
"Non Valerie." teriak Naina histeris.
"Hai Naina, pa kabar, aku merindukan kalian." suara Valerie yang merdu mengema di ruang tamu.
Julian yang kala itu tengah berada di ruang tengah samar samar mendengar percakapan mereka.
Julian pun juga mendengar saat itu Naina meneriakkan nama Valerie.
Dan saat itulah, Julian perlahan menaruh buku yang ia baca di meja. Lalu ia berjalan pelan menuju ruang tamu.
Dan benar saja, Valerie saat itu tengah berpelukan dengan Naina di abang pintu.
"Selamat datang kembali Non Vale, saya sudah sangat lama menunggu Non Vale pulang." Vale hanya bisa tersenyum manis pada Naina. Ketika dirinya terus di peluk erat oleh Naina.
"Aku datang kemari hanya untuk menjenguk mu Bik dan juga untuk menjenguk Bibik Aise. Dan aku membawakan oleh-oleh untuk kalian berdua dari Jerman." ungkap Vale yang kala itu belum ngeh jika ada Julian yang sedang berdiri memperhatikan dirinya.
"Ini kan rumah Non Vale, kenapa tidak kembali di sini." ujar Naina.
"Nanti aku ceritakan Bik, mana Bik Aise? Aku sudah rindu dengannya juga." ujar Vale yang kemudian mengalihkan pandangannya ke sisi lain.
Dan di saat yang bersamaan, mata Vale menangkap sosok pria yang tak asing baginya telah berdiri mematung berjarak beberapa meter dari dirinya saat ini berada.
Julian yang saat itu masih mengenakan pakaian kantornya berdiri membeku memandangi Valerie. Dan saat bersamaan, Vale saat itu juga menatap Julian.
Dua iris mata itu kembali bertemu setelah sekian lama.
Tak ingin berlama lama menatap Julian, Vale kembali ke arah Naina.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu Aise Bik." ucap Vale.
"Dia ada di belakang Non. Tuan Julian berkunjung hari ini untuk memberikan gaji pada kami." jelas Naina.
"Selamat datang Valerie" suara lembut khas Julian akhirnya terdengar.
"Terimakasih, kedatangan ku kemari bukan untuk kembali ke Penthouse. Aku hanya mampir, dan aku juga tidak lama. Bik, aku ingin bertemu Bibik Aise dulu." ujar Vale lagi, yang mengalihkan pandangannya ke arah Naina kembali.
Dan akhirnya, Vale pun di ajak Naina ke belakang untuk bertemu dengan Aise.
Vale saat itu berjalan melalui Julian dengan sikap yang begitu tenang, dan terkesan cuek. Vale berlalu begitu saja dari hadapan Julian.
Julian yang sedari tadi berdiri di tempatnya, hanya bisa diam termangu setelah Vale berlalu dari hadapannya.
Sambil menunggu Vale selesai melepaskan rindu dengan kedua asistennya. Julian kemudian berjalan ke arah meja mini bar di sudut ruangan.
Julian langsung menuangkan sebuah wine kedalam satu gelas kemudian meminumnya.
Entah kenapa saat itu Julian merasa asing dengan sikap Valerie. Tidak hanya sikapnya yang asing. Tapi kini Valerie juga berpenampilan berbeda.
Samar samar Julian bisa mendengarkan percakapan Vale bersama ke dua asisten rumah tangga itu dari kamar belakang.
Setelah menunggu kurang lebih 30 menit. Suara langkah kaki yang mendekat kearah dirinya terdengar oleh Julian. Julian tau bahwa itu adalah langkah kaki Valerie.
Julian yang saat itu tengah duduk di kursi mini bar kemudian menoleh ke arah Vale yang berdiri dengan berjarak beberapa meter dari dirinya.
Vale yang berpakaian casual, memakai kaos putih dipadu dengan jaket denim warna biru serta mengenakan celana jins dan sepatu sneaker itu terlihat begitu fresh.
__ADS_1
"Bisa kita bicara sebentar?" ujar Vale pada pria di hadapannya.
"Tentu saja."
"Kita bicara di ruang tengah saja." ujar Vale yang kemudian berjalan lebih dulu ke ruang tengah. Dan kemudian di susul oleh Julian mengikuti dan belakang.
Duduk di sofa yang berbeda, Vale yang saat ini menatap Julian kemudian memulai pembicaraan.
"Aku datang ke Penthouse bukan untuk kembali tinggal di sini. Aku kemari hanya untuk menemui Naina dan Aise. Mereka sudah aku anggap keluarga. Mereka lah yang selama 9 bulan aku hamil banyak membantu ku. Mereka lah yang menemani ku, menghibur ku. Aku kemari untuk memberikan mereka oleh oleh. Dan aku tegaskan sekali lagi, Julian. Aku sudah mengembalikan semuanya aset yang pernah kau berikan untuk ku. Aku sama sekali tidak ingin menikmati imbalan yang sudah kamu berikan." ujar Vale menjelaskan maksud kedatangannya.
"Aku tidak peduli jika kau mengembalikan semua aset-aset itu. Karena aku juga tidak akan pernah menerima nya kembali. Jika kau tidak menginginkan semua aset-aset itu. Aku akan mengalihkan semua aset-aset mu untuk Elenor."
"Aku tidak peduli soal aset. Aku ingin memberi tau mu, jika saat ini aku belum siap untuk bertemu dengan Elenor. Meskipun aku sudah sangat merindukannya. Aku baru datang dari Jerman kemarin. Dan saat ini aku tinggal di sebuah kostan. Besok aku ada interview pekerjaan. Aku hanya memberikan tau mu bahwa, aku ingin fokus dulu untuk bekerja. Aku akan menemui Elenor jika aku sudah punya tempat tinggal yang layak untuk putri ku. Jika sewaktu-waktu dia ingin menginap bersama ku. Aku ingin menunjukan pada Elenor, jika Selama ini Mommy nya meningalkan dia untuk berusaha hidup lebih baik. Jadi, jangan beritahu Elenor jika aku sudah kembali ke Indonesia. Aku akan datang pada Elenor di waktu yang benar-benar sudah siap. Aku tidak ingin membuatnya kecewa."
"Elenor sudah menanyakan diri mu. Dia bertanya pada ku kapan kau akan datang."
"Katakan saja padanya sebenarnya lagi Mommy akan datang."
Untuk sesaat mereka saling diam, Julian sejak tadi terus mengamati dan memperhatikan Vale.
"Kau terlihat berbeda Vale." ucap Julian lembut.
"Tidak ada yang berbeda dari diri ku. Maaf aku harus pergi, aku tidak bisa lama lama di sini." kemudian Vale pun berdiri dari duduknya. Julian pun ikut berdiri saat Vale berdiri.
"Aku antar kau pulang." ucap Julian menawarkan.
"Tidak usah, terimakasih. Aku akan pulang naik taksi. Selamat malam Julian." ucap Vale, yang setelah itu ia berlalu dari hadapan Julian.
__ADS_1
Julian pun mengantarkan Valerie sampe pintu dan ia hanya bisa melihat kepergian Vale yang tanpa memberikan pelukan atau menjabat tangannya.