Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Hubungan yang Rumit


__ADS_3

Namun, sebelum ia benar-benar berlalu. Tiba tiba tubuh Jenna terhuyung dan limbung.


Untungnya Julian dengan sigap menangkapnya. Hingga tubuh Jenna tidak terjatuh di lantai.


"Jen, kau kenapa!" tanya Julian panic.


Jenna yang saat ini berada di pelukan Julian kemudian memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sangat pusing.


Julian kemudian memapah Jenna untuk duduk di tepian ranjang. Kemudian ia mengambilkan air putih dan memberikannya kepada Jenna.


"Minumlah dulu air putih ini sayang." ujar Julian sambil meminumkan air putih itu ke mulut Jenna.


"Perutmu mungkin kosong, dari siang kau belum makan kan. Makan ya, aku suapin. Kalau tidak mau aku suapin, makanlah sendiri. Aku tidak ingin kamu sakit." ujar Julian kemudian mengambil lagi nampan yang berisikan makanan yang ia bawakan tadi. Lalu memberikannya pada Jenna.


"Makalah, aku akan keluar dulu. Sekali lagi maafkan aku Jen. Aku juga akan masih mengunci mu." ucap Julian yang kemudian bangkit untuk membiarkan Jenna sendirian di kamar.


Sambil mengecup dahi Jenna sedikit lama. Julian kemudian keluar kamar dan mengunci pintu kamar dari luar. Julian tidak ingin Jenna kabur.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Keesokannya


Hari itu adalah hari Sabtu. Hari di mana Julian dan Jenna tidak pergi ke kantor.


Pagi pagi sekali Jenna kala itu sudah bangun. Begitu ia bangun, Jenna langsung menuju kamar mandi dan membersihkan diri.


Sedangkan Julian sendiri masih tertidur dengan posisi tengkurap di ranjang.


Sebenarnya, Julian tidak benar-benar tidur. Julian sudah tau kalau Jenna sudah bagun dan sekarang ada di kamar mandi.


Tapi Julian sengaja pura pura masih tidur terlelap.


Beberapa saat kemudian, Jenna sudah selesai dengan ritual mandi dan keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian rapi.


Saat itu lah Julian kemudian bangkit dari tidurnya.


"Jen, kau mau kemana?"


"Jika kau berniat menyekap ku di kamar ini, kau yang akan semakin rugi." ujar Jenna, yang masih sibuk berkemas.

__ADS_1


"Kau mau kemana Jen, aku tidak mengizinkan mu keluar dari Mansion."


"Tentu saja aku akan pergi meninggalkan Mansion ini. Aku hanyalah seorang istri siri. Aku tidak punya kehormatan untuk tinggal di rumah mu yang istimewa ini. Apa anggapan orang nanti jika kau membiarkan istri sah mu yang sudah hamil itu tinggal di Penthouse sedangkan kau malah asik bersama istri siri mu di Mansion. Aku tidak bisa melakukan ini. Aku rasa hubungan kita pun sudah tidak bisa dipertahankan. Aku tidak bisa menerima sebuah kenyataan yang sangat membuatku merasa terbodohi. Jika kau pikir aku bangga menjadi seorang istri siri yang kau sangat cintai kau salah. Aku tidak bangga menjadi istri siri setelah aku tau ternyata kau sudah punya istri sah." ujar Jenna tegas.


"Aku hanya menikah kontrak dengannya Jen."


"Aku tidak peduli kau menikah kontrak dengannya. Tapi kenyataannya kau sudah menikah Julian."


"Valerie sudah tau tentang kita, dan dia menerima itu. Bukankah aku sudah jelaskan, aku tidak mungkin menikahi mu secara sah karena dokumen ku telah aku gunakan untuk menikahi Valerie."


"Pernikahan siri kita ini hanyalah sebuah pernikahan penuh alasan yang kau paksakan demi ke egoisan mu Julian." desis Jenna yang kini menatap wajah Julian dengan tatapan mata tajam.


"Kenapa dari awal kau tidak jujur padaku. Seandainya kau jujur dari awal kau sudah menikah dan telah melakukan pernikahan kontrak dan melakukan bisnis rahim bayaran, mungkin cara pandang ku terhadapmu akan berbeda. Tapi kau menutupi semua aib mu. Dan sekarang semua sudah terbongkar. Semua sudah terlambat, kau menghancurkan persepsi baik ku terhadap mu Julian."


"Jika aku berterus terang pada mu saat itu. Jika aku sudah menikah dan punya anak, kau pasti tidak akan mungkin mau menerima ku." ujar Julian berdalih.


"Itulah kenapa aku sebut diri mu egois. Kau tidak jujur padaku dengan kenyataan dan kebenarannya. Kau mengelabuhi ku hanya karena aku juga jatuh cinta dengan mu. Kau jahat." teriak Jenna pada Julian.


"Lebih baik aku tahu kebenarannya dari awal sehingga aku bisa berpikir. Mungkin saja aku akan bisa tetap menerimamu, jika alasan yang kau berikan kepadaku itu masuk akal. Kenapa kau tidak menunggu sampai pernikahan kontrak mu selesai. Baru kau membicarakan tentang kelanjutan hubungan kita. Tapi keadaannya sekarang sudah terlambat, semua sudah completed. Aku tidak bisa menerimanya dan hari ini juga aku akan pulang ke Apartemen. Ini sudah menjadi keputusanku, entah kau suka atau tidak."

__ADS_1


Julian kini hanya bisa menunduk, dia sudah tidak bisa lagi membela diri.


"Kalau begitu biarkan aku mengatarkan mu pulang Jen. Aku mambawa mu baik baik ke sini dari rumah mu. Aku juga akan mengatarkan mu pulang baik baik. Aku mengantarkan mu pulang bukan untuk melepaskan mu. Tapi karena aku ingin memberikan mu waktu untuk berfikir. Maaf kan aku sudah membuat kekacauan ini. Aku sungguh mencintaimu dan takut kehilanganmu. Maafkan ke egoisan ku." ucap Julian pada Jenna dengan penuh rasa sesal.


__ADS_2