Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Penyerahan Baby Elenor (Ending:Rahim bayaran Mr Julian Alexander


__ADS_3

Valerie POV


Ku dekap dengan erat baby Elenor di perlukan ku. Sambil terus ku perhatikan dengan penuh ketajubpan ketika ia dengan sangat kuat menghisap ASI yang ku berikan untuk nya.


Aku tidak pernah membayangkan, saat aku bisa memberikannya ASI, hal itu bisa membuat ku bahagia. Dia menghisap dengan sangat rakus dan kuat.


"Mommy mencintai mu Elenor." seru ku berbisik di telinganya.


Dengan gemas, ku ciumi keningnya, dan juga pipinya.


Bau khas bayi dari tubuh mungil Elenor seperti aromaterapi yang menenangkan bagi ku.


Bagaimana aku akan tega meninggalkannya, jika aku sudah jatuh cinta dengan baby Elenor seperti ini.


Tapi bagaimana aku bisa memberikan dia yang terbaik. Jika saat ini saja hidup ku masih belum layak.


Seandainya aku tidak mendapatkan harta melimpah dari Julian. Aku mungkin masih bekerja di Clup sampai detik ini.


Saat ini aku bisa hidup dengan nyaman bergelimang harta karena baby Elenor. Karena aku mengadaikan dia dengan materi.


Apa aku bahagia menikmati harta pemberian Julian? Ternyata tidak!


Aku tidak bahagia dan aku tidak bisa menikmatinya dengan tenang.


Ada perasaan malu dan sangat menyedihkan di saat aku menikmati kemewahan harta dan segala bentuk kekayaan yang sudah Julian berikan kepadaku.


Seorang ibu mana yang bisa hidup nyaman dan senang bisa menikmati harta dari hasil menjual bayinya.


Meskipun hal itu ada, tapi aku tidak ingin menjadi salah satu dari seorang ibu yang tega menjual anaknya sendiri demi kenyamanan hidup.


"Tidak Elenor sayang, Mommy tidak menjual mu. Kehadiran mu sangat berarti bagi Mommy. Dan semua harta dan semua imbalan yang sudah di berikan Daddy mu pada Mommy, Mommy akan kembali kan semua pada Daddy.


Mommy tidak akan menerima sepeserpun harta benda yang sudah Daddy mu berikan. Mommy akan mengembalikan semuanya." bisik Vale pada baby Elenor malam itu. Ketika Vale memangku baby Elenor sambil memberikannya ASI di kamar.


Elenor, mungkin ini memang sudah menjadi takdir mu dan juga takdir Mommy. Bagaimana diri mu bisa ada di dunia ini dan bagaimana Mommy pada akhirnya harus rela berpisah dengan mu.


Julian Alexander, Daddy mu, saat itu berniat membeli rahim Mommy untuk bisa memberikan dia keturunan. Dan awalnya Mommy memang tergiur dengan imbalannya. Maka Mommy dan Daddy deal dengan perjanjian itu. Daddy memberikan Mommy uang dan Mommy harus bisa memberikan Daddy keturunan.


Mommy dan Daddy akhirnya menikah. Meskipun pernikahan Mommy dan Daddy hanya pernikahan kontrak. Tapi hubungan Mommy dan Daddy adalah sebuah hubungan yang berstatus jelas. Dan akhirnya, kau pun ada.


Tapi, keberadaan mu di rahim Mommy, mengubah semua persepsi.


Banyak harta dengan cara instan seperti itu tidak membuat hati Mommy tenang dan senang.


Justru Mommy dihantui oleh rasa bersalah.


Dan kini, sudah waktunya Mommy harus membayar semua kesalahan Mommy terhadap mu sayang.


Tidak apa ya, Mommy meninggalkanmu untuk sementara. Mungkin hanya beberapa tahun.


Mommy janji, Mommy akan datang lagi di hadapan mu dengan sudah bisa memberikan tempat yang layak untuk mu. Jika sewaktu-waktu Mommy bisa mendapatkan mu dan memeluk mu kembali.


Jadi, Mommy saat ini sedang berjuang untuk itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Satu bulan kemudian


Dengan sambil menitipkan air matanya, Valerie membereskan beberapa baju-baju baby Elenor ke dalam sebuah tas.


Karena pada hari itu, ia harus menyerahkan baby Elenor kepada Julian, yang saat ini telah menunggunya di Mansion.


Dengan berderai air mata, Valerie membereskan barang-barang penting milik baby Elenor ke dalam sebuah tas bayi sambil sesekali mencuri pandang ke arah baby Elenor yang tertidur pulas di ranjangnya.


Bayi mungil yang saat ini tepat berusia satu bulan itu seakan tidak tau jika sebentar lagi ia akan berpisah dengan Mommy nya, yang sudah merawatnya dengan sangat baik selama sebulan ini.


