Rahim Bayaran Mr Julian Alexander

Rahim Bayaran Mr Julian Alexander
Cinta memang gila


__ADS_3

"Vale, point apa sebenarnya yang ingin aku pahami juga untuk mu." ujar Julian singkat.


"Jaga komitmen pernikahan kontrak kita Mr, jika Mr bersabar, 9 bulan lagi perjanjian pernikahan kontrak kita selesai."


"Tidak ada perjanjian yang mengikat untuk hal komitmen soal pernikahan kontrak kita. Karena memang di antara kita tidak ada komitmen apapun. Jangan membuat asumsi yang tidak berdasar Vale. Aku yang menawarkan tawaran itu. Sudah aku tegas kan, aku akan merawat mu, menjaga mu, memperhatikan diri mu dan juga janin yang ada di rahim mu aku akan jaga. Dan aku memang ada tangung jawab untuk itu. Kamu terlalu mencampur adukkan soal perjanjian kita dengan perasaan. Makanya kamu seperti ini."


"Perasaan itu hal yang manusiawi Mr. Apa salahnya jika aku juga ingin kau bersikap profesional. Saat Mr menuntut ku untuk bersikap profesional juga."


"Ini soal privasi Vale."


"Sama Mr, aku juga punya privasi."


"Sudah lah, jangan bahas soal itu. Lebih baik kita liat bagaimana hasil pancake nya." ujar Julian yang tidak mau berdebat lebih panjang dengan Vale.


Dan Vale pun tersenyum puas. Karena menurutnya, dalam perdebatan itu dialah yang menang.


"Jadi kau mengaku saja, kau sudah kalahkan berdebat dengan ku!" seru Vale yang kala itu masih duduk di kursi mini bar.


"Ya ya, aku kalah dan kau menang, oke." Julian kemudian berlalu dari hadapan Vale sambil membawa cetakan pancake yang ia sudah buat kemudian memasukkan adonan itu ke dalam sebuah oven.


Dan saat Julian sedang memasukkan adonan pancake itu ke dalam oven. Vale yang melihat sisa-sisa tepung yang ada di sebuah wadah kemudian meraih wadah tersebut dan kemudian menggenggam satu genggaman tepung yang ada di sana.


Sesaat setelah Julian kembali ke meja, Valeri melemparkan satu genggaman tepung itu kepada Julian.


Bugh....


Dan tepung itu kini mengenai wajah Julian.


"Kamu mengajak aku bercanda rupanya!" seru Julian.


Kemudian Julian pun juga mengambil satu genggaman tepung lalu melemparkannya juga ke arah Valerie.


Dan lemparannya tepat mengenai wajah Valerie.


"Kenapa kau membalasku, lelaki itu tidak boleh membalas kalau disakitin seorang perempuan." ujar Vale.


"Ini bukan tentang menyakiti, tapi kau sudah mengajakku bercanda."


"Ya sudah kalau begitu, mari kita terus kan, ini rasakan!" seru Vale.


Dan akhirnya, mereka berdua pun saling lempar melempar tepung.


Dan jangan tanya bagaimana kondisi ruangan saat itu. Sudah penuh dengan tepung di mana mana.


"Sudah, sudah, hentikan. Kasihan Naina dan Aise. Mereka akan sibuk membersihkan area dapur ini." tukas Julian yang menghentikan keisengannya.


"Satu kali lagi Mr, ini terakhir, rasakan." ucapan Valerie. Yang kemudian menimpuk kan lagi satu tepung ke arah wajah Julian.


Setelah itu dia berlari menuju kamar di lantai atas.

__ADS_1


"Valerie, jangan berlari menaiki tangga. Kau sedang hamil." teriak Julian memperingatkan.


"Ya ampun anak itu." ucap Julian gemas.


Akhirnya, julian pun juga ikut menyusul Vale naik ke atas, ke kamar.


Sesampainya di dalam kamar, Julian tidak mendapati sang istri kontraknya.


"Vale," pangil Julian.


"Mandilah, tubuh mu penuh tepung." ujar Vale, yang kemudian muncul dari arah ruang baju sambil memberikan Julian handuk.


"Lain kali jangan berlari seperti itu. Bahaya, biasakan diri ingat jika kau saat ini hamil." tegur Julian.


"Siap Mr, maaf."


Julian kemudian lepaskan kaos bajunya di hadapan Vale.


Membuat Vale langsung terkesima dengan ke kekaran bentuk tubuh sang suami.


Lalu, Julian berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat Julian sudah berada di bawah guyuran air shower untuk membersihkan diri.


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan seseorang masuk ke dalam.


"Vale, sedang apa kau ke sini. Aku sedang mandi!" pekik Julian yang saat itu tengah mandi.


"Setidaknya kau mandi setelah aku selesai Vale." tegur Julian.


"Memangnya kenapa, bukankah kita sudah pernah mandi bersama. Lagi pula kita kan suami istri. Tidak ada yang salah kan jika kita mandi bersama. Aku sudah melihat semua bagian tubuh mu Mr. Bahkan sudah sangat hafal dengan semuanya." ujar Vale dengan tanpa malu malu.


