
Valerie kembali ke Penthouse ketika waktu sudah menjelang petang.
Sesampainya di Penthouse, Vale langsung naik kelantai atas menuju kamarnya.
Sesampainya ia di kamar, kemudian Vale langsung berjalan ke arah kamar mandi.
Saat Vale sedang membuka pintu kamar mandi dan bermaksud untuk membersihkannya diri. Seseorang sudah ada di dalam kamar mandi dan bahkan tengah mandi dan berdiri di bawah guyuran air shower. Sontak, hal itu membuat Vale kaget.
"Mr," seru Valerie.
"Aku pinjam kamar mandi mu." ujar Julian santai, yang kala itu sedang mengeramasi rambutnya dengan shampo.
Tak perlu bercakap lagi, Valerie langsung kembali menutup pintu kamar mandi. Dan kemudian ia menggelengkan kepalaku.
Sedangkan Julian sendiri nampak tersenyum puas. Karena sudah membuat Valerie kaget mendapati dirinya yang kala itu tengah bertelanjang saat mandi.
Vale pun kemudian duduk di tepian ranjang untuk mengatur nafasnya yang tadi di buat kaget oleh keberadaan Julian di kamarnya.
Sesaat kemudian, Julian keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Kenapa tidak mandi bersama saja tadi. Kamu malah keluar lagi." ujar Julian yang keluar kamar mandi dengan rambut yang basah.
"Tidak lucu." sergah Valerie.
"Kamu dari mana saja, pesan ku tidak kau balas." tanya Julian yang masih bertelanjang dada dan berdiri tepat di hadapan Vale.
__ADS_1
Valerie yang sudah lama tak melihat tubuh kekar Julian merasa sedikit salah tingkah.
Pasalnya, dirinya dulu sudah terbiasa dengan pemandangan yang seperti itu.
Bahkan ia sering tidur berduaan dengan Julian yang punya kebiasaan tidur tak mengenakan baju. Dan dirinya selalu tidur berbantalkan dada bidang Julian.
"Aku hanya keluar sebentar tadi. Tubuh ku lengket, aku mau mandi dulu." ujar Vale yang kemudian berlaku ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Julian kemudian tersenyum tipis melihat tingkah laku kaku istri kontraknya itu.
Beberapa saat kemudian, Valerie keluar kamar mandi dengan memakai bathrope.
Julian yang kala itu duduk di ranjang sambil memeriksa ponselnya lalu meletakkan ponselnya dan memangil Valerie untuk duduk di sisi tempat tidur bersamanya.
Dan Vale pun menurut. Pandangan mata Julian kini terfokus memperhatikan lekuk tubuh Valerie yang semakin hari semakin tambah montok.
"Ada apa?" tanya Vale pada Julian yang saat itu memandangi dirinya tak berkedip. Julian kemudian tersenyum tipis.
"Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau rasakan? pinggang belakang mu masih terasa pegal, kaki mu suka kesemutan, apa yang kau keluhkan? Malam ini aku akan tidur di sini. Aku ingin menemani mu." ujar Julian lembut.
"Kau bisa tidur di kamar ruang tamu." suruh Vale.
"Mentang-mentang ini Penthouse mu, sekarang kamu sudah berani memerintahkan ku ya. Dan berani mengusir ku." celoteh Julian bercanda.
"Memangnya apa yang bisa aku lakukan dan harapan kan. Bukankah kamu sendiri yang membuat aku harus bersikap seperti ini. Apa kau lupa, aku pernah memohon kepada mu. Aku bisa saja menjadi istri mu yang seharusnya. Yang melayani mu lahir dan batin. Tapi kau sudah menolak itu kan. Aku tipe orang yang mengikuti kata hati, bukan orang yang mengikuti hawa napsu. Jika aku yakin dengan apa yang aku ingin jalani. Maka aku sudah siap dengan segala konsekuensinya. Termasuk perasaan mencintai yang tak akan pernah sampai kepada mu Julian."
__ADS_1
Mendengar itu, Julian langsung tertegun.
"Maafkan aku Valerie."
"Tidak perlu minta maaf. Aku sudah terbiasa menanggung luka hati. Jangan merasa bersalah. Aku yang salah." ujar Vale apa adanya.
Entah kenapa, tiba tiba Julian meraih tubuh Valerie dan meraup nya kedalam pelukannya.
Julian memeluk erat tubuh Valerie yang masih memakai bathrope itu.
"Jangan bersedih, aku tidak ingin janin yang ada di dalam kandungan mu merasa sedih juga."
"Aku tidak sedih, aku sudah terbiasa dengan perasaan ku sendiri. Dan janin ini pun sudah tau jika Mommy nya wanita kuat. Dia harus tau, jika aku sangat mencintainya. Aku sudah jatuh cinta denganya. Tendangannya, gerakannya, dan semua rasa sakit selama aku mengandungnya sudah aku jadikan sebagai kenangan jika aku dan dia akan selalu terhubung. Meskipun nanti aku akan berpisah dengannya." tutur Vale, mengungkapkan perasaannya tentang janin yang ia kandung.
Julian kemudian mengendurkan dekapannya terharap Vale. Dan berganti menatap wajah Vale dengan begitu intens.
"Valerie, sampai kapanpun, kau akan tetap menjadi Ibu dari anak ini. Dia tidak akan hadir di rahim mu jika tidak ada peran dari diri mu juga. Kita yang menghadirkan dia. Meskipun nanti dia akan bersama ku dan jauh dari mu. Aku janji, dia adalah anak spesial yang pernah aku miliki. Jangan takut, nama mu akan selalu aku bisikkan terhadapnya."
"Jenna pasti akan mengganti kan posisi ku sebagai ibunya." tukas Vale yang kini kedua mata sudah sembab.
"Jenna mungkin nanti memang akan menjadi Ibu sambungnya. Tapi aku janji, aku tidak akan mematikan nama mu dalam ingatan anak kita nanti."
"Bagaimana jika kau nanti seandainya punya anak dari Jenna. Pasti kau tidak akan sayang lagi dengan anak ini." ujar Vale lagi semakin di buat sedih dengan pikirannya sendiri.
"Kau bicara apa Vale." ujar Julian, yang kemudian ia berinsut untuk bisa lebih dekat dengan Valerie dan kemudian ia memeluk dengan erat lagi wanita muda yang sebentar lagi akan berusia 21 tahun itu.
__ADS_1
"Aku akan tetap menyayanginya. Bahkan akan lebih aku perhatikan, aku berjanji. Sudah ya, jangan sedih lagi. Kita kebawah makan malam dulu. Setelah itu kau istirahat. Malam ini aku akan tidur di sini. Dan aku tidak terima pengusiran." ujar Julian tegas.