
Setelah jam pulang kantor sore itu tiba. Julian mengemudikan mobilnya ke arah gedung perkantoran Sahara Corp untuk menjemput Jenna.
Rencananya, Julian sore itu hendak pergi ke apartemen Jenna untuk menemui ibunya.
Seperti janjinya kemarin, Julian ingin bertamu dan memperkenalkan dirinya secara khusus pada calon mertuanya.
Karena sudah janjian sebelumnya, Jenna yang sudah siap siap untuk pulang kerja pun merapikan barang bawaannya. Dan bersiap-siap untuk di jemput.
Begitu Jenna keluar dari gedung perkantoran Sahara Corp, mobil Julian sudah berhenti tepat di lobby gedung.
Jenna yang sudah mengenali mobil Julian langsung menghampiri mobil tersebut dan kemudian masuk ke dalam.
"Selamat sore Jen," Sapa Julian.
"Selamat sore Julian." sapa balik Jenna penuh dengan rasa bahagia.
"Kita langsung ke apartemen mu ya."
Dengan mengendarai mobilnya menuju lokasi Apartemen tempat tinggal Jenna. Julian nampak bersemangat untuk yang pertama kalinya bertamu ke tempat tinggal calon istrinya.
"Apartemen ku tidak mewah, hanya kecil dan sempit. Tidak seluas dan semewah tempat tinggal mu." ujar Jenna yang saat itu duduk di kursi penumpang di samping Julian.
"Tidak masalah, aku tidak mempermasalahkan kamu dari kalangan apa. Yang penting bagi ku adalah diri mu Jen. Dan bisakah kau membiasakan diri untuk memanggil ku sayang, atau honey dan semacamnya!" protes Julian.
Mendengar permintaan Julian untuk memanggilnya dengan sebutan sayang membuat Jenna terkekeh.
"Meskipun kita sudah saling kenal bertahun-tahun. Tapi aku baru jadian dengan mu sesuai kita dari Bali. Aku tidak terbiasa untuk itu." ucap Jenna mengaku.
"Kalau begitu mulai sekarang, biasakan." tegas Julian.
Dan, beberapa saat kemudian. Mereka telah sampai di apartemen tempat tinggal Jenna.
Begitu sampai di dalam apartemen, Jenna dan Julian langsung di sambut hangat oleh Reina, Mamanya Jenna.
Dan mereka pun langsung bergegas menuju meja makan.
Dengan menu masakan yang sudah Reina siapkan sebelumnya. Julian benar benar sangat di jamu dengan baik dan istimewa.
Julian duduk bersebelahan dengan Jenna di kursi meja makan.
Dan Jenna pun dengan sangat lembut menawari makanan apa yang Julian ingin makan.
Karena sang Mama memasakan berbagai masakan yang enak enak di atas meja yang membuat Julian bigung memilih.
__ADS_1
Jenna kemudian mengambilkan makanan yang Julian pilih ke piring kosong milik Julian.
Hal kecil semacam itu sudah membuat hati Julian merasa takjub. Karena ia sudah sangat lama tidak pernah dilayani seperti itu oleh seorang wanita.
Sikap Jenna yang seperti itulah yang semakin membuat Julian takjub terhadap wanita yang ingin segera ia nikahi itu.
Makan malam pun berlangsung dengan penuh kehangatan sambil saling mengobrol ringan.
Setelah makan malam selesai, Jenna membereskan bekas makan mereka ke dapur.
Kemudian Reina mengajak Julian ke ruang tengah. Agar mereka bisa mengobrol lebih santai.
Di ruang tengah, Reina sengaja ingin mencecar Julian dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan yang sudah ia susun sebelumnya.
Bagaimanapun Jenna adalah anaknya satu-satunya. Reina tidak ingin putrinya jatuh ke tangan pria yang salah.
Dia harus memastikan pria yang akan menikah dengan putrinya adalah pria baik baik dan yang bertanggung jawab. Yang tidak akan menyakiti putrinya secara lahir maupun batin.
"Nak Julian, sekali lagi aku ingin bertanya langsung kepada nak Julian. Tentang keseriusan mu untuk menjadikan Jenna pendamping hidup."
"Tanyakan apa saja yang ingin Tante katakan, tidak usah sungkan-sungkan." ucap Julian ramah. Dan Jenna yang saat itu sudah selesai dari dapur langsung duduk di sebelah Julian.
"Apakah kau serius ingin menjadikan Jenna sebagai istri mu?" tanya Reina dengan tatapan mata penuh penjelasan pada Julian.