Ikatan batin dan juga telepati yang kuat sudah terjalin antara Vale dan bayinya.


Seharian itu Vale yang bisa menangis dan menangis.


Air matanya sudah mengucur dari semalam. Bahkan semalaman Baby Elenor tertidur di dadanya.


Rasanya begitu berat bagi Vale pada hari itu harus dipaksa berpisah dengan putrinya. Hatinya terasa teriris saat harus berada jauh dari anaknya yang baru berusia sebulan itu.


Tapi mau tidak mau, Vale harus bisa melepaskan dan merelakannya.


Dengan diantar oleh sopirnya, Vale yang saat itu minta ditemani oleh Aise menuju Mansion untuk menyerahkan baby Elenor pada Julian.


Di sepanjang perjalanan menuju Mansion, Vale tak bisa menghentikan air matanya yang menetes.


"Non, yang sabar ya. Ini memang sulit dan berat. Tapi saya yakin, Non Vale akan bisa berkumpul lagi dengan Baby Elenor suatu saat nanti." hibur Aise yang tidak tega melihat Valerie larut dalam kesedihan seperti itu. Bahkan Aise pun juga ikut meniti kan air matanya.


"Terimakasih Bik." ucap Vale pada Aise karena sudah di hibur.


Dan tak berapa lama, mereka kini telah sampai di Mansion Julian.


Dengan hati hati Valerie keluar dari mobil dan mengendong baby Elenor untuk memasuki Mansion bersama Aise yang saat itu membawakan tas keperluan penting baby Elenor.

__ADS_1


Dan di ruang tamu, di sana sudah menunggu Mama Roseline, Julian dan juga Jenna.


Dengan langkah berat, Vale melangkah kan kakinya menuju ruang tamu.


Suasana kala itu begitu hening. Tidak ada yang berbicara sama sekali.


Yang terdengar hanya derap kaki Vale dan juga Aise yang semakin mendekati ruang tamu.


Dan di tempatnya saat ini Julian berdiri, dan di sampingnya juga sudah ada Jenna. Julian menatap dengan mata nanar ke arah Vale yang datang dengan mengedong bayinya.


"Selamat siang Ma, Julian, Jenna, aku datang kemari untuk menepati janji ku. Aku datang untuk menyerahkan baby Elenor pada kalian untuk dirawat dengan baik." ujar Vale dengan mata yang masih merah dan wajah yang mencoba untuk tegar.


"Julian, mendekatlah, terimalah anak mu." ujar Vale, memanggil Julian yang saat itu diam membeku. Julian kemudian berjalan ke arah Valerie.


Vale kemudian menciumi wajah baby Elenor dan sekali lagi mendekap, memeluk dengan pelukan sayang, hangat dan juga mencurahkan segala perasaan cintanya pada putrinya itu untuk yang terakhir kali.


"Mommy berjanji akan kembali sayang." ucap Vale di telinga Elenor.


Setelah itu, Vale mengalihkan gedongan baby Elenor ke arah Julian yang sudah siap menerima kedatangan anak nya. Begitu Vale meletakkan bayinya di gendongan Julian. Vale sekali lagi mencium kening putrinya.


"Baik baik ya sayang." ujar Vale.


"Aku titipkan anak ku pada mu Julian. Tolong rawat dia dengan baik selama aku tidak ada"


"Aku pasti akan merawatnya dengan baik." jawab Julian


"Jen," pangil Vale pada Jenna.Yang saat itu juga terlihat sangat sedih dan juga terharu menyaksikan perpisahan Vale dan anak nya.


Jenna kemudian berjalan ke arah Vale dan berdiri tepat di samping Julian.


"Semoga keberadaan Elenor tidak mengurangi kebahagiaan hidup rumah tangga mu. Julian pasti akan mengesahkan pernikahan mu secara hukum saat aku dan Julian sudah resmi bercerai." ucap Vale pada Jenna.


"Aku akan ikut menjaga putri mu." jawab Jenna yang kemudian bergerak ke arah Vale dan memberikan Vale sebuah pelukan.


"Terimakasih kasih Jen."


"Setelah ini, aku akan mengurus surat perceraian kita." ucap Julian. Vale hanya mengangguk mengerti.


Vale kemudian sekali lagi mencium pipi gembul baby Elenor yang saat ini berada di gendongan Julian.


"Good bye Elenor," Kemudian setelah itu, Vale melangkah menjauh pergi meninggalkan ruang tamu.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Tiga Minggu kemudian


Di sebuah hotel Presidential suite room Julian sengaja memesan kamar hotel eklusif itu untuk mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Valerie yang telah memberikan dirinya seorang putri.


