
Setelah selesai dengan urusan pekerjaan dan bisnis di Athena.
Julian memutuskan untuk menghabiskan sisa-sisa waktunya di luar negeri untuk mengajak Jenna pergi ke Italia.
Italia menjadi tujuan Julian mengajak Jenna untuk berjalan-jalan sekaligus untuk berbulan madu.
Sebelum keberangkatan mereka ke luar negeri. Pagi itu Julian bersarapan bersama dengan sang Mama.
"Julian, segerakanlah untuk melegalkan pernikahanmu dengan Jenna. Sebagai seorang wanita, Mama tahu perasaan Jenna pasti sangat tidak nyaman dengan status pernikahan siri itu. Karena bagaimanapun, pernikahan siri itu imagenya sangat tidak bagus di mata masyarakat. Apalagi, Jenna juga punya keluarga kan. Meskipun kalian tidak berzina dan pernikahan kalian sudah sah secara agama. Tapi pernikahan kalian saat ini belum mempunyai ketetapan hukum yang kuat. Selagi Jenna belum hamil, urus lah pernikahan kalian secara hukum. Mama sudah sangat ingin Jenna bisa segera hamil." ujar sang Mama memberikan nasehat pada Julian.
"Julian pasti akan mengurus itu Ma. Aku sangat mencintai Jenna, tidak mungkin aku selamanya mengantung status pernikahan kami." jawab Julian seraya mengengam jemari Jenna di bawah meja.
Jenna hanya tersenyum saat jemari nya di remas oleh Julian.
"Iya, Mama tau, Mama hanya mengingatkan. Bersegeralah urus pernikahan kalian secara hukum. Sampai sekarang Mama masih heran denganmu. Kalau alasannya saat itu kau tidak ingin pernikahan mu di buat pesta karena menghormati Mama yang sedang sakit. Rasa rasanya itu bukan sebuah alasan yang maksud akal?"
Dan tiba-tiba perkataan sang Mama yang seperti itu membuat Julian tersedak.
Karena memang keadaan sang Mama yang sakit itulah di jadikan alibi oleh Julian sebagai bentuk alasan. Karena ia tidak bisa menikahi Jenna secara hukum.
Melihat suaminya terbatuk-batuk, Jenna dengan sigap memberikan segelas air putih untuk Julian.
"Di minum sayang, hati-hati kalau makan." ujar Jenna sambil mengelus punggung sang suami.
"Jen, sabar ya. Julian pasti akan melegalkan pernikahan kalian. Kau sudah dengar sendiri kan. Mama sudah mengultimatum Julian."
"Iya Ma, terimakasih untuk dukungan Mama untuk hubungan kami. Bagi ku dukungan dan doa restu dari kalian sebagai orang tua adalah yang terpenting. Julian sudah menjelaskannya kepada ku kenapa dia menikahi ku secara siri. Dan aku yakin dia juga akan segera mengurus pernikahan kami secara hukum jika kondisi semuanya sudah baik." ujar Jenna lembut pada sang mertua.
"Mama doakan, kalian semoga cepat di berikan momongan. Aku sudah tidak sabar melihat generasi Alexander lahir."
"Jangan kawatir Ma, Mama pasti akan menjadi nenek dari keturunan ku. Kami sedang berusaha untuk itu. Aku berencana untuk pergi bulan madu. Kami akan pergi ke Italia sore nanti. Dan setelah dari berbulan madu, kami tidak kembali lagi ke Athena. Melainkan akan langsung terbang ke Jakarta. Banyak pekerjaan yang sudah menunggu kami di sana." jelas Julian pada sang Mama.
"Bersenang senang lah, nikmati kebersamaan kalian. Jen, Mama sungguh menyukai mu. Mama bangga dengan mu." puji sang mertua pada Jenna.
"Terimakasih Ma, sudah menerima ku sebagai pendamping hidup putra mu."
Setelah melakukan sarapan pagi bersama dengan sang Mama.
Sore harinya, dengan diantar oleh seorang sopir, sore itu Julian dan Jenna menuju bandara untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju Itali.
Negara yang Julian pilih untuk berbulan madu.
Di Itali, Julian mengajak Jenna berkeliling keliling kota Roma. Mengunjungi menara Pisa dan berbagai tempat romantis yang lain yang ada di negara itu.
Keduanya sangat menikmati kebersamaan dan perjalanan selama berada di Itali.
Rome
Air mancur Travi
Venise
__ADS_1
Verona
Pisa
Julian sengaja mengajak Jenna berkeliling di sejumlah kota paling terkenal di Itali.
Dan Jenna pun nampak bahagia saat Julian benar-benar memperlakukan dirinya seperti ratu.
Yang mereka lakukan hanya jalan-jalan, kembali ke hotel dan bersama-sama sepanjang waktu.
Mereka selalu lengket dan tak terpisahkan.
Bahkan, Julian sampai melupakan Valerie. Tidak memberikan dia kabar dan tak mengabari istri sah nya itu sama sekali.
Julian benar-benar lupa soal Vale dan bayinya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah kegiatan bulan madu mereka selesai. Akhirnya Julian dan Jenna kembali ke Indonesia.
