
"Jika ada sesuatu yang tidak kau sukai dariku. Katakan padaku, katakan dengan jujur. Maafkan aku jika ada sikap atau tutur kataku yang mungkin membuat mu kesal. Tidak apa apa kau lampiaskan kekesalan itu pada ku. Tapi aku mohon, jangan lampiaskan lagi pada janin kita, bayi kita, anak kita, dia tidak salah dan tidak berdosa." ucap Julian dengan nada yang lembut.
Karena Vale tidak juga menatap wajahnya, Julian kemudian berputar mengitari tempat tidur Vale. Dan kini ia berdiri tepat dihadapan Valerie.
Namun, Vale kembali melegos ke samping.
Julian hanya bisa mendengus pasrah dengan sikap Valerie yang acuh padanya.
"Sebenarnya ada apa-apa Vale? Katakan padaku. Apa yang membuat mu kesal dengan ku. Sebelum aku kembali ke Yunani. Demi kamu, aku terbang dari Athena ke Jakarta, untuk memastikan kamu dan calon bayi ku sehat. Padahal beberapa hari lalu kita masih bersamakan, dan bahkan kita,"
"Stop! Jangan teruskan kata-katamu." seru Valerie, akhirnya ia bersuara.
Vale tidak ingin kegiatan mereka saat beberapa waktu lalu di ungkit.
Hal itu mengingatkan Vale tentang dirinya yang saat itu merendahkan dirinya sendiri di hadapan Julian.
Bahkan dengan sangat rendahnya ia seperti orang bodoh yang memohon hanya demi sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Jika seandainya Vale sudah tau Julian telah memiliki seorang tambatan hati. Tidak akan mungkin dirinya mau merendahkan dirinya seperti apa yang ia lakukan terakhir kali bersama Julian di kamar mandi.
Menyodorkan diri pada seorang suami kontrak yang tak mencintainya.
__ADS_1
"Kalau begitu katakan padaku, kenapa kau melakukan upaya menggugurkan kandungan saat itu. Pasti ada sebabnya. Dan itu membuat aku bingung Vale, apa sebabnya?" tanya Julian bingung.
"Tanya pada diri kamu sendiri Julian. Kau pasti mengerti dan kau pasti tahu apa salah mu." jawab Vale ketus.
Untuk sesaat, Julian merasa tercengang. Dia tidak pernah mendengar dirinya di pangil Vale dengan menyebutkan namanya.
Biasanya, Vale memanggilnya Mr, dan tidak memangilnya Julian, Mr adalah sebutan khas Vale untuk nya.
"Jika memang kesalahan itu ada padaku, katakan padaku, kesalahan yang mana?"
"Aku tidak ingin masalah ini terlalu larut. Katakan saja apa yang ingin kau tahu. Apa yang harus aku jelaskan kepada mu."
Valerie menatap tajam ke arah Julian dengan tatapan menuduh.
Baru kali ini Vale menatap wajah Julian dengan tatapan benci.
Meskipun ia juga tak bisa mempungkiri, jika cintanya untuk pria dewasa di hadapannya ini masih subur di sanubarinya.
"Siapa wanita itu, yang saat ini kau ajak ke luar negeri. Aku melihatmu bersama seorang wanita di kantor mu. Saat aku mengikuti mu, dia juga kau ajak ke Mension mu. Bahkan kau menyebut dia sebagai istri. Kenapa kau tak memberitahu aku, dan kenapa kau membohongi ku."
Dan akhirnya, Julian kini paham. Percobaan pengguguran kandungan oleh Vale di latar belakangi rasa cemburu yang Vale rasakan pada dirinya.
__ADS_1
Julian kemudian terdiam untuk beberapa saat.
Berfikir bagaimana caranya ia bisa menjelaskan tentang Jenna pada Vale.
Julian paham situasi ini mungkin membuat Vale nekat dan tak bisa berfikir jernih.
Cara berfikir Valerie yang masih labil dan kurang dewasa menurut Julian juga menjadi faktor jika wanita muda yang saat ini sedang mengandung benih nya ini sangat perlu di beri pemahaman dengan cara yang lembut.
Dengan menghela nafas yang panjang dan berat. Mau tidak mau Julian harus menjelaskan kebenaran tentang Jenna Samantha, sang istri siri kepada Valerie, istri kontraknya.
"Dia bernama Jenna Shamanta. Dia seorang karyawan di sebuah perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan ku. Sudah lama aku mengenalnya. Dan aku sudah menikahi dia secara siri. Dia adalah istri siri ku sekarang. Aku tidak mungkin dan tidak bisa menikahinya secara hukum. Tentu saja kau tau kan, kita masih terikat pernikahan yang sah secara hukum. Kami saling mencintai Vale. Maafkan aku, karena aku tidak memberitahumu. Aku sengaja tidak bercerita kepadamu karena aku punya alasan. Alasan aku merahasiakan ini dari mu karena aku tidak ingin membuat mu sedih, setelah aku mengetahui kau juga mencintai aku. Aku tidak pernah bosan mengingatkan ini pada mu. Kita hanya menikah kontrak Vale. Pernikahan kita hanyalah pernikahan bisnis. Sejak awal aku sudah ingatkan, jangan libatkan perasaan. Pernikahan kita terjadi karena aku memang menginginkan keturunan yang lahir dari sebuah pernikahan yang sah. Sehingga kedepannya anak ku nanti akan punya status yang jelas. Kau sendiri juga tidak akan mau kan berbuat zina. Sejak awal kau sudah paham dan tau betul tentang semua point point itu. Jika aku menyuruh mu profesional, jelas. Karena tidak mungkin aku membiarkan mu saat kau hamil kamu malah sibuk pacaran, atau menjalan kasih dengan seseorang. Tentu saja itu tidak akan aku biarkan. Aku ingin kau fokus untuk kehamilan mu selama 9 bulan itu. Toh saat kau sudah melahirkan anak ini. Kau bebas, berbeda dengan ku. Aku punya kehidupan sendiri dan aku bebas untuk itu. Dan aku juga sudah katakan ini berulang-ulang. Aku akan tetap memperhatikan diri mu dan bertanggung jawab penuh akan selamatan mu dan bayi ini, jelas kan." jelas julian panjang lebar pada Vale.
"Jika saja kau tak melibatkan perasaan mu pada ku. Kau tidak akan merasakan sakit hati dan kecewa Valerie. Mulai sekarang, bersikap lah profesional. Aku tidak ingin menyakiti mu, sungguh Vale. Aku memang tidak mencintai mu, bukan berarti aku tidak akan perduli dengan mu. Lekas pulih Vale, kembali lah ke Penthouse dan jangan pernah melakukan hal konyol itu lagi."
Setelah mendengar semua penjelasan Julian, Vale tidak memprotesnya.
Bagi Vale, sudah cukup baginya tau saat ini tentang semuanya.
Perasaan mencintai yang hanya ia bisa nikmati sendiri. Dan rasa cemburu yang mungkin tak akan berarti apa apa untuk Julian.
Jadi percuma dia mendebat.
__ADS_1