
Suara ketukan pintu mengagetkan Valerie ketika ia sedang sibuk dengan laptop yang ada di pangkuannya. Saat itu dia sedang mengerjakan tugas kuliah.
Aise menyembulkan kepalanya dari balik pintu sambil membawakan sebuah nampan berisikan sarapan pagi untuk Valerie.
"Pagi non Vale, saya mengantarkan sarapan untuk non Valerie."
"Pagi Bik Aise, masuk lah. Aku sedang mengerjakan beberapa tugas kuliah yang aku harus segera kirim ke dosen." ujar Vale menyahuti Aise dengan senyum yang kini nampak cerah menghiasi wajah cantiknya.
"Bukankah Non Vale harus beristirahat. Jangan terlalu capek Non." ucap Aise, sambil berjalan mendekati Valerie yang saat itu tengah berada di ranjang, bersandar pada headbord tempat tidurnya.
"Yang sakit fisik ku Bik bukan otak ku." ujar Vale kemudian tersenyum tipis pada Aise.
"Bagaimanapun, aku harus lulus kuliah. Aku tidak ingin putus kuliah. Aku sudah berjuang dengan susah payah dalam mendaftarkan diri di universitas itu dulu. Aku harus selesaikan semester ini dengan baik. Sekarang aku sedang berencana untuk mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi kuliah di Jerman. Kebetulan di kampus ku sedang mengadakan beasiswa untuk mahasiswa dan mahasiswi yang berprestasi. Aku sedang ingin mendapat beasiswa itu. Doakan aku ya Bik, supaya aku bisa mendapatkan beasiswanya itu." ucap Vale pada Aise.
"Bibik doakan semoga Non Vale bisa mendapat beasiswa itu. Semangat ya Non, tapi sebaiknya Non sarapan dulu. Taruh dulu laptopnya, saya harus memastikan Non Vale untuk bersarapan. Tuan Julian yang menyiapkan ini semua."
"Apa dia masih ada di bawah?" tanya Vale penasaran.
__ADS_1
"Tuan masih ada di bawah. Dia sedang berenang di kolam renang. Ini juga yang nyuruh adalah Tuan Julian. Dia menyuruhku untuk membawakan sarapan ini untuk Non Vale. Kata Tuan Julian, ini roti kesukaan Non Vale. Roti bakar dengan selai blueberry, segelas susu hamil, buah-buahan dan juga telor rebus."
Vale kemudian menengok kearah nampan yang penuh dengan makanan yang Aise taruh di atas nakas, di samping tempat tidur.
"Terimakasih kasih Bik." ucap Vale, berterimakasih kepada Aise karena telah membawakan sarapan untuknya.
"Bik Aise," pangil Valerie.
"Iya Non." jawab Aise yang kala itu hendak berlalu dari kamar.
"Ada sesuatu yang ingin aku obrolan kan dengan Bibik. Kemarilah, duduk lah di sini." ucap Vale sambil menepuk sisi tempat tidurnya.
"Apa Bibik punya anak ?"
"Punya Non, anak Bibik ada dua, laki laki dan perempuan. Mereka semua sudah pada berkeluarga, hidup di kampung halaman Bibik. Mereka sudah pada hidup mandiri. Bibik di desa hidupnya pas-pasan Non. Tidak ingin menjadi beban anak-anak, saya memutuskan untuk pergi ke kota dan bekerja sebagai asisten rumah tangga. Suami Bibik juga sudah meninggal. Dari pada Bibik sendirian di kampung. Lebih baik saya mencari uang saja."
"Apa anak anak Bibik tidak peduli dengan Bibik, sampai sampai membiarkan Bibik bekerja di kota."
__ADS_1
"Anak Bibik peduli, hanya saya saja yang ingin seperti ini Non. Saya tidak ingin menjadi beban anak anak saya. Selama saya bisa dan kuat, kenapa tidak saya bekerja saja. Itung itung, saya mengisi waktu Non." jelas Aise, menjelaskan alasannya ia masih bekerja saat usianya sudah tua.
