


"Julian, sudah cukup. Jika benar kau mencintai aku dan akan menikahi aku, kau tidak akan merusak ku kan, sebelum waktu itu tiba." ujar Jenna, dan kata kata Jenna sudah cukup menghentikan gerakan Julian yang ingin melepaskan celananya.


Wah wah wah 😅🤭


Hayo, Jenna bakalan nolak apa ngikutin kemauan Julian 😬

__ADS_1


__ADS_2