Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Season 2 New life begins : Perasaan yang berlawanan


__ADS_3

Vale sore itu janjian dengan Jenna untuk ketemuan. Karena mengingat pertemuan itu sangat penting untuk membahas pekerjaan.


Akhirnya, di toko kue milik Mama nya Jenna, menjadi tempat mereka ketemu sore itu.


Begitu bertemu, baik Vale dan Jenna saling menautkan pipi sebagai salam hangat.


Jenna kemudian mempersilahkan Vale untuk duduk di salah satu kursi dan menyuruh karyawannya untuk membawa kan Vale minuman dan juga kue.


Secara profesional, Vale dan Jenna membahas tentang pekerjaan kala itu.


"Jadi, lusa kita harus meninjau proyek Jen. Aku harap kau bisa ikut." ujar Vale.


"Aku tidak tau, apakah aku bisa ikut meninjau proyek. Saat ini aku sedang menjaga toko kue milik Mama. Mama saat ini sedang berada di Jogja mengunjugi kerabat kami di sana yang sedang sakit. Dan untuk sementara, aku dan Louis juga akan tinggal di apartemen." jawab Jenna menjelaskan.


"Julian mungkin bisa ikut meninjau lokasi proyek nya. Aku akan wakil kan diri ku padanya." ucap Jenna.


"Aku tidak akan pergi ke sana hanya dengan Julian. Aku akan atur ulang jadwalnya kalau begitu." ucap Vale, merasa tidak enak jika ia pergi ke lokasi proyek hanya berduaan dengan Julian.


"Memangnya kenapa Vale?" tanya Jenna.


"Aku merasa tidak enak hati dengan mu." ucap Valerie, kemudian Jenna tersenyum tipis menanggapi ucapan Vale.


"Jangan merasa tidak enak hati dengan ku Valerie. Aku harus bersikap profesional. Kau pun juga harus profesional. Lagi pula, tenang saja. Aku tidak akan mencurigai mu."


"Antara aku, kau dan juga Julian, kita akan terus saling berkoneksi satu sama lain. Kita punya keterkaitan yang mungkin terlihat rumit. Tapi sebenarnya, aku sudah benar-benar move on dari Julian. Jadi aku harap, kau tak perlu takut jika mungkin Julian akan macam macam dengan ku."


"Entah, aku pikir Julian juga menyukai mu Vale. Aku yakin, dia masih memendam perasaannya terhadap mu."


"Jangan terlalu yakin dengan asumsi mu Jen. Bukankah dia sudah memilih mu. Kau sudah memilikinya. Kalian sudah bersama, hidup bahagia bersama dengan putera kalian."


"Mungkin aku terlalu ke kanak kanakan jika hanya soal video dan foto itu menjadikan sikap ku berubah terhadap Julian. Tapi bagi ku, apa yang Julian lakukan itu adalah suatu hal yang menyakiti ku. Seseorang mencintai mu dan ternyata seseorang itu juga mencintai orang lain. Apakah jika kau dalam posisi ku, kau tidak kesal. Sedangkan ia punya banyak kesempatan untuk bisa tetap dekat dengan orang yang ia sukai. Aku tidak berfikir buruk dengan mu Vale. Mungkin aku bisa mempercayai mu. Tapi maaf, aku tidak bisa percaya dengan Julian. Karena sebelum ini. Dia juga sudah pernah membohongi ku dulu. Dia merahasiakan pernikahan nya dengan mu Dan menikahi ku secara siri. Julian sangat ahli dalam kebohongan. Dan aku tidak bisa percaya lagi semudah itu pada Julian." jelas Jenna.


Sebenarnya Vale ingin bicara banyak hal lagi pada Jenna untuk menjelaskan dan memberikan masukan.


Tapi hal itu Vale urungkan. Bagaimanapun ia tidak berhak untuk ikut campur dalam urusan pribadi antara julian dan Jenna.


Meskipun ia tau, sebenarnya dirinya juga terseret dalam masalah mereka.