"Bagaimana rasanya punya anak Bik?"
"Punya anak itu rasanya tidak bisa didiskripsikan Non. Ketika anak-anak masih kecil mereka masih sangat membutuhkan kita, sebagai orang tua. Anak-anak adalah penyemangat hidup, anak-anak adalah selimut kebahagiaan. Anak anak adalah alasan kita sebagai orang tua akan melakukan apa saja demi anak-anak. Anak anak itu selalu membutuhkan orang tua nya untuk di jadikan tempat berlindung. Sebagai seorang ibu, dulu Bibik rela melakukan apapun demi anak anak Bibik. Mereka tergantung dan bergantung pada ibu dan bapaknya." jelas Aise.
"Jadi, apa yang aku lakukan kemarin itu sangat terkutuk ya Bik." ucap Vale dengan nada penuh penyesalan.
"Jujur, apa yang Non lakukan kemarin itu Bibik tidak menduganya. Saya tidak tahu alasan Non Vale kenapa ingin menggugurkan kandungan. Bukankah seharusnya Non bahagia dan senang punya anak dari Tuan Julian. Dia sangat baik, dan kaya raya. Non juga sudah memiliki semuanya. Selama ini saya lihat hubungan kalian sangat baik sangat mesra. Maaf ya Non, bukannya saya ingin ikut campur dan ingin tahu. Tapi saya heran, kenapa setelah kepergian Tuan Julian ke luar negeri hubungan kalian seperti berubah?" Vale nampak memandang lekat pada Aise. Sambil menghela nafas panjang, Vale kembali berucap.
"Aku dan Julian bukanlah pasangan suami istri yang sebenarnya Bik. Aku menikah dengannya karena aku merelakan diri untuk bisa memberikan dia anak. Aku memang menikah secara sah. Tapi pernikahan kami hanyalah pernikahan kontrak. Aku menyewakan rahim ku untuk bisa mengandung benihnya, anak nya. Jadi anak ini adalah anak Julian. Sebagian imbalannya, aku mendapatkan semua ini. Penthouse, mobil mewah, tabungan, deposito dan bahkan saham. Dalam perjanjian kontrak itu, aku di larang jatuh cinta pada Julian. Tapi aku ternyata mencintainya. Karena dia tak bisa membalas cinta ku, maka aku berfikiran pendek ingin mencelakai janin ini." tutur Valerie yang kemudian menyentuh perutnya.
"Tapi sekarang aku sadar, apa yang aku lakukan kemarin adalah suatu tindakan yang bodoh yang konyol dan kejam. Jika janin ini benar-benar gugur kemarin. Seumur hidup aku pasti akan hidup dalam penyesalan. Aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu lagi." kini air mata Valerie sudah menganak sungai.
Pipinya yang putih mulus basah akan air mata yang begitu deras keluar dari kedua pelupuk matanya.
"Aku sadar, aku sudah kejam kepada janin ku yang tak bersalah ini. Dia tak bersalah, dia ada bukan karena zina. Saat itu aku belum memahami arti seorang anak. Tapi setelah sang dokter memberikan aku video lewat gambaran-gambaran di USG saat itu, aku merasa sangat bersalah. Dia yang sangat tergantung dengan aku, justru aku ingin membunuhnya. Dari sana aku sadar, aku tidak akan melukainya lagi. Aku sangat menyesal."
__ADS_1
"Syukurlah kalau Non Vale sudah menyesalinya. Sekarang bersemangatlah untuk mengandungnya. Nikmati masa masa kehamilan dengan bahagia Non. Dia Janin yang hebat, kuat. Non juga harus seperti itu." kata kata Aise seolah menjadi pecut semangat bagi Valerie.
"Aku ingin dia lahir di dunia dengan selamat. Aku ingin melihatnya Bik. Aku ingin melihat wajahnya, memeluknya. Meskipun nanti aku harus menyerahkan anak ini pada Julian." ucap Valerie yang kini sudah bertekad untuk kembali bersikap profesional mengandung benih Julian Alexander.