
6 Bulan kemudian
Enam bulan sudah lamanya Valerie bekerja di perusahaan Anabatic Technologies. Dan menjabat sebagai manager di perusahaan tersebut.
Menjadi seorang manajer membuat Vale kini bisa mendapatkan gaji yang lumayan tinggi. Dirinya juga mendapat sebuah fasilitas mobil pribadi untuk operasional dan menunjang keperluan beraktivitas bekerja di perusahaan tersebut.
Dan saat ini, Vale sudah memiliki sebuah rumah sederhana yang ia beli lewat sebuah rumah lelang.
Rumah itu berada di lingkungan sebuah kompleks. Tadinya Vale ingin membeli apartemen. Tapi setelah ia berfikir ulang, akhirnya Vale membeli rumah demi bisa lebih nyaman untuk Elenor.
Rumah itu terdapat dua kamar tidur, ruang tamu, ruang tengah dan juga dapur.
Vale sudah cukup bahagia dan senang pada akhirnya ia bisa membeli rumah dari hasil kerja keras nya sendiri. Dan kini, ia pun juga sudah punya mobil fasilitas yang ia dapatkan dari perusahaan.
Pada kesempatan di hari weekend Sabtu itu, Valerie yang sudah menyimpan nomor ponsel Julian sebelumnya, pagi itu menghubungi Julian bahwa ia sudah siap dan sudah sangat ingin bertemu dengan Elenor.
"Halo Julian, pagi." sapa Vale pada Julian, saat sambungan teleponnya saat itu sudah tersambung dengan Julian.
"Hai Vale, pagi juga." jawab Julian ramah.
"Maaf sudah mengganggumu di Sabtu pagi hari ini. Aku ingin bertemu dengan Elenor hari ini. Aku sudah siap untuk bertemu dengan putri ku. Aku merasa tidak enak jika aku datang ke Mansion mu untuk menemui Elenor. Jika kau tak keberatan, mau kah kau mengantar Elenor ke rumah ku?" pinta Vale pada Julian.
"Hem, tentu saja. Hari ini aku juga tidak sibuk. Aku bisa antara Elenor." jawab Julian menyanggupi.
"Oke, aku akan mengirimkan alamatnya pada mu. Beritahu kepada Elenor, jika Mommy nya sudah menunggunya dan hari ini kita akan bertemu." ucap Vale yang belum apa apa, dia sendiri sudah di serang rasa gugup saat sedang akan berjumpa dengan putri nya setelah sekian lama.
"Oke Vale, kirimkan saja alamat mu. Mungkin sebelum makan siang aku dan Elenor sudah sampai di rumah mu." ucap Julian.
__ADS_1
"Oke, Thanks you Julian." ucap Vale dengan penuh ketulusan.
"Oke, sama sama Valerie." jawab Julian dengan nada suara penuh kehangatan.
Dan saat itulah kali pertamanya terjadi percakapan yang sangat cair antara Julian dan juga Vale.
Meskipun percakapan itu lewat sambungan telepon, setelah pertemuan terakhir mereka di Penthouse kala itu.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Siapa yang menghubungi mu sepagi ini Julian?" tanya Jenna yang saat itu ia baru saja keluar dari kamar mandi.
"Valerie yang menghubungi ku." jawab Julian jujur.
"Bagaimana kabarnya?" tanya Jenna lagi.
"Kabarnya baik, sebenarnya dia sudah kembali ke Indonesia."
"Dia sudah kembali ke Indonesia sejak beberapa bulan lalu. Tetapi saat itu dia belum siap untuk bertemu dengan Elenor. Alasannya karena, saat itu dia belum memilik tempat tinggal. Sekarang dia sudah bekerja dan mungkin saja dia sudah bisa membeli rumah untuk dirinya sendiri." ucap Julian menebak.
"Jadi sebelum ini, kau sudah pernah bertemu dengannya ya?"
Julian pun sedikit kikuk saat mendengarkan pertanyaan Jenna yang memang benar, Ia sudah pernah bertemu dengan Vale sebelumnya di Penthouse.
"Iya, aku sudah pernah sekali bertemu dengan Vale di Penthouse. Tapi kamu jangan curiga dulu. Saat itu aku pergi ke Penthouse untuk memberikan gaji untuk Aise dan juga Naina. Dan saat itu secara kebetulan, Vale yang baru saja pulang dari Jerman juga pergi ke Penthouse untuk memberikan Aise dan juga Naina oleh oleh. Kami hanya mengobrol sebentar. Dan setelah itu dia pergi."
"Kenapa dia tidak memilih untuk kembali ke Penthouse saja. Bukankah Penthouse itu sudah menjadi hak nya."
__ADS_1
"Sejak dia mengembalikan semua imbalan yang sudah aku berikan untuk nya, dia sama sekali tidak mau untuk menerima apa yang sudah menjadi hak nya."
Jenna pun kemudian mengangguk paham.
"Dia saat ini mungkin sudah punya tempat tinggal. Tadi dia memberikan alamat rumahnya padaku, dan menyuruhku untuk mengantarkan Elenor ke rumahnya. Ini adalah moment pertemuan mereka yang pertama. Aku harap kau tidak keberatan, jika aku akan mengantarkan Elenor untuk menemui Mommy nya." ucap Julian kepada Jenna.
"Tentu saja aku tidak akan keberatan. Mereka sudah sangat lama berpisah. Vale pasti sangat rindu bertemu Elenor. Jangan khawatir, aku sangat menghormati dan mengerti itu." jawab Jenna bijak.
"Terima kasih Jen, atas pengertian mu." ucapkan Julian. Yang kemudian ia berjalan ke arah Jenna dan memberikan pelukan hangat untuk sang istri.
Dan akhirnya, Julian yang kala itu membawa sendiri mobilnya. Kini melajukan kendaraannya untuk menuju alamat rumah Valerie.
Julian mendudukkan Elenor di kursi penumpang bagian depan lengkap dengan carseat untuk Elenor.
Jiwa protetif Julian terhadap anak anak nya begitu tinggi. Sambil menyetir mobil, Julian kembali menceritakan tentang Valerie pada Elenor.
Selama Vale berada di Jerman, Vale memang sengaja untuk tidak membuka komunikasi pada Elenor. Hal itu Vale sengaja agar dia tidak terbawa rasa kangen yang dalam. Dan juga karena ia ingin fokus dengan pendidikan nya di sana kala itu. Selain itu, Vale juga sangat menghargai Jenna.
Vale tidak ingin timbul hal hal yang tidak di inginkan. Jika dirinya sering sering menyambung komunikasi dengan Julian, hanya untuk bisa mengakses informasi tentang Elenor.
Maka dari itu, Vale benar benar tidak sama sekali berkomunikasi dengan Julian pada saat itu.
"Ayo Papa, cepat cepat, aku ingin bertemu Mommy." ucap Elenor yang sepertinya sudah tidak sabaran.
Julian hanya tersenyum menanggapi rasa antusiasme Elenor yang sebentar lagi akan bertemu dengan Mommy nya.
"Sabar sayang, Papa harus hari hati menyetir nya. Duduk yang baik, tidak lama lagi kita akan sampai di rumah Mommy Vale." ucap Julian pada putrinya yang sangat ia sayangi. Seorang putri yang terlahir dari seorang rahim bayaran. Yang pada akhirnya, sang rahim bayaran justru mengembalikan semua imbalannya.
__ADS_1
Dan tak lama kemudian, kini mobil Julian pun telah berhenti tepat di sebuah rumah sederhana satu lantai di sebuah kompleks perumahan.
to be continue