Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Season 2 New life begins : Meluangkan waktu untuk sendiri


__ADS_3

"Bye Mom," seru Elenor sambil melambaikan tangannya pada Valerie. Yang saat itu ia sudah berada di dalam mobil, ketika Julian menjemputnya.


Vale melambaikan tangannya ke arah Elenor sambil tersenyum manis saat mobil yang di kendarai Julian mulai meninggalkan rumahnya.


"Bye Elle," seru Vale, yang saat itu berdiri di sisi jalan setelah mengatarkan Elenor untuk naik ke mobil Daddy-nya.


Vale menatap kepergian Elenor sampai mobil yang ia tumpangi sudah tak lagi terlihat.


Setelah itu, dengan langkah sedikit lesu. Vale kembali berjalan menuju rumah.


Kini Vale hanya berada sendirian di rumahnya. Tiap kali Elle tidak ada di rumahnya bersama dengan dirinya. Vale merasakan ada sesuatu yang hilang dalam perasaannya. Perasaan hampa, kosong dan kesepian.


Keberadaan Elenor sudah sangat menyita perhatian Valerie selamat ini.


Tidak ada banyak hal yang bisa dilakukan Valerie jika Elenor tidak bersamanya.


Setelah Vale masuk kembali kedalam rumah. Vale kemudian melakukan rutinitasnya di hari libur. Seperti membersihkan rumah, membawa pakaian kotornya ke laundry, dan membereskan beberapa barang yang berantakan di dalam rumah.


Rumah sederhana yang ia beli saat ini sudah menjadi tempat yang nyaman bagi Vale untuk ia tinggali. Meskipun begitu, Vale ada berkeinginan untuk bisa memberikan rumah yang lebih besar dan lebih nyaman untuk Elenor. Dan untuk saat ini keuangannya belum cukup untuk membeli rumah baru. Justru kini Vale sedang berharap untuk bisa mendapatkan bonus dari perusahaannya. Karena perusahaan sudah menjanjikan bonus besar untuknya. Dan Vale harap, bonus itu berupa properti atau semacamnya.


Oleh sebab itu, akhir akhir ini Vale bekerja begitu keras untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal dan memuaskan untuk perusahaan yang telah memberikan kepercayaan terhadapnya.


Setelah Vale selesai melakukan aktivitas membereskan rumah pada siang itu. Vale yang sudah sangat berkeringat dan merasa tubuhnya terasa lengket. Kemudian memutuskan untuk membersihkan diri. Ia merasa sangat kumal serta kelihatan sangat lusuh.


Setelah kepulangannya dari Jerman beberapa bulan belakangan ini. Vale belum pernah jalan-jalan menikmati waktu kesendiriannya dengan bebas.


Saat dia pulang ke Indonesia, dia langsung mencari pekerjaan. Dan setelah Vale mendapatkan pekerjaan yang cukup bagus. Ia pun di sibukkan dengan segala aktivitas pekerjaannya yang sudah banyak menyita waktu.


Meski begitu, Vale sangat bersyukur. Karena sejauh ini, semua kerja keras dan harapan harapan nya telah terealisasi.


Setelah Vale selesai mandi dan berpakaian rapi saat itu. Vale memutuskan untuk keluar dari rumahnya.


Saat berada di dalam kamar mandi tadi, Vale punya ide untuk pergi sebentar untuk berrifreshing.


Untuk sekedar me time dan menyenangkan dirinya sendiri.


Ia ingin meluangkan waktu untuk dirinya. Melepaskan sejenak segala kepenatan dan juga berbagai masalah yang akhir-akhir ini sangat menekannya


Dengan menaiki transportasi umum, Valerie memutuskan untuk pergi ke pusat perbelanjaan.


Sesampainya di pusat perbelanjaan, Vale kemudian masuk sebuah toko buku. Ia berniat untuk membeli beberapa buku untuk dirinya dan juga untuk Elenor.


Vale nampak santai dan menikmati waktunya di toko buku tersebut. Ia nampak masih sibuk memilih milih beberapa buku yang membuat Vale tertarik untuk membelinya. Dan tak lupa ia juga membelikan buku untuk putrinya.


Setelah mendapatkan buku yang ia inginkan. Vale kemudian membayar buku tersebut ke kasir




Sesuai dari toko buku. Vale kini ingin bersantai di sebuah kedai kopi.


Ia ingin bersantai di sana, menikmati secangkir kopi sambil membaca buku yang baru saja ia beli.



Vale sejenak menikmati waktu luangnya. Membaca buku dan menikmati secangkir kopi expreso pantasnya. Dan Vale pun seperti sangat menikmati waktunya kala itu.


Ketika Vale sedang asyik menikmati kesendiriannya di sebuah cofee shop. Seseorang datang dan kemudian ia langsung menarik kursi kosong yang ada di hadapannya Vale.

