Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Ketegangan hubungan Julian Dan Jenna


__ADS_3

Jenna keluar dari Penthouse Vale dengan perasaan yang sudah hancur.


Ternyata benar dugaannya, selama ini ada yang di sembunyikan oleh Julian.


Tapi Jenna tak menduganya, jika kebohongan julian yang menikahi dirinya secara siri karena Julian sudah menikah secara sah dengan orang lain.


Bahkan istri sah nya kini tengah hamil. Dan Jenna pun telah melihat sendiri bagaimana perhatian nya Julian dengan Vale saat si rumah sakit.


🍁🍁🍁🍁🍁


Karena waktu sudah malam Jenna akhirnya memutuskan untuk kembali ke Mension.


Awalnya Jenna berpikir untuk pulang ke apartemennya, dan mengadu ke ibunya.


Akan tetapi setelah dia pikir-pikir, dia tidak akan pulang ke apartemen dengan keadaan seperti saat ini. Muka sebab, letih dan menyedihkan.


Oleh sebab itu sebisa mungkin dia akan menahan perasaan yang sudah hancur berkeping-keping tanpa sisa yang ia rasakan dan memutuskan untuk kembali ke Mansion.


Dia akan memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya esok hari.


Dengan menumpangi sebuah taksi, Jenna pulang ke Mansion.


Sesampainya di Mansion, ia langsung bergegas naik ke lantai dua ke kamarnya.


Setelah ia membuka pintu kamar, Jenna kemudian menutup pintunya. Dan bersandar di balik pintu untuk sesaat.


Ia merasa sangat kacau dan dia merasa sangat tertipu dengan semua hal yang telah dilakukan oleh Julian terhadap dirinya.


Begitu bodohnya ia merasa di perdaya oleh Julian.


Jenna merasa begitu di bodohi dengan berbagai macam ucapan manis Julian yang begitu memuja dirinya kala itu.


Dan ia menyesali keputusan yang ia telah ambil ketika ia menerima di nikahi secara siri oleh Julian.


Saat ini pun, Jenna berprasangka, jika cintanya Julian terhadap dirinya itu juga hanya sebuah kebohongan belaka.


Karena dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Julian begitu sangat perhatian dengan istri sah nya ketika berada di rumah sakit.


Bahkan baru keluar dari mobil pun dengan penuh perhatian Julian selalu memegangi Vale. Seolah-olah takut jika wanita hamil itu terjatuh.


Hal itu membuat Jenna semakin terpuruk dalam kepedihan hati. Antara rasa cemburu dan kecewa menggelayuti pikirannya.


Sesaat setelah ia merasa sedikit tenang, Jenna kemudian memilih untuk pergi ke kamar mandi.


Menyalakan air hangat dan kemudian dia mengguyuri tubuhnya dengan air hangat yang memancar dari shower.


Air hangat itu mampu menetralisir suasana hatinya untuk bisa lebih tenang.

__ADS_1


Setelah selesai mandi, Jenna kemudian mengenakan baju tidurnya.


Setelah itu ia berjalan ke arah ranjang dan membuka selimutnya dan menyerukan kedua kakinya di bawah selimut.


Sambil memiringkan tubuhnya, Jenna berbaring miring dan mencoba untuk menutup kedua matanya untuk beristirahat.


Namun, bayang-bayang penghianatan yang dilakukan oleh Julian benar-benar sudah menghancurkan mood-nya saat itu.


Meskipun saat itu sudah hampir pukul 12.00 malam Jenna tak kunjung juga bisa memejamkan matanya.


Dan Julian pun juga belum menampakkan diri nya di kamar.


Saat itu Jenna sudah tidak perduli Julian mau pulang ataupun tidak.


Setengah jam kemudian, pintu kamar dibuka. Dan dia tahu, Julian satu itu telah pulang.


Julian yang baru saja datang ke kamarnya langsung berjalan menuju ke arah Jenna yang saat itu tengah tertidur miring sambil berselimut.


Tepat di sisi ranjang di dekat Jenna saat ini tidur. Julian duduk di sana. Ia memandangi wajah cantik Jenna. Kemudian satu tangannya terulur untuk mengusap kepala Jenna.


Ketika Julian memandang wajah sang istri. Ada desiran aneh yang Julian rasakan saat ia menatap wajah Jenna.


Wajah itu terlihat sembab. Dan membuat Julian berspekulasi penuh rasa kawatir.


"Maafkan aku sayang, sudah membohongimu sejauh ini. Tapi percayalah padaku, apa yang aku lakukan ini adalah untuk kebaikan. Aku tidak bermaksud untuk membohongi mu. Dengan tidak jujur bahwa aku sebenarnya sudah menikah. Aku jatuh cinta denganmu saat aku telah menemukan rahim bayaran yang aku inginkan saat itu, yaitu bersama Valerie. Yang bersedia melahirkan anakku. Aku tidak menyangka jika akhirnya aku bisa kembali jatuh cinta dengan seseorang Jen. Dan ternyata aku jatuh cinta dengan mu. Aku tidak ingin, saat kau tahu aku telah menikah kontrak dengan seorang wanita, kau malah meninggalkan aku. Oleh sebab itu untuk mengikat mu aku menikahi diri mu secara siri. Tapi percayalah padaku, setelah pernikahan kontrak ku dan Valerie berakhir. Aku akan segera melegalkan pernikahan kita secara hukum. Dan aku akan menjelaskan semuanya. Sebenarnya aku tidak ingin mempermainkan perasaanmu. Karena kau memang wanita yang benar-benar aku cintai. Aku menyayangimu, aku memilih mu untuk ku jadikan teman hidup. Dan aku pun juga sangat ingin memiliki keturunan dari rahim mu saat ini. Tapi karena Vale sudah terlanjur hamil benihku. Aku pun tetap harus bertanggung jawab kepada dirinya, sampai dia melahirkan."


