
"Aku minta maaf untuk hal itu sayang" ucap Julian sambil menatap wajah Jenna.
Sejenak, mereka saling diam. Yang terdengar hanya isakan tangis Jenna tertahan.
"Baiklah, jika kau ingin aku jujur tentang perasaan ku terhadap Valerie. Aku akui, sejak Vale kembali dari Jerman. Dan sekarang dia menjadi wanita karir. Aku kagum dengannya. Aku tau bagaimana dia menjalani kehidupan nya sebelum ini dan sebelum kami bertemu dan dekat. Vale gadis ceria dan penuh semangat. Sejak kami memutuskan untuk bekerja sama soal rahim bayaran itu. Secara emosional aku sudah sangat memahaminya. Dia banyak curhat dengan ku tentang hidupnya. Dan hal itu membuat ku kasian dan tersentuh dengan jalan hidupnya. Aku iba kehidupan dia. Perasan perasan seperti itu lah yang aku rasakan pada Vale. Kami punya kedekatan secara emosional yang dalam setelah kami menikah. Aku kagum dengan semangat nya dan juga tentang bagaimana dirinya yang saat itu mencintai ku tapi aku tidak bisa membalas cintanya. Dia tersakiti Jen, dia terluka. Belum lagi tentang keberadaan Elenor. Dia sudah melalui banyak sekali drama. Lima tahun dia harus berpisah dengan Elle. Intinya, aku akui, aku memang kagum dan peduli dengan Valerie. Sebagai seseorang yang pernah ada dalam hidup ku. Yang secara tidak langsung punya hubungan hubungan dekat secara emosional dengan ku.Tapi aku bersumpah Jenna. Sekarang, hubungan kami tidak lebih hanya sekedar hubungan bisnis dan hubungan sebagai orang tua untuk Elenor." ucap Julian berterus terang.
"Lalu kenapa kau menginap satu kamar dengannya di puncak?" tanya Jenna dengan mata sebab. Julian pun kaget dengan pertanyaan Jenna.
"Bagaimana kau tau?"
"Sopir mu melapor pada ku."
"Kami tidak melakukan apa apa di kamar."
"Kenapa tidak tidur di kamar terpisah?"
"Saat itu kamar hotel sedang penuh Jen. Hanya menyisakan dua kamar kosong."
"Kenapa kau tak tidur dengan sopir mu saja?" ucap Jenna lagi dengan perasan yang sudah tidak karuan rasanya.
"Jangan banyak alasan Julian, sudah cukup." ucap Jenna yang kemudian ia meraih tas dan juga handphone nya. Ingin segera pergi meninggalkan restoran.
"Sayang, jangan berfikir negatif pada ku. Aku bersumpah tidak terjadi apa-apa dengan ku dan Vale. Kami hanya tidur tak kurang lebih dari 4 jam di hotel. Paginya kami langsung kembali ke Jakarta." jelas Julian.
"Biarkan aku pergi Julian." ucap Jenna kemudian ia melepaskan dengan paksa pergelangan tangannya yang di pegang erat oleh Julian.
Dan Jenna memaksa dirinya untuk pergi dan meninggalkan Julian di ruang khusus di restoran saat itu.
"Jenna, tunggu." seru Julian, yang saat itu ia mau mengejar Jenna.
Tapi ia harus membayar dulu tagihan makan nya. Saat Julian sedang bertransaksi di kasir. Jenna sudah pergi dengan taksi yang ia berhentikan di pinggir jalan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Roseline sengaja datang ke Indonesia tanpa memberi tau Julian. Roseline ingin memberikan kejutan kedatangannya untuk kedua cucunya, Elenor dan juga Louis.
Roseline sengaja juga tidak menyuruh orang rumah untuk menjemputnya di bandara. Dia bersama asisten pribadi nya kini sudah berada di dalam taksi dan sedang menuju Mansion.
Tapi hati Roseline sangat kecewa saat mendapati kedua cucunya ternyata tidak ada di Mansion sesaat setelah ia sudah sampai di Mansion.
__ADS_1
Dan dari keterangan asisten rumah tangga yang Roseline dengar. Ia merasa kecewa dan juga merasa ada yang janggal. Dengan ketidak ada nya kedua cucu kesayangannya di Mension.
Dan kini, Roseline sudah tidak sabar untuk bertemu dengan putranya Julian. Dan ia ingin minta klarifikasi kenapa kedua cucunya yang sudah membuat ia rindu justru tidak ada di Mansion.
Saat Julian pulang dari kantor dan mendapati sang Mama telah berdiri di harapannya, membuat Julian kaget.
"Mama!" seru Julian pada sang Mama. Ketika Roseline sudah berdiri di depan pintu ketika Julian baru saja masuk kedalam rumah.
"Malam Julian." sapa Roseline.
"Mama selalu begitu, datang tanpa memberi tau aku."
