
"Bagaimana dengan rasanya sayang? Enak tidak?" Tanya Vale pada Elenor. Ketika mereka sedang menikmati makan siang di meja makan di rumah sederhana milik Vale.
"Enak Mommy, aku suka Mashed potatonya."ujar Elle sambil menyedoki kentang tumbuk yang Vale buat ke mulutnya.
"Coba yang ini juga sayang, Mommy juga buatkan ini untuk mu." Lalu Vale mengambilkan ayam teriyaki yang ia buat ke piring Elenor.
Siang itu, Valerie benar benar merasa sangat bahagia. Karena akhirnya, ia bisa menghabiskan waktu bersama dengan putrinya. Berduaan saja di rumah.
Ia bisa merasakan chemistry antara dirinya dan juga Elle sudah benar-benar bersatu. Jika sebelumnya sikap Elle masih kaku denganya. Tapi kini, Elle sudah tak ragu untuk bertanya dan mengajak Vale untuk bicara.
Elenor menceritakan tentang kegiatannya di sekolah. Elle juga bercerita tentang beberapa teman baik nya dan juga beberapa teman yang menyebalkan di sekolah.
Elenor Valencia Alexander
Seusai makan siang, Vale mengajak Elenor untuk ke kamarnya.
Vale ingin bersantai sambil tidur tiduran dengan sang putri di kamar.
"Elle mau nonton apa sayang. Mommy bisa putar kan beberapa film anak anak untuk mu. Kita bisa nonton film cartoon atau apa saja. Asal kau happy sama Mommy." ucap Valerie, sambil menyalakan televisi yang ada di kamarnya.
"Aku tidak terlalu suka nonton Mommy. Aku lebih suka membaca buku." jawab Elle yang saat itu sudah duduk bersila di atas ranjang Mommy nya.
"Oke, ada beberapa buku cerita yang sudah Mommy belikan untuk mu. Semua ada di kamar mu. Mommy akan ambilkan beberapa, dan akan membawanya kemari." ujar Vale yang kemudian ia bangkit dari tempat tidur.
"Elle akan ambil sendiri nanti Mommy. Kata Papa, jika Elle bisa lakukan beberapa hal sendiri. Elle tidak perlu minta tolong. Kecuali Elle membutuhkan bantuan." ujar Elenor menjelaskan. Dan sikap Elle membuat Vale bangga.
Vale kemudian duduk di depan Elenor dan memegangi kedua tangan sang putri.
"Apa Papa sangat sayang pada Elenor?"
"Papa sangat sayang pada Elle, dan Elle juga sangat sayang sama Papa."
"Lalu bagaimana dengan Mama Jenna?" tanya Vale menyelidik.
"Mama Jenna juga baik." jawab Elenor.
"Mommy minta maaf ya sayang, karena Mommy pernah meninggalkan Elenor."
"Papa sudah ceritakan pada ku kenapa Mommy saat itu pergi. Tak apa Mommy, sekarang Mommy sudah kembali. Dan Elle harap, Mommy tidak akan pergi lagi." ucap Elle penuh harap.
"Elle," sebut Vale, yang kini sudah tak bisa berkata-kata lagi. Vale langsung bergerak dan memeluk dengan erat putri nya.
"You are my everything, Elenor" ucap Vale sambil memeluk putrinya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah puas bersantai menikmati waktu dan juga bercengkrama di atas tempat tidur besama. Sore harinya Vale mengajak Elenor untuk berbelanja di supermarket.
Vale ingin memenuhi lemari pendinginnya dengan berbagai macam makanan dan bahan lainnya.
__ADS_1
Adanya Elenor di rumah membuat Vale seakan akan merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang single mother yang sesungguhnya.
Sesampainya di supermarket, Vale langsung mengambil sebuah troli dan kemudian mengajak Elenor berkeliling untuk berbelanja.
Valerie dan juga Elenor menyusuri lorong demi lorong yang ada di supermarket tersebut untuk mendapatkan barang yang mereka cari.
Vale menyuruh Elle untuk membeli apa saja yang ia inginkan. Dan memasukkan barang yang Elle inginkan ke dalam troli.
Vale sendiri juga tengah sibuk berbelanja untuk keperluannya.
Kini trolinya sudah di penuhi dengan barang barang belanjaan. Berbagai makanan, bahan bahan olahan dan juga makanan siap saji lainnya telah memenuhi troli belanjaan Vale saat itu.
Acara belanja kali itu dirasa Valerie sangat menyenangkan. Karena ia bisa berbelanja dengan putrinya.
Sambil mendorong troli nya yang sudah penuh, Vale masih setia mengikuti Elle yang masih nampak sibuk ingin membeli sesuatu.
Tapi hal itu tidak membuat Vale keberatan, justru ia merasa bahagia telah menjadi Ibu sepenuhnya untuk Elle.
Suatu perasaan dan angan-angan yang selama ini dia inginkan.
"Mommy, aku mau beli es cream yang di sana itu." ujar Elle, sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah stand es cream.
"Boleh, kau bisa beli apa saja sayang." jawab Vale.
Elenor pun kemudian langsung berlari ke arah tempat tersebut.
Ketika Elenor sedang berlari, tiba-tiba dari arah yang berlawanan ada seorang pria yang hendak lewat. Dan akhirnya, Elenor yang pada saat itu berlari tak sengaja menubruk pria tersebut.
