Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
David Abraham


__ADS_3

Julian nampak termenung menatap kosong langit-langit kamarnya pada malam itu. Perasaannya saat ini tengah terbagi-bagi.


Antara memikirkan pekerjaan, Jenna dan juga memikirkan Valerie yang saat ini masih dalam kondisi pemulihan.


Pikirannya melayang, tidak bisa fokus pada satu hal.


Jenna yang kala itu baru saja keluar dari kamar mandi merasa sedikit aneh saat melihat sang suami nampak seperti sedang banyak pikiran.


"Sayang apa yang kau pikirkan. Kau seperti sedang melamun." tanya Jenna yang saat itu sudah mengenakan gaun malamnya. Dan kini ikut merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Tidak ada sayang, aku tidak melamun. Aku sedang menunggu mu. Kemarilah, sini tidur di pelukanku." ucap Julian sambil membuka keduanya tangannya. Mempersilahkan Jenna untuk masuk kedalam pelukan Julian.


Jenna pun kemudian merangsek kan dirinya ke tubuh sang suami. Mendekap erat tubuh pria yang telah membuatnya jatuh hati itu.


Julian kemudian mengusap usap rambut panjang milik Jenna dan sesekali mencium keningnya.


Jenna nampak begitu damai tiduran di dada bidang Julian. Bahkan tangannya bermain main di dada telanjang Julian yang bidang.


"Besok kita ada rapat penting dengan beberapa pembisnis di sini. Apakah kau sudah menyiapkan proposal nya?" tanya Jenna.


"Aku belum menyiapkannya. Besok pagi saja aku siapkan. Aku baru datang dua jam tadi kan, aku ingin bersama mu." ujar julian kemudian meliukkan tubuhnya dan dengan gerakan cepat kini Jenna sudah berada dalam kungkungan Julian.


"Mari bercinta, aku ingin punya anak yang lahir dari rahim mu Jen. Jika dia perempuan pasti akan secantik dirimu, jika dia laki laki pasti akan setampan aku." ujar Julian mulai merayu.


"Kau perayu ulung. Aku tidak menyangka, setelah menjadi istri mu, aku kini tau semua sifat asli mu." ucap Jenna sambil melingkarkan tangannya ke leher sang suami, yang menikahi dirinya secara siri itu.


Julian hanya tersenyum menanggapi sindiran sang istri.


"Kemarin kamu tiga hari pergi ke Jakarta sepertinya urusan mu sangat penting. Sepenting itukah sampai sampai kau mencarter pesawat untuk kembali ke Jakarta?" tanya Jenna menyelidik.


Mendengar pertanyaan Jenna membuat Julian berfikir keras.


Julian lalu memainkan rambut Jenna yang saat ini berada di bawa kungkungannya.


Dan Julian tetap berusaha untuk berexpresi biasa.


"Masalah darurat sayang, dan penting. Kau tau kan, bisnis ku banyak. Aku jelaskan juga kamu tidak akan paham. Kau hanya paham jika itu yang berhubungan dengan perusahaan Sahara Corp." jelas Julian pada Jenna tenang.


"Aku tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan mu. Aku percaya padamu Julian. Maka dari itu, hargai kepercayaan ku. Ingat kau punya hutang pada ku untuk segera melegalkan pernikahan kita. Aku tidak mau terus menerus berstatus istri siri. Aku sudah seperti istri simpanan saja." gerutu Jenna.


Julian kemudian terkekeh mendengarkan penuturan Jenna. Dan ia pun tak bisa menyangkal.


Tapi mau tidak mau, Jenna harus menunggu sampai anak yang di kandung Valerie lahir.


Baru setelah itu dia bisa bercerai dengan Vale, dan kemudian menikahi Jenna.


"Sabar sayang, hari itu pasti akan datang. Kau adalah Mrs Alexander. Mengenal mu sudah lama aku masih tak percaya, akhirnya kau yang aku nikahi. Padahal aku sudah bertunangan lama dengan Andrea. Aku menunggu lima tahun bertunangan dengan bos mu. Justru aku menikah dengan sekertarisnya. Cinta memang membingungkan ya?" ujar Julian.


"Iya membingungkan, bahkan aku pun sempat membenci mu. Saat kau menawari ku untuk kau jadikan tempat berkembangnya benih mu. Untungnya aku tidak menerima tawaran mu, tentang rahim bayaran itu. Dan sekarang, karena aku sudah menjadi istri mu. Tanpa kau bayaran pun, aku rela melahirkan calon anak mu jika memang aku bisa hamil." cetus Jenna sambil tersenyum pada Julian.


Deg.....

__ADS_1


Dan tiba tiba hantaman rasa bersalah menyelimuti hati Julian.


Jenna yang belum tau bahwa sebenarnya dirinya memang sudah menemukan wanita rahim bayaran itu. Dan bahkan dia telah menikahinya. Bahkan Vale telah mengandung benihnya.


Apa yang akan terjadi jika Jenna nanti tau soal pernikahannya dengan Vale.


Dan bagaimana reaksi Jenna jika nanti dia tau, dirinya sudah punya anak dari wanita lain.