Dan tanpa malu dan tanpa ada rasa malu. Kini Vale malah ikut menyusul julian yang lebih dulu berada di bawah guyuran air shower. Julian hanya bisa berdiri mematung.


Julian yang saat itu belum selesai mandi pun menjadi menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dengan saling membelakangi mereka akhirnya mandi bersama.


Untuk sesaat, mereka pun saling diam tanpa ada kata-kata. Dan masih saling membelakangi.


"Sini aku bantu untuk menyabuni tubuh Mr." ucap vale tiba-tiba memecah keheningan.


"Tidak perlu Vale, aku bisa sendiri." tolak Julian lembut.


"Tapi aku ingin menyabuni tubuhmu, berikan padaku sabun nya."


Kemudian Valerie berbalik dan menghadap ke arah Julian.


Kemudian ia meraih sebuah sponge yang sudah ia tambahan sabun. Lalu Vale menggosok-gosok kan sponge itu ke punggung Julian.

__ADS_1


Julian hanya diam tak bergeming, sekuat tenaga dia mencoba untuk tidak berhasrat pada Vale.


"Vale, kenapa kamu lakukan ini padaku. Bukankah aku sudah bilang, aku tidak akan menyentuhmu lagi." ucap Julian lembut mengingatkan.


"Memang kita akan melakukan apa Mr. Aku hanya menyabuni tubuhmu. Lagi pula kita kan pasangan suami istri. Tidak ada yang salah kan."


"Ya aku tahu, tapi bukan itu masalahnya Vale,"


"Iya aku tahu Mr. Selama ini pun aku juga tidak pernah menuduh mu. Jika kau sudah memperlakukan aku sebagai budak pemuas naf su mu kan!"


"Jujur aku sangat berterima kasih kepada Mr. Karena Mr sudah cukup profesional. Aku sungguh mengapresiasi itu."


Kemudian Julian berbalik untuk menghadap ke arah Valerie.


Sesaat, mereka pun saling berhadapan. Saling menatap dengan intens menembus iris mata mereka masing-masing.


Kemudian, Vale menyalakan lagi air showernya. Dan kini, mereka berdua pun berada dalam guyuran air shower.


Mereka kembali saling pandang.


Perlahan Valerie bergerak semakin merapatkan tubuhnya ke arah Julian.


Kemudian kedua tangannya ia lingkarkan ke leher Julian.


Lagi lagi Vale memandangi wajah Julian dengan begitu intens.


"Aku tahu Mr, aku tidak punya harapan untuk bersama dengan dirimu. Tapi bolehkah aku sekedar ingin menyentuhmu. Karena hanya dengan menyentuhmu sudah membuat aku bahagia dan senang. Jangan pedulikan diriku. Aku tahu pada suatu saat nanti aku harus meninggalkanmu dan saat itu pun hatiku pasti akan sangat terluka. Sejak awal aku tahu konsekuensinya. Aku hanya minta kepada Mr, jangan menolak aku, di saat aku ingin menyentuhmu." Vale berbicara dengan sungguh-sungguh.


"Dan Mr jangan pernah merasa bersalah terhadapku. Karena aku tidak pernah menuduh Mr tidak menghargai diri ku. Aku hanya ingin melayani Mr seperti seorang istri sungguhan yang melayani suaminya."


"Valerie," desis Julian.


"Seperti seorang istri yang harus menjalankan tugasnya. Sebenarnya seperti itulah yang ingin aku lakukan terhadapmu, meski kau tak akan pernah membalas cinta ku. Tapi aku ingin memanfaatkan waktu ku dengan mu dengan cara itu Mr."


"Kau sudah terlalu jauh jatuh hati, kau salah mencintai ku. Sungguh aku tidak ingin menyakitimu Vale."


"Bukankah tadi aku sudah bilang, jangan pedulikan aku. Aku sudah bahagia saat ini bisa bersamamu Mr. Aku tahu pada akhirnya nanti aku akan berpisah denganmu dan saat itulah aku akan siap. Dan aku berjanji untuk bisa menata hatiku kembali dan melepaskan Mr. Jika untuk saat ini aku belum siap, ada janin yang tumbuh di rahim mu, dia adalah paduan ku dan panduan mu. Aku ingin kita bertiga bahagia, anggap aku sudah gila Mr, aku tidak peduli."


Entah itu karena dorongan keinginan janin yang ada di dalam kandungannya.


Atau perasaan ingin disayangi, dan perasaan ingin disentuh.


Vale benar-benar sangat menggilai Julian.


Bahkan dia seperti sedang merendahkan dirinya serendah-rendahnya.


Vale semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Julian. Sampai ia harus sedikit berjinjit ketika ingin mengapai bibir Julian.


Merasa sangat kasihan terhadap Valerie, Julian pun akhirnya menyerah.

__ADS_1


Dan ia meladeni apa yang diinginkan istri kontraknya.


Di bawah guyuran air shower yang hangat, sepasang suami istri kontrak itu pun melanjutkan mandi bersama-samanya dengan kegiatan berhubungan suami istri.


__ADS_2