
Valerie merasa bosan berada di Penthouse siang itu. Dia merasa suntuk dan butuh udara segar untuk membuat nya tidak jenuh.
Terakhir kali ia hangout adalah beberapa minggu lalu saat di ajak piknik oleh Indiana dan juga David.
Setelah ia berfikir, Vale kemudian meraih ponselnya dan menghubungi Indiana.
Vale bermaksud mengajak Indiana untuk di ajak berbelanja keperluan baby nya.
Meski Julian sudah mempersiapkan semuanya, Vale tetap ingin membeli lagi beberapa potong baju untuk calon bayinya.
Indiana pun menyanggupi untuk bisa diajak pergi.
Dan siang itu, Vale dan Anna pergi ke sebuah tempat perbelanjaan perlengkapan khusus baby yang ada di sebuah Mall.
Vale terlihat bahagia dan sangat gemas saat melihat lihat baju dengan berbagi model yang sangat lucu lucu.
Indiana pun juga nampak begitu antusias saat menemaninya Valerie berbelanja.
"Vale, David sedang ada di sekitar sini. Bagaimana jika nanti kita sekalian makan siang saja di restoran. Pasti menyenangkan." ujar Anna memberikan ide.
"Boleh, tapi setelah kita berbelanja ya. Aku bigung harus memilih yang mana untuk baby ku. Semua terlihat bagus, lucu dan menggemaskan." ujar Vale ketika ia sedang memilih milih beberapa baju dan keperluan lainnya.
"Kau bisa memborong nya Vale, uang mu unlimited." timpal Anna. Vale hanya tersenyum menanggapi.
"Kita hidup memang butuh uang Anna. Tapi setelah aku punya uang banyak pun, aku merasa biasa saja. Uang memang tak bisa membuat hidup kita tenang nyaman dan bahagia. Mungkin aku yang salah mendapatkan uang itu dengan cara yang tidak benar." ujar Valerie.
"Sudah sudah, jangan mellow lagi. Hidup mu terlalu rumit dan banyak kesedian Vale. Sekarang kau harus bahagia, berbelanja lah sepuas mu, borong semua yang ingin kau beli. Pokoknya hari ini aku tidak mau melihat mu sedih." ujar Indiana menyemangati Valerie.
"Aku bahagia menyambut kelahirannya putri ku Anna." jawab Vale lembut sambil tersenyum.
"Good," ujar Anna yang kemudian ia membantu Vale untuk memilih milih lagi baju baju bayi yang hendak di beli Vale.
Dan tak lama kemudian, David datang. David yang saat ini masih mangang bekerja di perusahaan milik keluarganya memiliki sedikit kebebasan waktu.
Jika tidak demi bisa bertemu Vale, ia tidak mungkin akan mendatangi mereka kala itu di tempat pusat perbelanjaan perlengkapan bayi.
"Hai, sudah selesai belanjaannya?" tanya David yang baru saja datang menyambangi Vale dan juga sang adik Anna.
"Vale belum selesai, dia masih bigung, sebaiknya kau juga ikut bantu memilihkan beberapa baju bayi, agar nanti jika kau punya anak sudah mahir untuk memilih." ledek Anna pada sang kakak David.
Dan mereka bertiga akhirnya di sibukkan untuk memilih milih baju bayi yang akan di beli oleh Valerie.
Dan di sisi lain, Julian yang kala itu juga sedang berada di Mall yang sama dengan Vale, tidak sengaja melihat Vale bersama dengan kedua temannya.
Julian yang baru saja selesai meeting dengan beberapa klien kala itu hendak mencari restoran. Dan tanpa senjata Julian melihat Vale.
Julian kemudian memperhatikan Vale yang saat itu tengah memilih milih baju dari kejauhan.
__ADS_1
Dari tempat nya ia berdiri, Julian fokus pada sosok David. Pria itu terlihat dekat dan akrab dengan Valerie. Mereka bahkan sempat tertawa bersama ketika sedang mengamati sebuah baju bayi yang lucu.
Sekilas, mereka terlihat seperti pasangan yang tengah berbahagia menyambut bayi mereka.
Dan hal itu sudah membuat hati Julian tidak senang.
Setelah beberapa saat mengganti Vale yang sedang belanja. Akhirnya Julian memutuskan untuk meningalkan area itu.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah selesai berbelanja, Vale, David dan Indiana menikmati makan siang di restoran yang ada di mall tersebut.
Seperti biasa, baik Indiana maupun David begitu peduli dengan teman mereka yang sedang hamil besar itu.
David sengaja memesankan makan khusus untuk Valerie. Makanan ala sayuran-sayuran dan juga ikan salmon grill.