Valerie yang melihat putri nya tersungkur langsung meninggalkan trolinya dan segera bergegas menghampiri Elle.
"Kau tidak apa-apa." tanya seorang pria yang membantu Elle bangkit dari terjatuh di lantai.
"Elle, kau tak apa apa sayang." tanya Valerie dengan nada penuh khawatir. Begitu ia kini telah menghampiri putrinya.
"Aku tidak apa-apa apa Mommy," ucap Elenor.
Pria itu kemudian menyempitkan kedua matanya. Saat mengetahui yang menabraknya tadi ternyata adalah putri Valerie.
"Valerie, apa dia putri mu?" tanya Edward.
"Pak Edward, ternyata anda." ucap Vale, tak menyangka jika yang pria itu ternyata Edward.
"Apa putri mu tidak apa apa, tadi dia tersungkur." ucap Edward khawatir.
"Dia baik baik saya, hanya lututnya sedikit memar. Maafkan putri ku."
"Dia tidak salah." Edward kemudian berjongkok dan mengajak Elenor berkenalan.
"Hai beautiful, kenalkan. Aku Edward, kau bisa pangil aku uncle Edward." ucap Edward ramah pada Elenor.
"Elenor," jawab Elenor malu malu, sambil menyembunyikan sebagian tubuhnya di sisi tubuh Vale.
"Uncle Edward ini bos nya Mommy, Elle. Mommy bekerja di perusahaan uncle Edward." ucap Vale menjelaskan. Elle pun tersenyum.
"Setelah selesai berbelanja, kita ke kedai es cream yang ada di sisi supermarket ini. Aku yang akan traktir. Anggap saja ini sebagai hadiah permintaan maaf uncle karena tadi uncle juga tidak hati hati." ujar Edward.
"Tapi."
__ADS_1
"Please Valerie, tidak ada penolakan." ucap Edward tegas.
🍁🍁🍁🍁🍁
Beberapa saat kemudian, Edward mentraktir Elenor dan juga Valerie untuk memakan es cream di sebuah kedai es cream khusus.
Di sela sela mereka sedang menikmati es cream. Vale kemudian membahas pekerjaan bersama dengan Edward.
Vale memberitahu kepada Edward, bahwa besok ia akan melakukan peninjauan lokasi Villa yang ada di Bogor bersama dengan Julian.
Valerie sejauh ini tidak menceritakan bahwa Julian sebenarnya adalah mantan suaminya. Karena Vale pikir, ia tidak perlu menceriakan hal itu pada Edward.
Setelah selesai menikmati es cream dan membahas tentang pekerjaan. Vale kemudian izin untuk segera pulang. Karena saat itu waktu telah malam.
Vale yang tadinya akan pulang dengan menaiki taksi. Harus pasrah untuk menurut saat Edward bersikukuh untuk mengantarkannya pulang.
"Putri mu ternyata sangat cantik." puji Edward pada Elenor, gadis berusia 5 tahun lebih itu yang kini tertidur pulas di pangkuan Vale di bangku belakang.
Vale yang saat itu mengusap usap kepala Elenor merasa bersalah pada Elle, karena membuat putri nya itu kelelahan.
"Dia sepertinya lelah." ucap Edward.
Tak lama kemudian, mereka kini telah sampai di rumah Vale.
"Ini tempat tinggal mu?" tanya Edward pada Vale. Ketika mobilnya telah berhenti di jalanan tepat depan rumah Vale.
"Ia, itu tepat tingal ku, meskipun sederhana. Aku sangat nyaman tinggal di dalamnya. Apa lagi tingal bersama dengan putri mu." ucap Vale bangga.
Edward akhirnya turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Valerie.
"Jangan bangunkan Elenor, biar aku yang mengendongnya. Kau bisa turun kan barang barang belanjaan mu."
"Tapi Pak."
"Menurut saja, kasian Elenor jika di bangunkan." ucap Edward. Yang kemudian dengan gerakan pelan meraih tubuh Elenor dan mengendongnya.
Vale kemudian bergegas untuk mengambil barang barang belanjaannya di bagasi mobil belakang.
Meletakkan beberapa kantong belanjaan ke lantai depan pintu. Vale kemudian membukakan pintu rumahnya.
"Masuklah, maaf jika rumah ku berantakan." ujar Vale.
Edward yang saat itu masih mengendong Elle pun hanya tersenyum. Vale kemudian menyuruh Edward untuk membawa Elle ke kamarnya.
Dengan gerakan pelan, Edward meletakkan tubuh Elle yang masih tertidur pulas itu ke ranjang tempat tidur Vale.
Setelah meletakkan Elle di tempat tidur, sekilas Edward mengamati seisi ruangan kamar Valerie.
Vale yang saat itu sudah selesai menyelimuti tubuh Elle pun menyadari, jika Edward sedang memperhatikan seisi kamarnya.
"Hem, sudah malam. Sebaiknya anda pulang. Terimakasih sudah mengatarkan saya pulang. Dan terimakasih traktiran es cream nya." ucap Vale.
"Kamar yang nyaman." guman Edward.
"Oke, karena kau sudah mengusirku, aku harus cepat pergi dari sini. Kabari aku untuk hasil peninjauan mu besok."
"Tentu Pak, saya akan langsung buatkan laporannya." ucap Vale, sambil mengantarkan Edward untuk berpamitan pulang.
__ADS_1