__ADS_1


"Menikmati hari libur Vale." sapa seseorang itu. Yang kini telah duduk di kursi kosong di hadapan Vale.


Mendengar suara yang familiar itu. Vale kemudian meletakkan buku yang ia baca ke meja dan kemudian Ia menyapa seorang pria tampan di hadapannya.


"Pak Edward." sapa Valerie.


"Edward, pangil aku Edward saja. Kita sedang tidak berada di kantor sekarang." ujar Edward sambil tersenyum manis pada Vale.


"Bagaimana anda bisa di sini?"


"Aku bisa berada di mana saja Valerie. Please jangan terlalu formal memangil ku."


"Mau saya pesankan minuman?" tanya Vale pada bos nya itu.


"Boleh." jawab Edward, yang kala itu berpakaian casual yang terlihat begitu pas dengan melekat pada tubuhnya.


Vale kemudian memesankan Edward minuman.


"Sendirian saja?" tanya Edward berbasa-basi.


"Ya, saya sendiri, karena memang saya sendiri." jawab Vale tegas.


"Apa kau seorang introvert?" tanya Edward menyelidik.


"Entahlah, aku tidak merasa diri ku introvert. Tapi sekarang aku sepertinya menyukai sesuatu yang nyaman dengan kesendirian dan ketenangan." jawab Vale.


"Apa kamu tidak ingin mencari pendamping?"


"Itu bukan pertanyaan yang bagus untuk ku. Aku masih sangat menikmati kesendirian ku dan aku sudah bahagia hidup bersama dengan putri ku." jawab Vale enteng.


"Kau masih muda, kau harus memikirkan dirimu juga untuk bisa mendapatkan kembali seorang pendamping hidup. Wanita cantik dan cerdas seperti mu layak untuk di cintai dan di lindungi." ucap Edward, terdengar seperti sedang merayu.


"Apakah Julian Alexander adalah ayah biologis Elenor putri mu?" tanya Edward, dan Vale pun seketika heran. Dari mana Edward tau jika Julian adalah ayah biologis putrinya.


"Jawab saja Vale. Aku hanya bertanya."


"Iya, Julian Alexander adalah ayah biologis putri ku." jawab Vale jujur.


Edward kemudian menganggukkan kepalanya. Dan ia kemudian meraih kopi yang sudah di pesan kan oleh Vale, lalu ia menyeruputnya.


"Dari mana kau tau jika Julian adalah ayah dari putri ku?" tanya Vale menyelidik.


"Apa sih yang tidak aku tau Vale, jika aku sudah sangat ingin tau dengan suara hal." ucap Edward sambil tersenyum tipis, kemudian ia meletakan kembali minumannya di atas meja.


"Apa kau mencari tau tentang diriku?" selidik Vale.


"Aku bisa melakukan apa saja, kau karyawan ku. Seperti yang sudah pernah aku katakan pada mu Vale. Aku ingin mengenal mu lebih dekat. Aku ingin tau tentang diri mu lebih banyak lagi."


Mendengar hal itu, Vale kemudian terdiam. Lalu ia meraih minumannya dan meminumnya.


"Apa kau menjalin hubungan dekat dengan teman mu bernama David itu." tanya lagi Edward, menanyakan tentang kehidupan pribadi Vale. Vale sebenarnya enggan untuk menjawab pertanyaan Edward yang sepertinya ingin tau tentang kehidupan pribadinya. Tapi karena Edward adalah bos nya. Vale merasa tidak enak hati jika tidak menjawab pertanyaan Edward.


"Tidak, kami hanya berteman." jawab Vale, menangapi sergah Edward.


"Aku sangat terkesan dengan beberapa hal. Kau sepertinya banyak tau tentang ku. Apa itu artinya kau selama ini menguntit ku?" tebak Vale sambil menyempitkan kedua matanya. Mengarahkan pandangannya kepada Edward.


"Sejak awal bertemu dengan mu. Aku sudah interested dengan dirimu. Kau masih muda, cantik, ulet, cerdas. Tapi begitu aku melihat indentitas dirimu dalam lampiran lamaran kerja mu saat itu. Aku cukup terkejut, saat mengetahui diri mu sudah berstatus janda. Dalam pikiran ku, aku sangat penasaran dengan hidup mu. Tapi karena kau sibuk bahkan terlalu sibuk dalam beberapa bulan ini. Membuat aku tidak punya banyak waktu untuk bisa mengobrol dengan santai dengan mu."


"Banyak wanita yang lebih interesting di sekeliling mu Edward. Aku yakin, kau punya kekasih. Mustahil pria seperti dirimu tidak punya kekasih."