Saat itu mereka tiba di bandara siang hari.
Setelah sampai di Jakarta, Julian yang saat itu sudah lama tidak bertemu dengan Vale dan tak memberikan kabar apapun menjadi merasa bersalah pada Vale. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Velerie.
Setelah mengatarkan Jenna ke Mension, Julian pamit pada Jenna untuk ke luar sebentar dengan beralasan ada urusan penting. Dan Jenna pun percaya.
Dengan mengendarai mobil mewahnya, Julian mengemudikan mobil nya menuju kampus, tempat Valerie berkuliah. Dia berniat untuk menjemput Valerie.
Sesampainya ia di kampus tempat Valerie berkuliah, Julian menepikan mobilnya dan menunggu wanita yang ia rindukan itu dari dalam mobil.
Saat jam kuliah Vale telah usai, Julian memfokuskan perhatiannya ke arah gerbang kampus.
Ketika perhatian Julian sedang terfokus ke arah gerbang kampus. Ia melihat seorang pria muda yang terlihat tampan sedang keluar dari dalam mobil mewahnya.
Pria itu nampak membawa sesuatu di tangannya.
Dan tak lama, Valerie kini telah muncul. Dan sang pemuda tadi menghampiri Valerie, suatu hal yang membuat Julian mengerutkan keningnya.
Dan Julian pun bertanya tanya, siapa pria yang sedang mengajak Vale berbicara itu.
Karena dia tidak pernah melihat Vale punya teman pria sebelumnya.
Kemudian Julian keluar dari dalam mobilnya dan memanggil Valerie.
"Valerie!" seru Julian memangil Vale dari sebrang jalan.
Ketika dirinya dipanggil oleh seseorang yang ia sangat familiar dengan suara itu, Vale pun menoleh ke arah sumber suara.
Dari seberang jalan, Julian melambaikan tangannya.
Kemudian Valerie pun akhirnya berpamitan pada pria yang bernama David Abraham. Yang baru saja ia kenal kemarin.
David sengaja membawakan Valerie minuman sebagai tanda permintaan maaf atas kecerobohannya kemarin.
Valerie pun menerima bungkusan minuman dan makanan itu dan kemudian berlalu dari David. Karena dari sebrang jalan Julian juga sudah menunggunya.
__ADS_1
"Bukankah kamu harusnya masih berada di luar negeri." tanya Vale pada Julian.
"Aku sudah pulang, kita bicara saja di mobil. Ayo masuk, aku antar kau ke Penthouse."
Valerie pun menurut, dia kemudian membuka pintu mobil dan duduk di kursi depan, di samping Julian.
Julian kemudian melajukan mobilnya menuju penthouse.
Karena dirinya sangat penasaran, akhirnya Julian bertanya kepada Vale tentang pria yang tadi ia lihat yang berbincang-bincang dengannya.
"Siapa pria tadi. Sepertinya kau mengenalnya."
"Dia teman." jawab Vale singkat.
"Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya. Temen baru mu kah?" tanya lagi Julian penasaran.
"Aku baru mengenalnya kemarin." jawab Vale lagi singkat.
Setelah itu, Julian tidak lagi bertanya tentang pria tersebut.
Setelah beberapa saat, mereka pun akhirnya sampai di gedung Penthouse.
Julian dengan gentle membukakan pintu mobil untuk Valerie.
"Terimakasih," ucap Vale saat ia di bukakan pintu oleh Julian.
Setelah itu, mereka pun berjalan menuju lift yang akan mengantarkan mereka menuju unit Penthouse.
Vale berjalan lebih dulu di depan, dan Julian berjalan di belakang. Dalam hati, Julian tersenyum manis saat sedang memperhatikan langkah Vale.
Wanita muda yang saat ini sedang mengandung benihnya itu terlihat lebih berisi dan makin terlihat cantik.
"Vale, sini aku bawakan tas mu. Sepertinya tas mu berat." ujar Julian yang kemudian meraih tas yang kala itu berada di pundak Valerie.
"Tidak perlu," tolak Vale, namun tas itu kini sudah berpindah di tangan Julian.
"Ini memang berat, isi nya buku ya." ucap Julian berbasa-basi, sebab sepanjang perjalanan tadi Vale lebih banyak diam. Dia hanya bicara sepatah dua kata saja.
Sesampainya di dalam Penthouse, Vale langsung berjalan menuju lemari pendingin untuk mencari minuman.
"Tadi pria itu sepertinya membelikan mu minuman. Kenapa tidak di minum?" tanya Julian mengungkit lagu soal pria tadi.
"Aku tidak minum kopi dingin. Kalau kau mau minum saja, atau berikan saja minuman dan makanan itu pada Bibik Naina atau Aise. Biar mereka yang menikmati nya." ujar Vale, yang kemudian ia langsung meneguk air putih dari dalam lemari pendingin saking ia merasa sangat haus.
"Aku lelah, mau ke kamar." ujar Vale yang kemudian meraih lagi tas nya dan membawanya ke lantai atas ke kamarnya.
Julian kemudian tersenyum, mendengar dan memperhatikan Vale yang nampak semakin dingin denganya.
Valerie
Julian
Jenna
__ADS_1
David