"Aku berharap kalian bisa menyelesaikan masalah kalian dengan baik. Kalian pasangan yang serasi."


"Terimakasih Vale untuk dukungan mu, aku sangat menghargainya. Apakah Elle menghubungi mu?"


"Iya, dia menelpon ku dan dia ingin bersama ku."


"Sebelum pergi tadi, aku sudah berpesan pada nya untuk menunggu Daddy-nya atau menelpon mu."


"Aku banyak berhutang budi dengan mu Jen. Selama aku meninggalkan Elle. Kau banyak berperan dalam mendidik dan juga menjaga Elenor. Dia tumbuh dengan baik dan juga punya inner beauty yang membuat ku kagum. Dan hal itu tak terlepas dari peran mu sebagai ibu sambungnya selama ini."


"Aku menyayangi Elenor. Dia gadis kecil yang luar biasa. Louis ku sangat menyayanginya. Kau juga ibu yang baik. Semua ibu di dunia ini pasti akan melakukan apa saja demi buah hatinya."

__ADS_1


"Baiklah, sudah waktunya aku pamit. Aku akan langsung menjemputnya Elle. Dan untuk kunjungan kerja lusa nanti aku akan atur ulang jadwalnya. Agar kau juga bisa ikut meninjau nya."


"Kau tidak perlu atur ulang jadwalnya. Karena waktunya sudah mendesak Vale. Minggu depan semua harus sudah beres. Jadi, memang harus di selesaikan tepat waktu. Jika ada urusan pekerjaan yang kurang jelas untuk kerja sama ini. Kau bisa kirimkan email nya pada ku. Meskipun aku tidak ke kantor, aku tetap mengecek pekerjaan kantor dari laptop ku."


"Baiklah, aku pamit Jen. Salam untuk Louis."


"Akan aku sampaikan salam mu untuk Louis. Hati hati di jalan." Ucap Jenna ramah.


Padahal sesungguhnya, Jenna masih menaruh keraguan untuk bisa percaya pada Vale seratus persen.


Dari sisi hatinya yang lain. Jenna masih merasa yakin, jika Vale juga masih ada rasa dengan suaminya.


Tapi apa daya, keberadaan Elenor membuatnya sangat dilema.


Elenor adalah alasan utama bagi Julian dan Valerie akan tetap terus menjalin komunikasi.


Jenna meyakini Julian masih menyukai Vale dan mungkin juga sebaliknya. Bukan tidak mungkin mereka berdua akan tetap bisa bahagia dengan status kedekatan mereka bukan.


Meskipun mereka akan sama sama tidak akan mengakui itu. Tapi bisa saja Vale dan Julian merasakan kebahagiaan karena tetap bisa saling dekat.


Hal itulah yang membuat Jenna sangat merasa tidak di hargai oleh Julian.


Vale kemudian membereskan beberapa file yang tadi mereka bahas. Yang masih berserakan di atas meja. Lalu ia memasukkannya kembali ke dalam tas kerjanya. Setelah itu Vale berpamitan pada Jenna.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Elle." seru Vale dari balik pagar gerbang, ketika ia sudah tiba di Mansio untuk menjemput Elenor.


Dan membuat Elle menunggu dari dalam gerbang di temani babysister nya.


"Siap untuk bersama Mommy, ayo." ujar Vale dari balik gerbang. Elle dengan begitu semangat keluar dari gerbang dan langsung memeluk Valerie.


"Miss you Elle." ucap Vale sambil memeluk putrinya dengan sangat erat.


"Apa Daddy tau jika Mommy akan bawa Elle?"


"Daddy sudah izinkan Mommy untuk bawa Elle. Tanpa Daddy izinkan pun Mommy akan culik Elle. Elle kan anak Mommy." kelakar Vale pada Elenor. Elenor tersenyum manis menangapi ucapan Vale.


Valerie pun kemudian membawa Elle pulang bersamanya.


