
"Sebaiknya kita kembali ke kamar. Ayo kita istirahat." ajak Julian yang kalah itu melihat Valerie nampak terdiam.
Tanpa bicara apapun, Vale menurut ajakan Julian untuk naik ke atas, ke kamar mereka.
Sesampainya mereka berada di kamar, mereka berdua pun seperti biasa melakukan rutinitas masing-masing.
Julian membersihkan diri di kamar mandi dan Valerie juga tengah bersiap-siap untuk tidur.
Vale kini lebih dulu sudah berada di atas ranjang, sambil bersandar pada headbord tempat tidur.
Kemudian, disusul oleh Julian yang langsung ikut bergabung dengan Vale di tempat tidur.
"Bukankah kata Mr tadi kita sudah tidak boleh berada dalam satu ranjang. Kalau begitu, lebih baik sekarang Mr keluar saja. Mr bisa tidur di kamar tamu di bawah." tukas Valerie memperingatkan.
"Malam ini aku masih mau tidur di sini. Anggap saja ini adalah malam terakhir kita tidur dalam satu ranjang." ujar Julian sambil mengulas senyum tipis pada Valerie.
"Ya sudah ayo kita tidur, sudah malam, beristirahatlah." ajak Julian. Dan Vale pun tidak banyak bicara lagi kemudian dia merebahkan dirinya ke tempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Sedangkan Julian pun melakukan hal yang sama. Merebahkan tubuhnya dan berusaha untuk memejamkan mata.
Setelah beberapa saat mencoba untuk memejamkan matanya. Entah kenapa, malam itu dirinya sulit sekali untuk memejamkan matanya.
Biasanya saat sudah merebahkan diri, dia pun langsung pulas tertidur. Tapi tidak pada malam itu.
Sesaat, Julian menoleh ke samping ke arah Valerie yang tidur dengan posisi membelakangi dirinya.
Biasanya Vale selalu merangsek kan diri dan tidur sambil memeluknya. Dan tiduran di atas dadanya.
Tapi pada malam itu Vale tidak melakukannya. Justru dia tidur dengan membelakangi Julian.
__ADS_1
Sedangkan Vale yang tengah tiduran miring pun juga tidak benar-benar tertidur. Bahkan ia saat ini masih membuka matanya.
Perkataan Julian yang mengatakan bahwa. Dia tidak akan lagi menyentuh dirinya menjadi kabar yang paling Vale tidak sukai. Sedangkan dirinya sudah sangat berharap, selama ia mengandung dan berada satu rumah dengan Julian Vale bisa memanfaatkan waktu itu untuk bisa bersama dengan orang yang dia cintai. Meskipun ia tau, setelah pernikahan kontraknya selesai, dia harus pergi jauh dari kehidupan Julian Alexander.
Vale pikir, Julian akan bersamanya sampai dengan bayinya melahirkan.
Dengan begitu, Vale akan merasa bahagia dalam menjalani hari-hari penuh dengan kebersamaan bersama Julian. Seseorang yang sangat ia cintai. Meski ia tahu, Julian tidak mencintai dirinya.
Vale pikir dia bisa menggunakan waktu selama 9 bulan itu untuk bisa dekat dengan pujaan hatinya.
Hal itulah yang membuat hati Valerie sedih.
Tidak ingin terlalu dalam larut dalam kesedihan. Vale kemudian mencoba untuk memejamkan matanya.
Akan tetapi, mata itu sulit sekali untuk bisa di pejamkan. Justru mata itu kini terjaga.
Sebenarnya Vale ingin sekali memutar tubuhnya dan memandang wajah tampan Julian.
Akan tetapi dia tidak punya keberanian untuk itu. Akhirnya, Vale memilih berpura-pura tidur dengan memejamkan matanya.
Sedangkan Julian sendiri sengaja melakukan itu. Dia tahu, saat ini suasana hati Valerie sedang tidak baik. Dan Julian sadar, semua itu karena perkataannya. yang paling perkataannya
Oleh sebab itu Julian tidak ingin membuat hati Vale sedih.
Julian teringat apa kata dokter yang mengharuskan dia untuk bisa menjaga perasaan ibu hamil.
Rasa bahagia dan rasa nyaman pada wanita hamil akan mempengaruhi mood.
Oleh sebab itu Julian akan berusaha untuk tetap memberikan itu pada Valerie. Meskipun nanti mereka tidak akan tinggal satu atap lagi.
__ADS_1
Sama-sama tiduran dengan posisi miring, Julian yang kala itu melingkarkan tangannya ke perut Vale. Mengelus-elus perut Vale yang masih rata dengan sayang.
Vale merasa terharu dengan apa yang Julian lakukan.
Tapi cinta yang ia rasakan pada pria dewasa yang saat ini sedang mengelus perutnya juga seakan-akan telah membunuh nya.
Aku tau kau memberikan perhatian untuk anak mu Mr, tapi tetap saja aku yang tersiksa, desis Vale dalam hati.
Malam itu bener-bener malam yang penuh keheningan di antara Valerie dan juga Julian.
Tidak seperti malam-malam sebelumnya.
Biasanya Valerie berceloteh, bercerita banyak hal. Dan mereka mengobrol penuh kehangatan dan keceriaan.
Tetapi pada malam itu, Valerie hanya diam seribu bahasa. Tidak bicara apapun dan tidak mengatakan apapun.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Seperti biasakan, roti bakar berselai blueberry dan keju." tawar Julian pada Valerie, yang pada saat itu tengah berada di meja makan untuk bersarapan bersama.
"Boleh, tapi jangan pakaikan keju ya. Aku ingin pakai selai blueberry saja. Keju membuat ku mual."
"Siap Nyonya." jawab Julian, mencoba untuk bersikap jenaka, agar Vale tersenyum. Dan tindakannya berhasil. Vake kini tersenyum tipis.
Setelah rotinya jadi, Julian meletakkan roti itu dihadapan Valerie. Dan menuangkan susu segar di samping gelas yang sudah ada di samping piring Vale.
"Mulai sekarang kamu harus lebih sering minum susu. Aku akan membelikan mu susu khusus ibu hamil nanti."
Dan pagi itu mereka menikmati sarapan bersama dengan suasana hening. Sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
__ADS_1