__ADS_1


"Bukankah aku sudah pernah bercerita dengan mu sebelumnya. Aku bosan dengan perilaku dan sikap mereka yang tidak tulus dengan ku."


"Bagaimana kau tau mereka tidak tulus." tanya Vale.


"Itu sangat gampang untuk di deteksi. Tapi dirimu, membuat ku tertarik. Aku tau siapa Julian Alexander. Jika dia saja pernah menikah dengan mu. Pasti dia punya ketertarikan yang luar biasa dengan mu. Pasti ada sesuatu yang menarik dari dalam dirimu. Orang sekaya Julian tidak mungkin tidak memberi mu apa apa. Mungkin saja dia telah memberikan mu banyak hal tapi kau menolaknya." ucap Edward sambil menatap wajah Vale dengan tatapan mata tajam dan dalam.


Untuk beberapa saat Vale dan Edward saling pandang. Saking tajamnya Edward saat itu menatap Vale. Membuat ibu satu anak itu kemudian mengalihkan pandangannya.


"Tapi aku bercerai dengannya."


"Aku tidak peduli hal itu. Justru itu bagus. Bukankah aku akan punya kesempatan untuk menjadi pria mu setelah dia." ucap Edward dengan berani dan percaya diri.


"Kau ini bicara apa Edward. Kau tidak tau siapa aku. Dan kau tidak tau masa lalu ku."


"Kalau begitu mari kita saling mengenal. Deal." ujar Edward, sambil menyodorkan tangannya kearah Vale.


"Anda atasan saya."


"Aku single, kamu single. Aku ingin mengenal lebih dekat dengan diri mu Valerie. Aku tidak peduli dengan status kita. Mama ku memberikan kebebasan untuk diri ku mencari calon pendamping hidup yang aku yakini. Meskipun aku bos mu dan kau hanya karyawan ku. Jika aku sudah memutuskan ingin mengenal seseorang lebih dekat. Siapapun itu kenapa tidak. Aku sudah katakan tadi. Dirimu sangat interesting."


"Aku bukan level mu." ujar Vale merendahkan diri.


"Bukan itu kurasa. Aku yang mungkin bukan level mu. Apa karena kau pikir, aku seorang playboy dan seorang badboy. Dan kau mengharapkan seseorang yang niceboy mungkin. Dalam pikiran mu mungkin aku seorang pria yang buruk. Yang suka main perempuan dan juga sering gonta-ganti pasangan. Tapi kamu belum mengenal ku Vale. Kenapa kita tidak mencoba untuk saling mengenal saja." ujar Edward menawarkan diri.


"Aku belum memikirkan laki laki untuk bisa aku jadikan sebagai sandaran hati untuk saat ini. Aku nyaman dengan status ku yang sekarang."


"Lalu seperti apa kira kira pria idaman mu?" tantang Edward yang justru malah bertanya tentang kriteria pria idaman Valerie. Edward saat ini nampaknya semakin di buat penasaran dengan sosok Valerie.


Vale kemudian tersenyum getir, ia merasa saat ini Edward sedang mencoba untuk mengulik sesuatu tentang dirinya.


Dan hal itu membuat Vale kemudian bersikap defensif.


"Aku tidak akan memberi tau mu tentang hal itu." jawab Vale tegas. Ia tidak ingin terlalu terbuka untuk urusan pribadi.


Menurut Vale, saat ini dirinya harus lebih selektif untuk urusan pasangan hidup.


Pernah mencintai seseorang dengan begitu dalam. Sampai-sampai dirinya merendahkan diri di hadapan seseorang yang ia cintai, tapi seseorang itu tetap tidak menerima cintanya. Membuat Vale sedikit trauma untuk mencintai seseorang.


Ada rasa takut yang bersemayam dalam hatinya. Jika ia terlalu mencintai seseorang. Yang pada akhirnya ia nanti akan kecewa.


Vale tidak ingin hal itu terjadi lagi pada dirinya.


Ia mungkin akan lebih mencari seseorang yang mencintainya terlebih dahulu dan menerima segala masa lalu nya. Dari pada ia menjatuhkan pilihan pada pria yang dicintainya.


Karena sekarang dirinya punya anak. Vale tidak mau egois untuk menyenangkan dirinya sendiri.


Pasangannya kelak harus bisa menerima dan juga sayang pada Elenor. Bahkan hal itu akan menjadi syarat utama untuk pria yang mungkin akan serius dengannya nanti.


Dan jujur saja Vale saat ini memang sama sekali belum membuka hatinya untuk seseorang.


Meskipun ia kini sudah sepenuhnya move on dari Julian. Tapi Vale masih engan untuk berurusan dengan percintaan.


Selain itu, Vale juga merasa belum ada seseorang yang membuat hatinya tertarik.




__ADS_1


__ADS_2