Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Season 2 New life begins : Bukanlah sebuah Keluarga sempurna


__ADS_3

Dan tak lama kemudian, mobil yang di kendarai oleh Julian telah berhenti tepat di sebuah rumah sederhana satu lantai di sebuah kompleks perumahan.


Begitu turun dari mobilnya, sejenak Julian memperhatikan rumah sederhana yang ada di hadapannya.


Setelah itu ia berjalan mengitari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Elenor.


Julian kemudian melepas sabuk pengaman yang melekat pada tubuh putrinya.


"Mommy tinggal di sini Papa?" tanya Elenor pada Julian.


"Iya, Mommy tingal di sini. Mommy sudah menunggu di dalam. Ingat pesan Papa ya sayang, begitu liat Mommy, Elenor harus peluk Mommy. Mommy sudah lama merindukan Elenor." ucap Julian pada Elenor.


"Dan, berikan bunga ini untuk Mommy." imbuh Julian, yang kemudian mengambil sebuah buket bunga krisan warna ungu untuk di berikan pada Valerie.



"Iya Papa." jawab Elenor patuh.


Kemudian, Julian dan juga Eleanor berjalan menuju pelataran halaman rumah Vale.


Saat itu Julian mengenakan sebuah celana jeans warna hitam yang dipadukan dengan memakai kemeja warna biru tua. Sedangkan Elenor sendiri mengenakan gaun yang sangat cantik, dan juga rambut yang dikepang indah.


Julian yang saat ini sudah berdiri tepat di depan pintu rumah Vale, kemudian menekan tombol bell.


Sambil menunggu pintu di buka, Julian nampak mengamati kiri dan kanan rumah Vale.


Tak lama kemudian, seseorang membukakan pintu.


Vale yang tau bahwa itu pasti kedatangan Julian dan juga sang putri, langsung membuka pintunya lebar-lebar.


Dan seketika, wajah Vale terlihat begitu takjub begitu pertama kali melihat wajah putrinya Elenor, yang kini sudah berusia 5 tahun. Yang kala itu dia tinggalkan ketika masih bayi.


Elenor memandangi wajah Vale dengan tatapan penuh arti. Saat itu Elenor sedang bergandengan tangan dengan sang Papa, Julian.

__ADS_1


Dan di sisi tangannya yang lain bawa sebuah buket bunga trisan yang indah.


Perlahan, Valerie berjalan ke arah Elenor. Kemudian sambil berlutut, Vale dengan penuh kerinduan serta mata yang sudah berkaca-kaca langsung menarik tubuh Elenor dan memeluk sang putri dengan penuh rasa cinta dan rindu.


"Hai Elenor sayang, ini Mommy." ucap Vale sambil di iringi tangisan penuh haru saat ia sudah memeluk tubuh putrinya itu.


"Mommy, I Miss You." ucap Elenor yang juga membalas pelukan Vale.


Mendengar ia di pangil Mommy, oleh Elenor, membuat hati Vale bergetar.


Julian yang saat itu berdiri di samping mereka pun ikut merasakan keharuan pertemuan antara sang putri dengan Mommynya.


Setelah puas dengan acara peluk peluk kangen diambang pintu. Valerie kemudian mengajak mereka untuk masuk kedalam rumah.


Dan di sebuah ruang tamu, Vale mempersilahkan Julian untuk duduk.


Dan Valerie, sejak tadi tidak melepaskan genggaman tangannya pada Elenor. Ia mengajak Elenor untuk duduk satu sofa dengannya.


Dengan sambil masih memegangi kedua tangan Elenor, Vale mengajak sang putri berbincang bincang.


Valerie yang menyadari jika anak nya perlu waktu untuk menyesuaikan diri pun selalu menyungingkan senyum kepada sang putri.


"Mommy tadi memasak pasta spaghetti. Mommy harap Elenor akan suka. Elenor suka pasta?" tanya Vale pada putrinya.


"Iya, aku suka." jawab Elenor yang kini nampak tersenyum. Dan senyuman itu membuat Vale ikut tersenyum.


"Kalau begitu, kita makan siang dengan pasta ya. Ayo kita ke ruang makan." ajak Vale.


Julian, Elenor dan juga Vale pun kemudian berpindah ke ruang makan.


"Julian, bisa kau tolong aku ke dapur sebentar." ucap Vale minta tolong.


"Tentu saja." ucap Julian.

__ADS_1


Julian kemudian berjalan di belakang Vale. Vale saat itu sedang merebus pasta. Dan Julian di minta tolong untuk menyiapkan peralatan makanannya.


Julian dan Vale pun akhirnya bekerja sama untuk menyiapkan semuanya.


Setelah semua kini siap, mereka bertiga kini duduk bersama sama di meja makan menikmati olahan spaghetti yang sudah vale buat.


"Bagaimana rasanya sayang?" tanya Vale pada Elenor yang saat itu duduk di di samping nya.


"Delicious Mommy." ujar Elenor.


"Spaghetti salah satu makanan favorit nya." imbuh Julian.


"Oya, Mommy akan ingat ini. Elenor harus banyak cerita sama Mommy, makanan apa saja yang Elenor sukai. Nanti Mommy akan buatkan untuk Elenor."


Setelah mereka selesai makan, Julian kemudian membantu Vale untuk membawa bekas makan mereka ke dapur.


"Terimakasih untuk makan siang nya." ucap Julian pada Vale, ketika mereka saat ini sedang berada berduaan di dapur.


"Welcome, hanya pasta." ujar Vale yang menaruh piring piring bekas makan mereka ke wastafel.


"Tapi enak, jadi, kau sudah pintar memasak sekarang?" tanya Julian yang saat itu sedang mencuci tangannya di wastafel.


"Sejak aku tingal di Jerman, aku selalu masak. Untuk menghemat biaya hidup di sana saat itu." jawab Vale.


"Aku ikut senang, kau telah berhasil mendapatkan gelar yang kau impikan di sana, kau luar biasa." puji Julian yang kala itu memandangi Vale dengan penuh rasa bangga. Karena wanita yang sempat ia kasiani sekarang sudah menjadi orang sukses. Meskipun Vale masih berjuang.


"Terimakasih pujiannya, tapi aku tidak akan terbang lagi setia mendengar pujian mu." balas Vale sambil mengulas senyum tipis. Julian pun ikut terkekeh dan menaikan kedua alisnya, saat mendengar perkataan Valerie.


"Kau banyak berubah Vale." imbuh Julian.


"Tentu saja, keadaanlah yang menuntut ku untuk berubah dan harus berubah."


Julian pun mengangguk paham.

__ADS_1


"Papa." pangil Elenor.


Dan panggilan Elenor pun kemudian langsung menarik perhatian Vale dan juga Julian yang saat itu sedang mengobrol santai di dapur.


__ADS_2