Tidak hanya untuk memberikan penghormatan sebagai bentuk terimakasih. Tapi pertemuan antara Julian dan Valerie pada malam itu juga untuk membahas soal perceraian yang akan mereka lakukan.


Bahkan, kini Julian sudah membawa berkas berkas surat perjanjian pernikahan kontrak mereka dan sudah membawa surat perceraian yang akan mereka tanda tangani bersama.


Yang akan mengesahkan Julian dan juga Valerie tidak akan lagi menjadi pasangan suami-istri.


Mengenakan kemeja berwarna hitam, saat itu Julian yang habis pulang dari kantor, menjemput Valerie di Penthouse.


Julian sengaja mengajak Valerie untuk pergi ke hotel yang telah ia persiapkan sebelumnya.


Dan Vale pun menyanggupi ajakkan Julian saat itu.


Dengan menggunakan sebuah mini dress yang lumayan cukup seksi, Vale sengaja mempersiapkan dirinya malam itu untuk bersiap-siap melepaskan statusnya sebagai istri Julian Alexander.


Dan malam ini adalah malam terakhir dirinya menjadi seorang istri sah Julian. Dan malam terakhir bagi dirinya terikat dengan perjanjian konyol yang membelitnya.


"Kenapa kau memilih hotel untuk melakukan pertemuan kita yang terkahir kali." tanya Vale pada Julian.


"Aku ingin ucapan terima kasih dengan cara spesial untukmu. Karena bagaimanapun, kamu sudah memberikan aku seorang anak. Dan apa yang telah aku berikan kepadamu, semua materi itu, ku rasa belum cukup untuk mengungkapan rasa terima kasih ku kepadamu. Dan aku sengaja mempersiapkan ini sebagai kenangan dan akhir dari pernikahan bisnis kita."


"Sebaiknya kita makan dulu." ucap Julian, kemudian ia mengajak Valerie untuk bergegas menuju meja makan yang ada di ruangan kamar hotel, yang juga sudah ia persiapkan.


Dengan gentle, Julian menarik kan kursi untuk Vale. Setelah itu, dia duduk di kursi nya. Julian dan Vale pun menikmati acara makan malam private itu dengan santai sambil mengobrolkan hal hal yang ringan tentang baby Elenor dan juga tentang urusan mereka.




🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah makan malam selesai, kemudian mereka beralih ke ruang tamu. Dan di sana, Julian sudah mempersiapkan berkas berkas surat perjanjian yang akan mereka tanda tangani. Yang menandakan bahwa perjanjian mereka kini sudah berakhir.


Julian kemudian mengeluarkan selembar kertas surat perceraian yang akan mengakhiri hubungan suami-istri yang sah di antara mereka.


"Vale, ini adalah surat perceraian kita. Saat kita sudah saling menandatangi ini, itu artinya kita sudah sah bercerai. Kau sudah bukan istri ku lagi." ujar Julian dengan tatapan mata serius mengarah pada Valerie.


"Kau sudah siapkan." tanya Julian.


"Aku sudah siap, mau tak mau kan, aku memang akan menjadi seorang janda, janda dari Julian Alexander." ucap Vale dengan nada ketus, Julian kemudian tersenyum getir.

__ADS_1


"Sekali lagi, terimakasih untuk semuanya. Aku akan menandatangani ini." ujar Julian yang kemudian mengambil sebuah pulpen dan hendak menandatangani surat cerai itu.


"Tunggu Julian." ucap Vale yang menghentikan gerakan Julian yang akan menandatangani surat cerai itu.


"Boleh kah aku meminta sesuatu dari mu, itu pun jika kau mau mengabulkan." ucap Vale, yang kemudian meraih gelas Julian yang berisikan wine kemudian meneguknya. Julian pun tercengang dengan aksi yang di lakukan Vale.


"Aku pasti akan mengabulkan permintaan mu. Apa yang kau inginkan." tanya Julian pada Vale dengan nada serius.


Vale sejenak nampak menimbang-nimbang pikirannya.


Kemudian, Vale berjalan mendekati Julian dan langsung minta duduk di pangkuan Julian. Julian pun kaget dengan aksi Vale saat itu.


Bersikap seperti wanita nakal, Vale mengalungkan satu tangannya melingkar di pundak Julian. Dan satu tangannya yang lain masih memegang gelas wine.


Sejenak, Vale menyodorkan gelas yang berisikan wine itu ke mulut Julian. Dan menyuruh Julian untuk meminumnya. Julian pun menurut. Saat wine itu masih menyisakan sedikit, Vale kemudian meneguknya sampai habis.