"Berapa Minggu lagi persalinannya?" tanya David di sela sela mereka sedang menikmati makanannya.
"Kurang lebih 4 mingguan lagi."
"Semoga persalinannya lancar." ujar David.
"Terimakasih,"
"Bagaimana dengan beasiswa mu Vale. Apakah sudah ada kabar?" tanya Indiana.
"Aku belum menerima email balasannya. Tapi aku berharap, aku bisa mendapatkannya."
"Entahlah, rasanya berat sekali jika aku harus berpisah dengan bayi ini. Aku sudah jatuh cinta dengannya. Aku mencintai dia. Meski awalnya aku tidak memperhitungkan keberadaannya. Tapi kini dia seperti sesuatu yang berharga, dan semua yang ku miliki rasanya tidak lagi berarti bagi ku. Aku berharap, Julian bisa berubah pikiran. Aku akan mengembalikan semua fasilitas dan aset yang sudah dia berikan untuk ku. Aku ingin mengasuh bayi ku, aku ingin bisa selalu memeluknya, dan merawatnya."
"Bagaimana tanggapan Julian? Apa dia akan bersedia melupakan perjanjian kalian tentang bayi itu?" tanya David.
"Aku akan membicarakan ini dengannya."
"Semoga kau berhasil mendapatkan bayi mu Vale, tenang saja. Dia akan punya Onty Anna dan uncle David." seru Indiana bersemangat.
Dan, celotehan Anna pun membuat Vale dan David tersenyum.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sambil menyandarkan tubuhnya di headbord tempat tidur, Vale memijat mijat keduanya kakinya yang saat itu terasa sangat pegal.
Acara berbelanja tadi siang ternyata cukup membuat kedua kakinya lelah.
Ketika Vale sedang asyik memijat-mijat kakinya. Pintu kamarnya di buka oleh seseorang. Seorang pria berbadan tinggi besar dan tegap tersenyum ke arah Vale, dan kemudian masuk ke kamar dan berjalan mendekati Valerie.
Kemudian, Julian langsung duduk di sisi Valerie yang saat itu tengah duduk santai.
__ADS_1
"Bagian mana yang pegal, sini aku pijat." ujar Julian yang kemudian meraih kedua kaki mulus Valerie dan langsung menaruhnya di kedua pahanya.
Julian pun dengan lembut memijat kaki Vale.
"Tidak usah, aku bisa memijatnya sendiri." ucap Vale, yang kemudian bermaksud untuk menarik kakinya. Tapi Julian menahannya.
"Jangan membantah, biar aku yang memijat." ujar Julian.
"Berbelanja apa tadi di Mall?"
"Bagaimana kau tahu, aku tadi sedang berbelanja di Mall?"
"Aku tidak sengaja melihatmu tadi siang. Aku ada meeting di sana, tapi sepertinya kau sedang asyik bersama kedua temanmu itu. Jadi aku sengaja tidak menyapamu."
Sejenak Julian dan juga Vale saling terdiam.
"Julian, aku ingin bicara sesuatu denganmu."
"Bicara saja, apa yang ingin kau bicarakan?"
"Ini soal bayi kita." jawab Vale.
"Kenapa dengan baik kita?"
Vale kemudian menarik nafas dalam-dalam, sebelum ia berucap.
"Aku ingin mengasuh bayi ini. Aku akan mengembalikan semua aset-aset yang sudah kau berikan kepadaku. Aku akan mengembalikan semuanya, dengan satu syarat. Bayi ini akan menjadi milikku. Dan kita lupakan perjanjian itu."
Mendengar itu, Julian langsung menatap ke arah Valerie dengan pandangan mata tajam.
"Aku sudah bisa menduga ini. Kau mungkin bisa aja berubah pikiran. Dan ternyata itu benar terjadi. Itu sebabnya, aku membuat perjanjian itu Vale."
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak akan pernah membatalkan perjanjian kita. Kau sudah setuju saat itu dan kau tidak perlu mengembalikan semua barang-barang yang sudah aku berikan terhadapmu. Meskipun kau mengembalikan semua aset-aset ku, anak ini tetap akan menjadi milikku. Dan aku tidak akan memberikannya untukmu."
"Dia putriku Julian, aku menyayanginya, aku jatuh cinta dengannya. Aku yang mengandungnya, aku ibunya."
"Aku tahu itu, tapi aku juga ayahnya. Dari awal aku yang menginginkan dia, jadi maaf Valerie. Aku tidak akan membatalkan perjanjian itu."
Mendengar itu, Vale langsung menarik kedua kakinya dari paha Julian.
"Keluar dari kamar ini." desis Vale sambil memalingkan wajahnya.
David
__ADS_1
Indiana