"Mama tidak perlu memberi tau mu jika Mama ingin datang kan. Mama kangen dengan cucu cucu Mama. Mama tidak kangen dengan mu." ujar Roseline.
"Tapi Mama sangat kecewa. Alih-alih Mama datang ingin memberikan kejutan untuk Elle dan Louis. Tapi justru Mama tidak menemukan mereka di sini. Kemana cucu cucu kesayangan Mama?" tanya Roseline dengan wajah kecewa.
"Elle dan Louis sedang bersama ibu mereka masing-masing." Jawab Julian.
Mendengar jawaban itu membuat Roseline tertawa getir.
"Maksudnya apa cucu ku sedang bersama ibu mereka masing-masing!" seru Roseline.
"Duduk Ma, aku akan jelaskan." ujar Julian, kemudian mengajak sang Mama untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
"Elenor saat ini sedang bersama Valerie. Vale sudah kembali dari kuliahnya dari Jerman sekitar 6 atau 7 bulan yang lalu. Aku dan Vale sepakat untuk berbagi waktu untuk bersama Elenor. Elenor kadang satu Minggu bersama ku dan kadang satu Minggu bersama Vale. Bagaimanapun Valerie juga ingin menghabiskan waktu bersama Elenor." jelas Julian pada sang Mama.
"Lalu kemana istri mu dan Louis?" tanya Roseline curiga.
"Mereka menginap di apartemen."
"Kenapa bisa mereka menginap di apartemen?" tanya Roseline lagi mereka penasaran.
Akhirnya mau tak mau Julian pun jujur pada sang Mama. Tidak etis rasanya Julian memberi tau pada Mama nya tentang masalah rumah tangga nya.
Tapi Julian sangat tau sifat sang Mama. Oleh sebab itu, Julian jujur dengan situasi yang saat ini ia alami. Masalah pelik antara dirinya, Jenna dan juga Valerie.
"Jadi masalah kalian sampai sekarang belum tuntas juga!" seru Roseline pada Julian.
"Jenna hanya salah paham Ma."
__ADS_1
"Tidak mungkin jika hanya karena salah paham Jenna bisa meninggalkan Mension bersama Louis. Julian, Mama tidak mau tau. Bawa kembali cucu cucu ku ke Mansion. Aku tidak akan menyalahkan Jenna ataupun Vale. Tapi Mama akan menyalahkan mu jika kau tak bisa membawa mereka kembali ke Mansion ini." ucap Roseline, yang terlihat sedikit kecewa dan marah pada putranya.
Julian pun di buat pening dengan masalah yang saat ini ia hadapi.
🍁🍁🍁🍁🍁
Malam itu seusai selesai menikmati makan malam bersama. Vale mengajak Elenor untuk ke kamar.
Setelah selesai menggosok gigi dan mengenakan baju piyama. Vale dan Elle bersiap untuk tidur.
Sebelum tidur, seperti biasa Vale mengajak Elenor untuk mengobrol sejenak.
"Elle, sebaiknya, boneka kangguru ini di taruh di tempat Mommy saja ya. Jangan bawa boneka kangguru ini ke Mansion" ujar Vale, yang kala itu tiduran berduaan bersama Elenor di kamarnya.
"Kenapa Mommy?" tanya Elle bigung.
"Ya, Mommy pikir, boneka ini akan lebih baik di tingal saja di sini. Jika Elle mau bawa boneka. Bawa saja yang pinguin. Tapi yang kangguru tingal saja di sini." ucap Valerie pada putrinya.
Vale merasa, boneka kangguru itu terkesan riskan jika di bawa Elenor ke Mansion. Vale tidak ingin, terjadi kesalahan pahaman lagi.
"Karena Mommy sudah bilang begitu. Elle menurut Mommy." ucap Elenor.
"Anak pintar," ucap Vale kemudian ia mengecup kening Elenor dengan sepenuh kasih sayang.
"Elle itu hidup nya Mommy. Mommy sangat sayang pada Elenor." ucap Vale, kemudian ia mendekap dengan erat tubuh Elenor ke dalam pelukannya.
"Elle juga sayang sama Mommy, sama Daddy, Mama Jenna, dan Louis." ujar Elenor.
"Bagaimana kabar Mama Jenna?" tanya Vale menyelidik.
"Baik, tapi sepertinya Mama dan Daddy tidak banyak bicara." ujar Elle polos.
"Memangnya kenapa?" pancing Vale.
"Mama Jenna sudah lama tidur di kamar Louis. Dan Daddy tidur sendiri di kamar."
"Dari mana Elle tau?"
"Elle saat itu mimpi buruk. Dan Elle pergi ke kamar Daddy. Di sana Daddy tidur sendirian. Saat Elle tanya di mana Mama Jenna. Daddy bilang, Mama Jenna tidur di kamar Louis." ucap Elle polos.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Vale jadi berfikir. Kesalah pahaman antara Julian dan Jenna sepertinya belum selesai.