
Valerie terbangun tengah malam dan merasakan sesuatu yang tidak nyaman pada perut nya.
Rasa mulas yang tiba tiba datang menghampiri nya membuat ia tidak sabaran untuk pergi ke toilet. Dengan gerakan pelan, Vale berinsut dari tempat tidur dan berjalan perlahan menuju toilet.
Beberapa saat kemudian setelah ia selesai dari toilet untuk buang air kecil, ia kemudian kembali ke tempat tidur untuk melanjutkan tidurnya. Baru beberapa menit ia mencoba memejamkan mata, tiba tiba rasa mulas itu kembali menyerang.
Vale pun kembali bangkit dari tidur dan ia mencoba untuk duduk bersandar pada headbord tempat tidur untuk menetralisir rasa mulas yang menyerang tiba tiba itu.
Valerie kemudian berfikir sejenak, apakah ini yang namanya tanda tanda untuk melahirkan.
Rasa mulas itu kembali mendera, dan tidak tahan lagi, Valerie pun kembali berjalan menuju toilet.
Saat ia kini sudah berada di dalam toilet, ia terkejut saat ia mendapati bercak darah di ****** ********.
Tidak hanya berupa bercak-bercak darah, namun juga terdapat lendir di sana.
Yakin dengan apa yang ia pikirkan, Valerie kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Julian lewat sambungan telepon.
"Vale ada apa," tanya Julian ketika ia mengangkat telepon nya. Saat itu Julian sedang berada di kamarnya.
"Cepat turun, sepertinya aku hendak melahirkan. Ada darah dan lendir di ****** ***** ku." ucap Vale.
"Aku segera turun." jawab Julian.
Dan beberapa saat, Julian yang tadi bangun langsung mendatangi kamar Mama nya dan memberi tau jika Vale hendak melahirkan.
Roseline dan juga Julian bersama sama mendatangi kamar Vale.
"Vale, apa yang kau rasakan?" tanya Roseline pada menantunya dengan lembut.
__ADS_1
"Aku merasakan mulas yang tiba-tiba datang dan tiba tiba pergi Ma." jawab Vale sambil memegangi perutnya.
"Sepertinya kamu akan melahirkan. Julian, siapkan mobil untuk membawa Vale ke rumah sakit." permintaan Roseline.
"Iya Ma." jawab Julian sedang sedikit bernada panic.
Dan malam itu, Julian dan Roseline membawa Valerie ke sebuah rumah sakit bersalin yang sudah mereka pilih sebelumnya.
Sesampainya Vale di rumah sakit, Vale langsung di periksa oleh tim dokter yang akan membantunya melahirkan secara normal.
Julian nampak mondar-mandir tidak tenang ketika berada di samping Valerie yang kala itu sedang diperiksa oleh tim dokter.
Dia sangat khawatir dan juga sangat kasihan terhadap Vale yang meringis kesaksian menahan rasa mulas itu.
"Tenang Julian, memang seperti itu rasanya jika seorang wanita hendak melahirkan" ucap Roseline yang menyaksikan puteranya sejak tadi tidak bisa tenang.
Karena pembukaannya belum lengkap, sang dokter menyarankan agar Vale untuk berjalan jalan di dalam ruangan kamar bersalin. Agar bisa membuat pembukaannya lengkap.
"Kau tenang saja, aku menikmati rasa sakit ini." jawab Vale yang masih sempat berusaha untuk tetap tersenyum.
"Maafkan aku jika selama ini aku menyakiti hati mu. Aku tidak bisa membalas cinta mu. Tapi kau tau kan, aku sangat sayang dengan mu. Kita akan selalu saling berkaitan. Maafkan aku Vale."
"Aku memaafkan mu, jangan khawatir. Aku tidak akan menuntut apa apa dengan mu."
Dan beberapa jam setelahnya, saat pembukaannya kini sudah lengkap. Vale di pindahkan ke ruang bersalin.
Dan di ruang itulah Vale berjuang untuk melahirkan putrinya. Julian dengan setia mendampingi Valerie.
Dan kini, di atas tempat tidur di ruang bersalin. Valerie tengah berjuang untuk melahirkan putrinya.
__ADS_1
"Ayo, Nyonya Valerie anda bisa. Dorong sedikit lagi," ucap sang dokter perempuan yang membantu Valerie melahirkan.
"Sakit dokter," ucap Vale berteriak, sambil di iringi tangisan lirih.
Buliran keringat bercampur ari mata membasahi wajah cantik Valerie. Wajah putih mulus itu kini penuh dengan peluh keringat.
Dengan berpegangan pada handel besi yang ada di sisi ranjang, serta satu tangannya yang lain berpegangan erat dengan tangan Julian. Vale terus berjuang untuk bisa melahirkan putrinya.
"Julian, sakit sekali." ucap Valerie berucap sambil terus meremas tangan Julian. Ia tidak pernah membayangkan jika rasanya melahirkan akan sesakit itu dan seolah-olah dia kini sedang berada di abang kematian.
"Kau bisa Vale, kau bisa." ucap Julian menyemangati. Kemudian Julian melabuhkan kecupan di kening Vale.
"Sedikit lagi, kepala nya sudah mulai tampak Nyonya." ucap sang dokter menyemangati Vale.
Vale pun kembali mengatur nafas nya dan bersiap untuk mengejan dengan kuat.
"Hemmmmmmmm," desis Vale, mengejan sekuat mungkin.
Dan akhirnya, sebuah suara tangisan bayi langsung menggema. Mendominasi suara di rumah itu.
"Owek....Owek...owek.."
Sebuah tangis keras bayi perempuan yang cantik kini berhasil dilahirkan Valerie dengan selamat.
Selamat ya Vale, sudah jadi ibu 🥰
__ADS_1
Kasih ide dong kasih nama siapa baby nya Valerie, tulis di kolom komentar ya, yang menarik bakalan aku pake, yang ala ala barat ya 🥰🥰🤗♥️