
"Wait, tadi Mr bilangan (Aku sudah bisa move on dan tidak lagi merasakan sakit hati) Apa artinya itu Mr sudah menemukan seseorang yang Mr cinta?"
Dan sepertinya Julian kelepasan bicara.
Julian kemudian terdiam, dan berfikir.
"Bukankah itu pertanyaan yang bersifat pribadi. Aku tidak perlu berbagi soal privasi ku dengan mu Vale. Kita fokus saja dengan pernikahan kontrak kita. Sekarang kau sudah hamil dan mengandung benih ku. Aku memang menikahi mu secara hukum dan sah. Karena aku ingin anak ku lahir dengan status perkawinan kedua orang tuanya yang jelas. Dia adalah keturunan Alexander. Dan setelah anak itu lahir, seperti yang sudah kita sepakati bersama. Dalam waktu dua Minggu kau harus memberikan anak itu kepada ku. Tanpa kau punya hak lagi untuk memiliki anak itu. Dan setelah itu kita bercerai. Kau harus pergi menjauhi kami, aku dan bayi ku. Kau bebas, dan kita tidak lagi punya urusan." jelas Julian.
"Kau mengalihkan pembicaraan Mr, bukan itu yang aku tanyakan tadi. Aku tadi menanyakan, apakah kau sudah menemukan seseorang yang bisa membuatmu jatuh cinta. Kenapa jawabanmu malah membahas tentang perjanjian pernikahan kontrak kita. Tanpa Mr jelaskan seperti itu aku pun juga sudah tahu Mr. Dengan sangat jelas dan paham aku sudah tau. Jadi jangan pernah lagi kau ungkit-ungkit dan kau ingatkan lagi aku tentang pernikahan kontrak ini. Semua pasti akan berjalan sesuai rencana."
"Aku hanya mempertegas Vale, jangan tersinggung ya." ucap Julian memperlembut nada suaranya yang tadi sempat keras.
"Tenang saja Mr, aku tidak tersinggung."
"Vale, aku memang mencantumkan poin untuk mu untuk tidak boleh menjalin hubungan dengan seorang selama kau mengandung anak ku. Itu agar kau dan calon anak ku bener-bener terjamin selama 9 bulan. Dan kau bisa fokus dalam menghadapi masa kehamilan mu. Contohnya seperti saat ini, kau pusing, mual, muntah. Aku hanya memastikan diri mu tidak banyak pikiran dan fokus dengan kehamilan mu serta fokus memikirkan janin yang kau kandung."
"Lalu, bagaimana dengan mu. Apakah poin itu berlaku juga untuk mu." tanya Vale berani.
"Tentu saja tidak, aku laki laki. Aku punya privasi dan itu kau tidak ada hak melarang ku. Jadi semisal aku punya kekasih atau apa, itu tidak akan menggangu mu bukan. Toh kita memang tidak saling mencintai. Di sini kau adalah partner bisnis ku."
"Dan anda pun juga harus ingat Mr. Jika tanpa aku yang sudah berkorban banyak hal dari malam pertama ku, keperawanan ku, dan kesediaan aku menjadi partner bisnis rahim bayaran untuk mu. Kau tidak akan menanamkan benih mu di rahim ku. Aku memang mendapatkan imbalan, tapi tolong, rasa empati dan perasaan ku juga Mr harus jaga."
__ADS_1
"Jadi, mau mu apa?" tanya Julian tegas.
"Aku ingin selama aku hamil, mengandung benih Mr. Hargai aku dan perhatian anak anda ini. Jika tidak, ingat Mr, janin ini juga membutuhkan aku selalu ibu nya yang memberikan kehidupan di dalam sana. Andai aku tidak makan berhari atau dengan sengaja mengancam keselamatannya. Anda tidak bisa berbuat apa apa."
"Vale, kau bercanda kan." Julian kini merasa was was. Karena ternyata, apa yang di obrolkan nya dengan Vale malah memicu emosi Vale.
"Aku tidak bercanda. Aku bicara realita. Mr harus ingat. Menjadi partner bisnis rahim bayaran ini tidaklah mudah untuk ku. Lain tidak mudah, aku juga banyak berkorban Mr."
"Coba Mr ingat ingat lagi, apa saja syarat ku waktu itu. Jika ingin menjadi partner bisnis Mr untuk rahim bayaran."
Flashback on ( bab 6 negosiasi)
"Contohnya syarat syarat seperti apa Mr?" tanya Valerie penasaran.
"Syaratnya, pertama, kau harus virgine." ucap Julian, dan Valerie yang tadi sedikit terperanjat kemudian menganguk paham.
"Kedua," cetus Valerie mendahului.
"Kau harus sehat secara fisik dan tidak punya penyakit." Valerie langsung terkekeh mendengar penuturan Julian.
"Oke, ke tiga." cetus lagi Valerie.
__ADS_1
"Kau harus bercerita tentang hidup mu. Jika kau punya kekasih atau pacar, kau harus memutuskan hubungan mu. Karena, aku tidak mau ada drama dalam kontrak di saat kau misalkan benar bisa hamil anak ku."
"Oke, adakah yang ke empat." tanya Valerie lagi.
"Kita menikah kontrak, dan jangan pernah melibatkan perasaan. Aku tidak bertanggung jawab atas perasaan yang mungkin saja kamu akan rasakan pada ku."
Flashback off
"Jadi Mr, ingat lah. Entah kau lupa atau tidak memperhatikan ini, tidak ada poin yang menyatakan jika aku keguguran kau akan minta ganti rugi atau kau akan memidanakan kan diri ku. Jadi sebenarnya, aku juga pengendali dalam perjanjian rahim bayaran ini Mr. Bukan hanya diri mu dengan segala peraturan yang kau buat. Kau selalu bilang semua atas nama hukum. Dan oleh sebab itu, atas nama hukum juga aku ber statemen, tidak ada ganti rugi yang harus aku bayarkan untuk mu jika misal terjadi sesuatu dengan janin ini. Kau hanya bilang, jika janin ini gagal lahir di dunia, aku tetap mendapat 25 persen dari semua imbalan sebagai uang kompensasi. Dan itu artinya, janin ini nasibnya ada di tangan ku Mr."
"Vale, point apa sebenarnya yang ingin aku pahami juga untuk mu." ujar Julian singkat.
"Jaga komitmen pernikahan kontrak kita Mr, jika Mr bersabar, 9 bulan lagi perjanjian pernikahan kontrak kita selesai."
Double up ya 🥰♥️
__ADS_1