"Ini adalah malam terakhir ku sebagai Nyonya Alexander yang tak pernah kau akui dan tak terpublikasi. Aku hanya istri sah rahasia mu. Sebelum kau benar-benar mencampakkan aku. Bolehkah aku minta hak ku sebagai istri?" tanya Vale pada Julian dengan sudah bersiap nakal di pangkuan Julian. Vale memang sengaja bersikap nakal seperti itu pada Julian.


"Hak istri yang seperti apa Vale?" tanya Julian.


"Hak berhubungan badan dengan suami ku sendiri. Anggap saja ini kenang kenangan dari mu, kita lakukan hubungan seksual untuk yang terakhir kalinya." ucap Vale dengan suara berbisik di telinga Julian. Julian kemudian tersenyum.


"Vale yang nakal sudah kembali." ujar Julian sambil tersenyum jail.


"Bukankah kau merindukan kangguru mu." balas Vale mengoda Julian dengan sengaja mendekatkan dua buah dada nya pada wajah Julian.


Dan sejurus kemudian, Julian sudah ******* bibir ranum Vale dengan gairah yang sepertinya sudah tertahan sejak lama.


Julian terlihat posesif, dan sepertinya ia juga merindukan bercinta dengan Valerie.


Valerie pun tanpa ragu dan tanpa malu-malu memanfaatkan momentum itu untuk meneguk kenikmatan bercinta bersama pria yang sangat ia cintai untuk yang terakhir kalinya, di malam terakhir ia masih menjadi istri sah Julian.


Karena esok hari, diri nya mungkin sudah berstatus janda.


Kedua tangan Vale bergerak untuk melepaskan kancing baju Julian di sela sela mereka masih berciuman. Sedangkan Julian sendiri juga nampak berusaha untuk membuka resleting dress yang Vale kenakan.


Saat keduanya kini sudah lepaskan pakaian bagian atas mereka. Vale kemudian memberikan sesuatu pada Julian.


"Pakailah ini, aku tidak mau hamil untuk kedua kalinya." ujar Vale memberi satu buah alat kontrasepsi pada Julian.


"Aku tidak suka memakai itu." ujar Julian.


"Kau harus pakai." perintah Vale.


"Aku akan mengeluarkan di luar, kau tak akan hamil."


"Kau pakai atau aku tidak mau meneruskan percintaan kita." ancam Valerie.


"Kau memang nakal." ujar Julian yang kemudian mau tak mau akhirnya memakai alat kontrasepsi itu.


Setelah itu mereka pun melanjutkan percintaan mereka dengan penuh naf su, gai rah, dan juga dengan berbagai gaya yang membuat keduanya mengerang, men de sah penuh peluh dan ke nikmatan bersama.


Malam yang panjang bagi Julian dan juga Valerie meneguk kenikmatan bercinta untuk yang terakhir kalinya sebagai pasangan suami-istri. Penyatuan yang tidak hanya sekali Julian lakukan tapi ia melakukan berkali kali.


Mereka saling memberikan kepuasan hasrat masing-masing.


Setelah saling puas bercinta, Vale yang sudah lemas tak berdaya merebahkan tubuhnya di dada telanjang Julian.


"Terimakasih cinta ku." ucap Vale


"Sama sama Valerie." jawab Julian, dan keduanya pun kini tidur di bawah selimut yang sama dengan masih tidak mengenakan pakaian.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Keesokan harinya, ketika Julia terbangun dari tidur dia sudah tidak mendapati Valerie tertidur di sampingnya.


Menyadari Valerie sudah pergi, kemudian Julian bangkit dari tidurnya.


Saat Julian sedang mengenakan kembali celananya. Pandangannya mengarah di sebuah meja. Di mana ia meletakkan berkas-berkas yang semalam ia bicarakan dengan Valerie.


Julian kemudian mendekati meja itu dan dia meraih selembar kertas perceraian yang ia bawa.


Julian kemudian mengeceknya, dan ia melihat Vale sudah membubuhkan tanda tangannya di surat perceraian itu.


Tapi, ada yang membuat mata Julian terbelalak kaget. Saat pandangannya menangkap berbagai macam dokumen kepemilikan Penthouse, kredit card, kunci mobil dan semua surat-surat berharga lainnya yang sudah diberikan kepada Vale dikembalikan oleh Valerie kepada Julian.


Lalu Julian membaca sebuah pesan tulisan tangan yang Vale tulis.


"Dear Julian, aku mengembalikan semua dokumen penting yang telah kau berikan kepadaku. Aku tidak ingin menjual putriku sendiri kepadamu. Jika aku menerima imbalan itu, itu sama saja aku menjual Elenor. Aku mengembalikan semua pemberianmu. Aku menitipkan Elenor pada mu dan rawatlah dia dengan sayang. Aku akan kembali suatu saat untuk menemui Elenor."


Valerie


The end 💐



__ADS_1




__ADS_2