Tiba-tiba hal itu membuat Julian terdiam.


"Sayang, ada apa?" tanya Jenna sambil menangkup wajah Julian dengan kedua tangannya.


"Tidak ada apa apa Jen. Aku sedang berfikir, aku ingin punya anak berapa?" ujar Julian berbohong.


"Memang kau ingin berapa anak dari ku." tanya Jenna lembut sambil menyebut bibir bawah Julian. Yang kini sudah membuat Julian teransang.


"Sekuat kau bisa memberikan aku anak." jawab Julian. Kemudian ia langsung membungkam bibir Jenna dengan bibir nya.


Melanjutkan aktivitas suami istri dengan rasa penuh cinta dan juga hasrat.


🍁🍁🍁🍁🍁


Jakarta


1 Minggu setelahnya


"Jemput aku nanti jam 03.00 sore jeff. Kemungkinan jam 03.00 sore aku sudah selesai kuliah." ucap Valerie pada Jeffri sopir pribadinya.


"Kembali lah ke Penthouse dulu, Bik Naina ada keperluan untuk berbelanja ke Supermarket. Sebaiknya kau antar Bik Naina dulu, setelah itu baru kembali ke sini lagi."


Jeffri pun menuruti perintah Valerie.


Keluar dari mobil mewahnya, Valerie berjalan dengan langkah gemulai memasuki halaman kampus.


Pada saat Vale sedang berjalan menuju halaman kampus, seseorang sedang memperhatikan gerak-gerik Valerie dari dalam mobilnya.


Seorang pria berkacamata hitam itu tak mengalihkan pandangannya pada Vale.


Dengan penuh seksama, pria itu masih melirik ke arah Valerie yang kala itu sedang berbincang-bincang ringan dengan beberapa teman di halaman kampus.


Pria yang masih duduk di dalam mobilnya itu kemudian menoleh ke arah mobil milik Valerie yang terlihat mencolok itu.


Sebuah mobil keluaran Eropa dengan harga lumayan fantastis. Dan dalam hati, pria itu langsung beranggapan bahwa Vale pasti anak orang kaya.


Mobil yang pria itu tumpangi pun juga tak kalah mewah.


Dengan begitu lekat, pria itu memandangi Vale dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Dan sepertinya, pria itu terkesimanya dengan Vale.


Sambil tersenyum, pria itu sepertinya punya niatan untuk mendekati Valerie.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


Tepat pukul tiga sore, Vale telah selesai dengan kegiatan kuliahnya.


Saat ia sedang menunggu Jeffri sang sopir, dan hendak meneleponnya. Tiba-tiba seorang pria menabrak Valerie.


Seketika itu, minuman dingin yang di bawa pria tersebut tumpah dan menumpahi lengan Vale.


"Maaf, aku tidak sengaja. Maafkan aku ya Nona." ucap pria tersebut.


Vale yang lengannya ketumpahan minuman langsung mengusap usap lengannya.


"Kalau jalan liat liat, hari masih terang bolong begini masa tidak bisa liat orang sedang berdiri di sini." gerutu Valerie pada pria tersebut.


"Aku minta maaf, aku sungguh tidak sengaja tadi." ujar pria itu kembali meminta maaf.


"Bagaimana jika tadi minuman mu panas. Aku pasti sudah menuntutmu." ancam Valerie, yang setelah ia selesai mengusap lengannya. Kemudian ia mengalihkan perhatiannya pada pria yang menabraknya.


Kesan pertama saat Vale memandang pria itu adalah kata tampan.


"Maaf ya sekali lagi, sudah membuat bajumu basah."


"Tidak masalah, lupakan saja.Tapi lain kali berhati-hatilah." ujar Vale, yang kemudian memperhatikan pria tersebut.


"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Apakah kamu mahasiswa baru?" tanya Vale pada pria tersebut.


"Aku bukan mahasiswa, Adikku namanya Indiana. Dia yang berkuliah di sini." jawab pria itu lembut dan ramah.


"Indiana? Aku tidak mengenalnya."


"Kami baru kembali dari Amerika. Setelah bertahun-tahun lamanya keluarga kami menetap di sana. Aku dan keluarga ku kembali ke Indonesia karena perusahaan kami sedang berkembang pesat di sini. Dan aku sedang menjemput adik ku Indiana sekarang."


"Oh begitu, oke. Selamat datang kembali di Indonesia. Maaf aku harus pergi, sopir ku sudah datang." ucap Valerie yang kemudian hendak berlalu dari hadapan pria itu


"Tunggu sebentar!" seru pria tersebut.


Vale pun terhenti langkahnya.


"Kenalkan, aku David Abraham." ucap pria tampan itu sambil memberikan tangannya pada Valerie.


Sedikit ragu, Vale kemudian menjabat tangan pria yang bernama David tersebut.


"Valerie Florencia." jawab Vale, setelah berjabatan tangan Vale langsung masuk kedalam mobilnya dan berlalu dari hadapan David.


"Valerie Florencia, nama yang indah." desis David yang kemudian memakai kembali kaca mata hitamnya sambil tersenyum.


David Abraham



__ADS_1



__ADS_2