"Maafkan aku jika aku berbohong. Tapi sungguh aku benar-benar tidak ingin menyakitimu dengan kebenaran yang sebenarnya memang sedikit membingungkan untuk mu. Bagaimana pun aku juga punya tanggung jawab untuk melindungi Valerie dan janin yang ia kandung. Aku hanya ingin melindungi perasaan mu dan perasaan Valerie dengan cara ku merahasiakan ini, sampai pada waktu yang tepat aku akan memberi tau kebenarannya."


Kemudian Julian membungkukkan tubuhnya dan mencium puncak kepala Jenna dengan sangat sayang.


Sedangkan jenna sendiri saat itu sudah merasa jijik dengan apa yang Julian lakukan terhadap dirinya.


Pikiran Jenna saat ini sudah terpenuhi dengan berbagai prasangka buruk terhadap suaminya. Dan tidak ada lagi kesan positif yang bisa Jenna berikan pada Julian.


🍁🍁🍁🍁🍁


Keesokan paginya, Jenna yang sudah bangun lebih awal tidak begitu mempedulikan Julian yang saat itu masih tertidur. Rasa kecewa yang ia rasakan terlampau besar untuk bisa bersikap baik dengan suaminya itu saat ini.


Biasanya mereka selalu bangun sama sama dan bahkan mandi bersama ketika waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Karena ingin mempersingkat waktu agar tidak terlambat ke kantor.


Meski baru jam 6 pagi, Jenna sudah mandi bahkan sudah rapi dengan baju kantornya.


Setelah ia siap, Jenna kemudian keluar kamar dan menoleh sejenak sejenak ke arah Julian yang masih tertidur pulas di ranjang.


Saat menuruni anak tangga, Jenna langsung di sambut oleh asisten rumah tangganya.


"Mau sarapan Nyonya. Saya akan siapkan." ucap ART itu.

__ADS_1


"Tidak usah repot-repot, aku sarapan roti tawar saja. Aku akan ambil sendiri." jawab Jenna ramah.


"Baik kalau begitu Nyonya." jawab sang ART yang kemudian berlalu dari hadapan Jenna.


Meletakkan tas kerja dan blazernya ke sebuah kursi. Jenna duduk di kursi meja makan dan mengambil selembar roti tawar dan kemudian mengolesi roti itu dengan selai.


Kemarin malam ia bahkan tidak makan apapun.


Tanpa Jenna sadari, Julian ternyata juga sudah bangun. Dan ia berjalan menuruni anak tangga dengan masih memakai baju tidurnya.


Julian nampak heran karena melihat Jenna sudah duduk di meja makan dan sedang bersarapan sendirian.


"Pagi sayang." ucap Julian yang seperti biasa ia mencium puncak kepala Jenna. Lalu ia pun ikut duduk di sisi kursi yang lain.


"Kenapa kau tidak membangunkan aku. Maaf semalam aku pulang telat dan tidak memberi mu kabar." tutur Julian.


"Tumben sepagi ini kau sudah rapi." tanya lagi Julian.


"Aku banyak pekerjaan." jawab Jenna singkat.


"Aku antar ya, tapi aku mandi dulu. Bisakan kau menunggu ku." tawar Julian.


"Tidak perlu, aku akan naik taksi saja." jawab Jenna lagi tanpa menoleh sedikitpun ke arah Julian.


"Kan aku sudah menyediakan Mobil untuk mu, aku tidak izinkan kau naik taksi. Jika tidak pergi dengan ku, kau berangkat saja dengan sopir." ucap Julian sedikit tegas.


Mendengar nada suara Julian agak tinggi, barulah Jenna menoleh ke arah Julian.


Begitu kedua mata itu bertemu, baik Jenna dan juga Julian memancarkan pandangan yang berbeda.


Julian memandang Jenna penuh rasa kawatir sedangkan Jenna memandang Julian dengan pandangan sarkatis.


"Aku bukan orang kaya seperti dirimu yang punya banyak uang dengan gaya hidup mewah. Aku sudah terbiasa hidup sederhana. Menaiki taksi sudah biasa untuk ku. Kau tidak perlu secemas itu dengan ku. Lebih baik simpan rasa cemas mu untuk seseorang yang lebih membutuhkan mu." jawab Jenna tegas.


Dan gaya bicara Jenna yang ketus itu tak pelak membuat Julian kaget.


Karena istri nya itu kembali memasang sifat ketus nya seperti awal awal mereka dulu kenal.


"Aku hanya perhatian dengan mu Jen." jawab Julian lembut.


"Oh, terimakasih atas perhatiannya. Aku berangkat dulu." ucap Jenna yang kemudian berinsut dari kursi dan meraih tas kerjanya dan juga blazernya.


"Jenna." pangil Julian. Kemudian ia berjalan ke arah Jenna dan kemudian memeluk Jenna dengan erat.


Ingin rasanya Jenna memberontak, tapi ia menahan diri. Tidak ingin masalahnya di ketahui banyak orang terlebih banyak asisten rumah tangga yang berlalu lalang pagi itu.


"I love you, Jen." ucap Julian, kemudian ia menangkup wajah Jenna dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Aku sudah terlambat, aku pergi dulu." ujar Jenna yang kemudian melepaskan diri dari hadapan Julian yang kala itu sedang menangkup wajahnya.


Julian pun melepaskan kepergian istrinya dengan seribu tanda tanya besar pada perubahan sikap Jenna pagi itu.


__ADS_2