"Aku sudah tahu tentang kamu Nak Julian. Jenna sudah sering bercerita tentang dirimu. Jika kau memang serius dengan putriku. Sebagai seorang ibu dan juga sebagai seorang ayah bagi Jenna. Tante hanya bisa memberikan restu untuk kalian. Dan berdoa demi kebaikan kalian. Satu pesan dari Tante, jangan mengecewakan anak Tante satu satunya ini. Jangan membuat dia tidak bahagia dalam hidupnya. Jika kau benar-benar menikahinya, bahagiakan dia. Jadikan dia pasangan seumur hidupmu, dalam susah maupun senang. Saat kalian ada masalah sebesar, apapun dalam masalah kecil, aku harap kalian bisa menyelesaikannya dengan baik dan bijak. Apalagi dilihat dari usia, tentunya kamu lebih matang serta sudah dewasa dalam pola pikir, serta bijak. Tante hanya bisa menitipkan Jenna kepada mu. Tolong bimbing dia, Tante percayakan anak Tante pada mu." pesan yang disampaikan Reina sangat di mengerti oleh Julian.
"Kapan kau akan serius melamar Jenna?" tanya Reina.
Julian dengan menarik napas dalam, kemudian meraih sesuatu dari balik jas nya.
"Di hadapan Tante dan pada hari ini, saya meminta izin kepada Tante untuk melamar Jenna Shamanta. Untuk saya jadikan pendamping hidup. Dan saya sudah siap ini untuk mengikat Jenna."
Kemudian Julian mengeluarkan sebuah cincin dari dalam kotak cincin. Lalu mengeluarkan cincin itu dan langsung mengenakannya ke jari Jenna.
Jenna tak mengira bahwa Julian akan datang dengan membawa cincin dan langsung melamarnya.
"Jen, maukah kau menjadi istriku. Dan bersedia menjadi pendampingku, dalam susah maupun senang dan juga dalam suka maupun duka." ujar Julian sambil menatap wajah Jenna dengan tatapan penuh harap.
"Aku bersedia Julian, aku akan berusaha menjadi seorang istri yang baik untukmu." jawab Jenna balas menatap wajah Julian dengan mata yang berkaca-kaca, terharu.
"Terima kasih Jen." jawab Julian kemudian mencium punggung tangan Jenna dengan lembut.
Akhirnya malam itu, Julian pun secara resmi telah mengikat Jenna sebagai tunangannya.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
Julian kembali ke apartemen saat sudah tengah malam seperti biasa.
Entah kenapa, perasaan senang dan bahagia yang ia rasakan beberapa saat lalu kini mendadak hilang bertepatan saat ia memasuki Penthouse tempat tinggalnya bersama Valerie.
Dalam hari, Julian berdebat, ia akan menikahi Jenna akan tetapi ia malah saat ini tinggal serumah dengan Valerie istri kontraknya.
Dan tiba-tiba ada sesuatu yang membuatnya merasa sesak.
Suatu perasaan yang membuat hatinya sakit. Dan Julian seperti di rundung rasa bersalah.
Hatinya terasa sedih, dan pikirannya kini tertuju pada Valerie.
Padahal beberapa saat lalu perasaannya sangat berbunga-bunga, sangat bahagia, sangat senang dan penuh dengan harapan.
Tapi kini perasaan itu berubah menjadi gundah gulana.
Biasanya, setelah masuk ke penthouse, Julian langsung menuju kamar. Kini ia tidak ingin buru-buru naik ke kamar.
Kemudian, Julian memilih untuk duduk sejenak di kursi mini bar yang ada sudut ruangan di penthouse.
Mengeluarkan sebuah minuman wine dari beberapa koleksi pribadinya. Julian kemudian mencari gelas kosong dan menuangkan wine itu ke dalam kelas tersebut.
Sambil duduk sendirian di kursi mini bar, Julian menikmati minuman nya kala itu. Dan meneguknya sedikit demi sedikit.
Tanpa dia sadari, Valerie kini telah duduk di sampingnya.
"Galau Mr!" seru Valerie,
Julian kemudian menoleh ke arah Vale yang sudah duduk di sampingnya. Sedangkan Valerie sendiri nampak menyuguhkan senyuman yang manis pada Julian.
Apa yang akan terjadi selanjutnya, see you next bab
🥰🤗🙏
Jenna Shamanta
Julian Alexander
__ADS_1