Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Ungkapan perasaan


__ADS_3

Berdiri membeku di depan cermin yang ada di kamar mandi, Julian sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


Pikirkan nya saat ini campur aduk. Ada rasa tak enak hati yang ia rasakan pada Jenna. Setelah apa yang ia sudah lakukan pada Jenna.


Ia masih ingat semua uangkapan dan kata kata yang beberapa waktu lalu ia ucapkan pada Jenna.


Apakah ia akan menarik kata kata itu. Tentu saja tidak. Justru Julian berkeyakinan Jenna akan menerima dirinya.


Akan tetapi, bagaimana dengan status perkawinannya dengan Vale.


Mengingat bagaimana keras kepalanya sifat Jenna dan juga bagaimana wanita itu susah untuk di dekati. Membuat Julian berfikir ulang jika ia harus berkata jujur dengan pernikahan kontraknya dengan Valerie.


Seandainya Julian jujur, sudah tentu kesempatan dirinya untuk mendapatkan Jenna pasti hilang.


Jenna adalah seseorang yang berfikir secara rasional.


Wanita itu sangat teliti dalam menyikapi suatu hal. Sudah pasti dia akan menolak dirinya jika ia berkata ia sudah menikah walau itu hanya kontrak.


Julian kembali membasahi wajahnya dengan air. Mencoba untuk membuat dirinya tentang.


"Ayo Julian, ini adalah kesempatan mu untuk bisa mendapatkan Jenna. Valerie memang secara hukum adalah istri sah mu. Tapi kau tidak ada ikatan perasaan dengan nya. Kau tidak akan menyakiti hati Vale jika kau bersama Jenna. Bukankah Vale sudah tau kau tak mencintainya. Dan sekarang adalah kesempatan mu Julian. Untuk bisa mendapatkan hati Jenna. Kau tak perlu berkata jujur pada Jenna untuk hubungan mu dengan Vale. Toh pernikahan itu hanyalah pernikahan kontrak. Yang kapan saja bila kau mau, bisa berakhir. Bahkan, jika Vale sampai pada saat ini belum juga hamil. Kau bisa membatalkan perjanjian kontrak itu. Melepaskan Valerie dan kemudian kau bisa bersama Jenna. Ayo Julian, lakukan sesuatu untuk dirimu. Kapan lagi kau punya kesempatan sebaik ini." desis Julian dalam hati.


Setelah beberapa saat berada di dalam kamar mandi. Julian akhirnya keluar dari kamar mandi dengan rambut yang terlihat basah.

__ADS_1


Saat ia masuk kembali ke dalam ruangan kamar hotel. Jenna sudah duduk di tepian ranjang dengan kembali mengenakan blazer nya.


Dengan langkah pelan, Julian menghampiri Jenna dan ikuti duduk di sisi rajang, di samping Jenna.


"Jen, aku minta maaf. Aku minta maaf karena telah lancang menyentuh mu. Aku tadi sedikit mabuk. Tapi, kata kata ku, uangkapan perasaan ku terhadap mu, itu adalah kebenaran. Aku tidak menarik kata kata ku yang tadi. Aku memang menyukai mu, dan aku meminang mu sekarang dengan keadaan sadar. Menikahlah denganku Jen." ucap Julian, yang kemudian meraih tangan Jenna dan menggenggam tangan Jenna dengan erat.


"Kau serius." terang Jenna.


"Aku serius." jawab Julian tegas.


"Sebenarnya aku punya perasaan terhadap mu Julian. Karena kita sudah saling tau, tidak ada alasan lagi untuk ku untuk tidak berkata jujur. Jika kau memang serius dengan ku. Bisakah kau sepulang dari sini, kau temui ibu ku dan minta izin padanya. Aku sudah berumur, aku tidak ingin menjalani sebuah hubungan yang tidak jelas. Seperti kata mu beberapa waktu lalu. Aku butuh pendamping hidup kan. Dan sekarang mungkin aku sudah menemukan nya. Jika kau serius dengan ku. Maka, izinlah pada ibu ku untuk meminang ku." ujar Jenna menatap wajah Julian dengan pandangan lembut.


"Aku akan mendatangi ibu mu. Aku akan tunjukkan jika aku serius." terang Julian serius.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jakarta


Valerie terbangun di tengah malam karena ia merasa sangat haus kala itu. Menyibakkan selimut yang membungkus tubuhnya. Vale dengan kaki telanjangnya berjalan kearah nakas dan mengambil segelas air putih yang sudah selalu di siapkan oleh Naina di sana.


Setelah meneguk segelas air putih hingga tandas. Vale kemudian merasa lapar.


"Sudah tengah malam begini kenapa aku merasa lapar?" serah Vale.

__ADS_1


Karena rasa laparnya tidak bisa di tahan. Vale memutuskan untuk turun ke dapur. Karena sudah malam, dia tidak enak hati untuk membangunkan Naina ataupun Aise.


Valerie membuka lemari pendingin dan mencari sesuatu di sana untuk bisa ia makan.


Tapi makana yang ada di lemari pendingin tidak ada yang ia minati.


Vale kemudian berjalan ke arah meja minibar di ruang makan. Dia menemukan sebuah makanan sereal yang masih utuh dalam brungkusan.


Mengambil satu mangkok kosong dan susu fresh dari dalam lemari pendingin. Vale mencampur sereal itu dengan susu, lalu ia menikmati hasil buruannya di tengah malam itu dengan sangat lahap.


"Sejak kapan aku suka sereal?" ujar Vale, berguman sendiri.


Tidak banyak pikiran, Vale dengan cepat menghabiskan makanannya.


Setelah ia selesai menyantap satu mangkok sereal. Valerie kemudian kembali ke kamarnya.


Sambil duduk di tepi ranjang, Vale meraih ponselnya yang ia geletakkan di atas nakas.


Matanya Vale menyempit, saat melihat ada pangilan video call yang tak terjawab olehnya.


"Mr, ada angin apa kau ingat dengan ku. Apakah kau sudah mulai tertarik dengan ku." pikir Vale.


"Selamat Mr, kau sudah menjadi Daddy." ucap Valerie sambil tersenyum dan secara refleks menyentuh perutnya.

__ADS_1


__ADS_2