Dan sebelumnya, Vale telah berpesan pada babysister dan juga sopir pribadi Elenor untuk menjemput Elle seperti biasa esok hari untuk ke sekolah.


🍁🍁🍁🍁🍁


Malam itu Jenna sedang menyiapkan makan malam untuk dirinya dan juga Louis.


Louis saat itu menunggu makan malamnya dengan bermain main di ruang tamu.


Ketika Jenna sedang sibuk memasak di dapur, bell pintu apartemen berbunyi.

__ADS_1


"Ma, seseorang datang." teriak Louis dari ruang tamu.


Jenna sejenak berfikir, apakah itu Mama nya. Tapi kata Mamanya, dia kan tingal lebih lama d Jogja.


Sambil berfikir, Jenna melepaskan epron yang tadi ia kenakan dan ia bergegas ke ruang tamu untuk membukakan pintu.


Begitu Jenna membukakan pintu, seseorang berdiri sambil membawa buket bunga mawar merah yang indah dan menutupi wajahnya dengan buket bunga tersebut. Dari postur tubuhnya, Jenna sudah tau siapa itu.


"Good night my beautiful wife." sapa Julian sambil tersenyum manis pada Jenna.


"Papa." Louis tau tau sudah berteriak memanggil Julian. Dan ia langsung berlari menghamburkan dirinya ke arah Julian.


"Hai, anak Papa." sapa Julian, yang langsung mengedong Louis di sisi lengannya.


"Ini untuk mu Jen." ucap Julian memberikan buket bunga mawar merah itu pada Jenna.


"Terimakasih." ucap Jenna menerima buket bunga mawar merah yang Julian bawakan untuknya.


"Ayo Papa kita main, Louis punya mainan baru. Mommy tadi belikan aku mainan." seru Louis sangat antusias menunjukkan mainan baru nya.


"Oya, mari kita liat." ucap Julian.


Julian pun kemudian masuk dan menangapi rasa antusiasme Louis, saat anak laki-laki nya itu menunjukkan mainan barunya.


Sedangkan Jenna kembali ke dapur untuk melanjutkan memasaknya, sabil membawa buket bunga yang Julian berikan.


Ketika Jenna sedang fokus mengaduk aduk sup Crema jagung yang ia buat untuk Louis. Tiba-tiba dua tangan kekar melingkar tepat ke pinggangnya.


Jenna pun tersentak kaget dengan dekapan posesif dari belakang yang Julian lakukan.


"Jangan kaget begitu sayang. Kau terlalu banyak pikiran. Sampai sampai kau melamun seperti itu." bisik Julian, sambil meletakkan dagunya ke pundak Jenna dengan masih memeluk pinggang Jenna dengan posesif.


"Bisakah kau tidak seperti ini. Aku susah bergerak." ptotes Jenna.


Julian kemudian mengendurkan pelukannya.


"So, jadi kau kabur dari rumah." ucap Julian bercanda.


"Aku tidak kabur, aku hanya kangen tinggal di apartemen. Mama sedang berada di Jogja. Aku dititipkan Mama untuk mengecek toko kue."


"Jangan lama lama ya sayang, aku pasti akan kesepian di Mansion sendirian. Apa lagi Elenor juga sedang ingin sama Mommy nya."


Jenna tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Julian.


"Pangil Louis, makan malamnya sudah siap." ujar Jenna yang saat itu ia hendak berlalu. Tapi Julian menarik tangan Jenna. Sehingga tubuh Jenna pun terhuyung dan menubruk dada bidang Julian yang saat itu masih mengenakan kemeja kerjanya.


"Apa kau masih marah padaku." tanya Julian pada jenna, sambil menatap wajah Jenna dengan begitu intens.


"Louis sudah lapar,"

__ADS_1


"Aku tanya, apa kau masih marah padaku."


Julian dan Jenna pun saling tatap. Dan keduanya nampak sama sama saling mempertahankan persepsi serta ke ego an mereka masing-masing.


__ADS_2